Kalau lihat ada karyawan toko yang tidak tersenyum padamu, jangan memintanya untuk tersenyum. Bisa-bisa nanti dianggap melecehkannya.
09 Apr 2025 21:00 WIB · Internasional
Kyoto
Kalau sedang jalan-jalan di mal di Jepang dan melihat ada karyawan toko tidak tersenyum, jangan sekali-kali meminta mereka tersenyum. Meminta karyawan toko tersenyum ternyata sekarang dianggap sebagai bentuk pelecehan.
Setidaknya ini menurut hasil survei pelantar layanan pelanggan Helpfeel di Kyoto, Jepang, terhadap 1.070 orang di seluruh Jepang pada Maret 2025. Harian South China Morning Post yang mengutip harian Jepang, Mainichi, Senin (7/4/2025), menyebutkan, dari 1.070 responden, sebanyak 45,7 persen menganggap itu bentuk pelecehan.
Hasil survei ini menunjukkan meningkatnya kepekaan terhadap tekanan yang diberikan kepada karyawan. Ada pergeseran dari ekspektasi tradisional tentang keceriaan dalam berinteraksi dengan konsumen. ”Banyak orang mungkin berpikir bahwa karyawan toko merasa enggan diminta mempertahankan sikap yang ramah,” sebut Helpfeel.
Padahal, di Jepang ada konsep keramahtamahan yang disebut omotenashi yang menekankan antisipasi dan pemenuhan kebutuhan pelanggan dengan sangat hati-hati dan penuh rasa hormat. Saat memasuki toko atau restoran di Jepang, biasanya konsumen akan disambut dengan senyuman, karyawan yang membungkukkan badan, dan ucapan ”irasshaimase!” yang antusias, yang berarti ”selamat datang” dalam bahasa Jepang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/09/0106358af71a274dcfbcfa3f9d486859-JAPAN_WEATHER_CHERRY_BLOSSOMS_128531069.jpg)
Salah satu restoran cepat saji waralaba AS di Jepang terkenal dengan restoran yang ramah dengan karyawan penuh senyum. Namun, ternyata keramahan itu justru menyebabkan ada beberapa pelanggan yang melecehkan karyawan layanan antar ke rumah.
Mereka sering dipaksa harus tersenyum dan dijadikan tantangan yang lalu direkam di media sosial. Banyak anak muda yang mengaku tak mau kerja di restoran itu karena ada persyaratan karyawan harus tersenyum. Restoran itu lalu meluncurkan kampanye ”No Smiles” pada tahun 2023. Ini dilakukan agar karyawannya lebih nyaman.
Bahkan, kampanye itu didukung penyanyi populer Jepang, Ano, yang merilis lagu ”Smile Agenai” (Aku tidak akan memberimu senyuman). Salah satu baris lagu tersebut menyatakan, ”Aku tidak akan memberimu senyuman, aku akan menjadi karakterku sendiri”. Hal ini terbukti efektif, menghasilkan peningkatan 15 persen dalam aplikasi pekerja toko pada tahun 2023 dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Namun, tidak semua perusahaan Jepang begitu. Jaringan supermarket Aeon pada tahun lalu mengadopsi sistem kecerdasan buatan untuk menilai dan menstandardisasi senyum karyawannya di 240 tokonya di seluruh Jepang.
Sistem ini memanfaatkan lebih dari 450 elemen, termasuk ekspresi wajah, volume suara, dan nada sapaan, untuk menilai staf atas sikap layanan mereka. Aeon mengatakan, uji coba sistem di delapan cabang tokonya menemukan bahwa sikap layanan meningkat hingga 1,6 kali lipat selama periode tiga bulan. Namun, tetap saja ada yang mengkritiknya sebagai bentuk pelecehan di tempat kerja.
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul