Hayat Tahrir al-Sham, Gerakan Oposisi Suriah yang Guncang Aleppo

Pasukan salah satu faksi oposisi Suriah mampu mengusir tentara Pemerintah Suriah dari Kota Aleppo. Siapakah sebenarnya Hayat Tahrir al-Sham, faksi oposisi itu?

04 Des 2024 19:52 WIB · Internasional

Oleh Mahdi Muhammad

Di tengah situasi yang semakin memilukan di Jalur Gaza dan Lebanon, dunia dikejutkan dengan peristiwa mengejutkan di tempat lain di Timur Tengah. Setelah gejolak perang saudara sempat mereda, terutama setelah Liga Arab saat diketuai oleh Arab Saudi menerima kembali keanggotaannya, Suriah kembali dilanda ketegangan.

Hanya dalam waktu singkat, kurang dari sepekan, pasukan oposisi di bawah payung Hayat Tahrir al-Sham (HTS) mengambil alih kendali Kota Aleppo, Suriah barat laut. Tentara Pemerintah Suriah yang didukung Rusia dan Iran tak mampu membendung masuknya pasukan oposisi yang mengepung dari hampir segala penjuru.

Milisi HTS juga menguasai jalan raya M5, jalur logistik dan transfer militer yang menjadi tulang punggung sistem pertahanan kota.

Siapakah sebenarnya kelompok Hayat Tahrir al-Sham?

Dari Front al-Nusra

Hayat Tahrir al-Sham (Organisasi Pembebasan Syam) didirikan oleh Abu Mohammed al-Jolani (ada yang menulis Abu Mohammed al-Jawlani) tahun 2011. Saat berdiri di tahun 2011, organisasi ini bernama Front al-Nusra (Jabhat al-Nusra) sebelum akhirnya berganti nama menjadi Hayat Tahrir Al-Sham pada 2016-2017.

Sejak awal berdiri, kelompok ini telah menyatakan dirinya terafiliasi atau menjadi bagian dari kelompok Al Qaeda. Pemimpin kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) Abu Bakr al-Baghdadi, seperti disebut dalam laporan CSIS, berperan saat awal-awal pembentukan Front al-Nusra.

Laman Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebutkan, Baghdadi—juga memiliki nama alias Ibrahim Awwad Ibrahim Ali al-Badri al-Samarrai— adalah orang yang memerintahkan Jawlani mendirikan front bagi Al Qaeda di Irak (AQI)—cikal bakal NIIS—di Suriah untuk mengembangkan kehadiran dan perlawanan di tingkat lokal. AQI memasok anggota, uang, dan senjata serta memberikan masukan mengenai strategi dan taktik perang bagi Front al-Nusrah pada awal-awal pendiriannya.

Anggota kelompok oposisi Hayat Tahrir al-Sham bersiaga dengan senjata api miliknya di sebuah lokasi di luar kota Atarib, Provinsi Aleppo, Suriah barat laut, 27 November 2024.

Front al-Nusra membesar dan sempat berganti nama menjadi Jabhat Fatah al-Sham setelah sejumlah kelompok sejenis bergabung, seperti Harakat Nour al-Din al-Zinki, Liwa al-Haq, Jaysh al-Sunna dan Jabhat al-Din.

Charles R Lister, Direktur Program Terorisme Ekstremisme Suriah pada Institut Timur Tengah, seperti dikutip laman CTC Westpoint, mengatakan, perbedaan pandangan antara pemimpin Al Qaeda dan Jabhat Fatah al-Sham soal globalisasi gerakan NIIS atau lokalisasi, pada akhirnya membuat pemimpin Jabhat Fatah al-Sham memutuskan untuk keluar dari Al Qaeda. Meski keluar, mereka menyatakan terus akan memiliki hubungan rahasia dengan Al Qaeda.

Pengumuman Jolani yang dilakukan tanpa berkonsultasi dengan Ayman al-Zawahiri, Pemimpin Al Qaeda, menciptakan ketegangan yang signifikan dalam relasi kedua organisasi itu.

Di bawah kepemimpinan Jolani, tujuan organisasi bergeser dari tujuan utama yang sebelumnya sejalan dengan Al Qaeda. Tujuan utama Jolani dan HTS sejak berpisah dengan Al Qaeda adalah membentuk pemerintahan dan negara Islam di Suriah dengan cara menggulingkan rezim Bashar al-Assad dan mengusir milisi Iran yang—bersama Rusia— mendukung pemerintahan Assad.

Pada 2018 mereka memiliki sekitar 15.000 orang. Saat ini personel tempur HTS mendekati angka 30.000 orang. Dengan pasukan sebesar itu, mereka bisa menguasai Idlib, juga di Suriah barat laut.

Selama bertahun-tahun, kelompok itu memperkuat kendalinya atas wilayah tersebut dengan berfungsi sebagai entitas kuasi-pemerintah, menyediakan layanan sipil, dan mengawasi urusan lokal. HTS juga memiliki kendali ekonomi atas sebagian besar wilayah dan sumber daya di sana, termasuk minyak bumi, sumber pendapatan yang signifikan.

Memoles citra

Setelah lepas dari Al Qaeda, Jolani dan HTS yang dipimpinnya mencoba memoles citra mereka. Sejumlah ahli menyebut kelompok ini berupaya meyakinkan pemerintahan Barat bahwa mereka telah meninggalkan jalur garis keras yang pernah menjadi ideologinya.

Itu adalah cara mereka untuk keluar dari daftar hitam kelompok teror yang ditetapkan Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Di sebagian besar wilayah Provinsi Idlib yang telah mereka kuasai sejak 2019, HTS telah mendirikan "Pemerintahan Penyelamatan Suriah atau Syrian Salvation Government (SSG)”.

Sejumlah anggota pasukan kelompok oposisi berswafoto di atas jet tempur milik militer Pemerintah Suriah di Pangkalan Udara Kweyris, Provinsi Aleppo, Suriah, Rabu (3/12/2024).

"Di seluruh wilayah Suriah barat laut, para pemberontak telah mulai mendirikan dan membangun struktur proto-pemerintahan yang sudah mapan, yang menunjukkan ambisi mereka untuk memerintah dan mempertahankan kendali," sebut Soufan Center yang berbasis di New York, AS.

Jerome Drevon, pakar jihadisme pada lembaga International Crisis Group, mengatakan bahwa HTS memberikan layanan dasar kepada penduduk, berkoordinasi dengan badan-badan bantuan AS yang membantu menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada jutaan orang di wilayah yang dikuasainya.

Jurnalis Perancis, Wassim Nasr, bertemu pemimpin HTS Abu Mohammed al-Jolani tahun lalu. Nasr menyebut HTS tidak lagi berkomitmen pada gerakan jihad internasional.

“Dia (Jolani) dan kelompoknya tidak lagi berkomitmen pada apa pun yang dimaksud dengan jihad internasional, itu sangat jelas. Mereka menganggap (komitmen) itu hanya membawa kehancuran dan kegagalan bagi komunitas mereka," kata Nasr.

Seorang perempuan warga Kurdi Suriah menggendong seorang balita dan ditemani serorang gadis cilik melewati sebuah benda yang terbakar di pinggir jalan di Tabqa, kota di wilayah utara Provinsi Aleppo, Suriah, Selasa (3/12/2024).

Nasr menyebut beberapa hal dalam kehidupan warga di wilayah kendali HTS yang berbeda dengan yang dikendalikan Al Qaeda dan NIIS. ”Perempuan pergi ke sekolah, mengemudi atau menyetir. Anda melihat orang merokok di jalan. Tentu saja, mereka jauh dari menganut nilai-nilai demokrasi atau masyarakat bebas liberal, tetapi itu adalah sebuah perubahan,” kata Nasr.

Tapi, ada juga yang menilai hal itu hanyalah sebuah pencitraan. Tammy Lynn Palacios dari New Lines Institute menilai perjalanan kelompok itu memperlihatkan sikap oportunis dan mungkin akan terus berlanjut. ”Mereka tetap menjadi organisasi militan jihad sampai pimpinan HTS berhasil menghilangkan hubungan antara anggotanya dan kelompok serta individu jihad garis keras,” katanya.

Palacios menilai, meski HTS menyatakan bahwa mereka sudah lepas dari kendali Al Qaeda, tidak demikian halnya dengan para petinggi kelompok tersebut. ”Al Qaeda belum selesai dengan HTS, tidak peduli seberapa banyak HTS telah selesai dengan Al Qaeda,” katanya.

Merebut Aleppo

Jatuhnya Aleppo ke tangan pasukan oposisi bermula dari serangan kejutan kelompok salafi jihadis Hayat Tahrir al-Sham dan para petempur dukungan Turki pada dua penjuru di wilayah Idlib dan Aleppo. Serangan kejutan ini berlangsung sejak Rabu (27/11/2014), bersamaan dengan dimulainya gencatan senjata antara Hizbullah di Lebanon dan Israel.

Mereka melancarkan serangan di wilayah perdesaan Aleppo dan perdesaan Idlib. Di dua wilayah itu, mereka merebut puluhan desa.

Dua hari kemudian, Jumat (29/11/2024), pasukan oposisi memasuki Aleppo. Tanpa perlawanan berarti dari pasukan pemerintah, mereka dengan mudah mengambil alih kota strategis itu pada Sabtu (30/11/2024).

Pemandangan Masjid Al-Tawheed Mosque (tengah), Katedral Katolik Yunani di Aleppo (kiri), dan Gereja Kaldean (bawah) di Kota Aleppo, Suriah utara, Selasa (3/12/2024).

Media Arab Saudi, Saudi Gazette, melaporkan, penduduk kota Aleppo melihat pasukan oposisi mengerahkan kendaraan lapis baja dan truk pikap ke seluruh kota. Pada Jumat malam, menurut organisasi Pemantau Hak Asasi Manusia Suriah (SOHR), serangan udara yang menargetkan bantuan bagi pasukan oposisi di pinggiran Aleppo menewaskan 20 orang.

Warga melaporkan, bentrokan dan tembakan sporadis terjadi di beberapa bagian kota. Banyak warga sipil mengungsi dari lokasi-lokasi pertempuran. Hari Sabtu kemarin, sekolah-sekolah dan kantor-kantor pemerintah di Aleppo diliburkan dan ditutup.

Pasukan oposisi menguasai sejumlah tempat penting, seperti benteng-benteng bersejarah dan pusat kota Aleppo. Mereka menyingkirkan poster-poster Presiden Bashar al-Assad dan mengibarkan bendera-bendera oposisi di atas Benteng Aleppo, simbol warisan dan sejarah kota itu. (AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Mahdi Muhammad
 | 

Editor:

Muhammad Samsul Hadi
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase