Kerusakan alam sesungguhnya adalah kehancuran lanskap fisik sekaligus degradasi batin yang semestinya terpintal secara spiritual dengan alamnya.
07 Jun 2025 05:41 WIB · Analisis Budaya
Sejarah yang dimulai dari sungai adalah sejarah yang menguraikan bahwa jauh sebelum napas diembuskan oleh manusia, sungai-sungai sudah membentuk dunia dan makhluknya. Terdapat kebijaksanaan dari hulu dan hilir tubuh sungai, sebab mereka mengajarkan manusia, tidak ada sepenuhnya permulaan dan penghabisan dalam aliran, segalanya tersambung, melalui siklus sinambung yang ada di bumi.
Bergerak seperti sungai berarti kembali pada elok kelok tubuhnya, meluncur mengangankan muara. Berpikir seperti sungai berarti mengasah kesabaran untuk selalu mengalir di hadapan rintangan sekalipun. Sungai adalah sumber kehidupan bagi masyarakat yang hidup di tepiannya. Sungai melimpahi pula budaya manusia dengan makna filosofis yang mendalam, bayangkan saja, bagaimana sungai telah memperkaya bahasa!
Perhatikan pepatah maupun peribahasa yang berbicara tentang sungai, ”berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian; bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”, dari sungai kita merefleksikan ketekunan dan pengorbanan. Begitu juga dalam pepatah, ”anak sungai lagi berubah, ini kan pula hati orang” bahwa perubahan adalah bagian dari sikap manusiawi kita.
Selain itu, juga ada pepatah yang mengatakan, ”mana sungai yang tiada berhulu?”, bahwa semua orang memiliki asal usul, dan pentingnya kita untuk selalu mengingat sejarah masa lampau. Sungai adalah bagian integral dari hidup manusia, tidak semata-mata bagi aspek ragawinya saja, sungai juga mengisi imaji spiritualitas manusia.
Budaya Riau tidak dapat diceraikan dari sungai yang membentuknya, dari Sungai Kampar, Sungai Siak, Sungai Indragiri, hingga Sungai Rokan. Setiap sungai yang mengaliri permukaan mengendapkan sejarah, filosofi, dan nilai-nilai sakral yang dianut oleh masyarakat setempat.
Melalui sungai pula kita dapat menyerap nilai multikulturalisme yang ada di Riau, dari masa kejayaan dinasti Buddha dengan keberadaan Candi Muara Takus, hingga Kesultanan Melayu Islam di Siak, hingga persilangan dengan budaya-budaya lainnya. Sungai mempertemukan perbedaan-perbedaan ini menjadi warna-warni yang membentuk budaya yang sarat dengan akulturasi. Lihatlah dari tariannya, dengarkanlah irama musiknya.
Menyusuri Sungai Siak, dari Kota Pekanbaru hingga tenang tepiannya di Istana Siak, memungkinkan kita merenungkan betapa uniknya budaya Melayu yang ada di masyarakat. Istana Siak Sri Indrapura menyimpul segenap pengetahuan budaya Melayu yang amat bernilai bagi masyarakat Riau. Sultan Syarif Kasim II adalah sosok yang dicintai oleh masyarakatnya. Ia merupakan tokoh besar yang turut mengukir peristiwa nasional dengan menyatukan kesultanan menjadi bagian dari Indonesia. Di istana itu kita dapat menyaksikan kegemaran Sultan Syarif Kasim II terhadap seni dan keindahan. Ini tecermin dari arsitektur istana beserta benda-benda yang tersimpan di dalamnya. Istana di tepi Sungai Siak ini menghimpun berbagai macam budaya yang telah dibawa oleh arusnya, dari Arab, Eropa, hingga Melayu.
Betapa ironisnya kontradiksi ini. Pada satu sisi budaya Melayu melambangkan pusaka identitas yang dimuliakan, tetapi masyarakatnya tersingkir dari ruang hidupnya sendiri.
Bagaikan dalamnya sungai, begitu pula kekayaan budaya Melayu di Riau. Meski demikian, budaya dan alam Riau tidak tanpa ancamannya. Seperti yang disampaikan oleh Datuk Seri Taufik Ikram Jamil yang merupakan Ketua Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR), ia menjelaskan urgensi untuk melestarikan budaya Melayu yang berkelindan dengan sungai dan hutan di Riau. Ia mencemaskan keberlangsungan masyarakat adat beserta ruang hidupnya.
Sengketa lahan terus saja terjadi. Kehidupan masyarakat adat yang begitu rentan, semakin terpinggirkan. Padahal, mereka penopang adat yang menjadi sumber nilai-nilai Melayu yang dipuja-puja itu. Betapa ironisnya kontradiksi ini. Pada satu sisi budaya Melayu melambangkan pusaka identitas yang dimuliakan, tetapi masyarakatnya tersingkir dari ruang hidupnya sendiri.
Masyarakat adat Melayu kuno seperti Talang Mamak yang bermukim di Indragiri hulu merupakan masyarakat asli Indragiri yang hidup melalui wanatani di hutan. Kehidupan tradisional mereka terancam dengan industri perkebunan sawit yang mengepung hutan keramat mereka. Salah satu ritual yang dilakukan oleh masyarakat adat Talang Mamak adalah proses pengambilan madu liar yang menggunakan doa dan juga mantra yang disampaikan kepada lebah.
Serupa pula ritual menumbai yang dilakukan oleh orang Petalangan yang merupakan suku asli di wilayah Pelalawan. Mereka mengambil madu di pohon sialang yang juga didahului dengan doa-doa. Pohon dan lebah dalam ritual ini, jika ditelisik secara filosofis, mereka dipandang sebagai subyek-subyek yang harus diperlakukan dengan hormat. Mereka dinyanyikan, ditinggikan, bahkan terdapat larangan membunuh lebah. Tradisi yang dihayati oleh masyarakat adat ini tengah berada dalam ancaman. Ritual menumbai menjadi semakin langka, sebab tidak banyak lagi ditemukan pohon sialang yang dijadikan tempat bersarang bagi lebah. Lenyapnya lebah adalah tanda petaka. Sebab, lebah liar berperan besar sebagai penyerbuk dalam ekosistem hutan.
Deforestasi dan pencemaran sungai semakin merongrong kehidupan rapuh yang selaras dengan alam di Riau. Ditebangnya pohon-pohon sialang dan tercemarnya sungai-sungai sejatinya bukan semata-mata kemerosotan ekologis. Kita tengah melihat hikayat kehidupan yang perlahan terkikis terhapus oleh keserakahan dan pengabaian manusia.
Kerusakan alam sesungguhnya adalah kehancuran lanskap fisik sekaligus degradasi batin yang semestinya terpintal secara spiritual dengan alamnya. Lantas, apa yang hendak disyairkan jika alam yang merupakan jiwa syair itu musnah?
Penulis:
Saras DewiEditor:
Sarie FebrianePenyelaras Bahasa:
Didik Durianto