Meski peluang besar terbuka melalui kekuatan demografi, cadangan mineral yang masuk 10 besar dunia, laju ekonomi Indonesia seperti terperangkap dalam pola stagnasi.
22 Nov 2025 17:00 WIB · Ekonomi & Bisnis
Kompas/Hendra A Setyawan
Sumber daya alam berlimpah tidak otomatis menjadikan Indonesia negara maju. Nilai tambah justru banyak mengalir ke luar negeri, meninggalkan pelaku usaha lokal di hilir rantai industri. Hilirisasi hadir sebagai jalan untuk memastikan kesejahteraan tumbuh dari akar ekonomi Indonesia sendiri.
Di tengah kompetisi global atas mineral kritis dan teknologi hijau, hilirisasi menjelma sebagai peluang Indonesia mengamankan posisi strategis dalam rantai pasok dunia. Namun, hanya industrialisasi berbasis kapabilitas domestik yang dapat memastikan negeri ini benar-benar naik kelas.
Gagasan tersebut menjadi buah pemikiran dari Dany Amrul Ichdan, Wakil Direktur Utama PT Mineral Industri Indonesia (Persero) yang juga doktor lulusan Business and Corporate Strategic Management Universitas Padjadjaran.
Ia menuangkan buah pemikirannya tersebut dalam buku berjudul Indonesia Naik Kelas ”8 Akselarator Hilirisasi yang Distinctive, Adaptive, dan Inclusive (DAI) Menuju Pertumbuhan 8 Persen” yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas.
Dalam acara bedah buku yang berlangsung pada Jumat (21/11/2025) malam, di Jakarta, Dany menyebutkan bahwa ia menulis buku ini sebagai pengingat masyarakat dan para pemangku kebijakan bahwa Indonesia saat ini tengah berada di persimpangan sejarah.
Di satu sisi, peluang besar terbuka melalui kekuatan demografi, cadangan mineral yang masuk sepuluh besar dunia, dan stabilitas politik yang terjaga di tahun pertama pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming. Namun, di sisi lain, laju ekonomi Indonesia seperti terperangkap dalam pola stagnasi yang berkepanjangan.
Selama satu dekade terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia mandek di kisaran 5 persen. Kuat, tetapi belum cukup untuk membawa Indonesia keluar dari middle-income trap.
Kondisi ini oleh Dany disebut sebagai stagnasi struktural, ibarat bola di lembah yang berulang kali mencoba memantul, tetapi selalu kembali ke titik semula karena gaya gravitasi yang kuat.
”Kita memiliki segalanya, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Namun, mengapa kita belum menjadi kekuatan ekonomi dunia?” ujar Dany.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/17/673050af-bdb2-4a04-8b6a-a074b29a9501_jpg.jpg)
Dany menjelaskan, cadangan mineral, mulai dari nikel, bauksit, hingga batubara, yang diincar industri global menjadi fondasi penting hilirisasi. Momentum pun semakin kuat berkat peta jalan hilirisasi yang telah dirintis pemerintah.
Namun, berdasarkan dari pandangan dan inspirasi yang ia dapat dari sang promotor disertasi saat menuntaskan studi doktoral di Business and Corporate Strategic Management Universitas Padjadjaran, Prof Faisal Afifi, hilirasi tidaklah cukup apabila tidak berbasis pada kapabilitas domestik.
Hilirisasi yang hanya menghasilkan barang setengah jadi, tanpa jaringan logistik efisien dan akses pasar yang luas, menurut Dany, justru membuat nilai tambah menguap di tengah jalan. ”Bahkan, lebih jauh lagi, industrialisasi tanpa UMKM ibarat pohon besar tanpa akar yang menyangga ekosistem ekonomi,” ujarnya.
Di sinilah konsep DAI yang ia gagas menemukan relevansinya. Distinctive (kekhasan), adaptive (responsif terhadap perubahan), dan inclusive (melibatkan segala lapisan pelaku ekonomi) menjadi kerangka kerja yang tak hanya menekankan efisiensi industri, tetapi juga keberlanjutan dan pemerataan manfaat.
Dalam bukunya, Dany coba mengingatkan bahwa banyak negara yang kaya sumber daya gagal naik kelas karena terlalu bergantung pada investasi asing dan keunggulan biaya produksi. ”Meksiko dan Thailand adalah contoh jelas bagaimana hilirisasi tanpa kapabilitas industri akhirnya mentok,” ucapnya.
Meksiko yang secara geografis dekat dengan pasar raksasa, AS, terlalu bergantung pada strategi biaya murah. Ini membuat sektor manufaktur di Meksiko terlalu bergantung pada pemilik modal asing dan tidak pernah berkembang penuh. Adapun Thailand punya industri otomotif besar, tetapi rantai pasoknya tidak dibangun dari dalam.
”Indonesia tidak boleh terjebak dalam ketergantungan itu,” kata Dany menegaskan.
Secara garis besar, buku yang ditulis Dany menggarisbawahi pesan penting bahwa negara besar tidak otomatis menjadi negara maju. Tanpa keberanian melakukan lompatan nilai tambah dan menyertakan rakyat sebagai pelaku, industrialisasi hanya akan menjadi jargon yang kehilangan makna.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia dalam pidatonya saat bedah buku menyebut percepatan hilirisasi ini akan berdampak besar terhadap perekonomian nasional. Berdasarkan kajian pemerintah, proyek-proyek hilirisasi akan menciptakan pertumbuhan ekonomi, membuka lapangan kerja, dan menghasilkan produk substitusi impor.
Salah satu fokus utama pemerintah, lanjut Bahlil, adalah memperkuat sektor energi. Khususnya melalui pembangunan industri dimethyl ether (DME) untuk mengurangi ketergantungan pada elpiji impor.
Penasihat Khusus Presiden Bidang Energi, yang turut hadir dalam bedah buku, Purnomo Yusgiantoro, mengapresiasi hilirisasi di Indonesia telah berkembang lebih jauh dibandingkan dengan sebelumnya.
Tidak hanya berhenti pada produksi barang setengah jadi, proses ini mulai menyentuh produk akhir, seperti baterai, sehingga memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/21/c41fa5ba-a48a-43b4-b0df-445b526739f9_jpg.jpg)
Menurut Purnomo, hilirisasi pada prinsipnya terjadi di banyak sektor, termasuk pangan dan pertambangan. Namun, sektor mineral dan batubara dinilai masih memberikan nilai tambah paling tinggi.
”Apa yang terpenting, ketika terjadi hilirisasi, prosesnya sudah dimulai sejak Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 diterbitkan. Memang tidak ada yang bisa berjalan cepat di Indonesia karena ada aspek regulasi, ekonomi, teknologi, dan kesiapan masyarakat,” ujarnya.
Ia mengapresiasi pemikiran Dany yang mendorong industrialisasi berbasis sumber daya alam, sebagaimana pernah dirumuskan ekonom Sumitro Djojohadikusumo melalui konsep Sumitronomics. ”Industrialiasi yang dipadukan dengan hilirisasi adalah pendekatan yang tepat,” kata Purnomo menegaskan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/21/24c49249-e1ee-449c-9c7f-0bc9b33e0859_jpg.jpg)
Purnomo menambahkan, pemerintah telah menegaskan arah kebijakan transformasi energi dalam Kebijakan Energi Nasional yang baru disahkan pada 15 September. Kebijakan tersebut mengatur transisi dari energi fosil menuju energi baru dan terbarukan disertai penerapan teknologi rendah emisi, seperti carbon capture.
Selain dekarbonisasi, pemerintah juga mendorong desentralisasi energi untuk mengatasi tantangan distribusi dan transmisi listrik antardaerah yang masih terbatas. ”Penyambungan jaringan listrik Sumatera dan Jawa saja membutuhkan waktu puluhan tahun. Kalimantan dan Sulawesi belum terhubung,” ujarnya.
Meski berbagai tantangan masih harus dihadapi, Purnomo tetap optimistis transformasi industri dan energi akan terus bergerak ke arah yang positif. ”Fosil masih akan tetap digunakan, tetapi dengan teknologi yang lebih bersih. Kita harus maju dengan kombinasi industrialisasi dan hilirisasi,” katanya.
Penulis:
Dimas Waraditya Nugraha, Hidayat SalamEditor:
Muhammad Fajar MartaPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra