BerandaEkonomiHilirisasi: Nikel Jadi Ha...

Hilirisasi: Nikel Jadi Harapan, Batubara Temui Hambatan

Nikel masih menjadi primadona setelah hilirisasi meningkatkan nilai ekspor berkali lipat. Sementara hilirisasi batubara masih mencari jalan keluar.

31 Okt 2024 17:35 WIB · Ekonomi

Oleh Aditya Putra Perdana

Kawasan penambangan dan industri pengolahan nikel grup Harita Nickel yang berada di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara, Rabu (3/7/2024). Grup Harita Nickel memiliki dua jenis pabrik peleburan nikel (smelter) di Pulau Obi, yaitu menggunakan teknologi rotary kiln electric furnace (RKEF) dan high pressure acid leaching (HPAL). KOMPAS/HERU SRI KUMORO 03-07-2024

Presiden Prabowo Subianto berulang kali menekankan kelanjutan program hilirisasi. Bahkan, hilirisasi tak hanya pertambangan, tetapi juga mencakup komoditas lain seperti perikanan.

Di sektor pertambangan, nikel masih menjadi komoditas penting, mengingat Indonesia berkontribusi pada 50 persen produksi dunia. Adapun hilirisasi batubara masih menghadapi tantangan.

Kilas balik, peningkatan nilai tambah produk pertambangan, yang sejatinya sudah diatur sejak dekade lalu, relatif optimal dijalankan pada 2020 atau tahun dimulainya larangan ekspor bijih nikel (”nickel ore”). Mampu meningkatkan nilai ekspor melalui produk turunan seperti feronikel dan ”nickel pig iron”, nikel Indonesia pun seketika menjadi primadona.

Berkaca pada keberhasilan nikel, hal serupa coba dilakukan antara lain pada sejumlah mineral lain pada komoditas lain seperti bauksit, tembaga, dan emas-perak. Hal ini sudah berjalan meskipun belum bisa secepat nikel.

Nikel memiliki prospek cerah. Ini terutama berkait dengan industri baja nirkarat (stainless steel) dan industri baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV).

Suasana eksplorasi di tambang emas Tujuh Bukit di Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (25/10/2024) Tambang emas yang dioperasikan PT Bumi Suksesindo (PT BSI), anak perusahaan PT Merdeka Copper Gold Tbk sejak tahun 2012. Tambang Emas Tujuh Bukit merupakan tambang terbuka yang menggali bijih mineral dan mengekstraksi kandungan emas dan perak, dengan metode pelindian yang efisien. Target produksi emas dan perak di tahun 2024 sebanyak 100.000 hingga 120.000 ounces. Kompas/Hendra A Setyawan

Sementara itu, hilirisasi batubara masih menghadapi tantangan. Harapan sebenarnya muncul pada proyek batubara menjadi dimetil eter (DME) di Sumatera Selatan.

Proyek kerja sama PT Bukit Asam Tbk, PT Pertamina (Persero), dan perusahaan asal Amerika Serikat, Air Products, itu ditujukan untuk menyubstitusi elpiji. Proyek yang peletakan batu pertamanya diresmikan Presiden Joko Widodo pada 2022 itu kini belum jelas arahnya.

Itu tidak terlepas dari mundurnya Air Products, baik pada proyek batubara ke DME di Sumsel maupun batubara ke metanol di Kalimantan Timur, pada awal 2023. Di sisi lain, batubara saat ini masih ”nyaman” untuk dijual mentah mengingat harganya yang relatif stabil dan selalu berada di atas 120 dollar AS per ton.

Sebagai catatan, relatif terjaganya harga dan meningkatnya permintaan membuat produksi batubara meroket. Pada 2023, produksi batubara mencapai 775 juta ton, di atas target yang 695 juta ton.

Lonjakan terus berlanjut. Pada Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2024, 2025, dan 2026 yang disetujui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), target produksi di atas 900 juta ton setiap tahun.

Saat ini, dari total produksi batubara di Indonesia, 75 persen diekspor. Sisanya, 25 persen, digunakan untuk kebutuhan domestik. Batubara juga masih menjadi penopang kelistrikan nasional. Dari semua pembangkit listrik di Indonesia, energi batubara, untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), masih dominan, yakni 67 persen.

infografik Neraca Sumber Daya dan Cadangan Mineral dan Batubara Nasional Tahun 2023

Koordinator Hilirisasi Mineral dan Batubara (Minerba) pada Direktorat Jenderal Minerba Kementerian ESDM Muhammad Ansari mengatakan, program hilirisasi akan terus berjalan. Ini mencakup nikel, bauksit, ataupun mineral lain, serta batubara. Nikel menjadi komoditas asal Indonesia yang memainkan peran signifikan di dunia.

”Prinsipnya, hilirisasi jalan terus. Untuk nikel, kita (Indonesia) memiliki peran yang sangat penting dan strategis. Apalagi, nikel juga sebagai bahan baku penting dalam transisi energi (untuk baterai EV),” kata Ansari dalam bincang Coffee Morning yang digelar oleh Ditjen Minerba Kementerian ESDM, di Jakarta, Rabu (30/10/2024).

Sementara pada bauksit, Ansari mengemukakan, pihaknya akan terus mengevaluasi. Sejumlah kendala pengembangan smelter bauksit, dari sejumlah laporan, antara lain terkait dengan ketersediaan lahan dan ketersediaan energi. Ini membuat laju hilirisasi bauksit menjadi alumina belum secepat yang diharapkan.

Pada batubara, hilirisasi juga belum berjalan optimal. Merujuk data Kementerian ESDM, baru ada tiga proyek yang telah selesai konstruksi atau beroperasi. Proyek yang dimaksud meliputi pabrik briket PT Bukit Asam di Sumsel, pabrik upgrading-briket PT Thriveni di Sumatera Selatan, dan pabrik batubara semikokas PT Megah Energi Khatulistiwa di Kalimantan Utara.

Sementara proyek gasifikasi batubara menjadi DME atau metanol belum ada yang selesai konstruksi ataupun beroperasi. Begitu juga pada proyek underground coal gasification oleh PT Kideco Jaya Agung di Kaltim yang masih skala proyek percontohan (pilot project).

Ansari menekankan, pemerintah tidak diam dan terus berupaya agar hilirisasi batubara terus berjalan. ”Ada timeline (lini waktu)-nya, baik untuk semikokas, gasifikasi, maupun liquefaction. Kajiannya ada. Semangatnya seperti itu,” katanya.

Kapal tongkang membawa batubara melintas di Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur, Kamis (1/8/2024). Sumber daya batubara Indonesia menurun cukup drastis sejak 2018 yang sebanyak 151,4 miliar ton menjadi 97,3 miliar ton pada 2023 atau turun 35 persen dalam 5 tahun terakhir. Penurunan ini disebabkan pengerukan batubara yang masif dalam beberapa tahun terakhir yang dipengaruhi tingginya harga batubara di pasar global. Kompas/Hendra A Setyawan (HAS)

Diversifikasi

Pada hilirisasi nikel, dikenal dua proses di Indonesia. Pertama, pirometalurgi atau proses memanfaatkan nikel kadar tinggi (saprolite). Kedua, hidrometalurgi atau proses memanfaatkan nikel kadar rendah (limonite).

Pada pirometalurgi, bijih nikel diolah di smelter berteknologi rotary kiln electric furnace (RKEF) menjadi antara lain feronikel, nickel pig iron (NPI), dan nickel matte. Ini ada pada jalur baja nirkarat.

Pada hidrometalurgi, dengan smelter high pressure acid leaching (HPAL), bijih nikel diolah menjadi mixed hydroxide precipitate (MHP), untuk diolah lagi menjadi asam sulfat dan kobal sulfat.

Pengolahan nikel ini ada pada jalur baterai EV. Hingga kini, nikel sulfat dan kobal sulfat masih menjadi produk paling hilir di Indonesia. Belum ada produk turunannya lagi seperti prekursor, anoda dan katoda, hingga akhirnya menjadi baterai.

Pekerja menunjukkan mixed hidroxyde precipitate (MHP), salah satu produk dari peleburan nikel (smelter) dengan teknologi high pressure acid leaching (HPAL), di kawasan penambangan dan industri pengolahan nikel grup Harita Nickel di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara, Selasa (2/7/2024). Selain MHP, pengolahan nikel dengan HPAL juga menghasilkan cobalt sulfate dan nickel sulfat. KOMPAS/HERU SRI KUMORO 2-7-2024

Kini, produk turunan nikel menjadi lebih beragam. Nickel matte tak hanya untuk produksi baja nirkarat, tetapi juga untuk material tingkat lanjut (advanced materials). Nickel matte yang telah melalui proses pemurnian menjadi nikel sulfat dilakukan proses elektrolisis hingga menjadi nikel katoda, dengan kemurnian 99,99 persen, atau juga disebut four 9 nickel.

Produksi nikel katoda di Indonesia dipelopori oleh produsen prekursor asal China, CNGR. Perusahaan berbasis riset dan pengembangan (R&D) itu telah memproduksi nikel katoda dan baru-baru ini resmi terdaftar di London Metal Exchange (LME). Indonesia pun menjadi pemasok pertama di Asia Tenggara dan ketiga di Asia setelah Jepang dan China.

Pemanfaatan advanced materials, termasuk nikel katoda, antara lain untuk pelapisan pesawat luar angkasa, sejumlah peralatan medis, dan alutsista. Selain itu, katalis pemrosesan industri magnetik, dan pelapis termal dan dingin.

"Ini penting bagi Indonesia. Sebab, di seluruh dunia hanya ada 30 manufaktur nikel katoda, salah satunya Indonesia. Ini menjadi bukti bahwa mineral dari Indonesia berperan di dunia. Hilirisasi telah mendorong pasar dan investor untuk investasi di Indonesia," kata Director of Public Relations CNGR Indonesia, Magdalena Veronika.

-utk Koko Freeport- Rel kereta listrik pengangkut hasil penambangan bawah tanah Grasberg Block Cave II PT Freeport Indonesia Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Jumat (5/9/2024). Penambangan ini menggunakan rangkaian kereta listrik yang mampu mengangkut 2000 ton material tambang per shift. PT Freeport Indoneia mengoperasikan 13 rangkaian kereta listrik dengan masing-masing rangkaian terdapat 11 gerbong pengangkut. Kereta ini berjalan 440 trip per hari untuk mengangkut hasil tambang. Penambangan bawah Grasberg Block Cave II PT Freeport Indonesia merupakan area eksplorasi yang kini aktif beroperasi menggantikan penambangan terbuka di atas pegunungan Grasberg. Area penambangan di Grasberg Block Cave memiliki kandungan cadangan mineral sebesar 963 juta ton metrik, yang mencakup kandungan emas, perak, dan tembaga. KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO 15-9-2024

Ekosistem

Direktur Portofolio dan Pengembangan Usaha MIND ID, holding BUMN pertambangan Indonesia, Dilo Seno Widagdo, menuturkan, pihaknya mengadopsi apa yang menjadi visi pemerintahan saat ini, yakni hilirisasi dan industrialisasi. MIND ID, akan fokus pada pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik.

"EV battery ecosystem itu memiliki banyak komoditas. Pada nikel misalnya. Indonesia salah satu produsen terbesar di dunia. Dalam hal ini, ada PT Antam Tbk dan PT Vale Indonesia Tbk. Juga pada komoditas aluminium dan tembaga," kata Dilo.

Di sektor hulu pertambangan, Dilo melanjutkan, setiap berproduksi harus ada temuan cadangan demi tercapainya keberlanjutan. Selain terus berupaya selaras dengan visi misi pemerintah, MIND ID juga berupaya menjadi trendsetter, dengan harapan Indonesia bisa menjadi penentu harga komoditas.

Lanskap Candi Teluk 1 yang berdiri disekitar tempat penimbunan batubara di Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muarajambi, Muaro Jambi, Jambi, Jumat (22/9/2024). Keberadaan penimbunan batubara tersebut dikhawatirkan mengancam pelestarian cagar budaya yang menjadi misi utama dalam revitalisasi. KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO 25-09-2024

Sementara itu, batubara lebih diarahkan menjadi grafit sintetis (synthetic graphite) sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik. "Jadi, jika ditanya seperti apa transisi batubara ke depan, akan (didorong) sebagai synthetic graphite," ujar Dilo.

Peneliti pada Center of Industry, Trade, and Investment Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus mengatakan, perkembangan komoditas nikel menjadi contoh bahwa nilai ekspor komoditas bisa naik berkali lipat saat dilakukan hilirisasi. Ia pun mendorong variasi komoditas semakin berkembang.

"Juga bagaimana agar produk itu bisa semakin hilir. Jadi, lebih ada kepastian bahan baku untuk proses industrialisasi," ucapnya.

Sementara Pembina Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI) Mulyanto menyoroti aspek kesehatan dan keselamatan kerja (K3) dalam hilirisasi nikel. Sebelumnya, sejak tahun lalu, kecelakaan kerja terjadi di sejumlah smelter nikel di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) Morowali, Sulawesi Tengah. Belum ketatnya penerapan K3 perlu menjadi pembenahan.

Menurutnya, saat ini waktu yang tepat bagi pemerintah untuk mengevaluasi secara menyeluruh program hilirisasi mineral. "Pemerintah jangan menganggap enteng rentetan kecelakaan di smelter. Keselamatan pekerja yang utama. Menyedihkan jika sebentar-sebentar terjadi ledakan smelter yang menimbulkan kerugian besar, bagi pekerja ataupun masyarakat," katanya.

Kompas Professional Mining

Laporan mendalam dan analisis tren industri untuk mendukung para profesional pertambangan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Aditya Putra Perdana
 | 

Editor:

FX Laksana Agung Saputra