Saat ini, peningkatan nilai tambah pertambangan baru sampai produk antara. Pengembangan industri produk akhir perlu didorong.
02 Jun 2025 08:11 WIB · Ekonomi
Produk pertambangan, seperti nikel dan tembaga yang digaungkan dalam beberapa tahun terakhir, sudah menghasilkan produk antara atau intermediate. Pekerjaan rumah berikutnya adalah peningkatan nilai tambah di dalam negeri hingga produk akhir melalui industri manufaktur. Mampukah diakselerasi?
Nikel, misalnya, yang selama ini disebut sebagai lokomotif hilirisasi. Pascapelarangan ekspor bijih nikel pada 2020, kini sudah dihasilkan produk antara. Di antaranya feronikel dan nickel pig iron pada jalur produksi baja nirkarat serta nikel sulfat dan kobal sulfat pada jalur produksi baterai kendaraan listrik.
Sementara pada tembaga, produksi sudah mulai hingga katoda tembaga, meskipun masih ada relaksasi ekspor konsentrat pada PT Freeport Indonesia (PTFI) menyusul keadaan kahar pada smelter di Gresik, Jawa Timur. Pada Desember 2025, smelter PTFI ditargetkan memproduksi katoda tembaga dengan kapasitas 100 persen.
Melihat kondisi tersebut dalam konteks peningkatan nilai tambah di tahap awal, sudah selesai, setidaknya pada komoditas nikel dan tembaga. Artinya, produk tambang paling hulu, yang selama ini dijual mentah, sudah bisa diolah di dalam negeri untuk mendapatkan nilai ekonomi berlipat. Namun, apakah itu cukup?
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2019/06/20/79854a85-ff0a-4845-81f4-3c011a2e93e6_jpg.jpg)
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas mengatakan, saat smelter Freeport dan Amman Mineral sudah berproduksi dengan kapasitas penuh, akan dihasilkan sekitar 1 juta ton katoda tembaga per tahun di Indonesia. Sementara serapan domestik berkisar 300.000-400.000 ton saja. Sisanya, mau tak mau harus diekspor.
”Hilirisasinya buat tambang sudah selesai. Namun, kan, ini peluang (manufaktur di dalam negeri). Sudah ada minat perusahaan dari China dan nasional yang membangun pabrik copper rod (batang tembaga). Juga ada peluang lagi (turunan tembaga), yakni selongsong peluru yang kini kita impor,” kata Tony pada Energi Mineral Forum di Jakarta, Senin (27/5/2025).
Di samping itu, potensi peluang lain dalam menyerap produk turunan tembaga ialah terkait rencana pembangunan transmisi jaringan kelistrikan sekitar 40.000 kilometer (km) oleh PT Perusahaan Listrik Negara (Persero). Kabel-kabel dalam jaringan transmisi tersebut akan membutuhkan banyak tembaga.
”Tapi, kan, pabrikasinya belum ada. Peluang-peluang seperti inilah yang perlu didorong, jika kita bicara hulu ke hilir (dari produk pertambangan),” lanjut Tony.
Menurut dia, kemudahan investasi menjadi salah satu faktor kunci perkembangan industri manufaktur. Sebab, jika kalah bersaing, investor bisa memilih negara tetangga, seperti Vietnam. Perlu diupayakan bersama agar Indonesia lebih berdaya saing dibandingkan negara-negara lain.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/11/83900365-323a-485d-bb54-f42ffc9f33b4_jpg.jpg)
Sekretaris Umum Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Meidy Katrin menuturkan, nikel memang memiliki kisah sukses yang berpeluang diikuti mineral kritis dan mineral strategis lain. Namun, yang perlu dicatat bahwa produk turunan nikel yang dihasilkan di Indonesia saat ini baru produk antara.
”Kita berharap pada (industri) akhir. Kemarin LG sudah datang (dalam proyek baterai Titan), tetapi enggak tahu kenapa kabur. Tapi alhamdulillah sudah di-take over Huayou. Sayangnya, di China, kan, (mayoritas pasar baterai) masih litium (LFP). Tapi, kami selalu berdiskusi dengan Barat/Amerika tentang end product (baterai),” ujarnya.
Meidy menambahkan, dari semua olahan nikel yang ada di Indonesia, sebesar 70 persen masih untuk baja nirkarat. Sementara untuk bahan baku baterai (berbasis nikel/NMC) masih 30 persen. Dengan demikian, masih ada peluang untuk mengoptimalkannya. Ke depan, pasar baterai NMC juga diprediksi mengimbangi LFP.
Sementara itu, potensi industri hilir pada jalur baja nirkarat ialah industri wadah makan (food tray) ataupun mealbox. Terlebih, ada program Makan Bergizi Gratis di Indonesia. Dengan bahan baku nikel yang melimpah, Indonesia berpeluang membangun industri produk akhir itu sehingga nilai tambah lebih didapat Indonesia.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam meningkatkan daya tarik investasi di Indonesia ialah konsistensi regulasi. ”Bagaimana pemerintah menjamin keamanan dan kenyamanan investor. Mereka yang datang kerap mengeluh jika satu aturan belum selesai dihapal, lalu sudah berganti lagi,” ucap Meidy.
Sekretaris Satgas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional Ahmad Erani Yustika mengatakan, pemerintah memberi perhatian sekaligus menjaga tiga kaki kepentingan dalam mengembangkan hilirisasi nasional. Ketiga aspek tersebut adalah ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Pemerintah, imbuh Erani, juga melihat hilirisasi sebangun dan sejalan dengan industri manufaktur. ”(Sebab), nyaris tidak ada negara di dunia yang meningkatkan pendapatan per kapita, untuk menjadi negara berpendapatan tinggi, tanpa ada penguatan sektor manufaktur,” katanya.
Menurut Erani, dalam mewujudkan itu diperlukan investasi masif, tetapi harus spesifik. Saat ini, pemerintah mendorong investasi yang betul-betul memiliki nilai tambah. Bahkan, bukan hanya hilirisasi pada tambang mineral, melainkan juga bidang-bidang lain, seperti pertanian, perkebunan, dan perikanan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/12/28/18cf0a62-e565-4803-befa-02384e3de357_jpeg.jpg)
Erani menuturkan, dalam upaya terus mendorong hilirisasi hingga industrialisasi, pemerintah berupaya memastikan peningkatan kesejahteraan bagi seluruh warga. Artinya, kehadiran investasi tidak hanya meningkatkan kesejahteraan sebagian warga, sedangkan sebagian lagi justru terdampak sisi negatif saja.
”Begitu ada persetujuan dari Presiden, proyek-proyek akan dieksekusi kami koordinasikan dengan Kementerian Ketenagakerjaan dan lainnya. Kami siapkan ahli-ahli teknis. Pekerja yang terlibat serta masyarakat lokal pun dilatih sejak dini sehingga saat pabrik beroperasi, mereka kompatibel,” kata Erani.
Dihubungi terpisah, pengamat energi dan pertambangan, yang juga peneliti pada Alpha Research Database, Ferdy Hasiman, mengatakan, pengembangan hilirisasi perlu serius digalakkan menuju produk akhir yang diproduksi di dalam negeri. Apabila tidak, nilai ekonomi lebih banyak dinikmati negara lain yang menjadi investor.
Untuk itu, gembar-gembor hilirisasi jangan hanya terhenti di produk setengah jadi. ”Perlu ada desain strategi yang jelas pemanfaatan produk tambang hingga industrialisasi. Ini yang saya belum lihat. Apabila memang hendak mengembangkan baterai, maka perlu disegerakan,” ujar Ferdy.
Koordinasi lintas sektor menjadi krusial dalam mewujudkan cita-cita hilirisasi hingga industrialisasi, termasuk koordinasi antarkementerian yang memiliki kewenangan akan hal tersebut.
Penulis:
Aditya Putra PerdanaEditor:
Aris PrasetyoPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari