Hind Rajab, Anne Frank dari Jalur Gaza

Anne Frank, gadis Yahudi korban Nazi, jadi simbol perlawanan dan kemanusiaan melawan rasisme. Kini, Hind Rajab, gadis kecil Palestina, jadi simbol perlawanan baru.

12 Jan 2025 17:59 WIB · Internasional

Oleh Iwan Santosa

Semasa Perang Dunia II dikenal sosok Anne Frank, gadis Yahudi Belanda yang tewas dibunuh oleh Nazi Jerman. Hari ini dunia mengenal sosok perlawanan baru, Hind Rajab (5), anak perempuan Palestina yang dibunuh militer Israel di persimpangan jalan di Gaza.

Ketabahan Hind Rajab di saat–saat terakhir hidupnya, ketika sebagian besar keluarganya sudah dibunuh serdadu Israel, menjadi inspirasi perlawanan dan tuntutan keadilan. Hind Rajab adalah satu dari puluhan ribu perempuan dan anak–anak Palestina yang dibunuh militer Israel di Gaza sejak Oktober 2024.

Nyawa Hind Rajab dan ribuan perempuan serta anak korban kekejaman serdadu Israel kini menuntut balas. Hind Rajab menjadi inspirasi dibentuknya Yayasan Hind Rajab (HRF) di Belgia yang melaporkan deretan panjang kejahatan perang serdadu Israel.

Quote

Prajurit Israel bahkan merayakan perbuatan mereka dengan gembira dengan memperlakukan orang Palestina secara tidak manusiawi. Mereka merasa kebal hukum.

HRF dengan tekun mengumpulkan berbagai data dugaan kejahatan perang para serdadu Israel di Jalur Gaza. Sudah sekurangnya 1.000 serdadu Israel dilaporkan melakukan kejahatan peran dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Para prajurit itu tidak bisa tenang bepergian di luar Israel. Mereka bisa ditangkap. HRF dalam laporan Palestine Chronicles 11 Januari 2025 mengirimkan daftar nama ke Mahkamah Kriminal Internasional (ICC).

Media Israel, Haaretz, juga mewartakan gerakan tersebut. HRF aktif memburu prajurit Israel yang dengan bangga meninggalkan aneka jejak digital keterlibatan mereka dalam Perang Gaza.

Haaretz melaporkan, sepanjang Perang Gaza, para serdadu Israel bukan saja dengan sadar meninggalkan jejak fisik. Mereka juga meninggalkan jejak digital dengan memasang foto operasi militer mereka secara daring. Mereka pun kerap kali menunjukkan perbuatan tidak pantas dan tindakan yang diduga kejahatan perang.

”Yang dilaporkan ke ICC termasuk orang–orang Israel berkewarganegaraan ganda. Ini adalah kasus terbesar yang pernah diajukan ke ICC,” demikian tulis Haaretz.

Salah satu buruan itu Yuval Vagdani. Ia kabur dari Brasil dengan cara diselundupkan ke Argentina, lalu ke Amerika Serikat, dan kemudian terbang ke Israel.

Ia tidak sendiri. HRF juga mengungkap Boaz Ben David, seorang penembak runduk Israel yang diduga melarikan diri dari Swedia melalui negara Skandinavia lainnya. Dalam unggahan di X tersebut ditampilkan foto jelas Boaz Ben David lengkap dengan senapan sniper.

Quote

Para prajurit itu tidak menganggap orang Palestina sebagai manusia. Bagi kelompok ekstrem, orang Palestina itu bahkan dianggap kuman. Kuman harus dibasmi.

Dalam laporan Al Jazeera pada 10 Januari 2025, pemerintah dan media Israel membuatkan panduan bagi para prajurit mereka untuk menyamarkan identitas di mancanegara. Al Jazeera belum mendapat jawaban dari Pemerintah Israel apakah langkah tersebut juga diberlakukan untuk para serdadu cadangan yang mungkin terlibat kejahatan perang.  

Aktivis Human Rights Wacth di Jerusalem, Milena Ansari, mengatakan, para prajurit Israel bangga atas tindakan mereka di Jalur Gaza. ”Para prajurit Israel bahkan merayakan perbuatan mereka dengan gembira dengan memperlakukan orang Palestina secara tidak manusiawi. Mereka merasa kebal hukum,” kata Ansari.

An Israeli soldier stands in an apartment during a ground operation in the Gaza Strip, Wednesday, Nov. 8, 2023. Israeli ground forces entered the Gaza Strip as they press ahead with their war against Hamas militants in retaliation for the group's unprecedented Oct. 7 attack on Israel. (AP Photo/Ohad Zwigenberg)

Banyak video

HRF dimotori dua warga Belgia. Diab Abou Jahjah dan Karim Hassoun. Yayasan itu, menurut Al Jazeera, mengumpulkan banyak video dan tayangan tentang perilaku serdadu Israel, menggiring pria Palestina nyaris telanjang, menyiksa tawanan, menjarah dan merusak rumah warga Palestina. Mereka juga menjarah rumah-rumah itu.

Unggahan para serdadu Israel itu menjadi bukti berharga atas dugaan kejahatan perang yang terjadi. Dari data digital tersebut, para aktivis kemanusiaan bisa melacak posisi si seradu dan menerka tindakan mereka secara kronologis.

Bahkan, berbekal unggahan itu, bisa ditemukan identitas serdadu. Akibatnya, para prajurit yang diduga melakukan kejahatan perang itu bisa diburu. ”Ini adalah soal bertangung jawab secara hukum. Jika seorang serdadu merasa bukan penjahat perang, biarkan saja. Mari dengarkan mereka di pengadilan karena ini menjadi perhatian semua orang,” kata Abou Jahjah.

Atas upayanya, Abou Jahjah diancam Menteri Urusan Diaspora Israel Amichai Chikli. Di media sosial, Chikcli menulis ancamannya. ”Hati-hati dengan penyeranta Anda,” tulisnya merujuk pada serangan teror Israel meledakkan penyeranta di Lebanon.

Sejauh ini belum ada satu serdadu Israel pun yang menyerahkan diri atau ditangkap untuk diadili ICC. Para pejabat Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Hukum Israel belum ada yang mengeluarkan tanggapan resmi atas laporan Haaretz soal HRF.

Mereka hanya menyarankan para prajuritnya meninggalkan sejumlah negara yang mungkin menangkap prajurit tersebut. Para serdadu Israel banyak yang mendapat panggilan telepon dari pejabat terkait Israel. Mereka disarankan menghindari bepergian ke mancanegara dan pulang ke Israel demi menghindari proses hukum kasus kejahatan perang.

Haaretz melaporkan, setidaknya sudah 30 serdadu mendapat peringatan Angkatan Bersenjata Israel dan Kementerian Luar Negeri Israel agar tidak bepergian ke luar negeri. Militer Israel (Tzahal) dan Kemenlu Israel membentuk satgas memantau risiko hukum bagi para prajuritnya di ranah internasional.

EDITORS NOTE: Graphic content / (FILES) Palestinians fleeing the north through the Salaheddin road in the Zeitoun district on the southern outskirts of Gaza City, walk past Israeli army tanks on November 24, 2023, following a four-day ceasefire that began early in the morning. Hamas's attack on October 7 resulted in the deaths of 1,205 people on the Israeli side, most of them civilians, according to an AFP tally based on Israeli official figures. Israel's retaliatory military campaign in Gaza has killed at least 41,431 Palestinians, the majority of them civilians, according to figures provided by the health ministry in Hamas-run Gaza. The United Nations has acknowledged the toll as reliable. (Photo by MAHMUD HAMS / AFP)

Tidak bersalah

Meski banyak bukti kekejaman mereka, banyak prajurit Israel merasa tidak bersalah. Mereka malah menuduh tekanan komunitas internasional kepada Israel, termasuk pelaporan kejahatan perang, sebagai wujud antisemit.

Ahli ilmu politik Israel, Ori Goldberg, di Tel Aviv, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa para prajurit itu telah bertindak tidak adil. ”Anda tidak bisa melakukan genosida selama 15 bulan lalu merasa itu normal saja. Para prajurit itu tidak menganggap orang Palestina sebagai manusia. Bagi kelompok ekstrem, orang Palestina itu bahkan dianggap kuman. Kuman harus dibasmi. Itulah cara pandang mereka,” kata Goldberg.

Menurut Goldberg, tindakan para serdadu dan kelompok ekstrem Israel membuat dunia menekan habis Israel. Namun, para pendukung perang di Gaza, ujar Goldberg, justru merasa mereka adalah korban.

TOPSHOT – Seorang aktivis Israel memegang spanduk selama protes terhadap rencana perdamaian AS untuk Timur Tengah, di depan kediaman duta besar AS di Yerusalem, pada 15 Mei 2020, ketika warga Palestina memperingati peringatan ke-72 Nakba 1948 atau “bencana” “Yang menyebabkan ratusan ribu warga Palestina terlantar akibat perang yang menyertai kelahiran Israel. – Rencana AS, ditolak oleh Palestina, memberikan lampu hijau dari Washington bagi Israel untuk mencaplok permukiman Yahudi dan wilayah lain di Tepi Barat yang diduduki. (Foto oleh )

Padahal, perang terus menewaskan banyak perempuan dan anak Gaza. Seperti catatan Palestine Chronicles, mengutip Kementerian Kesehatan Gaza, sekurangnya 46.537 warga Palestina tewas, 109.571 orang terluka, dan 11.000 orang diperkirakan hilang (terkubur bangunan yang hancur dibom Israel). Jumlah korban sementara itu berarti lebih dari 160.000 orang atau lebih dari 7 persen penduduk Gaza.

Angka itu belum termasuk warga dan anak-anak yang tewas karena kelaparan dan wabah penyakit yang merebak di Gaza karena kehancuran berbagai infrastruktur. Adapun jumlah pengungsi di Gaza mencapai 2 juta jiwa atau 90 persen penduduk Gaza terusir dari rumah-rumah mereka.

Dalam penderitaan itulah, Hind Rajab menjadi Anne Frank modern, simbol perlawanan dalam ketidakberdayaan seorang perempuan cilik. Nama Anne Frank menjadi simbol pemicu perburuan  penjahat Perang Nazi selesai Perang Dunia II. Hal yang sama, nama Hind Rajab akan menjadi mimpi buruk bagi para prajurit Israel yang terlibat dalam genosida di Jalur Gaza.


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Santosa
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan