HIPKI Khawatir Ekspor Kelapa Bulat Untungkan Negara Lain

Di tengah kelangkaan bahan baku industri pengolahan kelapa di Indonesia, India dan Sri Lanka dikabarkan telah membuka keran impor kelapa dari Indonesia.

21 Mar 2025 16:13 WIB · Ekonomi

Oleh Hendriyo Widi

JAKARTA, KOMPAS — Kelangkaan bahan baku kelapa industri pengolahan kelapa belum terpecahkan. Himpunan Industri Pengolahan Kelapa Indonesia atau HIPKI khawatir ekspor kelapa bulat justru akan menguntungkan negara-negara lain.

Hal itu mengingat produksi kelapa di sejumlah negara penghasil utama kelapa, termasuk Indonesia turun. Di sisi lain, dalam dua bulan terakhir ini, ekspor kelapa bulat atau butiran Indonesia ke sejumlah negara meningkat.

Ketua Bidang Industri Aneka Produk Kelapa HIPKI Dippos Naloanro Simanjuntak, Jumat (21/3/2025), mengatakan, hingga kini, belum ada solusi terhadap kelangkaan bahan baku kelapa untuk industri. Ekspor kelapa bulat masih terus berjalan, kendati HIPKI telah meminta penghentian ekspor sementara selama enam bulan.

Padahal, produksi kelapa di Indonesia pada 2024 turun. Produksi kelapa di negara-negara produsen kelapa terbesar dunia lainnya juga anjlok.

Quote

Kami khawatir ekspor kelapa bulat justru akan menguntungkan industri kelapa negara-negara lain. Sementara industri dalam negeri justru mengurangi kapasitas produksi, bahkan tutup.

India dan Sri Lanka bahkan dikabarkan telah membuka keran impor kelapa dari Indonesia. Pada 2023, kedua negara tersebut merupakan penghasil kelapa terbesar ketiga dan keenam dunia.

”Kami khawatir ekspor kelapa bulat justru akan menguntungkan industri kelapa negara-negara lain. Sementara industri dalam negeri justru mengurangi kapasitas produksi, bahkan tutup,” ujar pria yang kerap dipanggil Anro kepada Kompas ketika dihubungi dari Jakarta.

Sumber: Kementerian Perindustrian

Pada 2024, produksi kelapa di empat negara produsen kelapa terbesar dunia, yakni Indonesia, Filipina, India, dan Sri Lanka, turun. Penurunan produksi itu akibat dampak El Nino yang terjadi pada semester II-2023 hingga triwulan I-2024.

Kementerian Pertanian mencatat produksi kelapa pada 2024 turun 0,5 persen secara tahunan atau sebanyak 70,55 juta butir menjadi 14,11 miliar butir. Di Filipina, Perhimpunan Asosiasi Kelapa Filipina (UCAP) menyebutkan produksi kelapa pada 2024 turun 20 persen secara tahunan menjadi 11,94 miliar butir.

Di India, Badan Pengembangan Kelapa (CDB) India memperkirakan produksi kelapa pada 2024 turun sekitar 20 persen dibandingkan dengan produksi pada 2023 yang mencapai 19,31 miliar butir. Adapun di Sri Lanka, Institut Penelitian Kelapa (CRI) memperkirakan produksi kelapa pada 2024 turun menjadi 2,68 miliar butir sehingga bakal kekurangan 200 juta butir kelapa pada Januari-April 2025 (Kompas, 16/3/2025).

Sementara itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), volume ekspor kelapa bulat sepanjang 2021-2024 berfluktuasi. Kenaikan volume ekspor kelapa itu mulai terjadi sejak 2023. Waktu itu, volume ekspor kelapa bulat sebesar 380.883 ton. Kemudian pada 2024, volume ekspornya semakin meningkat menjadi 431.915 ton.

Pekerja melubangi buah kelapa untuk diambil airnya di PT Pacific Eastern Coconut Utama (PECU) di Desa Sukaresik, Kecamatan Sidamulih, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Kamis (10/8/2022). Melalui teknologi ultra hight temperature (UHT), produk olahan kelapa sudah di ekspor ke 37 negara. Produk olahan tersebut yaitu kelapa parut kering, tepung kelapa, santan dan minuman air kelapa dalam kemasan. PT PECU menyerap 750 karyawan dari Pangandaran dan sekitarnya. Ada 1.251 petani organik dengan luas lahan 812,42 hektar di Pangandaran yang bermitra dengan PT PECU. KOMPAS/AGUS SUSANTO (AGS) 10-8-2022

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyatakan, volume ekspor kelapa pada Januari-Februari 2025 sebesar 71.077 ton. Peningkatan ekspornya dalam rentang periode tersebut sebesar 29,84 persen secara bulanan.

Kelapa bulat tersebut paling banyak diekspor ke China, yakni sebanyak 68.065 ton. Kemudian jumlah ekspor kelapa bulat terbanyak berikutnya adalah Vietnam 2.180 ton, Thailand 550 ton, dan Malaysia 280 ton.

Mempertimbangkan penurunan produksi dan tren peningkatan ekspor kelapa bulat itu, HIPKI meminta solusi konkret dari pemerintah. Hal itu mengingat sudah semakin banyak industri pengolahan kelapa mengurangi kapasitas produksinya, bahkan kolaps sejak Oktober 2024 hingga saat ini.

”Dalam waktu dekat ini, HIPKI dijadwalkan bertemu dengan Menteri Perindustrian. HIPKI bakal berpegang pada usulan awal, yakni pemberlakukan moratorium penghentian ekspor kelapa bulan selama enam bulan dan pengenaan pungutan ekspor untuk kelapa bulat,” katanya.

Infografik Pohon Industri Berbasis Hilirisasi Kelapa

Berdasarkan survei internal HIPKI pada Desember 2024, sebanyak 16 perusahaan kelapa hanya mampu mengoperasikan 33 persen dari total kapasitas produksi maksimum. Apabila pabrik-pabrik itu tutup karena tidak mendapatkan bahan baku, 21.399 tenaga kerja bakal kehilangan pekerjaan.

Kemudian dari pendataan sementara HIPKI, sejak awal Januari 2025 hingga 25 Februari 2025, enam perusahaan telah berhenti berproduksi sementara waktu. Dua perusahaan pengolahan kelapa besar di Riau juga sudah merumahkan sekitar 3.000 karyawan (Kompas, 26/2/2025).


Kerabat Kerja

Penulis:

Hendriyo Widi
 | 

Editor:

Aris Prasetyo
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase