KEKUATAN MILITER

Hormuz dan Taiwan, Tempat Penggentar AS Buyar

Jika ke Iran yang dinyatakan kekuatan militer hancur saja tak berani mendekatkan kapal perang dan pesawat militer, bagaimana AS mampu menghadapi China?

13 Apr 2026 09:09 WIB · Internasional

AFP

Oleh Iwan Santosa

Hari-hari keperkasaan tanpa tanding Amerika Serikat sulit dikatakan masih ada. Perkembangan di Selat Hormuz dan Selat Taiwan menjadi sebagian indikasi fenomena itu.

The Wall Street Journal melaporkan, dua kapal perusak USS Frank E Petersen dan USS Michael Murphy melewati Selat Hormuz pada Sabtu (11/4/2026). Pelayaran itu terjadi kala AS-Iran berunding di Pakistan. Keterangan resmi Komando Tengah (Centcom) AS menyebut, kedua kapal perang itu sudah kembali ke Teluk Oman.

Sejak AS-Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026, baru kali itu ada kapal perang AS kembali mendekati Iran. Sejak akhir Februari 2026, kapal-kapal perang AS menjauhi Iran.

Padahal, Presiden AS Donald Trump dan para pejabat AS berulang kali menyatakan, kekuatan militer Iran telah dihancurkan. Panglima Centcom Laksamana Brad Cooper menyebut, kekuatan militer Iran yang dibangun dalam 40 tahun telah dihancurkan dalam 40 hari.

Menurut dosen pada National War College AS, Carter Malkasian, dalam tulisan di Foreign Affairs pada 10 April 2026, kemampuan AS unjuk kekuatan di Timur Tengah tidak berkurang. Akan tetapi, sebaran aset militer AS bisa menunjukkan hal sebaliknya.

Pesawat F/A-18E Super Hornet, diluncurkan dari dek penerbangan kapal induk USS Abraham Lincoln untuk mendukung Operasi Epic Fury pada Sabtu (28/2/2026) di lokasi yang dirahasiakan.

Kapal induk USS Abraham Lincoln dan kapal serbu amfibi USS Tripoli dilaporkan berada antara 500-700 kilometer dari pantai Iran. USS Tripoli mengangkut setidaknya 2.500 marinir AS.

Di darat, pangkalan-pangkalan AS relatif kosong. Para tentara dan pegawai dipindahkan ke sejumlah tempat di luar pangkalan. Lebih dari selusin pesawat dan pesawat nirawak AS telah hancur selama serangan ke Iran.

Kondisi itu memicu pertanyaan, jika menghadapi negara yang dinyatakan kekuatan militer hancur saja tak berani mendekatkan kapal perang dan pesawat militer, bagaimana AS mampu menghadapi China?

Data militer dan intelijen AS menunjukkan, kekuatan militer China berada di peringkat kedua di bawah AS. Kekuatan China juga jelas lebih besar dari Iran.

Namun, sejak USS Kitty Hawk pada akhir 2007, belum pernah lagi kapal induk AS melewati Selat Taiwan. Bahkan, kala China bolak-balik latihan mengepung Taiwan, kapal-kapal militer AS menjaga jarak aman dari Taiwan.

Alur utama

Bersama enam selat dan terusan lain, Selat Hormuz dan Selat Taiwan menjadi bagian delapan alur pelayaran utama global. Disebut demikian karena selat dan terusan itu menjadi rute utama pelayaran niaga global.

Ada Terusan Suez dan Selat Bab-el-Mandab di Laut Merah. Lalu Selat Malaka, Terusan Panama, Selat Gibraltar, dan Selat Bosphorus yang menjadi jalur sempit dan penting bagi perekonomian global serta tentu saja AS dan sekutunya.

Blokade Selat Bab-el-Mandab oleh Houthi di Yaman membuat perekonomian AS-Israel serta sekutunya rugi miliaran dolar AS. Kini, penutupan Selat Hormuz juga memicu dampak ekonomi bernilai triliunan dolar AS. Washington jelas kesulitan membuka blokade Selat Hormuz dan Selat Bab-el-Mandab.

Menurut media AS, The Atlantic, China bisa belajar banyak dari penutupan kedua selat itu. Beijing tahu, Washington bisa berulang kali memundurkan tenggat dan mengubah batasan tindakan lawan. China paham, dengan anggaran terbesar dan klaim sebagai yang terkuat di Bumi, militer AS kesulitan menjatuhkan pesawat nirawak murah.

Tangkapan layar dari video yang disiarkan Komando Operasi Tengah (CENTCOM) Amerika Serikat pada Rabu (4/3/2026) menunjukkan pesawat nirawak LUCAS yang disebut dipakai dalam Operation Epic Fury. Operasi itu adalah nama sandi serangan AS-Israel ke Iran sejak 28 Februari 2026. AS mengakui, LUCAS adalah tiruan dari pesawat nirawak Shahed buatan Iran

Beijing paham bahwa Washington tak cuma menghitung berapa banyak amunisi. AS juga dipaksa mempertimbangkan rantai pasok, pasar saham, hingga harga energi dalam pertimbangan serangan.

Trump berulang kali mengultimatum Iran, termasuk membumihanguskan Iran. Namun, dunia menyaksikan Trump berulang kali mengubah batas waktu yang ditetapkannya sendiri.

Seperti pekan lalu, ia mengancam akan menghancurkan peradaban Iran dalam 48 jam. Lalu, ia mendadak mengumumkan gencatan senjata dua pekan.

Pada Minggu (12/4/2026), setelah perundingan AS-Iran di Pakistan gagal menghasilkan kesepakatan, Trump memerintah blokade Selat Hormuz. Centcom mengumumkan, blokade berlaku mulai Senin (13/4/2026) pagi waktu setempat. Kapal-kapal dari dan ke Iran akan dilarang AS melewati Selat Hormuz.

Apa pun perkembangannya, China pasti telah memperhatikan ambang batas toleransi Trump. Meskipun Beijing memiliki banyak pilihan untuk menaklukkan Taiwan, yang paling menarik bagi militer China adalah memulai dengan blokade sebagian pulau tersebut, seperti yang diberlakukan Iran di Selat Hormuz.

Guncangan yang dihasilkan terhadap ekonomi global akan jauh lebih buruk. Pabrik-pabrik di Taiwan memproduksi lebih dari sepertiga cip dunia. Tanpa mereka, para produsen akan terpaksa menghentikan produksi komputer, mobil, ponsel pintar, peralatan rumah tangga, dan barang-barang lain yang tak terhitung jumlahnya. Membangun pusat data yang mendukung kecerdasan buatan—mesin pertumbuhan ekonomi AS—akan menjadi mustahil tanpa cip canggih yang diproduksi Taiwan.

Para pemimpin Taiwan cenderung melihat industri cip mereka sebagai sumber keamanan. Pada musim gugur 2021, Presiden Tsai Ing-wen saat itu menyebut industri tersebut sebagai ”perisai silikon”. Dalam tulisannya di Foreign Affairs, ia berpendapat bahwa ketergantungan Amerika pada cip Taiwan akan melindungi pulau itu dari ”upaya agresif rezim otoriter untuk mengganggu rantai pasokan global”.

Perang di Iran telah membalikkan argumen ini. Seperti yang terlihat jelas dari gencatan senjata pada Selasa malam, negara yang jauh lebih lemah daripada China dapat menggunakan rantai pasokan global sebagai pengaruh dan, dalam prosesnya, memaksa AS untuk mundur dari ancamannya.

Dengan menutup Selat Hormuz, Iran menyebabkan harga rata-rata bensin di AS melonjak hampir 40 persen, menambah tekanan politik terhadap Trump untuk mengakhiri perang sesegera mungkin.

Jajak pendapat Pew Research Center yang dilakukan pada akhir Maret menemukan bahwa harga bensin adalah kekhawatiran terbesar di antara orang AS terkait perang di Iran. Kekhawatiran itu jauh di atas kemungkinan ”sejumlah besar korban militer AS”.

Dampak ekonomi pada konsumen Amerika akan jauh lebih buruk jika China memutuskan untuk memblokade Taiwan. Total biaya akan mencapai triliunan dolar AS, menurut sejarawan Tufts University, Chris Miller.

”Kehilangan 37 persen produksi daya komputasi kita setiap tahun bisa jadi lebih mahal daripada pandemi Covid dan penguncian wilayah yang membawa bencana ekonomi. Setidaknya dibutuhkan setengah dekade untuk membangun kembali kapasitas pembuatan cip yang hilang,” ujarnya.

Pensiunan kolonel marinir AS yang kini menjadi penasihat senior CSIS, Mark Cancian, menyebut simulasi oleh CSIS terhadap konflik AS-China selalu terkait blokade Selat Taiwan. Dalam 26 simulasi tim Cancian, tak sekali pun AS bisa dengan mudah membuka blokade itu. ”Akan jadi pertempuran besar, bisa kehilangan ratusan kapal,” katanya.

”Jika China meningkatkan penggunaan kekuatan militer, AS harus menerima penyerahan Taiwan dengan syarat-syarat China atau terlibat langsung dalam konflik tersebut,” lanjutnya.

Simulasi Cancian, perkembangan di Selat Hormuz, dan fakta di Selat Bab-el-Mandab menguatkan pendapat, hari-hari AS tanpa tandingan sudah berlalu. AS mungkin tetap kuat. Namun, AS tak sejemawa waktu Perang Tanker era 1980-an atau Krisis Selat Taiwan era 1990-an dan awal 2000-an. Daya penggentar (deterrence) AS buyar.... (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Santosa
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti