Berharap semua sandera segera dibebaskan.
07 Okt 2025 07:39 WIB · Internasional
Hari ini, 7 Oktober 2025, tepat dua tahun peristiwa kelam penyerbuan Hamas di Israel. Hingga hari ini, setidaknya masih ada 48 sandera yang masih ditawan Hamas. Gempuran Israel telah meluluhlantakkan dan meratakan Gaza. Harapan akan rencana perdamaian yang sempat menguat belum juga menunjukkkan hasil.
Eli Sharabi menghabiskan 16 bulan di terowongan-terowongan kotor di bawah Jalur Gaza dengan kaki dirantai. Selama itu ia bertahan hidup dengan roti pita yang sudah berjamur. Melihat kondisi Gaza, ia khawatir dengan sandera yang masih ditahan. Situasinya pasti lebih buruk dibandingkan saat ia berada di tempat itu.
Sharabi yang dibebaskan pada Februari lalu mencoba mendokumentasikan perjalanannya dalam sebuah buku berjudul Hostage. Saat dibebaskan, ia baru tahu bahwa istri dan dua putrinya dibunuh dirumah mereka saat serangan berlangsung. Saat ini, Hamas masih menahan salah satu temannya, Alon Ohel, dan menyimpan jenazah kakak laki-lakinya, Yoshi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/07/28195a0c-6c8e-4cd6-bd9e-c3a3e4e3eb30_jpg.jpg)
Dalam buku tersebut, Sharabi menggambarkan bagaimana ia dan sebagian sandera ditawan di terowongan gelap yang dipenuhi serangga dan tikus. Ia dan tiga sandera lainnya hanya diizinkan mandi beberapa bulan sekali. Bahkan, pada suatu ketika seorang penjaga yang marah memukulinya hingga mematahkan beberapa tulang rusuknya.
Satu-satunya kesempatan mereka muncul ke permukaan adalah ketika mereka dipindahkan melalui jalan-jalan yang dipenuhi puing-puing dari satu terowongan ke terowongan lainnya. Dalam sebuah wawancara dengan kantor berita AP, ia menuturkan bahwa hal tersulit selama penyanderaan adalah rasa lapar.
Seiring memburuknya krisis kemanusiaan di Gaza, para sandera terpaksa makan satu kali sehari. Makanan yang disajikan biasanya roti pita berjamur, sedangkan para penculiknya makan kotak-kotak bantuan kemanusiaan yang ditujukan untuk warga sipil. Berat badannya hanya 44 kilogram saat ia dibebaskan.
Ia termasuk salah satu mantan sandera yang berkesempatan bertemu dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Presiden Trump mengatakan bahwa ia dan dua sandera lainnya yang dibebaskan bersamanya tampak seperti penyintas Holocaust.
Total ada 1.200 orang tewas dan 251 penduduk Israel yang diculik dalam serangan dua tahun lalu. Saat ini, sebagian besar sandera telah dibebaskan melalui beberapa kali pertukaran sandera atau kesepakatan lain.
Namun, serangan balasan Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 67.000 orang dan menghancurkan sebagian besar wilayah Jalur Gaza. Serangan juga menyebabkan sekitar 90 persen dari populasi sekitar 2 juta orang mengungsi dan menyebabkan bencana kemanusiaan dan kelaparan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/07/1d2a3faa-0245-474c-8363-47e50b27c52b_jpg.jpg)
Kenangan terakhir Sharabi tentang keluarganya adalah tatapan mata mereka yang dipenuhi ketakutan saat ia diseret keluar dari rumahnya di Kibbutz Be’eri. Selama beberapa minggu pertama, Sharabi ditahan di sebuah apartemen bersama seorang pekerja pertanian Thailand. Ia diculik dan hampir tidak bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris, Ibrani, atau Arab.
Setelah gencatan senjata selama seminggu pada November 2023 gagal, ia dipindahkan ke terowongan dan ditahan bersama tiga orang Israel yang diculik dari sebuah festival musik. Sharabi, yang usianya hampir dua kali lipat dari sandera lainnya, mengambil peran sebagai figur ayah.
Ia membantu mereka menyusun program latihan agar tubuh mereka tetap bergerak meskipun kaki mereka dirantai. Setiap hari, mereka berusaha berbagi hal baik yang telah terjadi seperti saling berbagi makanan.
Tak satu pun dari mereka yang religius sebelum 7 Oktober, tetapi selama ditawan, mereka berdoa bersama secara teratur. Setiap Jumat malam, salah satu dari mereka akan mengambil secangkir air dan membacakan berkat Sabat tradisional yang dibuat dengan anggur. Sering kali, air mata mengalir di antara doa-doa tersebut.
Setelah dibebaskan, Sharabi bergabung dengan kampanye yang menyerukan pembebasan para sandera yang tersisa. Ia menulis buku, bertemu dengan Trump, dan berpidato di hadapan Dewan Kemanan PBB. Semua ia lakukan didorong oleh ketakukan dan kekhawatiran akan keselamatan Alon Ohel, rekannya yang masih berusia 24 tahun saat serangan terjadi.
Pada bulan Januari, para penculik memberi tahu Sharabi dan yang lainnya bahwa tiga dari mereka akan dibebaskan sebagai bagian dari gencatan senjata yang disepakati bulan itu. Ketika itu, Ohel, yang sensitif menyadari bahwa ia akan ditinggalkan. Ia mengalami serangan panik.
”Hari ketika saya meninggalkannya adalah salah satu hari terberat saya selama ditawan,” kata Sharabi. Kali berikutnya dia melihat Ohel adalah dalam video penyanderaan yang dirilis bulan lalu. Ohel terlihat kurus dan pucat.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/07/9705ef85-508b-4e66-8c7d-3564e7a6cfd4_jpg.jpg)
Sharabi berharap, buku memoarnya akan membawa pembaca dan pemimpin Israel yang agresif atau siapa pun yang berkuasa untuk mengakhiri perang dan memulangkan tawanan tersisa. ”Lalu suatu hari nanti, kau akan bersama kami. Kita akan melakukan semua yang kita janjikan bersama,” kata Sharabi dalam bukunya kepada Ohel.
(AP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan