Houthi Akhirnya Terjun dalam Perang, Berpotensi Picu Front Baru di Timur Tengah

Houthi akhirnya bergabung dalam perang Iran melawan AS dan Israel. Eskalasi yang meningkat memicu Houthi meluncurkan rudal ke Israel.

28 Mar 2026 19:57 WIB · Internasional

AP / OSAMAH ABDULRAHMAN

Oleh Helena Fransisca Nababan

DUBAI, SABTU — Perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel memasuki satu bulan dan belum ada tanda-tanda mereda. Justru konflik kembali memanas dengan bergabungnya Houthi. Hal itu ditandai dengan meluncurnya rudal perdana dari arah Yaman ke Israel pada Sabtu (28/3/2026) pagi waktu setempat.

The Jerusalem Post dengan mengutip keterangan Militer Israel (IDF) memberitakan, Israel mengaktifkan sistem pertahanan udara untuk mencegat ancaman tersebut. IDF mengidentifikasi peluncuran tersebut berasal dari Yaman, dengan proyektil menuju Israel selatan.

Para pendukung Houthi meneriakkan slogan-slogan selama demonstrasi di Sanaa, Yaman, Jumat (27/3/2026). Unjuk rasa itu untuk menentang Israel dan perang Amerika Serikat di Iran.   Mereka juga mengusung spanduk bertuliskan dalam bahasa Arab, "Kami akan menggulingkan tahtamu."

Sirene lantas meraung di seluruh wilayah Beersheba dan komunitas sekitarnya di Negev. Sirene juga berbunyi di Eilat. Warga Israel diinstruksikan untuk mengikuti pedoman Komando Pertahanan Dalam Negeri di tengah situasi yang sedang berlangsung.

Sirene itu memperingatkan orang-orang di dalam dan sekitar Tel Aviv, Jerusalem, Beersheba, dan daerah-daerah di dekat pusat penelitian nuklir Israel untuk segera mencari tempat perlindungan dari tembakan Iran dan Hizbullah.

IDF menyatakan berhasil mencegat rudal dari arah Yaman itu. Serangan rudal Houthi menambah tekanan pada Israel yang sejak Jumat (27/3/2026) malam terus menahan serangan rudal Iran dan Hizbullah.

Beberapa jam setelah peluncuran rudal tersebut, Houthi mengonfirmasi serangan itu. Houthi menyatakan, pihaknya menyerang Israel sebagai tanggapan atas serangan Israel yang terus berlanjut di Iran, Lebanon, Irak, dan Tepi Barat.

Houthi juga memperingatkan bahwa operasi mereka akan berlanjut hingga tujuan mereka tercapai. Tidak dirinci apa tujuan Houthi itu.

Pada Jumat, Israel melakukan serangan besar-besaran terhadap infrastruktur Iran di tiga wilayah negara tersebut. Kantor berita Iran, IRNA, mengutip Organisasi Energi Atom Iran, memberitakan, serangan itu menyasar Kompleks Air Berat Shahid Khondab di Arak dan fasilitas pengayaan uranium di Ardakan, Provinsi Yazd, menjadi sasaran.

Serangan tersebut tidak menyebabkan korban jiwa dan tidak ada risiko kontaminasi. Pabrik Arak belum beroperasi sejak Israel menyerang pada Juni 2025.

Iran membalas serangan Israel. Iran menembakkan enam rudal balistik dan 29 drone ke pangkalan udara Pangeran Sultan di Arab Saudi pada Jumat malam. Menurut sumber The Associated Press (AP) yang berbicara secara anonim, serangan itu melukai setidaknya 15 tentara, lima di antaranya luka serius.

Menurut sumber AP, pangkalan tersebut telah diserang dua kali pada awal pekan ini, termasuk insiden yang melukai 14 tentara AS. Pangkalan itu terletak sekitar 96 kilometer dari ibu kota Saudi, Riyadh. Pangkalan ini dikelola oleh Angkatan Udara Kerajaan Saudi, tetapi juga digunakan oleh pasukan AS.

Orang-orang membersihkan puing-puing dari mobil yang rusak di lokasi tempat proyektil yang membawa selebaran menghantam gedung apartemen di Beirut, Lebanon, Sabtu (28/3/2026).

Front baru

Serangan Israel tersebut sepertinya memicu Houthi untuk meluncurkan rudal ke arah Israel pada Sabtu pagi ini. Dalam perang antara AS dan Iran, sejauh ini Houthi menghindari untuk terlibat.

Seorang pemimpin Houthi yang berbicara secara anonim kepada Reuters pada hari Jumat menyampaikan, ”Hingga saat ini, Iran berkinerja baik dan mengalahkan musuh setiap hari, dan pertempuran berjalan sesuai keinginan kami. Jika terjadi sesuatu yang bertentangan dengan ini, maka kami dapat menilainya.”

Serangan Houthi pada Sabtu pagi juga sesuai dengan pernyataan Juru Bicara Houthi Brigjen Yahya Saree pada hari Jumat. Dalam pernyataan yang direkam, Saree mengatakan, Houthi dapat bergabung dalam perang atas nama Iran.

”Kami menegaskan bahwa kami siap untuk melakukan intervensi militer langsung dalam kasus-kasus seperti kelanjutan eskalasi terhadap Republik Islam Iran dan poros perlawanan,” jelas Saree.

Serangan rudal perdana Houthi menandai pembukaan front baru dalam konflik AS-Iran yang pada Sabtu ini memasuki minggu kelima. Front baru ini kemungkinan akan memperdalam krisis minyak dan ekonomi global.

Para pendukung Houthi meneriakkan slogan-slogan selama demonstrasi di Sanaa, Yaman, Jumat (27/3/2026). Unjuk rasa itu untuk menentang Israel dan perang Amerika Serikat di Iran.   Mereka juga mengusung spanduk bertuliskan dalam bahasa Arab, "Kami akan menggulingkan tahtamu."

Serangan Laut Merah

Seusai serangan perdana ke Israel, jika Houthi membuka front baru, salah satu target yang jelas adalah Selat Bab al-Mandab di lepas pantai Yaman. Selat ini juga merupakan titik penting jalur pelayaran internasional yang mengendalikan lalu lintas laut menuju Terusan Suez. Bila itu terjadi, pelayaran internasional akan terganggu, apalagi Iran sudah menutup Selat Hormuz.

Rencana serangan itu pun sudah disampaikan oleh seorang penasihat senior Houthi yang dikutip oleh Al-Araby TV. Dalam siaran itu, ia mengatakan, ”Kami telah mengembangkan rencana untuk mencegah kapal-kapal Israel melewati Selat Bab al-Mandab.”

Ancaman Houthi tersebut muncul setelah pada Rabu (25/3/2026) Iran mengatakan akan ”mengambil tindakan” di Selat Bab al-Mandeb, yang menghubungkan Laut Merah ke Teluk Aden dan Samudra Hindia, ”jika diprovokasi.”

Kemampuan Houthi untuk menyerang target yang jauh di luar Yaman sudah terbukti. Dalam perang Israel-Hamas di Gaza, Houthi sudah mengganggu jalur pelayaran di sekitar Semenanjung Arab dan Laut Merah melalui serangan dari Yaman.

Selebaran berserakan di antara puing-puing di lokasi tempat  sebuah proyektil yang membawanya menghantam gedung apartemen di Beirut, Lebanon, Sabtu (28/3/2026).

Siapakah Houthi?

Menilik kemampuan itu, siapakah Houthi ini? Reuters melaporkan, Houthi merupakan gerakan militer, politik, dan agama yang dipimpin oleh keluarga Houthi dan berbasis di Yaman utara.

Houthi memiliki sejarah berperang gerilya dengan tentara Yaman. Mereka lalu memperluas kekuasaan dan membangun hubungan yang lebih dekat dengan Iran setelah gelombang unjuk rasa ”Musim Semi Arab” tahun 2011.

Memanfaatkan ketidakstabilan di Yaman, Houthi merebut ibu kota Yaman, Sanaa, pada tahun 2014. Tahun berikutnya, Arab Saudi memimpin koalisi negara-negara Arab dalam intervensi militer untuk mencoba mengusir kelompok tersebut.

Houthi menunjukkan kemampuan rudal dan drone yang signifikan. Houthi juga pernah menyerang instalasi minyak dan infrastruktur vital di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

Setelah bertahun-tahun berperang yang menyebabkan salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia, PBB menengahi gencatan senjata pada tahun 2022 di antara pihak-pihak yang bertikai di Yaman. Hingga kini, gencatan senjata masih berlaku.

Houthi kemudian terlibat dalam perang Gaza yang meletus 7 Oktober 2023 setelah Hamas menyerang Israel. Sebagai dukungan kepada Hamas, Houthi menembaki kapal-kapal internasional dan kapal Israel di Laut Merah.

Mereka juga menembakkan drone dan rudal ke Israel, yang kemudian membalas dengan serangan udara terhadap target Houthi. AS juga melancarkan serangan terhadap Houthi.

Houthi menghentikan serangan mereka setelah gencatan senjata yang ditengahi AS, antara Israel dan Hamas, pada Oktober 2025. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto