Kata Sapardi, tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni. Hujan berlanjut hingga Juli, lalu merembet ke hati "Garuda Pertiwi" seusai kans ke Piala Asia menipis.
03 Jul 2025 13:26 WIB · Olahraga
Hujan deras disertai petir yang mengguyur Stadion Indomilk Arena, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (2/7/2025) sejak sore, sempat berhenti ketika tim nasional sepak bola putri Indonesia memasuki lapangan pada pukul 20.00. Sepak mula laga kontra Pakistan berlangsung tanpa rintik hujan. Namun, hujan datang lagi, seiring nasib timnas putri yang kian muram.
Hujan turun selepas paruh pertama laga ketika Indonesia sudah kebobolan dua gol. Tidak sederas sore hari yang sampai memberhentikan sejenak laga Grup D kualifikasi Piala Asia 2026 lainnya, Taiwan versus Kirgistan.
Hujan juga tidak mampu menyamarkan kesedihan ”Garuda Pertiwi”. Beberapa pemain menangis selepas wasit meniup panjang peluit. Indonesia kalah, 0-2, dari Pakistan setelah gol Nadia pada menit ke-8 dan gol penalti Suha Hirani (18’). Namun, hujan itu seolah memberi tambahan kesan penuh kesedihan.
Wajah para pemain sembab ketika mereka melewati mixed zone, area jalur bagi para pemain dan ofisial tim untuk berpindah dari kamar ganti ke area parkir bus. Hanya beberapa pemain yang mau diwawancarai, sisanya memilih memalingkan muka.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/02/6138f3a24bc1d6cbc5984746eb9d6be1-20250702YGA02.jpg)
Mereka menatap lurus ke arah parkir bus atau menunduk. Beberapa lainnya sengaja memasang headphone di telinga. Pemandangan yang sangat kontras dengan tiga hari sebelumnya ketika mereka sehabis menang atas Kirgistan, 1-0.
Reaksi itu wajar saja. Shafira Ika dan kawan-kawan baru saja kalah dan setiap kekalahan selalu menyakitkan. Apalagi, kekalahan dari Pakistan terjadi ketika Indonesia sebenarnya bisa dibilang unggul segala-galanya.
Garuda Pertiwi berbekal kemenangan pada laga perdana, unggul secara peringkat dunia (posisi ke-95), dan tampil di hadapan publik sendiri. Bandingkan dengan Pakistan yang datang dengan hasil memilukan pada laga sebelumnya: kekalahan telak, 0-8, dari Taiwan.
Belum lagi, Pakistan merupakan tim paling inferior di grup dengan peringkat dunia ke-157. Mereka tidak aktif tahun ini dan tidak pernah menang saat berlaga tahun lalu.
Pemain sayap timnas putri, Zahra Muzdalifah, menekankan, mereka sama sekali tidak meremehkan Pakistan. Sebab, menurut Zahra, keunggulan, terutama pada peringkat dunia, hanyalah angka.
”Pada akhirnya, semua itu di lapangan. Jadi, sebenarnya kami tidak meremehkan sama sekali. Cuma, ya, bola itu bundar. Saya enggak bisa banyak bicara soal itu. Saya juga menyesalinya,” tutur Zahra yang sudah memperkuat timnas putri sejak 2018.
Penyesalan juga diungkapkan pelatih timnas putri Satoru Mochizuki. Berdasarkan analisis sementaranya, Mochizuki kembali menyoroti kurangnya kemampuan dasar pemain, seperti mengumpan, mengontrol, dan menendang bola, sebagai salah satu penyebab kekalahan tim. Padahal, problem ini sudah digaungkan Mochizuki sejak pertama kali ditunjuk sebagai pelatih pada tahun lalu.
Artinya, dalam setahun ini, Mochizuki masih belum menemukan solusi atas permasalahan tersebut. Ditambah lagi, tidak ada kompetisi reguler yang memungkinkan para pemain terus mengasah kemampuan dasar mereka.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/02/a5e61b2458b10f33f805ce332c92258c-20250702YGA01.jpg)
”Banyak kesalahan di lapangan yang membuat kami kehilangan bola, baik salah umpan maupun kontrol bola. Kami sulit mendikte alur pertandingan karena kesalahan mendasar itu,” kata Mochizuki.
”Tapi, ya, inilah sepak bola. Saya ingin pemain belajar dan juga terus maju ke depan untuk pertandingan-pertandingan selanjutnya,” ujar pelatih yang menjadi bagian tim kepelatihan timnas putri Jepang saat menjuarai Piala Dunia 2011.
Melawan Pakistan, Indonesia sebenarnya tidak kekurangan peluang untuk menang. Garuda Pertiwi bahkan menunjukkan dominasi mereka di lapangan.
Jika dibandingkan, peluang Pakistan dan Indonesia bak bumi dan langit. Namun, Pakistan mampu bermain efektif dengan memaksimalkan setiap peluang mereka.
Terhitung hanya tiga kans anak-anak asuhan Adeel Mirza Rizki pada paruh pertama, dua di antaranya berbuah gol. Adapun Indonesia mencatatkan sedikitnya 11 peluang terutama lewat tendangan langsung di luar kotak penalti.
Namun, Indonesia mengalami disorientasi. Para pemain seolah kehilangan arah, baik saat mengumpan, menerima, maupun menendang bola, saat menyerang maupun bertahan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/02/d1cfe17aff17ddd81d1acdd5e6b982d7-20250702YGA13.jpg)
Saat menyerang, pemain-pemain Indonesia akhirnya melepaskan tendangan-tendangan langsung dari luar kotak penalti agar bisa membobol gawang lawan. Mereka kehilangan arah setelah kesulitan menembus pertahanan lawan, tak mampu merangsek ke kotak penalti. Namun, masalahnya, tendangan dari jarak jauh itu juga tidaklah akurat.
Ketika bertahan, para pemain Indonesia juga kerap kecolongan. Pakistan, seperti yang diwaspadai oleh pelatih Satoru Mochizuki sebelumnya, berbahaya saat serangan balik. Terbukti, mereka bisa menciptakan peluang pertama dari skema itu. Peluang pertama tersebut bahkan mampu langsung berbuah gol lewat aksi penyerang Nadia.
Nadia, yang bergerak dari sisi kanan penyerangan untuk menerima umpan terobosan, tak terkejar oleh bek kiri Gea Yumanda dan bek tengah Emily Nahon. Dari sisi kanan serangan di dalam kotak penalti itu pula, Nadia menendang bola yang sempat mengenai bek Indonesia, Gea Yumanda, dan tak bisa ditangkap oleh kiper Indonesia yang baru dinaturalisasi, Iris De Rouw.
Pada babak kedua, Mochizuki mencoba mempertajam serangan dengan memasukkan pencetak gol semata wayang Indonesia dalam laga kontra Kirgistan, Isa Warps, dan penyerang lainnya, Marsela Awi. Pelatih asal Jepang ini juga memasukkan Rosdilah Siti dan Helsya Meisyaroh untuk memperkuat lini tengah. Namun, upaya itu tidak membuahkan hasil.
Di sisi lain, tidak mengganti pemain bertahan meski dalam beberapa kesempatan kesulitan menggagalkan upaya serangan lawan yang polanya sama. Emily, misalnya, dua kali tidak bisa mengejar pemain Pakistan yang mengandalkan kecepatan untuk serangan balik.
Ketika pergantian pemain berujung buntu, menurut Iris De Rouw, daya juang para pemain juga sudah mulai menurun. ”Sebagai tim, kami memang seharusnya tidak menyerah dan terus berjuang sampai detik terakhir. Tapi, saya rasa kami menyia-nyiakan itu dengan mungkin menyerah terlalu cepat. Padahal, di babak kedua, kami seharusnya menganggap itu sebagai kesempatan baru,” tutur Iris.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/02/7a1756fe7a35852e3ad3d8b03524a957-20250702YGA17.jpg)
Idealnya, Indonesia menang atas Pakistan. Jika tidak bisa menang dengan skor melimpah seperti Taiwan mengalahkan Pakistan hingga 8-0, menang dengan skor berapa pun sebenarnya sudah cukup bagi Indonesia. Kemenangan akan membuat mereka tetap menjaga peluang untuk lolos ke Piala Asia lagi seperti pada edisi 2022.
Dengan skenario ini, Indonesia ”hanya” perlu menang lawan Taiwan untuk berebut satu tiket ke Piala Asia. Kendati dengan skenario ini Indonesia dan Taiwan sama-sama mengoleksi enam poin dari tiga laga yang dijalani, ”Garuda Pertiwi” berhak lolos ke Piala Asia Wanita 2026 karena unggul head to head atas Taiwan.
Namun, dengan kekalahan dari Pakistan, skenarionya tidak sesederhana itu. Mereka tidak hanya harus menang pada laga terakhir kontra Taiwan, tetapi juga harus berharap Pakistan tidak mengalahkan Kirgistan. Artinya, Indonesia akan menggantungkan nasib pada laga lain.
Apabila Pakistan menang atas Kirgistan, Indonesia wajib menang dengan skor besar atas Taiwan yang notabene tim terkuat di grup. Sebab, Indonesia, Pakistan, dan Taiwan akan sama-sama mengoleksi enam poin dan keunggulan akan ditentukan dengan selisih gol.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/02/2755352c680d3473b399301ad237d5a1-20250702YGA14.jpg)
Di sisi lain, Pakistan menunjukkan kepada Indonesia mentalitas luar biasa mereka. Kekalahan telak, 0-8, dari Taiwan bukan hal yang mudah diterima oleh sebuah tim. Namun, mereka bisa bangkit lebih kuat setelah kekalahan tersebut.
Padahal, setelah kekalahan dari Taiwan, harapan untuk lolos ke Piala Asia seolah tertutup karena mereka harus menang dalam dua laga setelahnya melawan tim di atas mereka. Dari Pakistan, Indonesia bisa belajar soal kebangkitan seusai kekalahan.
”Sebagai pemain, kami punya dua pilihan, bukan? Pilihannya adalah mengasihani diri sendiri, menundukkan kepala, menyerah, dan tidak berjuang. Atau pilihan lainnya adalah menegakkan kepala, memahami kesalahan kami, melupakannya, belajar darinya, dan terus maju serta bermain,” kata kapten Pakistan, Maria Jamila Khan.
”Jadi, sekali lagi, selama dua hari terakhir kami berkumpul, mencoba untuk, sekali lagi, saling mendukung, dan pesan kami di awal pertandingan dalam rapat adalah, apa pun yang terjadi, kami akan tetap bersama. Dan itu benar-benar terlihat malam ini di lapangan,” ucapnya lagi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/02/e1b548e319d99dd4ff26d42ccf30ede3-20250702YGA18.jpg)
Hujan masih turun meski rintiknya sangat kecil ketika wasit meniup panjang peluit. Di antara hujan itu, para pemain Pakistan merayakan kemenangan perdana mereka dengan penuh sukacita, berpelukan, membentangkan bendera kebanggaan. Di ujung lapangan, ketika hujan perlahan berhenti, hujan lain membasahi hati dan pipi para pemain Indonesia.
Masih ada satu laga menanti timnas putri. Kata penyair kenamaan Sapardi Djoko Damono, tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni. Tapi, siapa tahu, hujan bulan ini dan hujan di hati para pemain timnas putri bisa melebihi ketabahan itu.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase