Kondisi ekonomi masyarakat saat ini layaknya bait puisi Sapardi. Masyarakat perlu lebih tabah, bijak, dan arif daripada hujan bulan Juni itu sendiri.
17 Jun 2025 07:00 WIB · Ekonomi & Bisnis
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
Sepenggal bait puisi itu ditulis oleh Sapardi Djoko Damono. Puisi dengan judul ”Hujan Bulan Juni” yang ditulis tiga puluh enam tahun silam itu kiranya masih cukup relevan hingga hari ini. Hampir saban hari sejak awal Juni awan mendung yang menggelayuti langit meluruh menjadi butiran air.
Bukan hanya secara harfiah, pemaknaan di balik puisi itu pun tetap relevan menyentuh seluruh horizon kehidupan masyarakat. Salah satunya, Pak Sapardi lewat karyanya itu hendak mengajarkan arti dari sebuah kesabaran dalam penantian.
Begitu pula dengan kondisi perekonomian kita hari ini. Awal 2025 kurang menggembirakan lantaran berbagai capaian indikator ekonomi tak sesuai dengan ekspektasi. Momentum Lebaran pun masih belum cukup mampu membuat perekonomian kembali bergeliat lantaran daya beli masih tertekan.
Kini, masa liburan yang digadang-gadang dapat mendongkrak belanja masyarakat akan tiba kembali. Selama Juni-Juli 2025, anak-anak sekolah mulai memasuki libur panjang semesteran. Lantas, apakah momen tersebut akan menstimulus belanja masyarakat?
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/06/ec251760-3be7-4724-b753-74b5a19a5402_jpg.jpg)
Rosalina (35), seorang pekerja di Yogyakarta, menceritakan, momentum liburan biasanya akan dihabiskan untuk bersama dengan anak semata wayangnya di Purwokerto, Jawa Tengah. Tempat rekreasi atau hiburan seperti pusat perbelanjaan dan wahana wisata edukatif tak luput dari daftar lokasi yang wajib dikunjungi.
”Kalau untuk pengeluaran liburan, kami enggak mematok, seadanya rezeki lebih saja. Yang penting kami punya waktu bersama anak karena bagi saya yang penting quality time,” katanya saat dihubungi dari Jakarta, Rabu (11/6/2025).
Namun, kini, situasinya menjadi berbeda. Pengeluarannya pada masa liburan sekolah Juni-Juli 2025 nanti cenderung akan ditahan. Bukan tanpa alasan, kenaikan harga kebutuhan pokok dan biaya pendidikan yang tak sebanding dengan kenaikan pendapatan membuatnya lebih memprioritaskan kebutuhan.
Masalahnya, kenaikan gaji kami juga enggak sebanding dengan kenaikan harga-harga yang ada. Inginnya kami mengajak libur anak, bikin momen liburan bersama, tapi kami juga harus pintar memilah yang jadi prioritas. Apalagi, biaya sekolah juga tambah mahal karena untuk sekolah yang berkualitas harus merogoh kantong.
Alih-alih bepergian rekreasi ke tempat-tempat yang jauh, Rosalina cenderung memilih untuk mencari tempat-tempat yang lebih terjangkau. Sebab, ada pengeluaran lain yang terus meningkat dan harus dibayar saban bulan, seperti sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) anaknya.
Selain itu, Rosalina juga harus memutar otak dalam mengatur keuangannya. Untuk bertemu dengan anaknya saja pada akhir pekan, mau tidak mau ia mengeluarkan ongkos tiket kereta api yang dalam setahun terakhir cenderung meningkat.
”Masalahnya, kenaikan gaji kami juga enggak sebanding dengan kenaikan harga-harga yang ada. Inginnya kami mengajak libur anak, bikin momen liburan bersama, tapi kami juga harus pintar memilah yang jadi prioritas. Apalagi, biaya sekolah juga tambah mahal karena untuk sekolah yang berkualitas harus merogoh kantong,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/29/1eee99c2-e130-4a65-8a85-5f3438adfcfe_jpg.jpg)
Ia pun berharap setidaknya pemerintah dapat memberikan subsidi untuk transportasi umum agar harganya tetap terjangkau bagi masyarakat. Sebab, baginya, pengeluaran untuk membeli tiket kereta api saja sudah cukup terasa mencekik kantong.
Kisah mirip juga dirasakan oleh Muhammad Bayu Ardiaz (37) atau akrab disapa Obey, warga Medan, Sumatera Utara. Jika tahun lalu Obey bersama keluarganya bisa menikmati liburan di luar kota, tahun ini masa liburan kemungkinan hanya akan dihabiskan di tempat wisata terdekat.
Sebagai salah satu pekerja lepas di sebuah event organizer, dapur keuangan keluarga Obey sangat bergantung pada setiap gelaran acara yang diadakan di Kota Medan. Namun, selama satu semester terakhir, acara-acara yang rutin diadakan tenggelam akibat efisiensi anggaran pemerintah.
”Event selama bulan 1-6 jauh lebih sedikit dibandingkan tahun lalu. Mungkin memang terpengaruh efisiensi pemerintah karena dunia event selama ini sangat bergantung ke kegiatan, baik dari pemerintah kota, pemerintah provinsi, serta BUMN (badan usaha milik negara),” katanya saat dihubungi dari Jakarta.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/03/21/e0eee669-07bc-4468-bd21-e4d0867227be_jpg.jpg)
Ia menambahkan, kegiatan yang biasanya diadakan oleh instansi atau pemerintah menjadi sepi setelah adanya kebijakan efisiensi. Alhasil, rupiah yang didapatkan dari setiap gelaran acara tersebut menipis sehingga mau tidak mau pengeluaran sebisa mungkin ditekan.
Alih-alih berekreasi atau bepergian, Obey memilih untuk tetap di rumah menghabiskan waktu bersama keluar atau hanya pergi ke tempat-tempat yang terjangkau. Bukan hanya itu, ongkos belanja kebutuhan keluarga sehari-hari pun terpangkas seketika.
”Untuk situasi ekonomi saat ini, mungkin Obey akan mengirit pengeluaran atau mungkin enggak ada kegiatan liburan saat anak-anak libur semester tahun ini sama sekali. Liburan paling yang gratisan, seperti ke taman atau yang murah ke kebun binatang,” ujarnya.
Ia berharap kebijakan efisiensi yang diambil pemerintah tidak hanya mengutamakan kepentingan pemerintah. Lebih daripada itu, dampak dari penghematan itu dapat dirasakan oleh masyarakat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/16/e1501a80a0c7239a94f5c9b1af09fd10-Screenshot_20250416_153422_Drive.jpg)
Kedua cerita di atas setidaknya menjadi potret kecil dari sebagian masyarakat yang cenderung masih bersikap defensif alias menahan belanja. Kondisi tersebut, antara lain, tecermin dari indikator makro, seperti pertumbuhan ekonomi dan konsumsi rumah tangga.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik mencatat, produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada triwulan I-2025 tumbuh 4,87 persen secara tahunan. Pertumbuhan ini melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh 5,02 persen.
Sejalan dengan itu, porsi konsumsi rumah tangga terhadap PDB juga menyusut, dari triwulan I-2024 sebesar 54,9 persen menjadi 54,5 persen pada triwulan I-2025. Mesin utama pertumbuhan ekonomi ini pun hanya tumbuh 4,89 persen, lebih rendah ketimbang triwulan IV-2024 yang tumbuh 4,98 persen.
Untuk situasi ekonomi saat ini, mungkin Obey akan mengirit pengeluaran atau mungkin enggak ada kegiatan liburan saat anak-anak libur semester tahun ini sama sekali. Liburan paling yang gratisan, seperti ke taman atau yang murah ke kebun binatang.
Selain itu, data Mandiri Spending Index (MSI) menunjukkan, konsumen cenderung lebih selektif dengan menitikberatkan pada belanja kebutuhan pokok. Akibatnya, pengeluaran untuk barang-barang non-esensial, seperti belanja barang tahan lama dan barang bukan makanan lainnya, menjadi berkurang.
MSI juga menemukan, konsumen cenderung memilih harga yang lebih murah, ukuran lebih kecil, dan pembelian yang lebih sering, yang dikenal sebagai downtrading. Selama periode pra-Ramadhan 2025, rata-rata nilai belanja per transaksi turun 0,7 persen secara tahunan dan berlanjut hingga periode Ramadhan dan libur Idul Fitri 2025.
Selama periode Ramadhan dan Idul Fitri 2025, proporsi belanja masyarakat untuk kebutuhan pokok sebesar 20 persen. Sebaliknya, proporsi belanja masyarakat untuk barang tahan lama tercatat 17 persen dan belanja makanan di luar sebesar 17 persen. Keduanya turun dibandingkan tahun lalu yang mencapai 19 persen.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/13/de485130-9f92-40f6-8b3c-a6325d9ba796_gif.gif)
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia Mohammad Faisal berpendapat, momentum liburan semesteran periode Juni-Juli 2025 berbeda dengan libur Lebaran sebelumnya. Salah satu perbedaannya ialah adanya tunjangan hari raya (THR) yang cair sebelum Lebaran.
”Nanti itu memang akan bisa meredam perlambatan konsumsi, tapi tidak terlalu signifikan. Artinya, tingkat konsumsi rumah tangga dan pertumbuhannya pada triwulan II dan III hanya berkontribusi satu bulan dari tiga bulan karena periodenya Juni-Juli. Itu tidak akan mengangkat sampai ke 5 persen, bahkan mungkin ke 4,9 persen pun susah,” katanya.
Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menjelaskan, tren konsumsi masyarakat selama masa liburan Juni-Juli 2025 akan menghadapi tantangan berupa pelemahan daya beli. Hal ini utamanya disebabkan oleh kondisi ekonomi nasional yang sedang dalam tekanan.
”Dalam kondisi pelemahan daya beli secara umum, biasanya terdapat kecenderungan masyarakat menahan belanja, khususnya yang bersifat non-esensial, seperti rekreasi atau hiburan,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/26/2194c0e6-2e1e-4506-9a68-959d7ab33fb7_jpg.jpg)
Kendati demikian, aktivitas ekonomi selama liburan kali ini berpeluang meningkat. Apalagi, pemerintah secara khusus telah menyiapkan sejumlah paket stimulus ekonomi, seperti diskon transportasi dan tambahan bantuan sosial, yang berpotensi meningkatkan daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah.
Paket kebijakan tersebut berpotensi mengurangi tekanan pelemahan daya beli masyarakat. Pemberian diskon transportasi publik yang disediakan selama periode libur sekolah, misalnya, dapat mendorong mobilitas dan konsumsi masyarakat, khususnya di sektor jasa dan pariwisata.
Menurut Josua, stimulus itu juga berpeluang meningkatkan konsumsi serupa dengan pola konsumsi selama Lebaran pada triwulan I-2025. Jika stimulus kebijakan tersebut efektif, konsumsi masyarakat bisa terdorong secara signifikan, terutama di sektor retail, pariwisata, perhotelan, dan transportasi.
”Namun, keberhasilan ini akan bergantung pada implementasi yang tepat sasaran dan kepercayaan masyarakat untuk kembali berbelanja secara lebih bebas, meskipun secara bertahap,” ujarnya.
Secara keseluruhan, kombinasi kebijakan stimulus pemerintah dan optimisme pemulihan konsumsi selama liburan Juni-Juli 2025 memberikan pengharapan akan momentum pemulihan daya beli. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada efektivitas implementasi kebijakan stimulus serta pemulihan kepercayaan konsumen secara umum.
Pada akhirnya, kondisi perekonomian masyarakat saat ini layaknya barisan puisi ”Hujan Bulan Juni” yang dituliskan oleh Sapardi. Masyarakat mesti lebih tabah, lebih bijak, dan lebih arif dari hujan bulan Juni di tengah situasi ekonomi yang sulit saat ini.
Penulis:
Agustinus Yoga PrimantoroEditor:
Muhammad Fajar MartaPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti