Sebanyak 48 negara lolos dalam putaran final Piala Dunia yang digelar Juni-Juli. Selain trofi juara, turnamen empat tahunan itu menghadiahkan ratusan dolar AS.
24 Mei 2026 10:00 WIB · Olahraga
AP/Eraldo Peres
FIFA bakal menggelontorkan dana fantastis untuk peserta Piala Dunia 2026. Total hadiah dan distribusi dana turnamen sepak bola terbesar di dunia itu mencapai 871 juta dolar AS atau sekitar Rp 15,2 triliun (asumsi Rp 17.500 per dolar AS). Hadiah itu menjadikan Piala Dunia kali ini merupakan edisi paling mewah sepanjang sejarah turnamen digelar.
Total hadiah ini diumumkan dalam pertemuan Dewan FIFA ke-36 yang digelar di Vancouver, Kanada, pada akhir April 2026. Total hadiah dialokasikan untuk hadiah olahraga, dana persiapan, dan kompensasi bagi klub yang melepas pemain ke turnamen tersebut.
Hadiah itu naik hampir dua kali lipat dibandingkan dengan Piala Dunia 2022 di Qatar. Di turnamen empat tahun lalu, FIFA menggelontorkan total hadiah sebesar 440 juta dolar AS untuk 32 negara peserta yang lolos ke putaran final, serta performa tim selama kompetisi mulai dari babak penyisihan grup, fase gugur, hingga partai final.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/22/ddd5983bdecf5b74d4965640c642f4f1-20260522_GKT_Hadiah_Piala_Dunia_1_mumed.jpg)
Di Piala Dunia FIFA 2026, setiap negara yang lolos minimal langsung mendapat 12,5 juta atau sekitar Rp 218,7 miliar, hanya dari keikutsertaan mereka di turnamen. Hadiah ini diberikan kepada 48 negera yang lolos ke putaran final. Mereka terbagi dalam 12 grup yang setiap grup berisikan empat tim atau negara peserta.
Hadiah itu terdiri dari uang persiapan sebesar 2,5 juta dolar AS dan bonus kelolosan sebesar 10 juta dolar AS sehingga total setiap peserta mendapat 12,5 juta dolar AS. Jumlah tersebut meningkat sekitar 20 persen dibandingkan dengan Piala Dunia 2022 di Qatar. Saat itu FIFA memberikan hadiah untuk setiap tim sebesar 10,5 juta dolar AS, yang terdiri dari dana persiapan 1,5 juta dolar AS dan bonus kelolosan 9 juta dolar AS.
Selain dana awal kepesertaan, negara peserta juga akan menerima hadiah tambahan berdasarkan performa tim selama kompetisi berlangsung. Itu berarti setiap tim akan menerima uang berbeda-beda sesuai prestasi di setiap fase yang mereka jalani, mulai dari uang partisipasi yang nilainya sama bagi setiap tim, ditambah performa tim di babak penyisihan grup, fase gugur, hingga partai final.
Tim yang menjadi juara Piala Dunia 2026 diperkirakan menerima 53,5 juta dolar AS atau sekitar Rp 936 miliar, naik dari 42 juta dolar AS pada 2022. Sementara runner-up diproyeksikan mendapat 36,5 juta dolar AS, naik dari sebelumnya 30 juta dolar AS, peringkat ketiga 32,5 juta dolar AS, dan peringkat keempat 30,5 juta dolar AS. Adapun tim yang ada di posisi ke-33 hingga ke-48 alias gugur pada fase grup tetap memperoleh 12,5 juta dolar AS sebagai dana kepesertaan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/22/67f6db2fce68582c1af068cd5956f549-20260522_GKT_Hadiah_Piala_Dunia_2_mumed.jpg)
Hadiah itu relatif besar jika dibandingkan dengan hadiah pada kejuaraan sepak bola lainnya. Di Copa Amerika 2024 atau kejuaraan sepak bola antarnegara di Benua Amerika, misalnya, pemenang membawa pulang hadiah 16 juta dolar AS, sementara hadiah partisipasi setiap tim 2 juta dolar AS. Pada Piala Eropa 2024, uang partisipasi setiap tim sebesar 9,25 juta euro atau 10 juta dolar AS, sementara Spanyol yang menjuarai turnamen mendapat total 28,25 juta euro atau 30,5 juta dolar AS.
FIFA juga mengonfirmasi klub akan menerima kompensasi finansial untuk melepas pemain agar dapat berpartisipasi dalam turnamen. Untuk Piala Dunia 2026, sebanyak 355 juta dolar AS akan dibagikan kepada klub-klub yang pemainnya dipanggil, yakni mereka yang mengalami perkembangan pesat dibandingkan dengan edisi 2022 di Qatar.
Pada Piala Dunia 2022 di Qatar, FIFA menetapkan total dana 209 juta dolar AS untuk memberikan kompensasi kepada klub yang pemainnya berpartisipasi di Piala Dunia. Klub-klub dari berbagai divisi dan negara di seluruh dunia menerima pembayaran berdasarkan jumlah hari yang dihabiskan pemain mereka bersama tim nasional. Klub menerima sekitar 10.950 dolar AS per hari, per pemain, terlepas dari berapa menit pemain tersebut bertanding.
Dari penyelenggaraan Piala Dunia 2026, FIFA diproyeksikan mendulang keuntungan 11 miliar-13 miliar dolar AS atau Rp 192 triliun-Rp 227 triliun (kurs Rp 17.500 per dolar AS) untuk turnamen empat tahunan itu. Sebagai perbandingan, Piala Eropa 2024 menghasilkan pendapatan 2,5 miliar euro atau Rp 44 triliun, sementara Olimpiade Paris 2024 menghasilkan 6,7 miliar-11,1 miliar euro (Rp 116 triliun-Rp 191 triliun).
Selain untuk operasional FIFA dan hadiah bagi peserta Piala Dunia, sebagian besar pendapatan itu didistribusikan kepada 211 asosiasi anggota melalui program pengembangan dan peningkatan kualitas sepak bola dunia dengan membangun infrastruktur sepak bola, akademi, dan mendukung tim nasional di negara-negara anggota.
Sumber utama pendapatan komersial FIFA terutama berasal dari sejumlah pilar utama yang mengalami pertumbuhan signifikan pada siklus kali ini, antara lain hak siar televisi, penjualan tiket, pelayanan ke pelanggan (hospitality), sponsor, hingga lisensi.
Penjualan hak siar global menjadi penyumbang terbesar. Keputusan ekspansi peserta dari 32 menjadi 48 tim meningkatkan jumlah pertandingan dari 64 menjadi 104 laga. Hal ini memberikan lebih banyak konten untuk dijual kepada penyiar di pasar besar seperti Amerika Utara dan Eropa.
Pada Piala Dunia 2026, FIFA menargetkan pendapatan dari penjualan hak siar mencapai minimal 4 miliar dolar AS (Rp 70 triliun). Sementara pada Piala Dunia 2022, penjualan hak siar memberi FIFA pemasukan lebih dari 2,9 miliar dolar AS atau sekitar Rp 49,6 triliun.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/19/31a3dc61fb7746334c0d57a3d5c08fb0-AP26138772810993.jpg)
Di Indonesia, TVRI menjadi pemegang hak siar resmi, yang akan menayangkan 104 pertandingan (98 siaran langsung dan 6 siaran tunda). Hak siar Piala Dunia 2026 yang diperoleh TVRI itu merupakan penugasan negara untuk memberikan kesempatan kepada rakyat luas menikmati ajang sepak bola paling bergengsi di dunia.
Berikutnya, target penjualan tiket dan hospitality melonjak menjadi 3 miliar dolar AS atau Rp 595 triliun. FIFA menerapkan skema harga dinamis yang memicu kritik pedas dari penggemar sepak bola. Tiket termahal untuk laga final di Stadion MetLife New York New Jersey dibanderol mencapai 32.970 dolar AS (sekitar Rp 580 juta). Sebagai perbandingan, harga tiket termahal dalam final Piala Dunia 2022 yang digelar di Qatar adalah 1.600 dolar AS (Rp 28 juta).
Sementara itu, kemitraan komersial atau sponsor dengan merek global seperti Adidas, Aramco, dan Coca Cola diproyeksikan menyumbang 2,7 miliar dolar AS.
Jika dirunut lebih jauh, pemberian hadiah uang bagi peserta dan pemenang turnamen Piala Dunia sudah dilakukan FIFA sejak lama. Nilai hadiah yang diberikan bagi kontestan Piala Dunia juga terus meningkat seiring meningkatnya jumlah peserta di putaran final.
Meski turnamen itu sudah dimulai sejak 1930, FIFA secara resmi memberikan hadiah uang tunai secara terbuka kepada tim peserta dan juara Piala Dunia sejak turnamen tahun 1982 di Spanyol. Total hadiah uang yang disediakan bagi 24 negara peserta sekitar 20 juta dolar AS.
Saat itu, Italia sebagai pemenang berhak atas uang 1,4 juta dolar AS setelah di final mengalahkan Jerman (saat itu masih Jerman Barat) dengan skor 3-1. Jerman pulang dengan hadiah uang 900.000 dolar AS.
Empat tahun berselang di Piala Dunia 1986 Meksiko, FIFA menyediakan total hadiah uang 26 juta dolar AS atau naik 30 persen daripada gelaran sebelumnya. Argentina sebagai juara berhak atas hadiah uang 2,2 juta dolar AS, sementara Jerman Barat di posisi runner-up membawa hadiah uang 1,6 juta dolar AS.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/22/f8bf9cd0721dacb405abedcfc79775b8-20260522_GKT_Hadiah_Piala_Dunia_3_mumed.jpg)
Total hadiah uang yang disediakan FIFA saat Piala Dunia 1990 di Italia kembali meningkat menjadi 54 juta dolar AS, naik hingga 107 persen dibandingkan dengan empat tahun sebelumnya. Jerman Barat pulang dengan 3,5 juta dolar AS seusai mengalahkan Argentina di laga final dengan skor 1-0, sementara tim ”Tango” pulang dengan hadiah uang 2,5 juta dolar AS.
Pada Piala Dunia 2002 yang pertama kali digelar di Benua Asia, yaitu di Jepang dan Korea Selatan, total hadiah uang yang disediakan kembali naik 52 persen menjadi 156,6 juta dolar AS. Sang juara, Brasil, berhak atas hadiah uang 8,5 juta dolar AS. Adapun Jerman sebagai finalis membawa pulang 6,3 juta dolar AS.
Total hadiah uang di Piala Dunia 2014 kembali meningkat menjadi 358 juta dolar AS. Tim pemenang, Jerman, berhak atas hadiah uang 35 juta dolar AS, sementara Argentina sebagai runner-up, pulang dengan 24 juta dolar AS. Adapun juara ke-3 dan ke-4 yang diraih Belanda dan Brasil masing-masing membawa pulang 22 juta dolar AS dan 20 juta dolar AS.
Sementara pada Piala Dunia 2018 di Rusia, total hadiah uang untuk semua peserta sebesar 400 juta dolar AS atau hanya meningkat sekitar 10 persen. Tim pemenang, Perancis, berhak atas hadiah uang 38 juta dolar AS. Sementara Kroasia sebagai runner-up mendapat 29 juta dolar AS. Adapun Belgia dan Inggris di posisi ke-3 dan ke-4, masing-masing mendapat hadiah 24 juta dolar AS dan 22 juta dolar AS.
Terakhir, Piala Dunia di Qatar 2022, FIFA menggelontorkan total hadiah uang 440 juta dolar AS atau naik 10 persen dibandingkan dengan sebelumnya. Argentina sebagai juara dunia berhak atas hadiah uang 42 juta dolar AS, Perancis sebagai runner-up pulang dengan 30 juta dolar AS. Adapun Kroasia yang berada di posisi ketiga mendapatkan 27 juta dolar AS dan Maroko di posisi ke-4 mendapat 25 juta dolar AS.
Secara umum, uang hadiah, termasuk dana partisipasi awal (12,5 juta dolar AS pada 2026), digunakan untuk menutupi biaya operasional tim selama kualifikasi dan persiapan turnamen, seperti akomodasi, perjalanan, dan perlengkapan.
Dana yang diterima federasi sepak bola nasional itu juga dimanfaatkan untuk operasional selama mengikuti putaran final. Selain itu, sebagian besar federasi memberikan bonus kepada para pemain, pelatih, dan staf teknis yang berpartisipasi atas prestasi mereka dari uang hadiah tersebut.
Bagi federasi dengan anggaran kecil, hadiah itu bisa menjadi penguatan finansial federasi dan menjadi pendorong utama peningkatan kualitas sepak bola di negara-negara berkembang. Salah satunya, untuk keberlanjutan liga domestik dan pengembangan infrastruktur olahraga, seperti memperbaiki atau membangun fasilitas latihan, stadion, dan akademi sepak bola di negara masing-masing.
Pemanfaatan lainnya, hadiah digunakan untuk mendanai program pengembangan pemain muda, menyusun kurikulum pelatihan sepak bola yang terstruktur dan sistematis bagi anak-anak, serta meningkatkan kualitas kompetisi lokal secara reguler seperti U-10, U-12, dan U-16.
Dana itu juga dimanfaatkan oleh federasi sepak bola nasional untuk membiayai peningkatan kompetensi pelatih melalui kursus atau sertifikasi kepelatihan dan menyusun metode kepelatihan.
Meski timnas Indonesia gagal lolos di putaran final, FIFA tetap mengalokasikan dana bantuan dan pembinaan selama penyelenggaraan Piala Dunia kepada PSSI untuk pengembangan sepak bola nasional. Sementara itu, bagi masyarakat Indonesia, ajang Piala Dunia 2026 menjadi hiburan tersendiri di tengah ketidakpastian ekonomi yang melanda Tanah Air. (LITBANG KOMPAS)
Penulis:
Dwi EriantoEditor:
Karina Isna IrawanPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto