Potret perjuangan warga di Gaza mendapatkan makanan untuk hidup.
09 Agt 2025 07:07 WIB · Internasional
Dua ibu bersimpuh sambil mengais tanah bercampur pasir. Satu tangannya dipakai untuk menampung kacang-kacangan, jagung, ataupun gandum. Sementara satu tangan yang lain dia pakai untuk mengais hamparan tanah yang berdebu. Setelah mendapatkan satu genggam, ia akan memindahkan bahan-bahan makanan yang ia peroleh ke dalam karung. Suasana itu terlihat di Nuseirat, Jalur Gaza tengah, dan di banyak tempat lain di Palestina.
Ibu tersebut lantas kembali dengan rutinitas awal, bersimpuh sembari mengais tanah, berharap mendapatkan kembali bahan makanan yang tercecer usai diperebutkan para pemuda dan remaja. Sesekali mereka beristirahat. Itu pun hanya duduk biasa, meluruskan kaki sambil melihat hasil mengais yang ada di karung.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/08/55e91f0f-f72e-4832-9e56-dd74309d879f_jpg.jpg)
Beberapa jam sebelumnya, ratusan laki-laki dewasa, berbaur dengan remaja laki-laki, berdiri sambil melihat ke langit. Mereka menunggu suara pesawat yang akan menjatuhkan bantuan dengan parasut. Ketika pesawat yang ditunggu muncul dan mulai menjatuhkan bantuan, mereka berlarian ke arah parasut yang terbang semakin rendah.
Ketika kotak bahan bantuan mendarat di tanah, saat itulah mereka berusaha mengeluarkan segala kemampuan dan kekuatannya untuk menjadi yang pertama dan terbanyak mendapatkan bahan-bahan makanan. Terkadang mereka saling memperebutkan barang di karung yang sama. Jika terjadi kondisi ini, mereka akan mati-matian saling menguasai. Banyak karung dan kardus berisi bantuan yang akhirnya sobek, jebol, dan isinya tumpah ke tanah. Inilah yang kemudian dikumpulkan ibu-ibu dan para perempuan.
Para perempuan, orang tua, dan anak-anak selalu kalah dalam perebutan bantuan. Sistem pembagian yang tidak lagi bisa dikontrol dengan baik menyebabkan mereka yang kuat dan nekat adalah para pemenang yang mendapatkan bantuan.
Situasi serupa terjadi dalam pengiriman bantuan lewat darat. Ribuan warga yang didominasi laki-laki dewasa dan remaja laki-laki telah menunggu di jalan-jalan yang mereka perkirakan akan dilewati truk-truk bantuan. Dari kejauhan terlihat debu mengepul, mereka segera berlari menyongsong untuk mendapatkan bahan makanan yang berada di atas truk.
Ini bukanlah sesuatu yang tanpa risiko. Lebih dari seribu pencari makanan telah tewas. Sebagian besar oleh peluru militer, sebagian lain yang lain karena kecelakaan tertabrak ataupun terlindas truk. Namun, kelaparan yang dialami warga Palestina membuat mereka nekat menempuh bahaya itu demi tetap bisa mendapatkan makanan.
Perang selama 22 bulan telah membuat penduduk Palestina sangat menderita. Blokade bantuan yang dilakukan Israel setelah gagalnya gencatan senjata kedua memperparah kondisi ini. Penduduk Palestina hanya bisa menggantungkan hidup dari bantuan kemanusiaan negara-nagara lain.
Sistem pembagian bantuan yang dikontrol oleh Israel gagal menjangkau orang-orang yang lemah. Penduduk lanjut usia, perempuan, dan anak-anak menjadi korban.
Hukum rimba berlaku di Gaza. Siapa yang kuat, dialah yang mendapatkan bantuan. Siapa yang kuat, dialah yang hidup.
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Heru Sri KumoroPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan