Perayaan hari ulang tahun ke-80 Guntur Soekarnoputra jadi momentum untuk mengingatkan nilai-nilai yang diwariskan ayah Guntur, Presiden pertama Soekarno.
04 Nov 2024 08:37 WIB · Politik & Hukum
Oleh Nikolaus Harbowo - [email protected]
Perayaan ulang tahun ke-80 Guntur Soekarnoputra menjadi momentum bagi keluarga besar Presiden pertama Soekarno untuk berkumpul. Saling bertukar kabar hingga bernyanyi bersama. Tak lupa, kado terbaik dipersembahkan untuk Mas Tok, panggilan akrab Guntur. Ia pun memanfaatkan perayaan ulang tahunnya untuk meluncurkan buku.
Di Puri Agung Convention Hall, Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Minggu (4/11/2024), ulang tahun putra dari Bung Karno tersebut dirayakan. Semua keturunan Soekarno hadir lengkap, dan memberikan kado terbaik untuk Guntur.
Adik bungsunya, Guruh Soekarnoputra, misalnya, mempersembahkan hadiah tarian yang ditampilkan oleh anak didiknya, kelompok Swara Mahardika. Tak mau ketinggalan, Megawati Soekarnoputri yang biasa tampil di panggung politik sebagai Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, kini terlihat santai dan gembira bernyanyi di hadapan para tamu undangan.
Megawati menyanyikan dua lagu lawas, Cinta Hampa karya D'Lloyd dan My Way karangan Frank Sinatra. Mereka yang ikut hadir melengkapi kebahagiaan Guntur, seperti Wakil Presiden ke-6 RI, Try Sutrisno; mantan Ketua DPR, Akbar Tandjung; mantan Ketua MPR, Sidarto Danusubroto; serta Ketua Umum Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia, Arief Hidayat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/03/7b06e7797c7e75f7493c4ec26f8b45f4-IMG_3182.jpeg)
Tak sebatas merayakan hari ulang tahunnya, Guntur juga meluncurkan buku berjudul Sangsaka Melilit Perut Megawati: Humaniora, Sejarah dan Budaya Nasionalisme Internasionalisme. Buku ini merupakan edisi keempat dari kumpulan catatan Guntur.
Dalam diskusi, Guntur mengungkapkan, isi buku itu menceritakan proses pengembalian Sang Saka Merah Putih kepada Soekarno di Wisma Yaso, Jakarta, saat Orde Baru mulai berkuasa.
Awal mula ceritanya, Soekarno yang sedang ditahan di Wisma Yaso, masih sempat menitipkan Sang Saka Merah Putih di kediaman istrinya, Fatmawati. Kemudian, menjelang upacara HUT RI tahun 1967, bendera yang asli itu dicari oleh pihak Istana Kepresidenan.
"Ketika mau Agustus 1967, rupanya Pak Harto (Soeharto) waktu itu sudah jadi Pejabat Presiden, kebingungan, 'Ini mana nih, nggak ada bendera pusaka dikibarkan', kemudian mereka mencari, mencari, mencari," ucap Guntur.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/03/0c1e7aca3f384580d14e559f95a9c546-IMG_3127.jpeg)
Demi mendapatkan Sang Saka Merah Putih, Soekarno sempat diinterogasi oleh pihak Istana. Namun, Proklamator Kemerdekaan RI itu tetap enggan untuk melepas bendera itu ke penguasa Orde Baru.
"Jadi, sama Bapak (Soekarno), dibilangnya nggak nyimpen atau bagaimana. Tetapi di situ, istilah saya, nggak manusiawinya Orde Baru, Bung Karno diberi tekanan-tekanan psikologi untuk beri tahu di mana itu bendera," kenang Guntur.
Namun, tak berselang lama, Soekarno tiba-tiba menitipkan pesan kepada Guntur agar bendera itu diserahkan saja kepada penguasa Orde Baru. "Pada suatu saat, saya dipanggil oleh Bung Karno, di Wisma Yaso, terus bapak 'Udah to, ini demi kelangsungan persatuan dan kesatuan NKRI, Bapak akan serahkan bendera ini kepada penguasa-penguasa Orde Baru'," katanya.
Kalau Ibu (Fatmawati) kirim sayur lodeh saja, itu oleh komandan jaga saja itu dengan bayonet diudek-udek sayur lodehnya, takut nyelundupin apa.
Pesan Bung Karno itu kemudian dilaksanakan oleh Guntur. Yang jadi problem kemudian adalah membawa Sang Saka Merah Putih ke Wisma Yaso di tengah penjagaan yang ketat.
"Masalahnya kalau kita nengok Bung Karno di Wisma Yaso, jangankan bawa benda-benda yang aneh, kalau Ibu (Fatmawati) kirim sayur lodeh saja, itu oleh komandan jaga saja itu dengan bayonet diudek-udek sayur lodehnya, takut nyelundupin apa, takut ada apa. Dengan demikian kalau mau bawa bendera kan susah kita," tutur Guntur.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/11/23/3c453995-4c2a-4e15-ab12-53e41dbc4c4f.jpg)
Di tengah kebingungan, muncul ide dari Fatmawati. Megawati yang kala itu kerap dipanggil Adis, ditanya kesanggupannya oleh Fatmawati untuk membawa bendera ke Wisma Yaso. Megawati pun menyanggupinya.
"Ibu (Fatmawati) bertanya ke Adis, 'Kamu kalau dapat tugas membawa bendera ke Wisma Yaso, kamu sanggup nggak?' Adis bilang, 'Sanggup', 'Berani?' 'Berani'," jelasnya.
"Kemudian Ibu (Fatmawati) memutuskan Adis waktu itu, yaitu dengan jalan, bendera pusakanya itu dililit di perutnya Adis, perutnya Mega gitu. Terus Mega pakai baju yang agak longgar, dan Ibu pesen, nanti kalau kamu ditanya, bilang saja (sedang) hamil muda," katanya.
Menurut Guntur, membawa Sang Saka Merah Putih ke Wisma Yaso adalah ide gila. Namun, berkat keberanian Megawati, bendera itu bisa kembali berkibar di Istana saat upacara HUT RI pada tahun 1967. "Saya berpikir gila ini, karena yang dihadapi kan risikonya luar biasa. Aku tanya ke Adis 'Kamu berani?' 'Berani' 'Aku siap Mas'. Kami cuma bisa geleng-geleng kepala," kenang Guntur.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2018/06/21/3dcdfe54-5e8b-452a-8a3c-726873dfca5a.jpg)
Putri Guntur, Puti Guntur Soekarno, mengaku baru mendengar kisah itu. Ia pun mulai memahami mengapa ayahnya sangat ingin menuliskan kisah tersebut ke dalam buku karena tersirat pesan yang dalam.
"Bendera pusaka meski dijahit oleh Ibu Fatmawati tetapi ini adalah milik NKRI, bukan milik mereka (Orde Baru). Jadi, persatuan bangsa lebih penting daripada hal-hal yang bersifat pribadi. Dan tentu saja ada jiwa revolusioner yang luar biasa dari Bu Mega. Mengajarkan anak-anak muda tentang semangat patriotik yang sudah dimilikinya sejak muda,” ujar Puti, yang juga ikut mendampingi peluncuran buku sang ayah.
Di sela-sela diskusi, Guntur juga menyelipkan beberapa bantahan atas berbagai informasi yang salah kaprah di publik. Contohnya soal kabar ayahnya memiliki harta berton-ton emas yang disimpan di bank Swiss. "Itu bohong," kata Guntur singkat.
Guntur meminta publik agar ayahnya tidak dianggap sebagai presiden yang kaya raya. Ia pun mengatakan bahwa tidak mungkin Soekarno bisa menyimpan harta berton-ton emas di Swiss. Sebab, jika itu pun benar, bank Swiss tidak akan muat untuk menyimpannya.
"Pikir saja, kalau emas berton-ton disimpan di bank di Swiss, yang saya sendiri pernah ke sana. Itu ruang penyimpanan uang di Swiss itu nggak akan muat mau diisi emas segitu banyak. Jadi saya pikir ini bohong semua ini," ungkap Guntur.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/09/e0eb74a1-5ddb-4394-83dc-1bd9189479ed.jpeg)
Tak hanya itu, ia juga membantah soal kabar Soekarno memiliki batu intan terbesar di dunia yang dinamakan Intan Kartika. "Bohong juga. Itu salah kaprah semua," kata pria yang akrab disapa Mas Tok tersebut.
Guntur sekaligus meluruskan salah kaprah mengenai Istana Batu Tulis di Bogor. Ia menegaskan, lokasi tersebut adalah rumah, bukan istana. Ia pun bercerita bahwa Soekarno tidak memiliki rumah hingga wafat. Melihat kondisi tersebut, Sultan Hamengkubowono IX berinisiatif untuk membantu.
"Nah atas inisiatif banyak Bapak Hamengkubuwono IX itu mempunyai ide mengumpulkan kalau sekarang konglomerat Indonesia untuk urunan membuatkan Bung Karno sebuah rumah, dan rumah itu sekarang sudah jadi di mana disebutkan rumah itu terkenal sebagai rumah Batu Tulis," kata Guntur.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/09/08/8e9bfee2-50e3-47d1-8c3a-72e6dfe10339_jpeg.jpg)
Ia mengatakan rumah itu diberi nama oleh Hing Puri Bima Sakti. Atas dasar itu, ia kembali menegaskan soal salah kaprah yang menyebut lokasi tersebut Istana Batu Tulis.
"Tapi celakanya, orang-orang awam kita ini, apalagi yang pengamat sosial politik itu menganggap rumah Batu Tulis itu Istana. Istana yang termasuk jajaran Kementerian Sekretariat Negara. Padahal tidak sama sekali. Bukan (Istana). Rumah Batu Tulis," tegasnya.
Mendengar semua cerita itu, Puti kian terpukau. Baginya kini, peninggalan Soekarno yang nilainya melebihi emas dan Intan Kartika ialah ideologi Pancasila. "Ini peninggalan yang harus dijaga sepanjang masa, selama Indonesia masih ada. Suatu ide berharga dari beliau dibanding intan, emas permata sekalipun," ucapnya.
Penulis:
Nikolaus HarbowoEditor:
A. Ponco AnggoroPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan