Piala Dunia 2026 menerapkan jeda minum atau ”hydration break” agar pemain tetap terhidrasi sepanjang laga. Namun, penerapan di semua pertandingan jadi kontroversi.
16 Jun 2026 18:32 WIB · Olahraga
Getty Images via AFP/Justin Setterfield
Memasuki menit ke-22 di setiap babak, wasit akan menghentikan laga untuk hydration break. Jeda sekitar tiga menit ini memberikan kesempatan minum bagi para pemain. Aturan ini diterapkan pada semua pertandingan Piala Dunia 2026 (total 104 laga) tanpa terkecuali.
Jeda minum yang telah diperkenalkan FIFA sejak Piala Dunia 2014 ini diadakan demi memastikan pemain tetap dalam kondisi terbaik. Piala Dunia 2026 yang dihelat oleh AS, Kanada, dan Meksiko berlangsung pada musim panas yang menyengat di Amerika Utara.
”Untuk setiap pertandingan, di mana pun pertandingan dimainkan, terlepas dari apakah ada atap atau tidak, (atau) dari segi suhu, akan ada jeda minum selama tiga menit,” kata Manolo Zubiria, Kepala Petugas Turnamen di AS untuk Piala Dunia FIFA 2026, saat meluncurkan inisiatif ini 8 Desember 2025, dikutip dari fifa.com.
Belasan laga perdana penyisihan grup Piala Dunia sejak 12 Juni 2026 telah menerapkan kebijakan ini. Walakin, penerapan aturan ini tanpa pengecualian telah menimbulkan kontroversi.
Pelatih AS Mauricio Pochettino tidak menyukai aturan jeda minum pada situasi normal. ”Saya tidak menyukainya. Saya hanya menyukainya ketika kondisinya ekstrem. Namun, ketika kondisinya baik, itu tidak perlu,” tutur Pochettino, dikutip dari The Athletic.
Ketika suhu terlalu tinggi, memberikan kesempatan minum bagi pemain adalah hal yang wajar. Namun, ketika jeda ini diberlakukan di semua laga, bahkan ketika pertandingan diadakan di dalam stadion yang memiliki pendingin udara (AC), aturan ini segera memicu pertanyaan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/16/57035851dbdac384bb9b4b4e2c87f243-Uruguay_Saudi_Arabia_WCup_Soccer.jpg)
Dari segi permainan, aturan jeda minum dinilai berpengaruh pada momentum pertandingan. Jeda di tengah laga ini dinilai dapat menguntungkan satu tim, tetapi sebaliknya juga dapat merugikan tim lain yang memegang momentum.
Pelatih tim sepak bola putri AS, Emma Hayes, menyebutkan, menghentikan permainan untuk jeda telah membunuh momentum bagi tim yang sedang di atas angin. Di sisi lain, tim yang tengah kehilangan momentum dan terancam justru diuntungkan.
”Saat Anda berada di puncak, Anda tidak menginginkannya. Saat Anda kalah, Anda menginginkannya,” kata Hayes kepada ITV Sport, sebagaimana dikutip BBC.
Mantan gelandang serang timnas Spanyol, Juan Mata, mengatakan tidak menyukai jeda minum dan merasa itu tidak bagus bagi pertandingan. ”Saat kalah, Anda ingin mencetak gol. Saat menang, Anda ingin mempertahankan bola. Saya rasa mereka mematahkan momentum,” kata pemain yang menjuarai Piala Dunia 2010 itu.
Di sisi lain, sejumlah pelatih justru mengambil sisi positif dari aturan ini. Jeda tiga menit itu tidak sekadar jadi kesempatan bagi pemain untuk minum dan mengambil napas, tetapi juga kesempatan bagi pelatih memberikan instruksi ataupun perubahan taktik.
”Anda bisa menjelaskan suatu masalah kepada para pemain. (Anda dapat) Melakukan penyesuaian taktis yang bisa sangat baik,” kata Pelatih Brasil Carlo Ancelotti.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/12/7f8735a2c3c0c54561fca7db6d71f715-20260612_Stadion_Map.png)
Ketika jeda minum babak pertama di Stadion New Jersey pada laga Minggu (14/6/2026), Brasil dalam posisi tertinggal 0-1 dari Maroko. Sebelum jeda tersebut, penampilan mereka memang tidak memuaskan. Namun, enam menit setelah pertandingan dilanjutkan, performa Brasil meningkat dan dapat menyamakan kedudukan melalui aksi brilian Vinicius Junior.
Pola serupa tampak pula pada pertandingan lain. Kanada, misalnya, menyamakan kedudukan tak lama setelah jeda minum babak kedua saat melawan Bosnia-Herzegovina. Skotlandia juga mencetak gol semata wayang saat melawan Haiti beberapa saat setelah jeda minum itu.
Ini hanyalah cara lain untuk memasukkan iklan dari sudut pandang Amerika.
Adapun contoh terbaru, Uruguay dapat membongkar pertahanan solid Arab Saudi untuk menyamakan skor 1-1, beberapa saat setelah jeda minum babak kedua.
Pada dimensi lain, jeda minum telah dimanfaatkan oleh stasiun televisi untuk meningkatkan pendapatan dengan slot iklan. Cara ini membuat aturan jeda minum semakin tidak disukai.
The Guardian melaporkan, stasiun televisi Fox terlambat 10 detik menyiarkan kembali pertandingan babak kedua laga pembuka antara Meksiko versus Afrika Selatan karena mengisi jeda ini untuk menayangkan iklan.
Sementara saat AS menang 4-1 atas Paraguay, wasit keempat Yusuke Araki harus mengangkat tangan untuk memberi sinyal bahwa pertandingan dapat dilanjutkan setelah Fox selesai dari jeda iklan mereka.
”Ini menggelikan. Keserakahan FIFA yang begitu merajalela merusak bentuk pertandingan itu sendiri,” tulis The Telegraph.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/16/6332f2e32010851239a9e44310485267-Cape_Verde_Spain_WCup_Soccer.jpg)
Mantan penyerang Arsenal dan timnas Inggris, Ian Wright, juga mengkritik aturan jeda minum tersebut. ”Menurut saya, ini hanyalah cara lain untuk memasukkan iklan dari sudut pandang Amerika,” katanya, dikutip dari BBC.
”Mereka menggunakan fakta bahwa ini untuk para pemain, tetapi bukan untuk saya,” ucap Wright kemudian.
Sementara bek sekaligus kapten tim Belanda, Virgil van Dijk, mengatakan, ”Jeda minum agak menarik karena saya jelas menonton hampir semua pertandingan sampai hari ini. Setiap kali jeda iklan agak… tidak begitu saya sukai.”
Alih-alih mengisi dengan dengan iklan, Emma Hayes justru menyoroti bagaimana penggunaan jeda tiga menit itu dapat digunakan untuk meningkatkan pengalaman penonton.
Saat siaran bersama ITV Sport, Hayes menyajikan analisis taktik yang sangat singkat dan mudah dipahami tentang kuartal pertama pada pertandingan Spanyol versus Tanjung Verde.
Saat Spanyol kesulitan menembus pertahanan Tanjung Verde, ia menyoroti dua momen terbaik tim ”Matador” berasal dari rotasi sisi lebar. Ia pun mendesak Spanyol lebih sabar dalam percobaan memecah kebuntuan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/16/e9a49c280e227b0da69dcaaeb7c1ebcb-Tunisia_Sweden_WCup_Soccer.jpg)
Hayes menjelaskan bagaimana semestinya penyerang Spanyol, Ferran Torres, bergerak dari luar ke dalam, kemudian Pedri bergerak dari dalam keluar. Rotasi tersebut memungkinkan Spanyol melepaskan diri dari penjagaan pemain Tanjung Verde dan mengirimkan umpan silang berbahaya.
”Melalui analisis taktis Hayes, kita diberikan contoh bagaimana jeda minum dapat meningkatkan pengalaman menonton, sampai jeda tersebut dihapus selamanya,” tulis The Athletic.
Penulis:
Yola SastraEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul