Ibadah Haji Semakin Menantang Seiring Bumi yang Memanas
Ambang batas toleransi manusia terhadap panas dan kelembaban terlampaui selama total 43 jam selama enam hari haji tahun 2024 ini, menyebabkan banyak korban jiwa.
Lebih dari 1.300 anggota jemaah haji meninggal tahun 2024 akibat suhu ekstrem dan kelembaban tinggi yang melampaui batas toleransi tubuh manusia.
Penelitian menunjukkan gelombang panas dan lembab ekstrem terus meningkat akibat pemanasan global, membuat ibadah haji semakin berisiko.
Banyak anggota jemaah yang berusia lanjut dan memiliki kondisi kesehatan kurang baik sehingga lebih rentan terhadap dampak suhu ekstrem.
Fasilitas pendinginan seperti tempat berteduh ber-AC hanya tersedia bagi jemaah resmi, sedangkan yang tanpa izin menghadapi risiko lebih tinggi.
Dalam 25 tahun ke depan, ibadah haji yang jatuh pada puncak musim panas akan memiliki risiko sengatan panas 10 kali lebih tinggi jika suhu global naik 2 derajat celsius.
Lebih dari 1.300 anggota jemaah haji meninggal tahun ini ketika kelembaban dan panas melampaui batas kemampuan bertahan hidup manusia. Tren ini diperkirkan bakal terus meningkat seiring dengan pemanasan global yang menguat.
Penelitian yang dipublikasikan di Nature Climate Change pada Rabu (18/12/2024) menunjukkan batas atas toleransi manusia terhadap panas telah terlampaui selama total 43 jam selama enam hari haji tahun 2024 ini. Selama periode ini, panas dan kelembaban melampaui titik tubuh kita mampu mendingin.
Tom Matthews dari Department of Geography and Centre for Integrated Research in Risk and Resilience King’s College London menjadi penulis pertama laporan yang ditulis bersama 17 peneliti lain. Menurut penelitian ini, fenomena gelombang panas dan lembab ini akan meningkat dalam tahun-tahun mendatang.
Mengacu data dari Saudi Press Agency pada 24 Juni 2024, sebanyak 1.301 orang meninggal dunia selama pelaksanaan ibadah haji tahun 2024. Sementara itu, data Direktorat Jenderal Penyelenggaran Haji dan Umrah, Kementerian Agama, sebanyak 461 anggota jemaah haji Indonesia meninggal pada tahun ini.
Menurut otoritas haji Arab Saudi, lebih dari 1,83 juta umat Islam menunaikan ibadah haji pada tahun 2024, termasuk lebih dari 1,6 juta anggota jemaah dari 22 negara, dan sekitar 222.000 warga negara dan penduduk Saudi. Jutaan orang, yang sebagian berusia lanjut usia, mesti menghadapi suhu udara yang sangat terik.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyebutkan, suhu bumi selama 2023 dan berlanjut hingga 2024 telah memecahkan rekor tertinggi sepanjang sejarah pencatatan, terutama karena ulah manusia yang telah meningkatkan emisi dengan membakar batubara, minyak, dan gas alam. Suhu global rata-rata pada tahun 2023 mencapai 1,5 derajat celsius lebih hangat dibandingkan dengan suhu pada masa awal industri (1850-1900).
Rekor gelombang panas bumi, yang dimulai pada bulan Juni 2023, terus berlanjut hingga tahun 2024. Mei 2024 menandai 12 suhu global yang memecahkan rekor selama beberapa bulan berturut-turut. Tanah Arab yang panas, bertambah panas tahun ini. Menurut data meteorologi Arab Saudi, di Masjidil Haram di Mekkah, suhu mencapai 51,8 celsius pada hari Senin (17/6/2024).
Ambang panas dan kelembaban
Di The Conversation pada Kamis (19/12/2024), Emma E Ramsay dari Nanyang Technological University, Singapura, yang terlibat dalam penelitian ini, menjelaskan mengapa ibadah haji begitu mematikan seiring perubahan iklim. Menurut dia, seiring dengan meningkatnya suhu bumi, udara juga menjadi lebih lembab di banyak tempat, termasuk Arab Saudi yang gersang. Sejak 1979, periode panas lembab ekstrem telah meningkat dua kali lipat secara global sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya peristiwa mematikan seperti ini.
Untuk melakukan haji, jemaah harus berjalan kaki sejauh enam hingga 21 kilometer setiap hari. Banyak jemaah haji yang berusia lanjut dan kesehatannya kurang baik sehingga mereka lebih rentan terhadap tekanan panas.
Ramsay menyebutkan, ibadah haji tahun ini dimulai pada 14 Juni. Selama enam hari berikutnya, suhu mencapai 51 derajat celsius, sementara ”suhu bola basah”, yaitu kombinasi suhu dan kelembaban, naik hingga 29,5 derajat celsius.
Batas toleransi panas untuk orang dewasa yang lebih tua terlampaui pada semua enam hari haji.
Juni biasanya merupakan bulan terkering di Arab Saudi dengan kelembaban relatif rata-rata sekitar 25 persen dan suhu bola basah rata-rata 22 derajat celsius. Namun, selama haji tahun ini, kelembaban rata-rata mencapai 33 persen dan naik hingga 75 persen selama periode tekanan panas paling ekstrem.
”Penelitian kami menunjukkan batas toleransi panas untuk orang dewasa yang lebih tua terlampaui pada semua enam hari haji, termasuk empat periode panjang lebih dari enam jam,” ujar Ramsay.
Pada 18 Juni 2024, panas lembab mencapai tingkat yang dianggap berbahaya bahkan untuk jemaah haji yang muda dan sehat. Titik-titik di mana suhu bola basah memasuki zona mematikan bergantung pada kombinasi suhu dan kelembaban yang tepat karena tubuh kita merespons secara berbeda terhadap panas kering atau lembab.
Pemerintah Saudi telah memasang tempat berteduh ber-AC dan metode pendinginan lainnya. Namun, ini hanya tersedia bagi jemaah yang memiliki izin resmi. Sebagian besar dari mereka yang meninggal tidak memiliki izin, yang berarti mereka tidak dapat mengakses fasilitas pendingin.
Menurut para peneliti, ibadah haji akan menjadi lebih berbahaya di masa mendatang. Dalam waktu 25 tahun, waktu haji akan kembali ke puncak musim panas pada bulan Agustus dan September. Jika suhu memanas 2 derajat celsius, risiko sengatan panas selama haji akan menjadi 10 kali lebih tinggi.
Ambang keamanan
Menurut para peneliti, ambang batas aman panas dan kelembaban bagi manusia bervariasi, tergantung pada usia. Misalnya, batas toleransi untuk orang muda adalah jika suhu panas sekitar 45 derajat celsius pada kelembaban 25 persen, tetapi hanya 34 derajat celsius pada kelembaban 80 persen. Bagi orang tua, batasnya lebih rendah lagi, jika suhu mencapai 32,5 derajat celsius pada kelembaban 80 persen, hal itu bisa dikategorikan berbahaya.
Batasan ini adalah titik di mana suhu terlalu panas dan lembab bagi tubuh untuk mendinginkan diri, bahkan saat istirahat. Paparan yang berkelanjutan menyebabkan suhu inti tubuh meningkat, sengatan panas, dan setelah beberapa jam bisa menyebabkan kematian.
Ramsay menyebutkan, suhu lebih panas, misalnya hingga di atas 34 derajat celsius, masih bisa ditoleransi oleh tubuh manusia kalau kelembabannya rendah. Kondisi lembab membuat kita jauh lebih sulit menggunakan cara utama kita melepaskan panas melalui keringat.
Kita mengandalkan udara untuk menguapkan keringat dari kulit dan membawa panas bersamanya. Namun, kelembaban mengubah hal ini. Saat ada lebih banyak air di udara, keringat lebih sulit menguap.
Risiko ke depan
Tahun ini telah menjadi rekor panas sepanjang sejarah, dengan kenaikan suhu untuk pertama kalinya melebihi 1,5 derajat celsius dibandingkan dengan periode 1850-1900. Perubahan iklim yang menyebabkan suhu global semakin panas dapat membuat risiko ibadah haji bakal menjadi lebih besar, terutama jika pelaksanaannya bertepatan dengan musim panas di Arab Saudi.
Studi sebelumnya oleh ahli di Massachusetts Institute of Technology (MIT) di jurnal Geophysical Review Letters (2019) menemukan bahwa risiko paparan panas yang dialami jemaah ibadah haji akan terus meningkat seiring dengan pemanasan global.
Dalam laporan ini, ahli teknik sipil dan lingkungan MIT, Elfatih Eltahir, dan dua orang lainnya menunjukkan risiko yang serius bagi peserta haji terutama terjadi pada bulan-bulan musim panas terpanas, yaitu dari tahun 2047 hingga 2052 dan dari tahun 2079 hingga 2086. Hal ini akan terjadi bahkan jika langkah-langkah substansial diambil untuk membatasi dampak perubahan iklim dan tanpa hal-hal tersebut.
Waktu pelaksanaan haji bervariasi dari satu tahun ke tahun berikutnya, jelas Eltahir, karena didasarkan pada kalender lunar dan bukan kalender matahari. Setiap tahun haji terjadi sekitar 11 hari lebih awal, jadi hanya ada rentang tahun tertentu yang berlangsung pada bulan-bulan musim panas terpanas.
”Itu adalah saat-saat yang bisa berbahaya bagi peserta. Saat musim panas tiba di Arab Saudi, kondisinya menjadi sangat buruk dan sebagian besar aktivitas ini dilakukan di luar ruangan,” tulis Eltahir.
Musim panas di Arab Saudi biasa terjadi pada pertengahan Juni hingga September, dengan puncak suhu tertinggi di Mekkah biasa terjadi pada bulan Juli. Jika bulan-bulan haji jatuh pada periode itu, risiko bakal semakin tinggi.
Lebih dari 1.300 anggota jemaah haji meninggal tahun 2024 akibat suhu ekstrem dan kelembaban tinggi yang melampaui batas toleransi tubuh manusia.
Penelitian menunjukkan gelombang panas dan lembab ekstrem terus meningkat akibat pemanasan global, membuat ibadah haji semakin berisiko.
Banyak anggota jemaah yang berusia lanjut dan memiliki kondisi kesehatan kurang baik sehingga lebih rentan terhadap dampak suhu ekstrem.
Fasilitas pendinginan seperti tempat berteduh ber-AC hanya tersedia bagi jemaah resmi, sedangkan yang tanpa izin menghadapi risiko lebih tinggi.
Dalam 25 tahun ke depan, ibadah haji yang jatuh pada puncak musim panas akan memiliki risiko sengatan panas 10 kali lebih tinggi jika suhu global naik 2 derajat celsius.
Lebih dari 1.300 anggota jemaah haji meninggal tahun ini ketika kelembaban dan panas melampaui batas kemampuan bertahan hidup manusia. Tren ini diperkirkan bakal terus meningkat seiring dengan pemanasan global yang menguat.
Penelitian yang dipublikasikan di Nature Climate Change pada Rabu (18/12/2024) menunjukkan batas atas toleransi manusia terhadap panas telah terlampaui selama total 43 jam selama enam hari haji tahun 2024 ini. Selama periode ini, panas dan kelembaban melampaui titik tubuh kita mampu mendingin.
Tom Matthews dari Department of Geography and Centre for Integrated Research in Risk and Resilience King’s College London menjadi penulis pertama laporan yang ditulis bersama 17 peneliti lain. Menurut penelitian ini, fenomena gelombang panas dan lembab ini akan meningkat dalam tahun-tahun mendatang.
Mengacu data dari Saudi Press Agency pada 24 Juni 2024, sebanyak 1.301 orang meninggal dunia selama pelaksanaan ibadah haji tahun 2024. Sementara itu, data Direktorat Jenderal Penyelenggaran Haji dan Umrah, Kementerian Agama, sebanyak 461 anggota jemaah haji Indonesia meninggal pada tahun ini.
Serial Artikel
Jemaah Haji Perlu Mempersiapkan Fisik Hadapi Cuaca Panas
Cuaca panas di Arab Saudi saat puncak musim haji diperkirakan akan mencapai suhu lebih dari 40 derajat celsius.
Menurut otoritas haji Arab Saudi, lebih dari 1,83 juta umat Islam menunaikan ibadah haji pada tahun 2024, termasuk lebih dari 1,6 juta anggota jemaah dari 22 negara, dan sekitar 222.000 warga negara dan penduduk Saudi. Jutaan orang, yang sebagian berusia lanjut usia, mesti menghadapi suhu udara yang sangat terik.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyebutkan, suhu bumi selama 2023 dan berlanjut hingga 2024 telah memecahkan rekor tertinggi sepanjang sejarah pencatatan, terutama karena ulah manusia yang telah meningkatkan emisi dengan membakar batubara, minyak, dan gas alam. Suhu global rata-rata pada tahun 2023 mencapai 1,5 derajat celsius lebih hangat dibandingkan dengan suhu pada masa awal industri (1850-1900).
Rekor gelombang panas bumi, yang dimulai pada bulan Juni 2023, terus berlanjut hingga tahun 2024. Mei 2024 menandai 12 suhu global yang memecahkan rekor selama beberapa bulan berturut-turut. Tanah Arab yang panas, bertambah panas tahun ini. Menurut data meteorologi Arab Saudi, di Masjidil Haram di Mekkah, suhu mencapai 51,8 celsius pada hari Senin (17/6/2024).
Ambang panas dan kelembaban
Di The Conversation pada Kamis (19/12/2024), Emma E Ramsay dari Nanyang Technological University, Singapura, yang terlibat dalam penelitian ini, menjelaskan mengapa ibadah haji begitu mematikan seiring perubahan iklim. Menurut dia, seiring dengan meningkatnya suhu bumi, udara juga menjadi lebih lembab di banyak tempat, termasuk Arab Saudi yang gersang. Sejak 1979, periode panas lembab ekstrem telah meningkat dua kali lipat secara global sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya peristiwa mematikan seperti ini.
Untuk melakukan haji, jemaah harus berjalan kaki sejauh enam hingga 21 kilometer setiap hari. Banyak jemaah haji yang berusia lanjut dan kesehatannya kurang baik sehingga mereka lebih rentan terhadap tekanan panas.
Ramsay menyebutkan, ibadah haji tahun ini dimulai pada 14 Juni. Selama enam hari berikutnya, suhu mencapai 51 derajat celsius, sementara ”suhu bola basah”, yaitu kombinasi suhu dan kelembaban, naik hingga 29,5 derajat celsius.
Batas toleransi panas untuk orang dewasa yang lebih tua terlampaui pada semua enam hari haji.
Juni biasanya merupakan bulan terkering di Arab Saudi dengan kelembaban relatif rata-rata sekitar 25 persen dan suhu bola basah rata-rata 22 derajat celsius. Namun, selama haji tahun ini, kelembaban rata-rata mencapai 33 persen dan naik hingga 75 persen selama periode tekanan panas paling ekstrem.
”Penelitian kami menunjukkan batas toleransi panas untuk orang dewasa yang lebih tua terlampaui pada semua enam hari haji, termasuk empat periode panjang lebih dari enam jam,” ujar Ramsay.
Pada 18 Juni 2024, panas lembab mencapai tingkat yang dianggap berbahaya bahkan untuk jemaah haji yang muda dan sehat. Titik-titik di mana suhu bola basah memasuki zona mematikan bergantung pada kombinasi suhu dan kelembaban yang tepat karena tubuh kita merespons secara berbeda terhadap panas kering atau lembab.
Pemerintah Saudi telah memasang tempat berteduh ber-AC dan metode pendinginan lainnya. Namun, ini hanya tersedia bagi jemaah yang memiliki izin resmi. Sebagian besar dari mereka yang meninggal tidak memiliki izin, yang berarti mereka tidak dapat mengakses fasilitas pendingin.
Menurut para peneliti, ibadah haji akan menjadi lebih berbahaya di masa mendatang. Dalam waktu 25 tahun, waktu haji akan kembali ke puncak musim panas pada bulan Agustus dan September. Jika suhu memanas 2 derajat celsius, risiko sengatan panas selama haji akan menjadi 10 kali lebih tinggi.
Ambang keamanan
Menurut para peneliti, ambang batas aman panas dan kelembaban bagi manusia bervariasi, tergantung pada usia. Misalnya, batas toleransi untuk orang muda adalah jika suhu panas sekitar 45 derajat celsius pada kelembaban 25 persen, tetapi hanya 34 derajat celsius pada kelembaban 80 persen. Bagi orang tua, batasnya lebih rendah lagi, jika suhu mencapai 32,5 derajat celsius pada kelembaban 80 persen, hal itu bisa dikategorikan berbahaya.
Batasan ini adalah titik di mana suhu terlalu panas dan lembab bagi tubuh untuk mendinginkan diri, bahkan saat istirahat. Paparan yang berkelanjutan menyebabkan suhu inti tubuh meningkat, sengatan panas, dan setelah beberapa jam bisa menyebabkan kematian.
Ramsay menyebutkan, suhu lebih panas, misalnya hingga di atas 34 derajat celsius, masih bisa ditoleransi oleh tubuh manusia kalau kelembabannya rendah. Kondisi lembab membuat kita jauh lebih sulit menggunakan cara utama kita melepaskan panas melalui keringat.
Kita mengandalkan udara untuk menguapkan keringat dari kulit dan membawa panas bersamanya. Namun, kelembaban mengubah hal ini. Saat ada lebih banyak air di udara, keringat lebih sulit menguap.
Risiko ke depan
Tahun ini telah menjadi rekor panas sepanjang sejarah, dengan kenaikan suhu untuk pertama kalinya melebihi 1,5 derajat celsius dibandingkan dengan periode 1850-1900. Perubahan iklim yang menyebabkan suhu global semakin panas dapat membuat risiko ibadah haji bakal menjadi lebih besar, terutama jika pelaksanaannya bertepatan dengan musim panas di Arab Saudi.
Studi sebelumnya oleh ahli di Massachusetts Institute of Technology (MIT) di jurnal Geophysical Review Letters (2019) menemukan bahwa risiko paparan panas yang dialami jemaah ibadah haji akan terus meningkat seiring dengan pemanasan global.
Dalam laporan ini, ahli teknik sipil dan lingkungan MIT, Elfatih Eltahir, dan dua orang lainnya menunjukkan risiko yang serius bagi peserta haji terutama terjadi pada bulan-bulan musim panas terpanas, yaitu dari tahun 2047 hingga 2052 dan dari tahun 2079 hingga 2086. Hal ini akan terjadi bahkan jika langkah-langkah substansial diambil untuk membatasi dampak perubahan iklim dan tanpa hal-hal tersebut.
Waktu pelaksanaan haji bervariasi dari satu tahun ke tahun berikutnya, jelas Eltahir, karena didasarkan pada kalender lunar dan bukan kalender matahari. Setiap tahun haji terjadi sekitar 11 hari lebih awal, jadi hanya ada rentang tahun tertentu yang berlangsung pada bulan-bulan musim panas terpanas.
”Itu adalah saat-saat yang bisa berbahaya bagi peserta. Saat musim panas tiba di Arab Saudi, kondisinya menjadi sangat buruk dan sebagian besar aktivitas ini dilakukan di luar ruangan,” tulis Eltahir.
Musim panas di Arab Saudi biasa terjadi pada pertengahan Juni hingga September, dengan puncak suhu tertinggi di Mekkah biasa terjadi pada bulan Juli. Jika bulan-bulan haji jatuh pada periode itu, risiko bakal semakin tinggi.