Di era baru timnas basket, Singleton ingin menghapus alasan klasik seperti kalah tinggi badan. Ia punya rencana lain untuk memaksimalkan potensi pemain Indonesia.
16 Sep 2025 16:13 WIB · Olahraga
Lima tahun lalu, David Singleton memulai debut kepelatihan bola basket di Indonesia. Usianya baru 32 tahun saat melatih klub kecil di ujung timur Jawa, Pacific Caesar Surabaya. Berkat kesuksesan di setiap tahun, sang juru taktik beranjak ke tim yang lebih besar hingga akhirnya sampai di Ibu Kota.
Singleton, setelah bertualang dengan Bima Perkasa Jogja (2021) dan Prawira Bandung (2022-25), akhirnya menapaki puncak karier di Tanah Air. Ditemui di GOR Soemantri Brodjonegoro, Jakarta, Kamis (11/9/2025) lalu, pelatih asal Amerika Serikat itu sedang sibuk melatih tim nasional Indonesia.
Dave, sapaannya, tampak semringah saat bertemu dengan para wartawan walaupun matanya merah akibat kurang tidur. ”Apa kabar? Saya senang bisa bertemu lagi sebagai pelatih timnas saat ini. Saya pikir ini adalah waktu yang tepat. Sejujurnya, (jabatan) ini adalah tujuan utama saya,” ujarnya.
Tidak ada yang lebih layak untuk memegang timnas dibandingkan Dave. Dia merupakan peraih Coach of the Year IBL (Liga Bola Basket Indonesia) sebanyak empat kali dalam lima tahun terakhir. Menariknya, penghargaan itu diraih dengan melatih tim dari luar Jakarta yang biasanya kalah kualitas.
Rekam jejak spesial itu yang membuatnya ditunjuk oleh Badan Tim Nasional pada April lalu. Dia menggantikan pelatih sementara Johanis Winar yang menggantikan pelatih asing Milos Pejic (2022-24). Tugas pertama Dave adalah memimpin timnas basket Indonesia di SEA Games Thailand 2025, Desember mendatang.
Tantangan berat menanti pelatih kelahiran San Francisco, California, tersebut. Indonesia jauh dari kategori ”negara basket”, tidak seperti Filipina yang punya banyak bakat pemain tinggi dan terampil. Tinggi badan sering kali dijadikan alasan para pelatih timnas sebelumnya ketika kalah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/16/b523d1f65a8a53da64015aebe87ba8ce-DSCF4610.jpg)
Alasan kalah tinggi memang paling mudah untuk menyederhanakan masalah. Namun, dengan perspektif seperti itu, untuk apa bertanding seandainya memang sudah kalah tinggi dari awal? Jepang terbukti bisa berada di peringkat ke-21 dunia dengan tinggi skuad di bawah standar.
Persoalan identitas menjadi krusial. Jika sadar tidak memiliki banyak pemain berkualitas dengan tinggi lebih dari 2 meter, perlu ada cara lain untuk memenangi laga. Seperti Jepang, mereka mengandalkan keterampilan, kecepatan, kelincahan, dan daya juang tinggi.
Dave menyadari keterbatasan itu. Alih-alih meratapi keadaan, dia ingin menciptakan identitas baru timnas. ”Kuncinya adalah ketangguhan, kegigihan, dan kehadiran. Kami ingin menjadi tim yang membuat lawan berkata, ’Wow, mereka benar-benar sulit dihadapi’,” katanya.
”Kami ingin bermain keras, mengendalikan tempo, serta menciptakan pergerakan dan umpan sebanyak mungkin. Itu dari sisi permainan. Anda harus percaya faktor X. Anda pasti sering melihat, laga dimenangi bukan oleh tim yang lebih berbakat, tetapi yang lebih gigih,” ucapnya.
Kebetulan, timnas Indonesia dipaksa kreatif oleh peraturan SEA Games nanti. Dari informasi terakhir, terdapat aturan khusus untuk pemain naturalisasi. Hanya pemain yang dinaturalisasi sebelum usia 16 tahun yang boleh ikut serta di Thailand. Artinya, Indonesia tidak bisa membawa center naturalisasi.
Dari 24 nama yang dipanggil sejauh ini, tidak ada satu pun yang memiliki tinggi lebih dari 2 meter. Center andalan Indonesia, Vincent Kosasih, terpaksa absen di ajang dua tahunan itu karena urusan keluarga. Akibat kekurangan big man, pemain berusia 40 tahun, Ponsianus Nyoman Indrawan, kembali dipanggil setelah terakhir kali tampil pada 2018.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/16/1e6205bdf67e7a87bc610d29b65dbfca-DSCF4642.jpg)
Beruntung, timnas memiliki seorang Dave. Berbicara soal kreativitas, jangan pernah meragukan pelatih 37 tahun itu. Dia sudah membuktikan berkali-kali bisa mengangkat performa tim dengan kualitas seadanya, termasuk saat mengantarkan tim kuda hitam Prawira menjuarai IBL 2023.
”Pada akhirnya, kami harus menghadapi apa yang harus dihadapi. Anda tahu, saya pernah berada di tim yang kurang diunggulkan dan saya tahu cara menghadapinya. Jadi, kami hanya akan terus berlatih dan bermain dan percaya bahwa apa pun yang kami miliki sudah cukup,” ucap Dave.
Kreativitas Dave sudah tampak dalam sesi latihan pola serangan di GOR Soemantri. Sorotan tertuju kepada salah satu tim penuh bintang yang paling dipantau sang pelatih. Tim itu berisikan Abraham Damar Grahita, Andakara Prastawa, Yudha Saputera, Juan Laurent, dan Ponsianus.
Tiga pemain di tim itu bisa tampil sebagai guard, yaitu Abraham, Prastawa, dan Yudha. Sementara Juan melengkapi kemampuan trio guard tersebut untuk menjadi eksekutor penembak tiga angka. Komink, sapaan Ponsianus, mengisi posisi center walaupun biasanya lebih sering tampil di posisi power forward saat bersama klub.
Komposisi tersebut memperlihatkan rencana timnas untuk bermain dengan skema ”bola kecil” atau tanpa center murni. Skema itu dikenal lewat klub NBA, Golden State Warriors. Permainan cepat dan hujan tembakan tiga angka menjadi ciri khas Stephen Curry dan rekan-rekannya tersebut.
Menurut Dave, timnas tidak punya pilihan selain mengandalkan keunggulan terbesar para pemain. ”Kami punya banyak penembak. Keunggulan kami adalah bisa menembak bola dengan sangat baik dari mana pun. Itulah mengapa kami ingin bermain dengan tempo yang sedikit lebih tinggi,” tutur murid dari mantan pelatih Selandia Baru, Tim Fanning, itu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/16/8f6bb7ab94391246a499aa66a99a5914-DSCF4673.jpg)
Pemanggilan Komink bukan hanya karena krisis big man. Kecepatan pemain setinggi 193 sentimeter itu mungkin sudah jauh melambat di usia kepala empat. Namun, Dave membutuhkannya karena Komink punya kecerdasan bermain sangat tinggi. Hal itu bisa berguna dalam eksekusi serangan cepat.
Prastawa dan kawan-kawan terus dilatih pola serangan cepat dalam situasi transisi serangan balik. Mereka diminta bergerak dan memindahkan bola secepat mungkin. Pola itu terlihat berbeda dengan pelatih asing sebelumnya, Pejic, yang lebih mengandalkan permainan cenderung lambat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/16/27cc8407a362627dbc6c33731efef72d-DSCF4613.jpg)
Prastawa berkata, perbedaan itu sudah sangat terasa walaupun pelatnas SEA Games baru dimulai dua hari. ”Kami semua masih beradaptasi dengan sistem yang diinginkan pelatih. Memang, karena tidak punya big man, kami harus bermain lebih cepat,” ujar peraih emas SEA Games Vietnam 2021 itu.
Terlepas dari identitas baru timnas Indonesia, hal yang paling dinanti dari Dave adalah pengembangan pemain. Dia selalu mampu meningkatkan level pemain di setiap klub yang dilatihnya. Dengan prinsip Kaizen yang dipelajarinya dari budaya Jepang, pemain biasa menjadi berguna dan pemain berbakat menjadi bintang.
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti