Presiden disebut masih akan berada di Perancis saat perayaan Idul Adha. Kendati demikian, lebih dari 1.000 sapi disalurkannya untuk kurban.
26 Mei 2026 13:20 WIB · Politik & Hukum
Laily Rachev - BPMI Sekretariat Presiden
JAKARTA, KOMPAS — Presiden Prabowo Subianto dipastikan tidak berada di Indonesia saat perayaan Idul Adha 2026. Hari raya keagamaan yang akan jatuh pada Rabu (27/5/2026) itu bertepatan dengan agenda kunjungan kerja Presiden ke Perancis. Kendati demikian, ia tetap menyalurkan kurban sapi sebanyak 1.098 ekor ke seluruh wilayah Indonesia.
Informasi itu disampaikan Wakil Menteri Sekretaris Negara Juri Ardiantoro saat menggelar jumpa pers tentang jumlah kurban Presiden, di Istana Negara, Jakarta, Selasa (26/5/2026). Presiden disebut telah berangkat dari Indonesia menuju ke Perancis sejak Senin (25/5/2026).
”Pak Presiden, kan, semalam sudah melakukan kunjungan kerja ke luar negeri, ya, ke Perancis. Jadi, tentu akan menyesuaikan (shalat Idul Adha) karena pas hari Rabu masih ada di sana. Jadi, tentu akan menyesuaikan situasi di sana. Nanti kita tunggu saja,” kata Juri, ketika ditanya mengenai lokasi shalat Idul Adha Presiden.
Awak media turut menanyakan soal agenda kunjungan kenegaraan Presiden ke Perancis kali ini kepada Juri, tetapi ia enggan memberitahukannya. Sebaliknya, ia meminta awak media menunggu penjelasan dari Menteri Luar Negeri Sugiono.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/14/efe2c15c90155b3b7a97b8f40e4f9f8e-IMG_20250714_WA0252.jpg)
Ihwal perayaan Idul Adha, Juri mengumumkan, Presiden akan menyalurkan kurban sapi sebanyak 1.098 ekor ke seluruh wilayah Indonesia. Dari jumlah itu, sebanyak 598 sapi diberikan kepada jajaran pemerintahan provinsi dan kabupaten kota yang tersebar di 522 daerah, sedangkan 500 sapi lainnya diberikan kepada lembaga sosial keagamaan, pondok pesantren, hingga tokoh masyarakat. Anggaran penyediaannya sekitar Rp 100 miliar, bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Menurut rencana, kata Juri, setiap daerah akan memperoleh satu ekor sapi yang beratnya sekitar 800 kilogram sampai 1,3 ton. Bobot seberat itu menjadi standar berat sapi kurban pemberian Presiden. Persoalannya, tidak semua daerah bisa menyediakan sapi dengan kriteria semacam itu.
”Ada 46 daerah yang tidak tersedia sapi dengan ukuran sebesar itu. Oleh karena itu, ada yang mendapatkan dua sapi untuk 46 daerah. Jadi, semua provinsi dan kabupaten/kota akan menerima 598 sapi,” kata Juri.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/19/52339152-4970-4791-ac7c-f2d56d13f192.jpg)
Juri menyampaikan, sapi-sapi yang menjadi kurban Presiden berasal dari ras sapi premium. Beberapa sapi yang akan dikurbankan itu antara lain berjenis Simental, peranakan Mongol, Brahman, Angus, Sapi Bali, FH, Belgian Blue, hingga Charolais. Ia turut menjamin semua itu berada dalam kondisi sehat dan sesuai dengan syariat Islam untuk dikurbankan.
”Bukan saja bobotnya yang 800 kilogram, melainkan juga sapi-sapi yang secara kesehatan sudah memiliki sertifikat atau surat keterangan kesehatan hewan. Selain itu, sapi ini juga sesuai dengan syariat Islam untuk menjadi sapi kurban. Umurnya sudah di atas 2 tahun dan jantan, serta tidak cacat. Jadi, ini sapi premium dan kualitasnya sangat baik,” kata Juri.
Ia mengatakan, semua sapi kurban Presiden didapatkan atas hasil koordinasi antara Kementerian Sekretariat Negara, Kementerian Pertanian, dan dinas-dinas daerah yang membidangi urusan peternakan dan kesehatan hewan. Kerja sama untuk memperoleh sapi kurban juga dijalin dengan Asosiasi Peternak dan Penggemuk Sapi Indonesia (APPSI). Mekanisme itu yang membuatnya yakin akan kualitas baik dari sapi-sapi tersebut.
Sapi-sapi itu dibeli dari para peternak lokal. Juri berharap momen perayaan keagamaan itu bisa ikut meningkatkan produktivitas peternak dan kualitas sapi nasional. Presiden selalu meminta para peternak itu untuk menyediakan sapi kurban.
Pak Presiden berharap supaya ini menjadi momentum untuk pengembangan industri peternakan di Indonesia secara mandiri, dan memenuhi kebutuhan pangan, khususnya daging sapi dalam negeri.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/20/4df544c44fef201b09895890b4be9a63-WhatsApp_Image_2026_05_20_at_12.50.11.jpeg)
”Pada saat yang sama, Pak Presiden berharap supaya ini menjadi momentum untuk pengembangan industri peternakan di Indonesia secara mandiri, dan memenuhi kebutuhan pangan, khususnya daging sapi dalam negeri,” kata Juri.
Tak hanya itu, Presiden juga berharap sapi-sapi kurban itu bisa dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kebutuhan masyarakat dari berbagai daerah. Ia meminta lembaga-lembaga yang ditunjuk sebagai penyalur kurban, seperti pemerintah daerah dan pondok pesantren, menjalankan arahan itu sebaik-baiknya.
”Tentu kami juga ingin menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah bekerja sama dan membantu, mulai dari Kementerian Pertanian, pemerintah daerah, peternak sapi, hingga instansi lain, yang telah menyukseskan penyediaan sapi kurban Presiden sampai nanti acara penyembelihan dan distribusi daging sapi kepada masyarakat yang membutuhkan,” kata Juri.
Di Jakarta, Juri menyampaikan, salah satu sapi kurban Presiden akan disembelih di Masjid Istiqlal. Adapun jenis sapi yang dikurbankan itu berasal dari ras Simental dengan bobot mencapai 1,3 ton.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/20/608520a3e0b0407612fed18639389110-70610.jpg)
Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan, perayaan Idul Adha 1447 H mengusung tema ”Spirit Kurban Merawat Alam dan Kemanusiaan”. Tema itu sejalan dengan tema-tema besar dalam sederet kegiatan Kementerian Agama mengenai ekoteologi dan teologi cinta. Hendaknya tema itu bisa menjadi inspirasi pula bagi para khatib dan masyarakat Muslim di Indonesia guna memperkuat kepedulian terhadap lingkungan dan nilai-nilai kemanusiaan melalui ibadah kurban.
Bentuk penerapan tema itu, kata Nasaruddin, juga tecermin dari pelaksanaan kurban yang dirancang ramah lingkungan di Masjid Istiqlal. Seluruh proses penyembelihan dilakukan dengan sistem yang higienis dan tidak mencemari sungai serta lingkungan sekitarnya.
”Tidak ada satu tetes pun darah atau limbah yang masuk ke sungai. Semua sudah disiapkan dengan sistem pengelolaan yang baik,” kata Nasaruddin, di Jakarta, Senin (25/5/2026), dalam keterangan tertulis yang dirilis situs Kementerian Agama.
Penulis:
Nino Citra AnugrahantoEditor:
C. Wahyu Haryo PPenyelaras Bahasa:
Nur Adji