Idul Fitri dan Pemutihan Citra Diri

Bagi umat Islam, bulan Syawal merupakan babak baru, yaitu babak kembalinya ke fitrah asalnya.

27 Mar 2025 10:10 WIB · Opini

Oleh M Zainuddin

Pada 1 Syawal nanti seluruh umat Islam di dunia akan merayakan hari kemenangan, hari di mana manusia beriman dikembalikan ke fitrahnya semula—disebut dengan Idul Fitri.

Idul Fitri ada karena adanya puasa (shiyam) Ramadhan, karena itu tidak ada nilai dan identitas citra diri manusia beriman jika tidak ada pelaksanaan shiyam Ramadhan tersebut.

Kenapa orang mukmin saat ini dikembalikan ke fitrahnya? Karena selama bulan Ramadhan hingga Syawal, semua karunia ditumpahkan oleh Allah SWT kepada umat Islam. Saya menganalisis ada tujuh macam karunia itu.

Pertama, adanya rahmat yang telah diturunkan oleh Allah pada putaran sepuluh pertama (al-’asyr al-awwal) di bulan Ramadhan. Bahkan menjelang Ramadhan, Allah sudah menjanjikan kepada hambanya yang beriman: bahwa siapa saja yang bersukacita menyambut datangnya bulan Ramadhan, Allah mengharamkan tubuhnya dari api neraka (al-Hadis).

Kedua, adanya magfirah yang telah diturunkan pada putaran sepuluh kedua atau pertengahan (al-’asyr al-ausath).

Ketiga, adanya pembebasan, yang telah diturunkan pada putaran sepuluh terakhir (al-’asyr al-awakhir).

Keempat, lailatulqadar yang diturunkan pada malam-malam ganjil (yang nilainya lebih baik dari seribu bulan setara dengan 83 usia manusia).

Kelima, zakat fitrah, yang dapat membersihkan dosa-dosa dan mengembalikan fitrah manusia.

Keenam, pahala puasa enam hari Syawal, yang nilainya setara dengan puasa satu tahun. Dan ketujuh, halalbihalal (saling memaafkan di antara sesama, yang dapat menghapus dosa-dosa kemanusiaan mereka).

Babak baru

Bagi umat Islam, bulan Syawal merupakan babak baru, yaitu babak kembalinya ke fitrah asalnya, sebagaimana hadis Nabi: ”Setiap anak Adam memiliki dosa, dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah bertaubat” (al-Hadis).

Demikian pula, dalam hadis yang lain disebutkan bahwa setiap anak Adam dilahirkan dalam keadaan fitrah. Artinya, setiap anak yang dilahirkan sudah dianugerahi potensi atau energi positif. Kedua orangtuanyalah yang akan membentuk mereka menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Nah, inilah yang membedakan dengan teori tabula rasa John Lock dan innate ideas Plato.

Dalam teori tabula rasa John Lock dinyatakan, anak lahir seperti kertas putih, tergantung siapa yang akan memberi warna atau catatan. Ini artinya bahwa anak tak memiliki potensi apa-apa dan pasif. Ibarat gelas kosong juga.

Sementara teori Plato mengatakan bahwa realitas (being) itu ada karena akal-pikiran kita (mind). Teori ini kemudian dikembangkan oleh para pengikutnya, seperti Rene Descartes dengan diktum populernya cogito ergo sum (aku ada karena aku berpikir).

Dan akhirnya juga berkembang diktum lain: you are what you think. Seolah-olah teori-teori ini sama dengan teori Islam, padahal jelas berbeda.

Dalam konsep Islam, anak lahir sudah memiliki potensi atau energi positif. Ibarat baterai itu sudah ada isinya, tinggal kita men-charge lebih (fully charge). Maka, hakikat pendidikan adalah mengembangkan potensi: mengasuh, merawat, dan mengembangkan potensi hingga menjadi manusia yang well educated.

Quote

Pada zaman modern ini, tradisi positif seperti silaturahmi yang telah dibangun oleh orang tua dulu sudah semakin punah.

Maka, terminologi tarbiyah itu berasal dari kata raba-yarbu-rabban, rububiyatan atau rabba-yurabbi-tarbiyatan, seperti sifat rububiyyah Tuhan yang memelihara alam jagat raya ini. Namun, karena perkembangan waktu dan semakin anak menginjak dewasa dan bebas bergaul, pengaruh luar tidak bisa dibendung sehingga banyak virus dan energi negatif yang masuk.

Seiring dengan itu pula, manusia tidak bisa mengelak dari dosa. Di sinilah sesungguhnya Idul Fitri merupakan reformasi tahunan (tajdid sanawi) atau pemutihan diri. Namun, semua itu masih bersifat vertikal ke ranah teologis, belum ke ranah sosiologis dan kosmologis.

Oleh karena itu belum tuntas, dan ini harus dituntaskan. Salah satunya melalui saling memaafkan antarsesama yang dalam tradisi Indonesia disebut halalbihalal, yang merupakan realisasi dari wal ’afina ’aninnas (QS Ali Imran: 133).

Sejumlah aparatur sipil negara (ASN) saling bersalaman saat halal bihalal di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (16/4/2024). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggelar halal bihalal di hari pertama kerja ASN setelah libur Lebaran 2024. Halal bihalal ini digelar di pendopo Balai Kota DKI Jakarta. Antrean panjang para ASN yang ingin berjabat tangan dengan Pj Gubernur mengular hingga keluar pendopo. Halal bihalal ini menjadi ajang silaturahmi dan saling memaafkan antara ASN. KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK) 16-04-2024

”Annual reformation”

Bulan Syawal dalam tradisi bangsa Indonesia merupakan momentum yang paling tepat untuk media saling memaafkan di antara mereka, berhalalbihalal, sebagai bentuk penghapusan dosa secara horizontal dan massal (annual reformation), pemutihan diri tahunan (annual bleaching). Jika pada level presiden ada remisi, dan gubernur ada pemutihan pajak kendaraan bermotor setiap tahun, maka Tuhan setiap tahun melakukan pemutihan jati diri manusia.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah, bahwa suatu hari Nabi pernah bertanya kepada para sahabatnya: Atadruna man al-Muflis? Tahukah kalian, siapakah orang yang disebut bangkrut atau pailit itu?

Para sahabat menjawab: ”Orang bangkrut adalah orang yang seluruh harta bendanya ludes.”

Kemudian Nabi bersabda: ”Bukan, bukan itu orang yang disebut bangkrut itu. Orang bangkrut adalah orang yang saat menghadap Allah pada hari kiamat dengan membawa pahala shalatnya, puasanya, zakat dan hajinya, tetapi pada waktu hidup di dunia ia suka berbuat zalim (menyakiti saudaranya, tetangga, merampas hak orang lain) dan pada waktu meninggal belum sempat meminta maaf kepada mereka.” Dan mereka ini ditangguhkan masuk surganya.

Nah, di sinilah pentingnya dimensi sosial dalam ajaran Islam. Bahkan tidak saja dimensi sosiologis, tetapi juga dimensi kosmologis (QS Al-Qashash: 77).

Pada zaman modern ini, tradisi positif seperti silaturahmi yang telah dibangun oleh orang tua dulu sudah semakin punah. Hal ini disebabkan kehidupan modern cenderung materialistis dan individualistis. Orang bersedia berteman jika ada kepentingan kerja atau bisnis.

Di kota-kota besar, misalnya, antara tetangga satu dan tetangga yang lain tidak saling mengenal, karena rumah mereka sudah dibatasi oleh pagar dan dinding tembok yang tinggi.

Sebagaimana yang diramalkan oleh Alvin Toffler, bahwa zaman modern akan melahirkan manusia-manusia impersonal, manusia yang tercerabut dari nilai-nilai kemanusiaannya. Pengaruh teknologi dan perangkat media sosial lainnya, seperti telepon genggam dan Android, juga mereduksi nilai silaturahmi yang tidak lagi face-to-face, tetapi sudah digantikan oleh Facebook dan aplikasi lainnya, termasuk pembelajaran di kelas dengan fully e-learning.

Namun, beruntung, umat Islam masih memiliki tradisi positif yang perlu dilestarikan untuk mengatasi dampak modernisasi tersebut, seperti tadarus Al Quran, tahlil dan yasin berjemaah, berzanji dan diba’, majelis-majelis taklim, baik di tingkat RT maupun RW.

Tradisi tersebut merupakan salah satu bagian dari bentuk ukhuwah islamiyah, ukhuwah basyariyah dari sekian tradisi baik lainnya yang ada dalam ajaran Islam dan tradisi Islam Nusantara. Tradisi halalbihalal, silaturahmi, saling berkunjung ke saudara, tetangga dan kawan, memuliakan tamu, adalah perilaku positif yang diajarkan Islam.

Bahkan, Nabi menegaskan, jika orang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, harus menjalin silaturahmi. Jika kita cermati lebih dalam QS Al-Qashas: 77, dimensi ajaran Islam itu tidak hanya teologis dan sosiologis, tetapi juga kosmologis.

M Zainuddin, Guru Besar Filsafat dan Sosiologi Agama, Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang


Kerabat Kerja

Penulis:

M Zainuddin
 | 

Editor:

Sri Hartati Samhadi, Yohanes Krisnawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji