Saat ini 40 aset energi di sembilan negara di kawasan Timur Tengah telah rusak parah.
23 Mar 2026 19:00 WIB · Internasional
AP Photo/Vahid Salemi
Ekonomi global tengah menghadapi ancaman besar akibat perang Iran yang dipicu serangan Amerika Serikat dan Israel. Krisis energi karena konflik di Timur Tengah diprediksi bisa lebih parah dari dua krisis energi besar sebelumnya.
Hal ini dikatakan Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol di National Press Club Australia di Canberra, Senin (23/3/2026). ”Tidak ada negara yang akan kebal dari dampak krisis ini jika terus berjalan ke arah yang sekarang,” katanya.
Birol mengatakan, 40 aset energi di sembilan negara di kawasan Timur Tengah telah rusak parah. Krisis di Timur Tengah saat ini, kata dia, menimbulkan dampak gabungan yang lebih buruk dibandingkan dengan dua krisis energi besar sebelumnya, yaitu pada dekade 1970-an dan pada 2022.
Guncangan minyak pada 1970-an dipicu pertama oleh embargo minyak Arab pada 1973–1974 setelah Perang Yom Kippur, lalu oleh Revolusi Iran pada 1979. Sementara pada 2022, krisis pasar gas disebabkan serangan Rusia ke Ukraina.
Terkait krisis energi, IEA sedang berkonsultasi dengan pemerintah di Eropa dan Asia mengenai kemungkinan pelepasan tambahan cadangan minyak. ”Kita akan lihat, kita akan memantau pasar. Jika perlu, tentu kami akan melakukannya. Namun, kami akan melihat kondisinya, menganalisis, menilai pasar, dan mendiskusikannya dengan negara-negara anggota kami,” kata Birol.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/22/7675fe5797df847068cc6d60521cb05f-cropped_image.jpg)
Guncangan perang kali ini membuat pasar energi terus bergejolak. Harga minyak Brent pada awal perdagangan pekan ini bertahan sekitar 112 dolar AS per barel, naik hampir 55 persen sejak Israel dan AS memulai perang pada 28 Februari 2026. Perang juga memicu fluktuasi liar di pasar saham global di tengah kekhawatiran krisis energi dunia.
Memasuki pekan keempat perang, Iran masih terus memblokade Selat Hormuz. Sementara pada Sabtu, Presiden AS Donald Trump mengultimatum Teheran untuk membuka jalur strategis itu bagi semua kapal dalam waktu 48 jam. Trump mengatakan, jika Iran tidak melakukannya, AS akan meluluhlantakkan pembangkit listrik Iran.
Iran bersikeras selat itu sebenarnya masih terbuka, tetapi tidak bagi AS, Israel, dan sekutu-sekutu mereka. Meski demikian, jalur itu tetap diblokade sangat ketat dan hanya sedikit kapal yang bisa melintas.
Tidak ada negara yang akan kebal dari dampak krisis ini jika terus berjalan ke arah yang sekarang.
Seusai ancaman Trump, Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan Selat Hormuz akan tetap ditutup sampai pembangkit listrik Iran yang hancur dibangun kembali. Iran juga menanggapi ancaman Trump dengan keras.
IRGC menyatakan, jika Washington menyerang jaringan listrik Iran, Teheran akan membalas dengan menyerang pembangkit listrik Israel. Iran juga akan menargetkan fasilitas kelistrikan di negara-negara kawasan yang memasok listrik ke pangkalan AS.
”Jika Anda menyerang listrik, kami menyerang listrik,” demikian pernyataan IRGC yang disiarkan media Pemerintah Iran.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/03/1d1ed523-a5c6-4dde-a006-6686cd6ff9c5.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/19/bfedd07de4ba539c013808514a330cbe-QATAR_IRAN_ISRAEL_US_WAR_136592962.jpg)
Nada serupa disampaikan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf. Qalibaf mengatakan, jika AS menyerang, Iran akan menganggap infrastruktur vital di kawasan sebagai sasaran yang sah. Infrastruktur itu di antaranya fasilitas energi dan instalasi desalinasi yang menopang pasokan air minum di negara-negara Teluk.
Dalam pernyataan yang dibacakan televisi pemerintah, IRGC memperingatkan sasaran lain dapat mencakup infrastruktur ekonomi, industri, dan energi yang terkait dengan kepentingan AS.
Kantor berita Fars yang dekat dengan Garda Revolusi memublikasikan daftar fasilitas yang dapat menjadi sasaran. Daftar itu meliputi instalasi desalinasi dan PLTN Barakah milik Uni Emirat Arab. Kantor berita yudisial Iran, Mizan, memuat daftar serupa.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/23/2bb16adee9b2feec0cab3cf6bbc8939b-Iran_Israel_War_1_.jpeg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/06/e9750771efcb1f0febfd0b0e2a7d3b41-20260306_ANU_Biaya_Perang_Iran_mumed.jpg)
Namun, dalam pernyataan terbaru yang disiarkan media pemerintah, IRGC menarik kembali ancaman terhadap instalasi desalinasi. Garda Revolusi mengatakan, Trump berbohong ketika menuduh Iran akan menyerang fasilitas penyulingan air dan menyusahkan warga negara-negara di kawasan.
Ancaman terhadap jaringan listrik di kawasan Teluk dinilai sangat berbahaya. Selain menopang kota-kota gurun, tenaga listrik juga menopang fasilitas desalinasi yang menjadi sumber utama air minum di Teluk.
Di Bahrain dan Qatar, seluruh air yang dikonsumsi bergantung pada desalinasi. Di Uni Emirat Arab, lebih dari 80 persen kebutuhan air minum dipenuhi lewat desalinasi, sedangkan di Arab Saudi mencapai sekitar 50 persen.
Ancaman Iran juga meluas ke jalur maritim. Dewan Pertahanan Iran, Senin, mengancam akan menyebar ranjau laut di seluruh Teluk Persia jika terjadi invasi darat. Ancaman ini juga berlaku jika wilayah pesisir dan pulau-pulau Iran menjadi sasaran serangan.
Ancaman itu muncul di tengah kekhawatiran atas kemungkinan kedatangan marinir AS ke kawasan. Sebelumnya, Pentagon menyatakan akan mengirim tambahan sekitar 2.500 marinir ke Timur Tengah.
Sementara itu, misteri masih menyelimuti kondisi Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei. Reuters, mengutipWashington Post, melaporkan Mojtaba dalam kondisi terluka, terisolasi, dan tidak merespons pesan yang ditujukan kepadanya. Namun, sebelumnya seorang pejabat Iran menyatakan luka Mojtaba hanya ringan dan ia masih tetap menjalankan tugas.
Dampak perang kian terasa di negara-negara Teluk. Pertahanan udara Uni Emirat Arab mencegat rudal balistik di dekat Pangkalan Udara Al Dhafra di Abu Dhabi. Satu orang di darat terluka akibat serpihan.
Sirene peringatan juga berbunyi di Bahrain dan Kuwait. Arab Saudi menyatakan telah mencegat rudal yang mengarah ke Riyadh serta menghancurkan drone di Provinsi Timur yang kaya minyak.
Di tengah eskalasi itu, Komandan Komando Tengah AS Jenderal Brad Cooper menuduh Iran meluncurkan rudal dan pesawat nirawak (drone) dari kawasan berpenduduk. Ia menyarankan warga sipil Iran tetap berada di dalam rumah untuk sementara, sambil memberikan isyarat bahwa kawasan-kawasan itu dapat menjadi sasaran berikutnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/12/714675a3d5aa7bbe6b364040293a1f93-US_Defense_Secretary_Pete_Hegseth_and_CENTCOM_commander_Admiral_Brad_Cooper_hold_a_news_conference_1_.jpeg)
Pada Senin pagi, Israel melancarkan gelombang baru serangan ke Teheran. Israel menyatakan telah memulai serangan skala besar yang menargetkan infrastruktur di ibu kota Iran, tetapi belum merinci sasarannya. Israel juga memberikan sinyal operasi darat bisa menjadi bagian dari perang.
Korban terus bertambah di berbagai pihak. Kementerian Kesehatan Iran menyebut jumlah korban tewas di Iran telah melampaui 1.500 orang. Di Israel, 15 orang tewas akibat serangan Iran. Setidaknya puluhan warga sipil di Tepi Barat dan negara-negara Teluk juga dilaporkan tewas. (AP/Reuters/AFP)
Penulis:
Irene SarwindaningrumEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Retma Wati