Pelemahan IHSG berbarengan dengan memburuknya bursa regional. Arah kebijakan Bank Sentral AS jadi sorotan.
19 Des 2024 19:20 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS — Pasar keuangan melemah sepanjang Kamis (19/12/2024). Indikator seperti Indeks Harga Saham Gabungan pada perdagangan hari ini ditutup melemah 1,84 persen dibandingkan dengan perdagangan kemarin ke level 6.977 atau melemah 4,06 persen dibandingkan dengan posisi di awal tahun.
Mengutip RTI Business, sebanyak 521 harga saham turun, sedangkan hanya 97 saham yang alami kenaikan harga dan 170 tidak berubah. Dalam satu hari perdagangan, investor asing melakukan penjualan bersih senilai Rp 751 miliar di pasar reguler dan Rp 192 miliar di pasar sekunder.
Indeks sektor saham yang mengalami kejatuhan harga paling banyak adalah kumpulan perusahaan sektor manufaktur bahan dasar sebesar -3,63 persen, disusul kesehatan (-2,63 persen), dan non-primer (-2,41 persen).
Pilarmas Investindo Sekuritas melaporkan, pelemahan IHSG yang berbarengan dengan pelemahan beberapa bursa di Asia. Bursa Jepang Nikkei minus 0,7 persen ke level 38.814, Bursa Hang Seng juga minus 0,6 persen ke level 3.370, Bursa Korea Selatan Kospi bahkan negatif 2 persen ke level 2.436.
Pelemahan indeks bursa dalam negeri dan Asia terjadi setelah Bank Sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve, memangkas tingkat suku bunganya sebesar 25 basis poin (bps) pada Kamis (19/12) dini hari waktu Indonesia.
”The Fed juga memberi sinyal akan memperlambat laju penurunan suku bunga tahun depan,” kata tim analis Pilarmas.
Ketua Federal Reserve Jerome Powell dalam konferensi pers juga mengatakan, beberapa pejabat sedang mempertimbangkan dampak rencana presiden terpilih AS, Donald Trump. Rencana ini seperti tarif yang lebih tinggi dan pajak yang lebih rendah.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/04/30/5b795c27-9866-4579-b585-9a9b4960ff84_jpg.jpg)
Dalam situasi ini, Bank Sentral Jepang (BoJ) juga memberi sinyal akan menaikan suku bunga pada tahun depan. Saat ini, para pedagang memperkirakan kenaikan suku bunga BoJ sebesar 46 bps pada akhir tahun 2025. ”Keputusan kebijakan dari kedua bank sentral menggarisbawahi tantangan yang dihadapi ekonomi global,” kata Tim Pilarmas.
Di dalam negeri, Bank Indonesia (BI) pada Rabu (18/12) memutuskan untuk menahan suku bunga di level 6 persen. Keputusan ini menyiasati pelemahan rupiah yang terus berlanjut hingga menyentuh level Rp 16.300 per dollar AS.
Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo menjelaskan, keputusan BI untuk menahan suku bunga acuan tidak sesuai dengan harapan masyarakat yang menginginkan penurunan suku bunga untuk merangsang pertumbuhan ekonomi.
Sementara nilai tukar rupiah tertekan peningkatan permintaan dollar AS di akhir tahun. Naiknya permintaan terjadi, di antaranya, karena perusahaan harus memulangkan laba dan menyelesaikan akun. ”Permintaan musiman ini dapat menekan nilai tukar rupiah,” katanya kepada Kompas.
Nilai tukar dollar AS juga menguat karena kinerja ekonomi yang kuat dan pendekatan hati-hati Federal Reserve terhadap penurunan suku bunga. Kekuatan ini membuat dollar lebih menarik bagi investor asing.
Ditambah lagi, naiknya ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi yang terus berlanjut mendorong investor beralih ke aset safe haven, seperti dollar AS, yang selanjutnya melemahkan rupiah.
”Hingga hari ini, rupiah diperdagangkan di kisaran Rp 16.300. Nilai tukar berfluktuasi dalam kisaran ini karena faktor-faktor yang disebutkan di atas. rentang akhir tahun berkisar Rp 16.000-Rp 16.600 per dollar AS,” ujar Sutopo.
Penulis:
Erika KurniaEditor:
Muhammad Fajar MartaPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .