Investor tidak hanya khawatir The Fed batal memangkas suku bunga, tetapi juga gejolak keamanan dan pemerintahan di dalam negeri belakangan.
29 Agt 2025 11:54 WIB · Ekonomi & Bisnis
JAKARTA, KOMPAS — Indeks Harga Saham Gabungan pada perdagangan Jumat (29/8/2025) anjlok ke bawah level 7.800 atau turun hampir 2 pesen pada pukul 10.00 WIB. Aksi massa mengkritik pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat yang diwarnai kerusuhan, bahkan sampai menewaskan seorang korban, menjadi faktor yang memengaruhi sentimen pasar.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di level 7.899 pada perdagangan Jumat ini setelah pada penutupan sebelumnya ditutup menguat 0,2 persen ke level 7.952. Sekitar satu jam berselang, IHSG turun ke 7.800. Mengutip RTI Business, sekitar 600 saham turun harga. Sementara sekitar 100 saham naik harga dan 69 saham tidak berubah.
Analis pasar modal dari PT Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, kepada Kompas, mengatakan, pergerakan ini mencerminkan rapuhnya psikologis pasar terhadap gejolak politik dan keamanan di dalam negeri. Ini terlihat dari perdagangan pada Kamis (28/8/2025) yang sempat terkoreksi hingga level 7.850 atau turun 1,27 persen pada sesi pertama perdagangan.
Penurunan terjadi setelah sehari sebelumnya IHSG juga ditutup di zona merah. Ini mengindikasikan kekhawatiran investor mulai meningkat.
”Aksi massa yang merebak di Jakarta dan sejumlah daerah menjadi sentimen negatif karena meningkatkan ketidakpastian politik. Pasar modal sangat sensitif terhadap isu stabilitas. Begitu muncul potensi risiko keamanan, investor asing maupun domestik cenderung menahan diri, bahkan melepas portofolio untuk mengamankan posisi likuid,” tutur Hendra.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/29/d480120c07e31f8f9b1c148123805da5-cropped_image.jpg)
Gejolak sosial ini, dia menilai, diperparah oleh respons yang kurang tepat. Alih-alih berkomunikasi terbuka dengan masyarakat, misalnya, DPR justru mengimbau kepada anggotanya untuk bekerja dari rumah atau work from home.
Kebijakan ini menimbulkan persepsi bahwa pemerintah dan wakil rakyat lebih memilih menjauh ketimbang mendengarkan aspirasi langsung. Padahal, pasar butuh sinyal stabilitas dan kepastian. Dalam ekonomi, persepsi sering kali lebih kuat pengaruhnya dibanding fakta di lapangan.
”Tak mengherankan situasi ini menjadi sorotan media internasional. Investor global yang memantau Indonesia melihat adanya eskalasi ketidakpastian politik, yang berujung pada aksi jual di pasar keuangan. Inilah sebabnya IHSG cepat merespons dan tertekan signifikan. Kondisi serupa juga dialami nilai tukar rupiah yang ikut berfluktuasi,” katanya.
Secara teknikal, IHSG kini bergerak mendekati kisaran 7.800–7.840. Area ini diperkirakan menjadi penahan pertama bagi tekanan jual. Jika level ini berhasil bertahan, ada peluang IHSG kembali konsolidasi. Namun, apabila jebol, risiko koreksi lebih dalam bisa terbuka.
Oleh karena itu, banyak pelaku pasar saat ini memilih strategi defensif sembari menunggu kepastian arah kebijakan pemerintah. Jika psikologis pasar terus diganggu oleh ketidakpastian, pelemahan IHSG sulit dihindari meski faktor fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/29/05978edfb1d646bb8058736b59fe7699-cropped_image.jpg)
Pegiat Pasar Modal Indonesia, Reydi Octa, saat dihubungi terpisah, juga menilai, tekanan diperkirakan muncul hari ini seiring dengan meningkatnya kekhawatiran politik domestik dan capital outflow asing yang terus berlanjut.
Namun, kombinasi sentimen global yang tidak pasti juga ikut menimbulkan gejolak pasar. Hal ini terutama karena Bank Sentral AS, The Fed, diperkirakan belum akan memangkas suku bunga karena ekspektasi inflasi yang masih tinggi.
Sebaliknya, pasar Eropa tertekan meski data penjualan mobil listrik melonjak, ditopang lonjakan kinerja BYD. Di Asia, IHSG kemarin menguat tipis 0,2 persen dengan nilai bersih pembelian asing Rp 279 miliar.
”Selain sentimen global, yang bisa menjadi katalis pelemahan IHSG dalam jangka pendek adalah dampak dari kisruhnya massa aksi demo hari ini yang cenderung membuat pasar lebih berhati-hati,” kata Reydi.
Penulis:
Erika KurniaEditor:
FX Laksana Agung SaputraPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto