IHSG Longsor hingga 6 Persen, Pengamat: Investor Takut dengan Kondisi Domestik

Pasar kian khawatir akan kondisi ekonomi dan politik dalam negeri.

18 Mar 2025 13:44 WIB · Ekonomi

Oleh Erika Kurnia

JAKARTA, KOMPAS — Indeks Harga Saham Gabungan anjlok hingga lebih dari 6 persen dalam perdagangan sesi pertama, Selasa (18/3/2025). Pengamat menilai, dinamika ekonomi dan politik nasional belakangan memberatkan pasar saham.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang hari ini dibuka di level 6.472 turun ke angka 6.076 atau turun 6,12 persen pada akhir perdagangan sesi pertama. Secara sektoral, seluruh jenis saham mengalami koreksi, dengan penurunan dalam di sektor teknologi (-12,46 persen), sektor barang baku (-9,78 persen), dan energi (-6,24 persen).

Penurunan IHSG ini tidak sejalan dengan kinerja beberapa pasar saham harian di bursa luar negeri. Bursa Jepang Nikkei, misalnya, tumbuh positif 1,4 persen, Bursa Hongkong Hangseng menghijau 1,8 persen. Sementara Bursa China Shanghai naik 0,1 persen, serta Bursa Amerika Serikat, seperti Dow Jones dan Nasdaq, masing-masing naik 0,85 persen dan 0,31 persen secara harian.

Quote

Penurunan IHSG ini tidak sejalan dengan kinerja beberapa pasar saham harian di bursa luar negeri.

Merespons situasi di pasar modal dalam negeri, Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan pembekuan perdagangan saham atau trading halt pada pukul 11.19 waktu Jakarta Automated Trading System setelah IHSG turun 5 persen. Trading halt bertujuan untuk melindungi integritas pasar saham dan memastikan semua investor terinformasi perubuahan kondisi pasar.

Surat Perintah Kepala Departemen Pengawasan Pasar Modal 2A OJK (Otoritas Jasa Keuangan) Nomor S-274/PM.21/2020, yang dikeluarkan pada 10 Maret 2020 mengatur, trading halt dilakukan dalam periode 30 menit setiap terjadinya penurunan IHSG dalam kelipatan 5 persen.

Indeks Harga Saham Gabungan pada akhir perdagangan sesi pertama, Selasa (18/3/2025), anjlok 6 persen ke level 6.076. Situasi ini membuat Bursa Efek Indonesia melakukan pemberhentian perdagangan sementara.

Jika penurunan IHSG mencapai lebih dari 15 persen, perdagangan saham akan dihentikan (suspend). Penghentian perdagangan bisa berlangsung hingga akhir sesi perdagangan atau bahkan lebih dari satu sesi. Namun, langkah ini memerlukan persetujuan dari OJK.

Analis Saham Senior NH Korindo Sekuritas Indonesia, Ezaridho Ibnutama, kepada Kompas mengatakan, penurunan pasar saham terjadi karena investor asing khawatir dengan kebijakan pemangkasan suku bunga Bank Indonesia (BI). Keputusan ini tengah dirapatkan pada pertemuan 18-19 Maret 2025.

”Kami menspekulasikan, investor institusi asing khawatir besok akan ada risiko tinggi pemangkasan suku bunga hingga 25 basis poin dari posisi saat ini 5,75 persen,” ungkapnya. Dalam posisi menanti kebijakan ini, NH Korindo memproyeksikan IHSG akan bertahan di posisi 6.000-6.100.

Quote

Kami menspekulasikan, investor institusi asing khawatir besok akan ada risiko tinggi pemangkasan suku bunga hingga 25 basis poin dari posisi saat ini 5,75 persen.

Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus, dalam keterangannya kepada media, juga menitikberatkan sentimen negatif pasar pada dinamika ekonomi di dalam negeri.

Selain penantian akan arah kebijakan moneter BI yang akan diumumkan Kamis (19/3/2025), sentimen dari laporan kinerja keuangan dalam negeri yang dirilis belum lama ini juga jadi pemicu kekhawatiran pelaku pasar.

”Ada faktor penerimaan Indonesia yang mengalami penurunan hingga 30 pesen, yang mengakibatkan defisit APBN melebar sehingga membutuhkan penerbitan utang yang lebih besar, dan tentu saja rupiah kian semakin melemah. Hal ini yang berpotensi untuk menyebabkan tingkat suku bunga BI juga akan lebih sulit untuk mengalami penurunan,” tuturnya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (ketiga kiri) bersama Wakil Menteri Suahasil Nazara (kedua kiri), Anggito Abimanyu (kiri), Thomas A. M. Djiwandono (kedua kanan), Sekretaris Jenderal Heru Pambudi (ketiga kanan) dan Direktur Jenderal Pajak Suryo Utomo (kanan) bersiap mengikuti konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Kamis (13/3/2025). Menteri Keuangan melaporkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) per 28 Februari 2025 mengalami defisit sebesar Rp31,2 triliun atau 0,13 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/YU

Realisasi penerimaan pajak per Februari adalah Rp 269 triliun atau anjlok 30,19 persen secara tahunan. Belanja pemerintah juga turun 7 persen. Sementara defisit APBN mencapai Rp 31,2 triliun. Alhasil, utang pun naik 44,77 persen pada Januari 2025.

”Semua khawatir bahwa risiko fiskal kian mengalami peningkatan di Indonesia yang membuat banyak pelaku pasar dan investor pada akhirnya memutuskan untuk beralih kepada investasi lain yang jauh lebih aman dan memberikan kepastian imbal hasil. Saham menjadi tidak menarik, dan mungkin obligasi menjadi pilihan setelah saham,” ujar Nico.

Quote

Saham menjadi tidak menarik, dan mungkin obligasi menjadi pilihan setelah saham.

Sementara itu, sentimen luar negeri juga tidak luput dari perhatian. Di antaranya adalah perang tarif. Uni Eropa, misalnya, menerapkan tarif yang lebih besar kepada produk AS. Ada pula kekhawatiran akan berlangsungnya resesi ekonomi di Amerika Serikat.

Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, melalui keterangan tertulis, juga menyebut koreksi IHSG kali ini akibat hasil APBN Februari 2025 yang buruk. Pun demikian dengan proyeksi fiskal sepanjang 2025.

Suasana sidang kabinet paripurna yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto didampingi Wakil Presiden Gibran Rakabumin Raka di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Senin (2/12/2024). Rapat kabinet paripurna diikuti menteri, wakil menteri, dan kepala badan setingkat menteri. Dalam kesempatan tersebut Presiden Prabowo menyampaikan hasil lawatannya ke luar negeri, penanganan bencana alam letusan Gunung Lewotobi Laki-laki serta persiapan pemerintah menjelang libur Natal dan tahun baru. Kompas/Hendra A Setyawan (HAS)

”Ini akibat kebijakan pemerintah yang tidak realistis dan tanpa teknokrasi yang jelas. Kemudian, ini juga akibat berbagai isu megakorupsi yang merusak kepercayaan pasar. Ini merupakan isu lama yang membuat investor berhati-hati,” katanya.

Tidak hanya itu, Wijayanto menambahkan, ada juga kebijakan lain, seperti kekhawatiran pasar akan protes besar masyarakat karena perubahan regulasi yang dikhawatirkan menguatkan Dwifungsi TNI.

Ada pula kekhawatiran peringkat kredit Indonesia yang akan turun dalam pengumuman lembaga pemeringkat, seperti Fitch dan Moodys, pada Maret-April dan S&P pada Juni-Juli 2025.

”Isu tersebut merupakan hal baru yang membuat investor takut,” kata Wijayanto menambahkan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

FX Laksana Agung Saputra
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .