Kenaikan harga minyak dunia memicu kekhawatiran lonjakan inflasi dan risiko fiskal lebih lanjut.
09 Mar 2026 11:15 WIB · Ekonomi & Bisnis
Kompas/Hendra A Setyawan
JAKARTA, KOMPAS — Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG mengawali perdagangan awal pekan, Senin (9/3/2026), dengan pelemahan tajam. Sentimen negatif dari perang AS dan Iran yang membuat harga minyak global naik signifikan menjadi penyebab kekhawatiran pasar, tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga banyak pasar saham global.
IHSG dibuka di level 7.374 dan sempat menyentuh titik terlemah di 7.156 sebelum pukul 10.00 WIB. Pelemahan rata-rata 4 persen ke kisaran level 7.200, didukung penurunan harga oleh hampir 700 saham.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/09/62eaf941ac149b3092f39f6d5c1d4168-jci_ind_2.png)
Pelemahan ini seiring dengan pergerakan indeks acuan Nikkei Jepang yang anjlok lebih dari 6 persen ke 52.166 tak lama setelah perdagangan dimulai. Angka ini turun drastis dari penutupan pada Jumat di angka 55.620. Demikian juga dengan Indeks Kospi Korea Selatan yang merosot 6,3 persen.
Saham di Australia dan Selandia Baru juga turun lebih dari 3 persen. Sebelumnya, Wall Street memimpin penurunan di awal perdagangan karena indeks S&P turun 1,6 persen, sementara Nasdaq merosot 1,7 persen.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/09/d12343424156d7ba8ea8c758334562ab-Screenshot_20260309_094449_Samsung_Internet.jpg)
Tren ini melanjutkan tren penurunan yang telah terjadi sepanjang pekan lalu di tengah meningkatnya tekanan dari sentimen global, terutama lonjakan harga minyak dunia. Harga minyak mentah WTI hari ini tercatat naik 22 persen menjadi lebih dari 110 dolar AS per barel, demikian juga dengan harga minyak mentah Brent yang naik 15 persen ke level di atas 100 dolar AS per barel pada pembukaan pasar.
Kenaikan ini melanjutkan lonjakan harga pada pekan lalu sebesar 36 persen setelah produsen utama Timur Tengah mengurangi produksi karena Selat Hormuz yang penting bagi pelayaran internasional tetap tertutup akibat perang Iran.
Kelanjutan konflik ini juga memperpanjang tekanan yang dialami pasar saham domestik dalam beberapa waktu terakhir. Pada penutupan perdagangan Jumat (6/3/2026), IHSG berada di level 7.585 atau melemah sekitar 7,89 persen dibandingkan posisi pekan sebelumnya.
Meski mayoritas saham bergerak di zona merah, sejumlah emiten masih mencatat kenaikan harga pada awal perdagangan. Saham yang membukukan penguatan tertinggi antara lain saham sektor energi dan komoditas yang diuntungkan oleh lonjakan harga minyak dan bahan baku global.
Head of Research Infovesta Wawan Hendrayana kepada Kompas menilai, pelemahan pasar saham terus berlanjut untuk saat ini karena eskalasi perang Iran terus berlangsung, di mana harga minyak sudah menembus 100 dolar AS per barel.
”Hal ini sudah pasti akan menaikkan harga terkait transportasi dan membuat subsidi pemerintah membengkak. Risiko ini direspons dengan pelemahan pasar saham dan rupiah,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/08/b1439785-ba92-43c7-ae6a-b340a222bc76.jpg)
Ia mengingatkan, di tengah belum adanya tanda deeskalasi konflik di Timur Tengah, investor disarankan wait and see. Instrumen investasi seperti pasar uang disarankan menjadi pilihan penempatan dana investor.
”Mengingat kita juga akan mendekati libur panjang, di mana secara historis indeks akan melemah karena investor memerlukan uang tunai, ditambah faktor geopolitik, maka koreksi bursa masih dapat berlangsung,” tuturnya.
Pengamat pasar komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan konflik Timur Tengah masih akan berlangsung panjang. Saat ini, Iran dipimpin Mojtaba Khamenei, putra mendiang Ayatollah Ali Khamenei yang terbunuh dalam serangan Amerika Serikat dan Israel di Iran, pekan lalu.
”Ini sudah ada pergantian kepemimpinan. Kemungkinan dalam enam bulan ke depan perang akan berlanjut karena Presiden AS Trump mengatakan ingin mengganti rezim di Iran,” katanya kepada wartawan hari ini.
Situasi ini bisa memperpanjang penutupan Selat Hormuz yang membatasi aktivitas pelayaran logistik global hingga pengurangan produksi minyak dan gas di Timur Tengah.
”Banyak analis mengatakan harga minyak mentah di level 200 dolar per barel apabila dalam jangka waktu satu bulan tidak ada penyelesaian krisis di Timur Tengah,” ujarnya.
Dalam situasi ini, Ibrahim tidak menampik bahwa pasar saham RI dan nilai tukar rupiah bakal makin melemah. Indeks nilai tukar dolar AS terhadap rupiah hari ini melemah 0,48 persen ke level Rp 16.980. Sementara indeks dolar AS (DXY) melonjak hampir ke level 100 dengan kenaikan mingguan 0,45 persen dan sebesar 1,62 persen dalam sebulan terakhir.
Terkait IHSG, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas David Kurniawan dalam keterangan terpisah memproyeksikan pergerakan IHSG pada 9–13 Maret 2026 berada di kisaran support di level 7.400 dan resistance di sekitar 7.900.
Investor juga akan mencermati apakah tekanan jual investor asing mulai mereda, pergerakan nilai tukar rupiah tetap stabil, serta bagaimana respons kebijakan Bank Indonesia dan pemerintah dalam menjaga kepercayaan pasar. Selain itu, pergerakan harga komoditas global di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik diperkirakan akan terus menjadi faktor penting yang memengaruhi arah pasar saham domestik.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/07/4eb7657585ce690582df090c727e5fc3-20260307_GKT_Indeks_Harga_Saham_Gabungan_IHSG_mumed.jpg)
Dari sisi domestik, pasar juga mencermati meningkatnya kekhawatiran terkait risiko kebijakan fiskal. Sejumlah kebijakan ekonomi yang lebih agresif untuk mendorong pertumbuhan, seperti peningkatan penyaluran kredit serta program belanja sosial, memunculkan kekhawatiran sebagian investor terhadap konsistensi disiplin fiskal dan kepastian kebijakan.
Ini didukung keputusan lembaga pemeringkat kredit global Fitch Ratings yang merevisi proyeksi peringkat utang Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil meskipun peringkat kredit tetap berada di level BBB atau kategori layak investasi.
Sentimen itu, menurut David, membuat arus keluar dana asing cukup besar. Selama periode pelemahan pasar pekan lalu, investor asing tercatat melakukan penjualan bersih (outflow) sekitar Rp 2,5 triliun di pasar reguler.
”Fokus utama pelaku pasar kemungkinan masih tertuju pada stabilitas sentimen investor terhadap ekonomi domestik, terutama setelah revisi outlook utang Indonesia oleh Fitch Ratings yang memicu kehati-hatian di pasar,” kata David.
Penulis:
Erika KurniaEditor:
FX Laksana Agung SaputraPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar