Volatilitas pasar dalam jangka pendek dan menengah tetap perlu diwaspadai pelaku pasar. Khususnya, terhadap saham-saham yang terkait minyak dan emas.
16 Jun 2025 10:46 WIB · Ekonomi & Bisnis
JAKARTA, KOMPAS — Indeks Harga Saham Gabungan bergerak positif pada pembukaan perdagangan Senin (16/6/2025). Pergerakan ini terjadi di tengah kekhawatiran pelaku pasar saham global menghadapi eskalasi mendadak serangan militer antara Israel dan Iran.
IHSG yang dibuka di posisi 7.158 bergerak naik ke level 7.199 pada pukul 10.00 WIB. Mengutip data RTI Business, kenaikan ini terjadi kendati 306 harga saham menurun dibandingkan 215 harga saham yang mengalami kenaikan dan 159 harga saham yang tidak berubah sejak pembukaan pasar.
Ekonom Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto dalam ulasan pasarnya, Senin pagi, mengingatkan agar investor tetap waspada dengan volatilitas pasar jangka pendek hingga menengah yang bisa memengaruhi pasar saham dalam negeri.
Gejolak pasar ini dipicu oleh operasi militer besar-besaran Israel terhadap Iran pada Jumat (13/6/2025) dini hari waktu setempat, yang kemudian dibalas oleh Iran pada hari yang sama. Kedua negara melanjutkan serangan berbalas antara satu sama lain pada akhir pekan. Konflik ini telah bergeser dari operasi rahasia dan perang proksi selama bertahun-tahun menjadi pertempuran militer langsung dengan intensitas tinggi.
Situasi itu menjadi faktor kenaikan harga energi dan permintaan aset safe haven seperti emas yang kemungkinan tetap meningkat. Saat ketegangan di Timur Tengah ini terjadi, harga minyak melonjak tajam, dengan minyak mentah Brent naik 7,3 persen ke 73 dollar AS per barel. Permintaan terhadap aset safe haven juga meningkat, mendorong harga emas naik 1,4 persen ke 3.432 dollar AS per troy ons.
”Kondisi ini berpotensi memicu arus keluar dana asing yang signifikan dari pasar saham Indonesia, terutama pada saham-saham yang banyak dimiliki investor asing, seperti BMRI (PT Bank Mandiri Persero Tbk) dan BBRI (PT Bank Rakyat Indonesia Persero Tbk),” tuturnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/16/0dfb4a38ea217faa3bf6fec9fb55132b-Screenshot_20250616_101241_RTI_Business.jpg)
Rully juga merekomendasikan sikap hati-hati terhadap saham Indonesia dengan preferensi pada saham-saham terkait minyak dan emas, seperti saham MEDC (Medco Energi International Tbk), ANTM (Aneka Tambang Tbk), dan MDKA (Merdeka Copper Gold Tbk).
”Beberapa faktor kunci yang perlu dipantau antara lain serangan lanjutan Israel ke infrastruktur nuklir atau minyak Iran, potensi balasan Iran yang menargetkan Selat Hormuz, serta kemungkinan dimulainya kembali negosiasi nuklir atau upaya de-eskalasi,” ujarnya.
Eskalasi mendadak antara Iran dan Israel sejauh ini membuat pasar saham di Amerika Serikat mengalami penurunan tajam. Dow Jones Industrial Average turun 1,8 persen dan ditutup pada level 42.197,8, sementara S&P 500 melemah 1,1 persen ke 5.977,0.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, dalam keterangannya menuturkan, pada pekan lalu, IHSG ditutup menguat dalam sepekan sebesar 0,74 persen di level 7.166,06 pada akhir perdagangan, Jumat, 13 Juni 2025. IHSG sempat menguat di awal pekan lalu karena adanya pertemuan AS dan China di London.
Bahkan, dalam sepekan, posisi tertinggi IHSG sempat berada di 7.239,95. Penguatan IHSG itu terjadi karena AS dan China telah menyepakati kerangka kerja untuk mengimplementasikan gencatan perang dagang.
Namun, belum lama perang dagang reda, timbul konflik baru yang bukan di ranah perang tarif, melainkan perang ”sungguhan”. Pada 13 Juni 2025, Israel dalam Operation Rising Lion melancarkan serangan udara terbesar ke wilayah Iran dalam sejarah konflik kedua negara.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/15/edc564e32fee562392f17dc180577b97-000_62EF272.jpg)
Imam menilai, konflik Israel-Iran meningkatkan kekhawatiran akan pecahnya perang besar di Timur Tengah. Negara-negara seperti Lebanon (melalui Hezbollah), Suriah, dan Yaman (Houthi) diperkirakan bisa terlibat jika eskalasi terus berlanjut, serta campur tangan negara dengan kekuatan militer yang besar seperti AS.
Eskalasi konflik Israel dan Iran, menurut Imam, juga berpotensi menahan kebijakan suku bunga Bank Sentral AS The Federal Reserve (The Fed) dalam rapat yang akan berlangsung pekan ini, 16-20 Juni 2025. ”Maka dari itu, pada pekan ini IPOT memproyeksikan IHSG akan melemah dengan support (titik terendah) 6.994 dan resistance (titik tertinggi) di 7.239,” ungkapnya.
Sebelumnya, lembaga keuangan multinasional asal AS, JP Morgan, memperkirakan, jika ada eskalasi tensi di Iran, harga minyak dunia bisa melonjak hingga menyentuh 120 dollar AS per barel. Dengan harga minyak yang meningkat, ada potensi kenaikan inflasi konsumen (CPI) di AS, yang pada akhirnya bisa berdampak pula pada kebijakan suku bunga The Fed.
Sebelumnya, The Fed sempat menunjukkan tanda-tanda penurunan suku bunga, memberi harapan ”angin segar” bagi banyak negara berkembang seperti Indonesia. Namun, perkembangan terbaru ini berpotensi membuat ketidakpastian ekonomi global semakin menjadi-jadi.
”Serangan terhadap Iran bisa mendorong harga minyak ke level 120 dollar AS, yang kemudian akan meningkatkan inflasi CPI AS ke 5 persen, dan membuka kembali kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed,” papar laporan tersebut.
Penulis:
Erika KurniaEditor:
Agnes TheodoraPenyelaras Bahasa:
Nur Adji