Penurunan IHSG secara mingguan terjadi tujuh pekan beruntun sejak 20 April 2026. Penurunan selama periode tersebut mencapai 25,83 persen.
05 Jun 2026 15:07 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
JAKARTA, KOMPAS — Pasar saham Indonesia terus mengalami tekanan. Dalam sepekan terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG turun 8,34 persen, melanjutkan penurunan dalam tujuh pekan terakhir. Penurunan ini, antara lain, dipengaruhi faktor eksternal dan sentimen kepercayaan investor.
Pada perdagangan sesi I, Jumat (5/6/2026), IHSG ditutup di level 5.692,16 atau melemah 2,53 persen. Dengan kata lain, IHSG sudah berada di zona merah selama empat hari perdagangan beruntun atau sepekan penuh. Dalam sepekan ini, pelemahannya tercatat 8,34 persen.
Bahkan, jika ditarik mundur ke belakang, penurunan IHSG secara mingguan terjadi sepanjang tujuh pekan beruntun sejak 20 April 2026. Penurunan selama periode tersebut tercatat mencapai 25,83 persen.
Sejalan dengan itu, arus modal asing dalam sepekan terakhir tercatat keluar dari pasar saham Rp 3,65 triliun. Secara tahun kalender berjalan, investor asing mencatatkan jual neto Rp 57,63 triliun.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/03/531369dd685c169c55cfdb1d23e40f5c-20260603_H01_ADI_P2SK_mumed.png)
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hasan Fawzi mengatakan, pasar saham domestik mengalami fase tekanan dan konsolidasi sepanjang Mei 2026.
”Ini terjadi di tengah masih tingginya ketidakpastian, baik dari domestik maupun global, serta adanya upaya penyesuaian portfolio dari para investor,” ujarnya dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) periode Mei 2026, Jumat (5/6/2026), secara daring.
Per akhir Mei 2026, IHSG ditutup di level 6127,38 atau melemah 11,92 persen secara bulanan dan 29,14 persen secara tahun kalender berjalan. Di sisi lain, investor asing mencatatkan aksi jual di pasar saham Rp 4,1 triliun secara bulanan pada Mei 2026.
Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa transaksi perdagangan, manajemen risiko, dan terutama penyelesaian transaksi di pasar modal di masa ’rebalancing’ ini dapat tetap dilakukan dengan baik dan berjalan dengan lancar.
Selanjutnya, pergerakan pasar cenderung masih dinamis dan berada dalam fase konsolidasi ketika memasuki periode Juni 2026. Maka dari itu, OJK masih akan terus mencermati perkembangan pasar dalam beberapa waktu ke depan.
Hasan menambahkan, OJK turut berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan, termasuk self regulatory organization (SRO) seiring dengan pengumuman rebalancing yang telah dirilis oleh MSCI dan FTSE Russel pada Mei 2026.
”Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa transaksi perdagangan, manajemen risiko, dan terutama penyelesaian transaksi di pasar modal di masa rebalancing ini dapat tetap dilakukan dengan baik dan berjalan dengan lancar,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/13/cf69f019716a7394ef5afc0aa3715cda-20260513_104408.jpg)
Ke depan, OJK dan SRO juga akan terus memantau berbagai agenda Global Index Providers serta memastikan agenda reformasi pasar modal yang sedang berjalan dapat terus diimplementasikan secara konsisten guna memperkuat kredibilitas dan daya tarik investasi pasar modal di Indonesia.
Sementara itu, senior economist PT Samuel Sekuritas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, mengatakan, sentimen pasar Indonesia melemah tajam seiring tekanan eksternal dari ketegangan di kawasan Teluk, kenaikan harga minyak, dan penguatan dolar AS yang membebani kepercayaan investor.
”IHSG anjlok lebih dari 4 persen, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran terhadap arus keluar dana asing, volatilitas rupiah, dan ketidakpastian kebijakan domestik,” katanya dalam analisisnya, Jumat.
Adapun IHSG mencatat penurunan yang cukup signifikan, terutama di sektor perbankan dan industri. Di sisi lain, kinerja sektor pertambangan dan energi sedikit memberikan topangan. Secara keseluruhan, pasar cenderung berhati-hati di tengah tingginya volatilitas dan tekanan dari pasar regional.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/19/717a24c52867ea2fb804415c7f02874f-1000665090.jpg)
Secara regional, mayoritas bursa Asia pada perdagangan sebelumnya ditutup di zona merah dengan Kospi Korea Selatan turun 1,8 persen, Hang Seng Hong Kong melemah 1,5 persen, Nikkei Jepang turun 1,4 persen, dan Shanghai terkoreksi 0,6 persen.
Sementara itu, di pasar komoditas, harga minyak Brent turun 1,3 persen menjadi 97 dolar AS per barel, sedangkan harga emas naik 0,8 persen. Kondisi ini mencerminkan permintaan investor terhadap kelas aset aman (safe haven) masih cenderung selektif.
Menurut Fithra, volatilitas pasar diperkirakan masih tetap tinggi dalam jangka pendek. Hal ini terjadi seiring dengan sentimen investor terhadap risiko geopolitik, harga minyak, pelemahan rupiah, dan kemungkinan intervensi terhadap mata uang Asia.
Penulis:
Agustinus Yoga PrimantoroEditor:
Budi SuwarnaPenyelaras Bahasa:
Yuliana Karim