Pemerintah dan otoritas memastikan pembenahan struktural yang disoroti MSCI akan diselesaikan sebelum tenggat Mei 2026.
28 Jan 2026 20:21 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
JAKARTA, KOMPAS — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menganggap penilaian minor oleh Morgan Stanley Capital International terhadap pasar modal Indonesia berlebihan. Namun demikian, ia menjanjikan, pemerintah dan otoritas akan melakukan pembenahan struktural sebagaimana catatan MSCI yang ditargetkan tuntas sebelum Mei 2026.
IHSG pada perdagangan Rabu (28/1/2026) melemah 7,35 persen ke level 8.320. Investor asing melakukan penjualan saham besar-besaran sehingga mencatatkan penjualan bersih (net sell) hingga Rp 6 triliun.
Purbaya membenarkan jatuhnya IHSG dipicu persepsi negatif atas laporan awal Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menilai pasar modal Indonesia masih menghadapi persoalan transparansi kepemilikan saham dan kualitas free float atau kepemilikan saham oleh publik.
Ini saya pikir reaksi yang berlebihan karena, kan, ini baru laporan pertama. Masih ada waktu eksekusi sampai bulan Mei.
MSCI pun memutuskan untuk menghentikan sementara perubahan indeks yang melibatkan saham Indonesia di MSCI Global Standard Indexes. Keputusan ini diambil di tengah kekhawatiran investor global terhadap transparansi struktur kepemilikan dan konsentrasi saham di pasar Indonesia.
Ini melanjutkan peringatan MSCI kepada otoritas pasar Indonesia pada Oktober 2025. Mereka meminta perbaikan transparansi struktur kepemilikan saham. Hal ini juga menimbang rencana MSCI untuk menerapkan metodologi baru penilaian saham per Mei 2026.
”Persyaratan mereka ya itu manajemen bersih dan free float-nya berapa persen. Ini saya pikir reaksi yang berlebihan karena, kan, ini baru laporan pertama. Masih ada waktu eksekusi sampai bulan Mei,” tuturnya kepada wartawan di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (28/1/2026) sore, seusai pelantikan Dewan Energi Nasional.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/27/b5921805521ae6cc4f91aa2ee65d79ab-WhatsApp_Image_2026_01_27_at_19.56.25.jpeg)
Purbaya mengakui, sentimen tersebut langsung diterjemahkan pasar sebagai sinyal negatif sehingga memicu tekanan jual yang signifikan. Namun, ia menekankan bahwa pemerintah dan otoritas pasar modal telah berkoordinasi untuk memastikan pembenahan dilakukan tepat waktu.
Menurut Purbaya, kondisi ekonomi Indonesia justru sedang membaik. Sinkronisasi kebijakan fiskal, moneter, dan investasi terus diperkuat tanpa harus menaikkan tarif pajak atau cukai.
Kalau bursa jatuh karena isu yang kita tahu akan diperbaiki dalam waktu tidak terlalu lama, seharusnya sekarang ’it’s a good time to buy’.
”Moneter, fiskal, dan investasi terus diperbaiki. Base money tumbuh sesuai harapan. Jadi, seharusnya kita bisa tumbuh lebih tinggi ke depan,” katanya.
Ia bahkan menilai koreksi pasar bisa dilihat sebagai peluang bagi investor jangka panjang. ”Kalau bursa jatuh karena isu yang kita tahu akan diperbaiki dalam waktu tidak terlalu lama, seharusnya sekarang it’s a good time to buy,” ujar Purbaya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/28/fef774e26f251d7377431b7086fb45fe-20260128TOK18.jpg)
Direksi Bursa Efek Indonesia (BEI) kepada wartawan, Rabu, juga melihat bahwa sentimen MSCI telah memicu aksi jual yang bersifat reaktif. Direktur Utama BEI Iman Rachman menyebut setidaknya ada dua faktor utama yang menekan psikologis investor.
”Memang ada menurut saya, panic selling. Ada dua hal yang menjadi concern investor, pertama rebalancing MSCI di bulan Februari yang di-freeze dan kedua kekhawatiran akan penurunan peringkat pasar,” ujar Iman.
Meski demikian, Iman menegaskan, MSCI secara teknis tidak akan melakukan penambahan maupun pengurangan konstituen saham Indonesia mulai periode rebalancing Februari 2026. Aktivitas triwulanan ini umumnya berdampak signifikan pada arus investasi asing ke pasar Indonesia. Adapun bobot Indonesia di indeks MSCI saat ini relatif stabil di kisaran 1,5-1,9 persen.
BEI, Iman melanjutkan, bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mempercepat langkah peningkatan keterbukaan data kepemilikan saham. Ini khususnya terkait klasifikasi investor korporasi dan kategori lainnya yang menjadi sorotan MSCI.
BEI juga berharap pembekuan rebalancing saham oleh MSCI tidak menurunkan status Indonesia dari kelas pasar berkembang atau emerging market yang setara pasar Malaysia menjadi level di bawahnya, frontier market, setara Vietnam dan Filipina.
BEI dan segenap otoritas bursa dijadwalkan kembali berdiskusi dengan MSCI untuk menyampaikan pembaruan data serta klarifikasi atas kebijakan MSCI teranyar. ”Kami tidak ingin investor panik. Kami berkomitmen memenuhi transparansi ini bukan hanya karena permintaan MSCI, melainkan karena ini juga baik untuk pasar modal Indonesia,” kata Iman.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/28/2650d12ce1d20ca1aa96f92e062e913d-20260128_134428.jpg)
Riset analis Kiwoom Sekuritas Indonesia melaporkan, sebagian investor asing, terutama dana global aktif, telah memperhitungkan risiko dari pertimbangan MSCI lebih awal. Hal ini membuat investor asing telah melakukan de-risking atau pencegahan risiko sebelum MSCI mengeluarkan kebijakannya.
”Dampak MSCI bersifat struktural dan negatif, bukan sekadar shock harian. Interim freeze menghilangkan katalis penting yang biasanya menopang valuasi saham berkapitalisasi besar,” kata Kiwoom Research dalam laporannya.
Dampak MSCI bersifat struktural dan negatif, bukan sekadar ’shock’ harian.
Risiko terbesar, menurut analis, bukan hanya pembekuan rebalancing, melainkan potensi penurunan status Indonesia menjadi frontier market. Skenario tersebut dapat memicu forced selling atau penarikan dana.
Dalam jangka pendek, sentimen MSCI diperkirakan masih menjadi sentimen utama IHSG selama satu hingga empat minggu ke depan. Pergerakan IHSG berpotensi menguji area konsolidasi di kisaran 8.050–8.000.
”Buy on weakness (pembelian saham di level murah) hanya relevan secara sangat selektif, terutama untuk saham berkapitalisasi besar dengan free float bersih, kepemilikan transparan, dan likuiditas tinggi,” tulis Kiwoom.
Penulis:
Erika Kurnia, Nina Susilo, Iqbal BasyariEditor:
FX Laksana Agung SaputraPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan