Si ”Pembunuh Raksasa”, bagian dari ”The Magnificent Seven” bulu tangkis Indonesia, berpulang. Dia gemar memberikan kesempatan kepada atlet dari kalangan tak mampu.
23 Jul 2025 14:36 WIB · Olahraga
Legenda bulu tangkis yang dijuluki ”Pembunuh Raksasa” atau ”Giant Killer” Iie Sumirat (74) berpulang karena sakit di Bandung, Jawa Barat, Selasa (22/7/2025), pukul 19.30 WIB. Hingga akhir hayatnya, dia getol memberikan kesempatan kepada atlet dari keluarga tidak mampu untuk unjuk diri.
Abdul Sidik (29) adalah salah satu yang pernah dibesut Iie. Pada Rabu (23/7/2025), Abdul turut hadir pada hari pemakaman sang legenda. Pagi itu, Abdul bersama beberapa orang lain turut memanggul tandu jenazah almarhum Iie yang baru didoakan di Masjid Nurul Huda, Bandung.
Lokasi masjid itu hanya sekitar 200 meter dari kediaman Iie di kawasan Sukabakti, Kecamatan Kiaracondong, Kota Bandung. Dari sana, jenazah bakal dimakamkan di Pemakaman Umum Mekarwangi Bandung, Rabu siang.
”Beliau sangat berjasa bagi saya. Saya berguru berbagai ilmu tentang bulu tangkis kepada almarhum selama 10 tahun,” kata Abdul.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/23/2cac68a05a2f99446ebb64f5835ea747-IMG_20250723_085323_1.jpg)
Kenangan Abdul kembali pada tahun 2005. Saat itu, pelatihnya di salah satu klub bulu tangkis lokal di Ciwidey, Kabupaten Bandung, meminta Abdul datang ke Sangkuriang Graha Sarana (SGS) Elektrik di Bandung. Ciwidey berjarak sekitar 35 kilometer dari Bandung.
Kata pelatihnya, Abdul ditunggu Iie. Iie ingin melihat kemampuan Abdul. ”Sepertinya, pelatih sudah promosi tentang saya. Karena tidak punya kendaraan pribadi, besoknya saya naik angkutan umum ke Bandung. Deg-degan,” kata Abdul.
Wajar bila Abdul grogi. SGS adalah legenda Indonesia. Sejak didirikan Lutfi Hamid, Memen Ismanto, dan Iie Sumirat, SGS menjadi kawah candradimuka bulu tangkis Indonesia. Nama besar banyak lahir dari sana.
Mulai dari generasi George Rimarchdi, Halim Haryanto, Flandy Limpele, hingga Taufik Hidayat. Ada juga generasi Hendra Aprida Gunawan hingga Anthony Ginting. Salah satu prestasi besarnya saat Taufik Hidayat meraih medali emas di Olimpiade Athena 2004.
Tiba di SGS, Abdul lantas menunjukkan kemampuannya. Sesuai harapan Abdul, Iie tertarik dengan bakatnya. Dia mau melatih Abdul. Namun, di luar perkiraan Abdul, Iie ternyata mau melatihnya tanpa bayaran.
”Saya sudah cemas soal biaya. Orangtua tidak punya uang. Eh, ternyata tidak usah bayar. Saya juga bisa tinggal di GOR SGS selama berlatih,” katanya. Abdul ingat saat itu Iie melatih 10 anak lain yang sama tidak mampunya seperti dia.
Di tangan Iie, kemampuan Abdul jauh lebih baik. Dari juara tarkam, ia bisa menjajal kejuaraan tingkat kota dan provinsi. Abdul mengakui tidak selalu juara, tapi setidaknya naik podium atau sampai ke babak semifinal.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2018/07/28/ba111985-ba74-49b2-8237-d5f5e79bb49d_jpg.jpg)
Menurut Abdul, semua berkat gemblengan langsung dari Iie. Ia doyan menempa fisik anak didiknya.
Namun, saat bersamaan, Iie juga ingin muridnya piawai dalam penempatan bola. Itu sesuai dengan gaya Iie yang terkenal dengan sebutan gaya kedut atau flick, trik penempatan bola untuk mengecoh lawan. ”Dulu, sepertinya kalau belum muntah, belum berhenti latihan fisik,” kata Abdul.
Seiring waktu, Abdul melihat semakin banyak anak-anak kurang mampu datang ke SGS. Seperti dia, mereka juga tidak ditarik bayaran untuk latihan.
Tidak semuanya menjadi atlet. Namun, setidaknya kemampuan bulu tangkis yang baik memberi bekal hidup selanjutnya.
”Sekarang saya melatih di Soreang, Kabupaten Bandung. Ada juga rekan saya yang sama-sama orang tidak mampu kini melatih di salah satu klub di China,” kata Abdul.
Iie Sumirat asli anak Bandung. Dia dilahirkan pada 15 November 1950. Cintanya pada bulu tangkis tumbuh seiring kegemarannya bermain bersama teman-temannya menggunakan raket kayu.
Selain itu, dia mengaku beruntung. Ayahnya, Atik Suganda, dan kakaknya, Manara Suganda, juga menggeluti olahraga tepuk bulu itu.
Manara pernah masuk pemusatan latihan nasional untuk nomor ganda. Adapun Atik yang pemilik bengkel mobil pernah memiliki klub bulu tangkis bernama Rama Putra.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/11/13/BW-19760401-IV-31-AGW019_1636817880.jpg)
Tanpa sistem pembinaan dan kompetisi ideal, Iie baru turun di pertandingan resmi saat berumur 12 tahun. Untuk pertama kali, ia merasakan kemenangan. Semenjak itu, Iie mulai serius berlatih.
Seiring waktu, kemampuan Iie dilirik negara. Salah satu yang dikenang ialah saat jadi juara invitasi bulu tangkis Asia yang diselenggarakan World Badminton Championship di Bangkok tahun 1976.
Saat itu, ia mengalahkan dua jagoan yang memperkuat China, Hou Jia Chang dan Tang Xianhu. Media saat itu lantas menjuluki Iie sebagai ”The Giant Killer” alias ”Pembunuh Raksasa”.
Pada Piala Thomas 1976 di Thailand, Iie kembali unjuk gigi. Dia menjadi bagian dari tim Piala Thomas Indonesia yang menjadi juara. Di final, tim ini mengalahkan Malaysia dengan skor 9-0.
Sinarnya masih menyala saat Piala Thomas 1979 di Jakarta. Iie berkontribusi besar setelah mengalahkan legenda Denmark, Svend Pri, di babak final. Indonesia lagi-lagi menang 9-0.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/10/18/f5e67a93-1fd6-42f9-be29-f60c6f4d1983.jpg)
Atas dua prestasi hebat itu, tujuh pemain putra Indonesia era 1970-an itu dijuluki ”The Magnificent Seven”. Selain Iie, ada Christian Hadinata, Tjun Tjun, Johan Wahyudi, Ade Chandra, Rudy Hartono, hingga Liem Swie King.
Perjalanan Iie sebagai pemain berakhir pada tahun 1982 saat berusia 32 tahun. Dia kemudian fokus melatih. Pernah lima tahun melatih klub Sarana Muda sejak 1982, ia membesarkan SGS. Hampir setiap hari Iie datang ke SGS.
Yayang Sumitra (29), nomor keenam dari delapan anak Iie, mengatakan, ayahnya baru mengurangi intensitas datang ke SGS pada tahun 2024. Dari biasanya tujuh hari dalam seminggu menjadi hanya 2-3 hari seminggu. Saat itu, Iie mesti banyak istirahat karena sakit tendon kaki kanannya mulai menyiksa.
”Akan tetapi, bapak masih suka keliling ke daerah. Beberapa bulan sebelum Agustus, beliau masih membawa satu anak didik dari keluarga tidak mampu dari Garut. Sempat latihan di Bandung, tapi pulang ke Garut setelah bapak mulai tidak bisa melatih,” katanya.
Selain rajin mencari bakat baru, Iie juga rajin menawarkan diri melatih anak-anak panti asuhan. Terakhir, ada sedikitnya 30 anak Panti Asuhan Dhuafa Luqman Nur Hakim di Gedebage, Bandung, yang mau ikut berlatih.
”Setiap minggu mereka latihan bergantian bersama bapak,” kata Yayang.
Hingga akhirnya, cedera tendon yang diderita Iie benar-benar memburuk. Agustus 2024, ia mulai sering masuk rumah sakit. Belakangan, diketahui cedera itu memicu infeksi ke paru-paru. Hal itu juga yang diduga memicu penyebab utama kepergian Iie.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/23/5c49bf151aa135b3ac4c4a3e5269941a-20250421ags405.jpg)
Selasa malam atau beberapa jam setelah kepergiannya, rumah Iie didatangi banyak kolega dan muridnya. Taufik Hidayat, yang kini Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga, datang dari Jakarta.
Taufik mengakui, Iie adalah orang pertama yang menemukan bakatnya di Pangalengan, Kabupaten Bandung. Pangalengan berjarak sekitar 40 kilometer dari Bandung. Ditemukan saat berumur 9 tahun, Taufik dilatih dasar bulu tangkis hingga berusia 14 tahun. Tak heran bila gaya permainan Taufik mirip dengan Iie. Punya fisik kuat dan pandai menempatkan bola.
”Beliau sudah saya anggap seperti orangtua sendiri. Tanpa beliau, saya tidak akan mengharumkan Indonesia,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/23/6a2b6741ae86703fdb54dd5d716c365b-IMG_20250723_085917_1.jpg)
Rabu pagi, bau harum juga masih tercium di gang depan rumah Iie. Bunga dukacita terpasang di depannya. Ada yang datang dari pengurus bulu tangkis Indonesia hingga koleganya dalam olahraga bulu tangkis.
Kata anak-anaknya, Iie selalu bilang ingin melihat lebih banyak lagi bakat bulu tangkis lahir dan punya kesempatan menampilkan kemampuan terbaiknya demi membawa harum Indonesia ke pentas dunia.
Penulis:
Cornelius Helmy HerlambangEditor:
Harry SusiloPenyelaras Bahasa:
Nur Adji