Industri otomotif masih berpotensi untuk tumbuh. Apalagi jumlah penduduk Indonesia yang besar dan proyeksi positif kekuatan ekonomi Indonesia.
13 Feb 2025 20:13 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS — Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan, industri otomotif Indonesia memiliki prospek yang besar seiring pertumbuhan ekonomi dan populasi penduduk yang terus tumbuh. Apalagi, rasio kepemilikan mobil di Indonesia terbilang rendah dibanding negara tetangga, seperti Malaysia dan Thailand.
”Rasio kepemilikan mobil di Indonesia terbilang rendah, yakni 99 unit per 1.000 orang. Masih banyak ruang bagi investor (sektor industri otomotif) untuk tumbuh di Indonesia,” ujar Agus dalam pidato pembukaannya di ajang Indonesia International Motor Show atau IIMS 2025, Kamis (13/2/2025), di Jakarta.
Dalam pembukaan tersebut, hadir Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Rachmat Pambudy, Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman, Kepala Staf Kepresidenan Anto Mukti Putranto, serta Staf Khusus Presiden Yovie Widiyanto. Selain itu, turut hadir Presiden Direktur Dyandra Promosindo Daswar Marpaung. Dyandra Promosindo selaku penyelenggara IIMS 2025.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/13/37b70822-3325-43e0-abbc-11ce64f120c6_jpg.jpg)
Menurut Agus, sebagai perbandingan, rasio kepemilikan mobil di Malaysia mencapai 490 unit per 1.000 orang; Thailand 275 unit per 1.000 orang; dan Singapura 211 unit per 1.000 orang. Sementara itu, di Korea Selatan 530 unit per 1.000 orang, Jepang 670 unit per 1.000 orang, dan Australia 776 unit per 1.000 orang.
Kebijakan pemberian insentik untuk kendaraan hibrida maupun kendaraan listrik oleh pemerintah memberikan angin segar bagi industri ini.
Kendati demikian ada prospek yang besar, Agus mengakui bahwa penjualan mobil dalam negeri belum menggembirakan. Berdasarkan data yang ada, penjualan mobil dari pabrikan ke diler (wholesale) pada Januari 2025 turun 11,3 persen secara tahunan. Pada Januari tahun ini, penjualan mobil secara wholesale sebanyak 61.843 unit. Sementara pada Januari 2024 lalu sebanyak 69.758 unit.
”Dengan kondisi pasar yang sedang lesu ini, semua pemangku kepentingan di sektor industri otomotif, termasuk pemerintah, perlu mencari terobosan agar konsumen berminat kembali berbelanja produk otomotif,” ucapnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/13/e85ef743-c19a-4af5-a5a5-7171558e66c6_jpg.jpg)
Pemerintah, lanjut Agus, tidak tinggal diam. Salah satu kebijakan pemerintah saat ini untuk menggairahkan pasar otomotif nasional adalah dengan pemberian sejumlah insentif, seperti insentif perpajakan untuk mobil jenis hibrida berupa Pajak Penjualan atas Barang Mewah Ditanggung Pemerintah sebesar 3 persen. Stimulus ini untuk menjaga daya beli masyarakat dan mendukung gerakan transisi menuju energi ramah lingkungan.
”Meski begitu, industri otomotif masih memiliki banyak tantangan berat. Tak hanya terkait dinamika geopolitik, tetapi juga datang dari internal. Khusus internal, dibutuhkan regulasi yang kondusif untuk bersama membangun industri nasional yang tangguh dan progresif,” tutur Agus.
Sementara itu, Daswar menyampaikan, kebijakan pemberian insentik untuk kendaraan hibrida maupun kendaraan listrik oleh pemerintah memberikan angin segar bagi industri ini. Insentif tersebut diharapkan berkontribusi pada rantai pasok industri sektor otomotif nasional.
”Kami berharap IIMS mampu mendorong kontribusi dalam pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” kata Daswar.
IIMS 2025 yang digelar di JIExpo, Kemayoran, Jakarta Pusat, akan berlangsung hingga 23 Februari mendatang. Perhelatan ini diikuti oleh 31 jenama mobil dan 25 jenama sepeda motor. Penyelenggara menyiapkan sejumlah hadiah dan potongan harga bagi pengunjung.
Penulis:
Aguido AdriEditor:
Aris Prasetyo