Bumi mengalami tahun terpanas pada 2024. Siklus air di seluruh dunia menanggung beban terberat. Bencana besar terjadi di banyak tempat.
07 Jan 2025 06:48 WIB · Humaniora
JAKARTA, KOMPAS — Tahun 2024 menjadi yang terpanas sepanjang sejarah. Iklim ekstrem ini membebani siklus air global sehingga memicu banjir besar dan kekeringan di berbagai penjuru Bumi.
Laporan Global Water Monitor 2024 menemukan, kenaikan suhu Bumi mengubah cara air bergerak yang menimbulkan malapetaka pada siklus air. Laporan ini melibatkan sejumlah ahli dari Australian National University.
Profesor Albert van Dijk yang memimpin studi itu mengatakan, meningkatnya suhu permukaan laut mengintensifkan siklon tropis dan kekeringan di cekungan Amazon dan Afrika Selatan. Pemanasan global juga berkontribusi terhadap hujan lebat dan badai. Hal ini dibuktikan oleh banjir bandang mematikan di Eropa, Asia, dan Amerika Selatan.
Sekitar empat miliar orang di 111 negara mengalami tahun terpanas pada 2024. Van Dijk mengatakan, suhu di daratan pada tahun lalu 1,2 derajat celsius lebih panas dibandingkan dengan awal abad ini dan naik sekitar 2,2 derajat celsius daripada awal revolusi industri.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/08/17/7ecac979-aa7b-4351-ac80-8ff5155815cf_jpg.jpg)
”Pada tahun 2024, Bumi mengalami tahun terpanas yang pernah tercatat untuk tahun keempat berturut-turut. Sistem air di seluruh dunia menanggung beban terberat,” katanya dilansir dari eurekalert.org, Selasa (7/1/2025).
Van Dijk menuturkan, 2024 merupakan tahun yang penuh dengan cuaca ekstrem. Kondisi ini bagian tren buruk dari banjir yang lebih intens, kekeringan berkepanjangan, dan suhu panas yang memecahkan rekor.
Bencana hidrometeorologi paling merusak pada tahun lalu adalah banjir bandang, banjir, kekeringan, siklon tropis, dan tanah longsor. Bencana ini menewaskan lebih dari 8.700 orang dan menyebabkan 40 juta orang mengungsi. Kerugian ekonominya mencapai 550 miliar dollar AS.
”Dari kekeringan yang bersejarah hingga banjir besar, peristiwa ekstrem ini berdampak pada kehidupan, mata pencarian, dan seluruh ekosistem. Hujan lebat menyebabkan banjir bandang meluas di Afghanistan dan Pakistan yang menewaskan lebih dari 1.000 orang,” ucap Van Dijk.
Suhu di daratan pada tahun lalu 1,2 derajat celsius lebih panas dibandingkan dengan awal abad ini dan naik sekitar 2,2 derajat celsius daripada awal revolusi industri.
Sementara banjir besar di Brasil merenggut lebih dari 80 korban jiwa. Curah hujan di wilayah tersebut lebih dari 300 milimeter atau termasuk kategori tinggi.
Di China selatan, Sungai Yangtze dan Sungai Pearl membanjiri kota-kota yang menyebabkan puluhan ribu orang mengungsi. Bencana ini menimbulkan kerugian panen pertanian senilai ratusan juta dollar AS.
Hujan monsun menyebabkan banjir yang meluas di Bangladesh pada Agustus 2024. Lebih dari 5,8 juta orang terdampak dan sedikitnya 1 juta ton beras hancur.
Di Spanyol, curah hujan lebih dari 500 milimeter turun dalam waktu delapan jam pada akhir Oktober 2024 sehingga menyebabkan banjir bandang yang mematikan. Adapun kekeringan di Afrika Selatan mengurangi produksi jagung lebih dari 50 persen.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2019/08/23/c611a81f-e5a1-4f57-9f64-ad76caaf696f_jpg.jpg)
”Di Cekungan Amazon, salah satu ekosistem terpenting di Bumi, rekor level terendah sungai memutus rute transportasi dan mengganggu pembangkitan listrik tenaga air. Kebakaran yang disebabkan oleh cuaca panas membakar lebih dari 52.000 kilometer persegi hutan,” jelasnya.
Van Dijk menyebutkan, air adalah sumber daya yang paling penting. Kondisi ekstrem yang berkaitan dengan air, baik banjir maupun kekeringan, menjadi salah satu ancaman terbesar bagi kehidupan manusia.
”Kita perlu bersiap dan beradaptasi dengan kejadian ekstrem yang tak terelakkan. Itu bisa berarti pertahanan banjir yang lebih kuat, mengembangkan produksi pangan dan pasokan air yang lebih tahan kekeringan, dan sistem peringatan dini yang lebih baik,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/11/11/20211111TAM-12_1636633288_jpg.jpg)
Dalam penelitian lain yang dipublikasikan di jurnal Frontiers in Energy disebutkan, semakin banyak bukti perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia. Emisi gas rumah kaca meningkat. Kondisi ini juga berdampak buruk terhadap ekosistem dan kehidupan manusia.
”Kita tidak hanya menghadapi tantangan, tetapi sedang berperang melawan perubahan iklim. Tindakan transformatif yang segera diperlukan untuk mengamankan planet yang layak huni,” ujar penulis penelitian itu, Steven Chu.
Chu menggarisbawahi sektor-sektor yang paling bertanggung jawab atas emisi, termasuk pembangkit listrik, transportasi, dan bangunan. Hal ini menyerukan pentingnya inovasi radikal dan perubahan sistemik demi menekan dampak perubahan iklim.
”Mencapai emisi nol berarti memikirkan kembali hampir setiap aspek kehidupan masyarakat modern,” ucapnya.
Penulis:
Tatang Mulyana SinagaEditor:
Adhitya Ramadhan