Cerita kelam suatu bangsa tidak hanya sekadar masa lalu, tetapi perlu diingat sebagai bagian sejarah.
10 Feb 2025 08:03 WIB · Hiburan
Kehidupan nyaman keluarga Eunice Paiva (Fernanda Torres) tidak berlangsung lama. Hidupnya berubah dalam sekejap saat suaminya, Rubens Paiva (Selton Mello), ”dijemput” oleh pihak militer dan tidak pernah kembali.
Film I’m Still Here (2024) yang baru tayang di bioskop Indonesia tahun 2025 ini mengisahkan kehidupan keluarga kelas menengah Brasil di tengah-tengah rezim diktator di negara tersebut pada era 1970-an. Film ini berdurasi 2 jam 17 menit dan terbagi menjadi 3 babak cerita. Babak pertama film memiliki porsi yang lebih banyak dibanding yang lain.
Adegan dibuka dengan visual pantai yang indah. Kamera pun bergerak menampilkan keramaian rumah dengan tingkah laku para anak, yaitu Vera Paiva (Valentina Herszage), Eliana Paiva (Luiza Kosovski), Nalu Paiva (Barbara Luz), Marcelo Rubens Paiva (Guilherme Silveira) dan Maria Beatriz Facciolla Paiva (Cora Mora) serta pembantu rumah tangga mereka, Zezé (Pri Helena).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/10/9cce982aedbc0cfc79b412ca7331728a-5_ft.jpg)
Rubens yang bekerja sebagai insinyur sangat sibuk. Ia kerap kedatangan kerabat untuk berdiskusi dan telepon pada malam hari. Sementara, sebagai ibu rumah tangga, Eunice lebih banyak menemani suami dan anak-anak. Rumah pun tidak pernah sepi. Ada saja kerabat yang datang serta dansa yang diiringi musik.
Anak mereka yang paling tua, Vera, adalah seorang remaja hippies seperti pada umumnya di era 1970-an. Ia sering mengambil rekaman video menggunakan kamera Super 8, yang juga kerap digunakan dalam film. Eliana dan Nalu lebih sering menghabiskan waktu dengan bermain di pantai. Marcelo bermain dengan teman-temannya, sedangkan Maria bermain dengan bonekanya.
Dari awal, penonton dapat dengan mudah menebak bahwa keluarga Paiva adalah keluarga yang saling mencintai. Eunice dan Rubens tidak malu untuk menunjukkan bentuk kasih sayang seperti ciuman atau pelukan di hadapan putra putri mereka. Para anak pun memiliki kedekatan emosional yang erat dan tidak ragu untuk berpelukan.
Saat itu, kondisi politik Brasil sedang gonjang ganjing setelah terjadinya penculikan Duta Besar Swiss yang dilakukan oleh kelompok kiri, Aliansi Pembebasan Nasional. Ternyata masa lalu tidak hilang begitu saja. Rubens yang sebelumnya anggota kongres Partai Buruh dan sempat menjadi eksil pun ditangkap untuk ditanya-tanya. Setelahnya, Eunice dan Eliana juga ”dibawa” untuk ditanya.
Di dalam ruangan yang gelap, asap rokok mengepul. Penutup kepala Eunice dilepaskan dan dengan keadaan cemas, ia bertanya kepada interogator, “Di mana suamiku?”
Tanpa latar musik apa-apa, adegan pun mulai menegangkan. Pria interogator itu bersikap tenang dan dingin. Menunjukkan bahwa ia yang berkuasa di situ. Walter Salles selaku sutradara memanfaatkan bebunyian untuk menampilkan kengerian. Suara orang teriak kesakitan, suara orang bernapas terengah-engah, suara pukulan dan debuk pintu yang sangat kencang menciptakan cekaman dalam film. Hanya sedikit darah yang ditampilkan sebentar di benda tertentu.
Selama beberapa hari, Eunice disekap. Interogator secara sengaja mengulang-ulang pertanyaan. Tindakan ini sebagai bentuk ”hukuman” terhadap jiwa Eunice yang terlibat langsung dengan Rubens.
I’m Still Here merupakan kisah nyata yang diadaptasi dari buku Ainda Estou Aqui atau jika diterjemahkan adalah Saya Masih di Sini, karya putra satu-satunya keluarga Paiva, Marcelo. Rubens Paiva merupakan salah satu korban pada era kediktatoran Brasil pada tahun 1964 hingga 1985.
Sekitar 434 orang tewas atau hilang saat diktator berkuasa. Jumlah korban diperkirakan melampaui angka tersebut (Kompas, 12/12/2014; Kompas.id, 9/1/2025).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/10/d9e55f094fef174936f4e66d3a97a458-2_ft.jpg)
Setelah sadar bahwa suaminya sudah tidak ada, Eunice Paiva berjuang mencari keadilan. Adegan pun berfokus padanya. Keteguhannya membuatnya melakukan berbagai cara, mulai dari bicara dengan media asing, jalur hukum, hingga kuliah lagi untuk menjadi pengacara.
Torres yang memerankan Eunice mendapatkan piala Golden Globe 2025 untuk kategori Best Performance by a Female Actor in Motion Picture-Drama. Selain itu, ia juga masuk nominasi Oscar kategori aktris terbaik. Sejujurnya, pantas saja ia mendapatkan itu semua. Aktingnya sungguh memukau. Yang paling menonjol adalah ekspresinya yang kadang tidak perlu dijelaskan. Karakternya teguh.
Patut diapresiasi juga pemilihan Salles dalam menambahkan beberapa footage asli yang menunjukkan situasi Brasil pada masa itu. Pemandangan dalam film pun terlihat bertekstur kasar (grainy) sehingga terlihat butiran-butiran kecil, sangat halus. Agar visual terlihat lebih alami, Salles memberikan efek filter yang hangat. Pengambilan gambar juga terasa intens karena kamera sering bergerak ”berdekatan” dengan subjek.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/10/252eef334fdb5771829cc33a456955bb-4_ft.jpg)
Pemilihan kostum para pemain sungguh menyegarkan mata. Belum hippies kalau belum cut bray! Seperti mode pada 70-an umumnya, pilihan kaus polo, celana corduroy, baju pantai bohemian serta gaun warna warni menjadikan film ini tampak sangat realistis dengan keadaan masyarakat Brasil saat itu. Untuk Eunice, sehari-harinya ia akan mengenakan blouse tanpa lengan dan rok se lutut.
Keluarga Paiva adalah keluarga yang cinta akan musik. Maka tak heran sepanjang film, musik rock dan funk/soul mengalun. Keluarga Paiva mendengarkan King Crimson, The Beatles, Bob Marley dan Gilberto Gil.
Bagaimana caranya menceritakan kisah panjang kehidupan seseorang dengan durasi yang sebentar?
Latar tempat I’m Still Here repetitif saja. Rumah, kamar, pantai dan jalan raya. Ceritanya terasa sangat dipadatkan secara halus untuk mengantarkan ke bintang utama, yakni Eunice Paiva. Film ini berusaha menggambarkan perjuangan Eunice untuk mempertahankan keluarganya yang terombang-ambing sekaligus pertempurannya dengan negara.
Namun, setelah paruh pertama, I’m Still Here seakan-akan berubah menjadi lembek. Berdesak-desakkan di dalam mobil merah, Eunice beserta kelima anaknya pindah dari Rio de Janeiro ke São Paulo. Seiring kamera Vera merekam pemandangan terakhir rumah mereka, layar pun berubah hitam. Tiba-tiba, 25 tahun berlalu ke tahun 1996.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/10/d7da95f4a53a3d9ec1f29c9a898697ed-3_ft.jpg)
Anak-anak sudah dewasa dan berpencar. Tampak keriput di wajah Eunice, rambutnya mulai putih. Keadilan untuk suaminya pun lantas ia raih. Negara mengakui pembunuhan Rubens Paiva.
Sebentar saja, lalu babak ketiga pun mulai. Tahun 2014, Eunice (diperankan oleh ibu Torres sendiri, Fernanda Montenegro) sudah uzur dan duduk di kursi roda. Film pun ditutup dengan foto-foto asli keluarga Paiva. Sayang, Salles tidak berusaha menambahkan cerita lika liku perjuangan Eunice. Waktu yang dipangkas itu hanya menampilkan ”hasil akhir” perlawanan. Penonton jadi tidak mengetahui benar-benar bagaimana usaha Eunice.
Walaupun begitu, hal ini dapat dimengerti sebab unsur drama dalam film harus tetap terjaga. I’m Still Here merupakan film yang humanis dalam memandang bagaimana kehidupan sangat dipengaruhi oleh sistem politik negara. Penonton bisa menangis melihat kegetiran hidup keluarga Paiva. Penonton juga bisa tertawa melihat kedekatan keluarga.
Salles tidak melupakan cinta! Meskipun Rubens tidak lagi bersama mereka, kasih sayang dalam keluarga tidak berkurang. Salles tidak meninggalkan adegan yang menyentuh hati.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/10/e416f8fbd39fece85864d0c279c9bc43-1_ft.jpg)
I’m Still Here berupaya merawat sejarah kelam suatu bangsa yang sempat dikuasai rezim otoriter. Cerita kelam suatu bangsa ini bukan hanya masa lalu, tetapi perlu diingat sebagai bagian sejarah.
Lewat foto atau rekaman keluarga tahunan, Salles menekankan pentingnya kenangan. Kepada The New York Times (14/12/2024), ia berkata, “Sinema merekonstruksi memori.”
Ah, menonton I’m Still Here menjadi pengingat bahwa kita di Indonesia, punya sejarah gelap serupa. Selamat menonton!
Catatan: Artikel ini merupakan hasil kolaborasi dengan peserta magang Harian Kompas, yakni Giofanny Sasmita, mahasiswi jurusan Jurnalistik, Universitas Multimedia Nusantara.
Penulis:
Dahono FitriantoEditor:
Dwi AS SetianingsihPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .