Antisipasi bencana alam perlu dilakukan, terutama pada musim hujan. Penataan kawasan daerah aliran sungai dan penghijauan harus diprioritaskan.
22 Jan 2025 13:50 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS — Banjir dan tanah longsor melanda sejumlah wilayah di Jawa Tengah sejak Senin (20/1/2025). Musibah ini disebabkan hujan berintensitas tinggi sehingga sejumlah perjalanan kereta api terganggu, bahkan dibatalkan.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau PT KAI terpaksa membatalkan enam perjalanan karena luapan Sungai Tuntang. Imbasnya, jalur KA pada Kilometer (Km) 32+5/7 antara Stasiun Gubug dan Stasiun Karangjati, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, terendam. Beberapa perjalanan KA yang melintas di petak lintas jalur rel antara Semarang dan Cepu atau jalur utara terganggu.
”Penanganan terus dilakukan secara intensif agar jalur dapat segera berfungsi kembali secara normal. PT KAI telah mengerahkan puluhan petugas di lapangan yang dilengkapi dengan alat berat, material batu kricak, pasir, bantalan rel, dan besi guna memperbaiki jalur dan mengatasi luapan air di lokasi terdampak,” ujar Vice President Public Relations KAI Anne Purba secara tertulis, dikutip dari siaran pers di Jakarta, Rabu (22/1/2025).
Hingga Rabu pukul 06.20, KAI telah menurunkan sejumlah alat berat untuk mengatasi banjir. Beberapa di antaranya dengan memobilisasi material dan alat berat untuk siaga, seperti bantalan beton, balas, perancah baja, genset, ekskavator, dan alat las. Upaya lain juga dilakukan dengan merekayasa pola operasi agar jalur kembali dilalui normal.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/22/20549778-4fe8-40f6-ade4-a618b2848aa4_jpeg.jpg)
Secara terpisah, Manajer Humas KAI Daop 4 Semarang Franoto Wibowo mengemukakan, saat ini jalur pada lokasi terdampak belum dapat dilalui KA. Sebab, rel KA terkikis (gogos) imbas luapan sepanjang 100 meter dengan kedalaman 3 meter pada kedua jalur.
”Proses perbaikan ini melibatkan puluhan petugas prasarana KAI Daop 4 Semarang yang didukung tenaga bantuan eksternal agar pemulihan dapat dilakukan dengan lebih cepat,” ujar Franoto.
Empat rangkaian KA pengangkut batu kricak diturunkan guna mengganti material batu kricak yang tergerus luapan air. Ada pula satu rangkaian KA pengangkut material lainnya telah dikirim ke lokasi. Beberapa di antaranya mengangkut bantalan beton, bantalan kayu, besi rel, serta besi perancah jembatan.
KAI telah merekayasa pola operasi dengan mengalihkan rute perjalanan KA. Hingga kini, sejumlah KA terlambat karena melalui jalur memutar melewati Stasiun Gambringan-Gundih-Brumbung. Imbasnya, sejumlah KA terlambat rata-rata hingga 2 jam.
Setidaknya 11 KA yang mengalihkan rute perjalanan pada Rabu. Dua di antaranya adalah KA 108 Jayabaya relasi Jakarta-Semarang-Surabaya yang dialihkan melalui jalur Brumbung-Gundih-Gambringan, serta KA 3 Argo Bromo Anggrek relasi Surabaya-Semarang-Jakarta dialihkan melalui jalur Surabaya Gubeng-Solo Jebres-Brumbung.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/21/19c2da7b-f708-4641-ac43-27e2fc2befa9_jpg.jpg)
Adapun tujuh KA terpaksa membatalkan perjalanannya. Ketujuh KA itu ialah KA 227 Blora Jaya relasi Cepu-Semarang, KA 546 Kedung Sepur relasi Semarang-Ngrombo, serta KA 545 Kedung Sepur relasi Ngrombo-Semarang. Pembatalan juga diterapkan pada KA 170 Tegal Bahari relasi Jakarta-Tegal, KA 169 Tegal Bahari relasi Tegal-Jakarta, KA 1 Argo Bromo Anggrek relasi Surabaya-Semarang-Jakarta, serta KA 2 Argo Bromo-Anggrek relasi Jakarta-Semarang-Surabaya.
”KAI menyadari dampak yang ditimbulkan gangguan ini terhadap pelanggan, terutama bagi yang telah merencanakan perjalanan menggunakan KA. Untuk itu, kami menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi,” ujar Franoto.
Bagi pelanggan yang terdampak dan memilih untuk membatalkan perjalanan, KAI akan mengembalikan biaya tiket 100 persen di luar biaya pemesanan. Hal ini dapat dilakukan di stasiun pelayanan penumpang yang dapat dilayani hingga H+7.
Situasi di lapangan akan terus diinformasikan secara berkala. Keselamatan dan kenyamanan penumpang tetap akan diprioritaskan. Kompensasi juga akan diberikan kepada pelanggan dengan keterlambatan KA lebih dari 60 menit. Penumpang berhak mendapat air mineral hingga makanan berat, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Masyarakat dapat mengikuti pembaruan jadwal KA dan informasi pengembalian tiket dengan menghubungi layanan media sosial KAI121, e-mail [email protected], serta Whatsapp KAI melalui 0811-1211-1121.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/11/20/20211120-H04-ADI-Barometro-mumed_1637420180_jpg.jpg)
Musim hujan memang meningkatkan risiko banjir, pergerakan tanah, dan tanah longsor. Direktorat Jenderal (Ditjen) Perkeretaapian Kementerian Perhubungan sebagai penanggung jawab prasarana dan PT KAI yang bertugas di bagian operasional perlu bekerja sama untuk mengantisipasi bencana alam yang mungkin terjadi.
Menurut Ketua Forum Transportasi Jalan dan Perkeretaapian Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Aditya Dwi Laksana, Ditjen Perkeretaapian dan KAI dapat memetakan titik rawan banjir dan longsor. Penyediaan sumber daya manusia, lengkap dengan peralatan dan material, bersiaga di stasiun terdekat untuk penanganan pemulihan. Manajemen evakuasi, pembaruan informasi, dan kompensasi kepada pelanggan KA perlu dilakukan.
”Pemantauan yang lebih intensif dilakukan terhadap kondisi jalur-jalur KA, terutama di titik-titik rawan gangguan dan bencana pada musim hujan,” ujar Aditya.
Koordinasi dengan pemerintah daerah (pemda) harus dilakukan untuk menjaga dan memperkuat titik-titik rawan. Sebab, dampak musim hujan bukan hanya pada jalur KA, melainkan juga jalan raya dan persawahan, serta permukiman penduduk.
”Pemerintah pusat dan daerah masih sangat perlu meningkatkan penataan kawasan, terutama memperlancar aliran sungai di daerah aliran sungai, serta menghijaukan lereng-lereng tandus. Upaya ini berguna mencegah luapan air dalam jumlah besar dan pergerakan tanah,” kata Aditya.
Penulis:
Yosepha Debrina Ratih PusparisaEditor:
Muhammad Fajar MartaPenyelaras Bahasa:
Nur Adji