PSM Makassar dipastikan kehilangan tiga poin dari gim melawan Barito Putera. Tidak hanya PSM, wasit juga seharusnya menerima hukuman atas kelalaian.
30 Des 2024 14:10 WIB · Olahraga
JAKARTA, KOMPAS – Komite Disiplin PSSI telah memutuskan PSM Makassar melanggar kode disiplin pada duel menghadapi Barito Putera, 22 Desember lalu, di Stadion Batakan, Kalimantan Timur. Kemenangan “Juku Eja” dengan skor 3-2 dianulir, sehingga Barito dinyatakan menang dengan skor 3-0.
Meskipun Komdis PSSI belum mengumumkan secara resmi putusan insiden itu, PT Liga Indonesia Baru langsung memperbaharui hasil pertandingan dan klasemen paruh pertama BRI Liga 1 2024-2025. Peringkat PSM menurun dari posisi kedelapan menjadi berada di peringkat ke-11 dengan mengoleksi 24 poin.
Adapun Barito Putera memang tidak mengalami peningkatan klasemen. Skuad berjuluk “Laskar Antasari” itu masih bertengger di posisi ke-15.
Namun, koleksi poin tim asuhan Rahmad Darmawan melonjak dari 12 poin menjadi 15 poin. Barito hanya kalah lebih inferior dalam selisih gol dari PSS Sleman yang duduk di posisi ke-14.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/30/904be8329832e5f1475cfa2ac88235fe-antarafoto_persita_melawan_psm_makassar_1735542144.jpg)
PSM berencana memberikan pernyataan resmi, Senin (30/12/2024) sore, terkait hukuman itu. Media Officer PSM Sulaiman Karim menuturkan, manajemen Juku Eja telah menerima laporan terkait hukuman itu, sehingga tengah menimbang langkah untuk menanggapi hukuman kekalahan dan pengurangan poin tersebut.
Putusan kekalahan dan pengurangan poin itu sesuai dengan Pasal 56 Ayat (2) Kode Disiplin PSSI tentang Pemain Tidak Sah. Dalam aturan itu, PSM juga berpotensi mendapatkan denda minimal Rp 90 juta.
Tak ayal, PSM menjadi tim kedua di Liga 1 2024-2025 yang menjalani sisa kompetisi dengan hukuman pengurangan tiga poin. PSS merupakan klub pertama yang dijatuhi hukuman tersebut pada musim ini. Bahkan, PSS memulai kompetisi musim 2024-2025 dengan koleksi -3 poin.
Hukuman kepada “Super Elja” itu merupakan imbas dari kasus suap pada pertandingan melawan Madura FC di Liga 2 2018, 6 November 2018. Hukuman itu baru berlaku enam musim berselang menyusul putusan pengadilan terhadap para pelaku suap itu. Selain pengurangan poin, PSS juga dijatuhi sanksi denda sebesar Rp 150 juta.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/30/1b36c0718b4b1d67341449eee120ef7a-antarafoto_persita_melawan_psm_makassar_1735542254.jpg)
PSM dianggap lalai karena bermain dengan 12 poin pada 40 detik pamungkas gim melawan Barito. Situasi itu diawali belum keluarnya bek, Syahrul Lasinari, ketika penggantinya Muhammad Arham Darmawan telah memasuki lapangan pada menit 90+6.
Selain pergantian Lasinari dengan Arham, Pelatih PSM Bernardo Tavares juga memasukkan Daffa Salman, dan Fahrul Aditia untuk menggantikan Akbar Tanjung dan Latyr Fall. Berbeda dengan Akbar dan Fall yang sudah keluar lapangan, Syahrul justru masih berada di dalam lapangan ketika wasit Pipin Indra Pratama memberi sinyal play-on untuk Barito dalam situasi sepak pojok.
Pemain PSM, salah satunya kiper, Reza Arya Pratama, pun sempat memanggil wasit untuk mengingatkan timnya masih bermain dengan 12 pemain. Tetapi, Pipin tetap membiarkan pertandingan berlangsung hingga ia meniupkan peluit akhir.
Jika mengagungkan asas fair play, maka perangkat pertandingan pada laga itu yang terdiri dari Pipin; dua asisten wasit, Fuad Rifki Al Rasyid dan Romi Fadila; serta wasit cadangan Muhammad Iqballuddin juga harus mendapatkan hukuman karena kelalaian mereka membiarkan PSM bermain dengan 12 pemain.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/30/0f25b1468951103704609cff32c2276d-antarafoto_dewa_united_imbang_melawan_barito_putera_1735541913.jpg)
Sebab, dalam sebuah pertandingan, para wasit memiliki kewenangan penuh dan wajib mencermati proses pergantian pemain. Tidak hanya memberikan kesempatan tim mengganti pemain, wasit juga harus memastikan proses pergantian pemain sudah sesuai aturan sebelum pertandingan bisa dilanjutkan kembali.
Sanksi terhadap wasit merupakan kewenangan Komite Wasit PSSI. Itu membuat Komdis PSSI tidak melakukan penyidikan terhadap potensi pelanggaran yang dilakukan para pengadil laga PSM kontra Barito.
Insiden kelebihan pemain setelah pergantian pemain juga pernah tercipta di Liga Spanyol, tepatnya duel Real Madrid versus Real Betis, September 2017, di Stadion Santiago Bernabeu. Kala itu, Luka Modric belum keluar lapangan ketika Borja Mayoral, penggantinya, telah masuk ke dalam lapangan.
Meskipun sempat laga dilanjutkan kurang dari lima detik, wasit Antonio Mateu Lahoz langsung menghentikan kembali pertandingan. Lahoz menghampiri Pelatih Real Zinedine Zidane untuk memberi tahu Real bermain dengan 12 pemain. Setelah Modric meninggalkan lapangan, Lahoz memulai lagi pertandingan.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .