Imbas Letusan Lewotobi Laki-laki, Enam Rute Penerbangan di NTT Masih Tutup

Abu vulkanik merupakan ancaman besar bagi penerbangan karena dampaknya yang langsung terhadap jarak pandang pilot, performa mesin pesawat, dan sistem navigasi.

16 Nov 2024 16:39 WIB · Lingkungan

Oleh Fransiskus Pati Herin

LARANTUKA, KOMPAS — Wings Air masih membatalkan penerbangan pada enam rute dari dan ke Pulau Flores di Nusa Tenggara Timur. Pembatalan itu lantaran erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur yang masih terus berlangsung.

Sebagaimana pernyataan media bagian Corporate Communications maskapai tersebut pada Sabtu (16/11/2024), pembatalan sebagai langkah untuk memastikan keselamatan dan keamanan penerbangan. Keputusan itu diambil berdasarkan evaluasi terkait penyebaran abu vulkanik yang memengaruhi pengoperasian maskapai di darat dan udara.

Dikatakan, abu vulkanik merupakan ancaman besar bagi penerbangan karena dampaknya yang langsung terhadap jarak pandang pilot, performa mesin pesawat, dan sistem navigasi. Oleh karena itu, pembatalan penerbangan untuk melindungi semua pihak.

Penumpang memantau pengumuman jadwal penerbangan yang terdampak sebaran abu vulkanik Gunung Raung di Bandara Banyuwangi, Minggu (7/2/2021). Erupsi Gunung Raung yang menghasilkan sebaran abu vulkanik membuat Banda Banyuwangi tutup sementara dan lima penerbangan dibatalkan dan satu penerbangan ditunda.

Pihak maskapai memastikan bahwa penerbangan hanya dilakukan dalam kondisi yang sepenuhnya aman. Langkah itu sesuai dengan standar keselamatan penerbangan internasional dan menunjukkan komitmen maskapai dalam menjaga kepercayaan pelanggan.

Pembatalan itu, antara lain, untuk perjalanan pergi dan pulang pada rute Kupang-Maumere, Kupang-Ende, Kupang-Ruteng, Maumere-Labuan Bajo, Ende-Labuan Bajo, dan Bajawa-Labuan Bajo. Semua bandara yang ditutup penerbangannya ada di Pulau Flores.

Sementara itu, Herman Yosef Mboro dari Pos Pengamatan Gunung Lewotobi Laki-laki melaporkan, sepanjang Sabtu ini, erupsi terjadi secara terus-menerus. Tinggi kolom erupsi mencapai 2.000 meter di atas permukaan kawah. Material erupsi termasuk abu vulkanik bergerak ke arah barat.

Rumah terdampak erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur pada Jumat (15/11/2024). Pemerintah putuskan relokasi. Sewaktu-waktu tempat itu boleh dilewati sambil melihat kondisi erupsi.

Semua bandara yang berada di sisi barat gunung terdampak, mulai dari Maumere, Ende, Bajawa, Ruteng, hingga Labuan Bajo, dilewati abu vulkanik. Di Pulau Flores hanya ada satu bandara yang beroperasi, yakni di Larantuka. Letaknya di sisi timur gunung.

Penutupan bandara membuat banyak warga bepergian menggunakan kapal laut. Dari Flores tersedia kapal feri, kapal perintis, dan kapal milik PT Pelni. Sayangnya, pengoperasian kapal itu tidak setiap hari. ”Semoga ini jadi masukan bagi pemerintah bahwa NTT butuh tambahan kapal,” kata Mansyur Boleng (40), warga NTT.

Mansyur menggunakan kapal perintis dari Pulau Solor ke Kupang pada Sabtu petang. Kapal itu akan berlayar selama 18 jam. Kapal itu beroperasi satu kali dalam dua minggu pada waktu yang sama.

Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Uma Kalada dari Waingapu hendak ke Kupang sedang bersandar di dermaga Pelabuhan Penyeberangan Nangakeo, di Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (15/2/2010).

Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki yang terus-menerus ini terjadi sejak Minggu (3/11/2024). Jumlah korban meninggal 9 orang, luka berat 1 orang, luka ringan 32 orang, dan dalam perawatan 6 orang. Para korban kebanyakan terkena material batu api yang terlontar dari kawah gunung.

Quote

Semoga ini jadi masukan bagi pemerintah bahwa NTT butuh tambahan kapal.

Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki pertama kali tercatat dalam sejarah manusia terjadi pada tahun 1861. Gunung Lewotobi Laki-laki memiliki kembaran bernama Gunung Lewotobi Perempuan yang memiliki ketinggian 1.708 meter di atas permukaan laut.

Puncak kedua gunung itu terpisah jarak lebih kurang 2 kilometer. Pelana yang memisahkan kedua puncak itu berketinggian 1.232 meter di atas permukaan laut. Adapun erupsi Gunung Lewotobi Perempuan pertama kali tercatat pada tahun 1921. Gunung Lewotobi Laki-laki lebih banyak erupsi dibandingkan Gunung Lewotobi Perempuan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Fransiskus Pati Herin
 | 

Editor:

Siwi Yunita Cahyaningrum