Impian Affan membangun rumah di kampung kini sirna. Tulang punggung keluarga itu tewas dilindas mobil Brimob.
30 Agt 2025 05:02 WIB · Metropolitan
Affan Kurniawan (21) bercita-cita membangun rumah di kampung. Namun, pengemudi ojek online ini tewas dilindas kendaraan taktis Brimob di tengah protes atas tunjangan rumah anggota DPR. Impian tulang punggung keluarga ini pun ”remuk”.
Karangan bunga berjejer hampir di sepanjang lorong menuju kediaman Affan di RT 003 RW 006 Kelurahan Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (29/8/2025). Ucapan dukacita itu berasal dari perusahaan transportasi daring, publik figur, rekan pengendara ojek daring, pejabat, dan anonim.
Ada karangan bunga atas nama Masih Banyak Orang Baik, Kita Semua Bayar Pajak, dan Kita yang Tertindas. Tidak hanya itu, para pelayat juga hilir mudik ke tempat tinggal almarhum. Saking padatnya, jalanan yang hanya muat untuk lintasan sepeda motor terasa semakin sempit.
Zulkifli, ayah Affan, berterima kasih atas perhatian berbagai pihak terhadap anaknya. Namun, ia masih butuh waktu untuk meratapi kepergian sang anak. ”Affan bisa dibilang tulang punggung keluarga karena dia telah membantu kami sebagai orangtua,” ucapnya.
Anak kedua dari tiga bersaudara itu selama ini bekerja sebagai pengendara ojek online atau ojol. Affan sudah keluar rumah sebelum pukul 06.00 WIB lalu kembali tengah hari untuk makan sebelum melanjutkan kembali perjalanannya. Nyaris setiap hari seperti itu.
Namun, Zulkifli tidak pernah menyangka pada Kamis (28/8/2025) siang adalah percakapan terakhirnya dengan sang anak. Saat itu, Affan pamit bekerja sebagai pengendara ojol. Ia yakin anaknya hanya bekerja, bukan berunjuk rasa. ”Dia itu jujur, enggak pernah (bohong) begini begitu,” katanya.
Namun, pada Kamis malam, Adam, anak sulung Zulkifli, mengatakan, Affan meninggal. Wulan, adik Affan, juga berteriak histeris. Mereka melihat video orang yang tertabrak terlindas kendaraan taktis Brimob di daerah Pejompongan saat pembubaran massa aksi.
Saat itu, berbagai elemen masyarakat yang diinisiasi oleh buruh menggelar unjuk rasa di Gedung DPR/MPR/DPD sejak Kamis pagi. Mereka memprotes tunjangan perumahan anggota DPR sebesar Rp 50 juta per bulan serta menuntut kenaikan upah minimum dan penghentian pemutusan hubungan kerja.
Tak dinyana, orang yang terlindas rantis Brimob adalah Affan. ”Saya sebagai seorang bapak langsung merasa hatinya hancur, bingung. Saya sampai memohon, ya, Allah selamatkan Affan. Mungkin ini terakhir kali saya minta tolong,” ungkap Zulkifli yang juga menjadi pengendara ojol.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/29/f1d7e0d3-066b-40cb-8fdc-aa2e7b56357a_jpg.jpg)
Menurut dia, kepergian Affan seperti membuat pincang keluarganya. Selama ini, katanya, Affan selalu membantu memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk membiayai sekolah menengah pertama anak ketiganya. Bahkan, sepeda motor yang Zulkifli pakai untuk mengojek dibelikan oleh sang anak.
”Dia tidak pernah mengeluh. Apa pun yang dia lakukan semua demi membahagiakan ibunya ataupun keluarganya, sekalipun dia merasa ada rasa sakit di badannya,” ungkap Zulkifli terisak.
Katanya, Affan punya impian membangun rumah di daerah Lampung, kampungnya. ”Dia mau membelikan tanah di kampung buat nanti (kalau keluarga) pulang bisa bangun rumah karena kami di sini masih kos. Setiap hari, Affan paling dapat Rp 100.000,” ujar Zulkifli.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/29/ec0a58bd-7327-4d0c-a370-95b9e24511d9_jpg.jpg)
Selama ini, keluarganya menyewa indekos di daerah Menteng. Rumah sewa itu seluas 3 x 11 meter. Di dalamnya, ada empat kamar. Dua kamar di antaranya ditempati oleh Zulkifli dan keluarga.
Setiap bulan ia harus membayar sewa sekitar Rp 1 juta per kamar. Untuk memenuhi kebutuhan harian dan membayar indekos, Zulkifli dan dua anaknya bekerja, sedangkan Erlina kadang menjadi buruh cuci dengan upah tak menentu.
Erlina menambahkan, Affan adalah anak baik dan lebih banyak diam. ”(Terakhir bertemu saya) enggak banyak ngobrol. Waktu dia pulang (Kamis) siang, saya minta dia makan, terus dia makan,” ucapnya sembari menyeka air mata.
Tidak hanya keluarga, tetangga juga mengenal Affan sebagai pekerja keras. Adik Aprilyanto, Ketua RT 003 RW 006 Menteng, mengatakan, Affan pernah menjadi petugas keamanan lingkungan sebelum sebagai pengendara ojol. ”Dia rajin bekerja. Dia juga pernah masuk Karang Taruna,” katanya.
Tidak heran, warga solid membantu keluarga Affan yang berduka. Mulai dari menemani keluarga ke rumah sakit hingga menyiapkan acara tahlilan. ”Saya hanya tidur satu jam. Saya juga sudah izin tidak bekerja dulu karena harus mengurus warga saya,” ujar Adik yang menjadi sopir pribadi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/29/f37ceb2a6200b554db424086c1ee0487-20250829DRA09.jpg)
Erna dari bagian Hubungan Masyarakat Unit Reaksi Cepat (URC) Ojol menambahkan, Affan di kalangan pengendara ojol dikenal pekerja keras. Bahkan, sebelum dilindas rantis Brimob, Affan sedang bekerja. Namun, ia tidak bisa memastikan apakah Affan mengantar penumpang atau barang.
”Waktu itu, Affan mau menyeberang jalan, lalu HP (telepon selulernya) jatuh di tengah. Saat dia mau ambil HP, pas itu mobil (Brimob) datang,” ungkap Erna. Affan pun ditabrak dan dilindas kendaraan taktis Brimob. Erni berharap siapa pun yang melindas Affan harus dihukum seberat-beratnya.
Saya sudah serahkan kepada penegak hukum. Jangan sampai kejadian seperti yang menimpa anak saya ini terjadi lagi.
Zulkifli juga berharap demikian. Saat bertemu Kepala Polri Jenderal (Pol) Listyo Sigit kemarin (Kamis, 28/8/2025), ia meminta Kapolri memastikan anaknya mendapatkan keadilan. ”Saya sudah serahkan kepada penegak hukum. Jangan sampai kejadian seperti yang menimpa anak saya ini terjadi lagi,” ucapnya.
Kini, Affan telah berpulang. Harapannya membangunkan rumah keluarganya di kampung sirna di tengah maraknya protes atas tunjangan perumahan bagi anggota DPR. Impian tulang punggung keluarga itu telah remuk oleh kekuasaan.
Penulis:
Abdullah Fikri AshriEditor:
Aris PrasetyoPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari