Investasi tak selalu bicara soal untung atau rugi. INA memacu investasi berkelanjutan yang berdampak sosial dan lingkungan.
14 Agt 2025 08:00 WIB · Ekonomi & Bisnis
Sejak satu dekade terakhir, prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola atau yang dikenal dengan istilah ESG kian populer di kalangan dunia usaha menyusul besarnya dampak terhadap lingkungan dan sosial. Konsekuensinya, laba bukan satu-satunya tujuan pembangunan, terutama investasi.
Indonesia Investment Authority (INA) bisa jadi ujung tombak dalam memilah investasi-investasi yang masuk ke Indonesia. Sebagai sovereign wealth fund (SWF) pertama Indonesia, INA memiliki prinsip kerja yang mengedepankan prinsip environmental, social, and governance (ESG).
Sejak dibentuk pada 2021, INA memiliki sejumlah mandat sesuai dasar hukum yang menaunginya. Selain bertugas menghubungkan investor potensial baik luar maupun dalam negeri, INA mendorong prinsip ESG dalam setiap proses investasi yang masuk sehingga target mereka tak hanya pertumbuhan ekonomi atau tabungan masa depan, tetapi juga keberlanjutan.
Vice President of ESG INA Fetriza Rinaldy menjelaskan, INA selalu berupaya untuk menyeimbangkan antara keuntungan finansial dan dampak sosial dari setiap proyek yang dikerjakan. INA tidak memilih satu dari kedua hal tersebut sehingga pihaknya berupaya mendatangkan investor yang tak hanya mencari untung, tetapi bisa memberikan dampak sosial.
”Lalu bagaimana kami mengevaluasi suatu investasi itu? Kami melakukan penilaian. Setiap investasi itu kami memastikan bahwa evaluasi dilakukan menyeluruh sehingga semua aspek masuk di dalamnya, termasuk finansial, legal, dan teknis,” kata Fetriza kepada Kompas di Jakarta, Rabu (6/8/2025).
Evaluasi, lanjut Fetriza, dilakukan berkala, baik sebelum hingga saat proyek itu berjalan, termasuk di ujung pelaksanaan proyek. Dalam evaluasi, INA juga berlandaskan prinsip ESG. Dengan begitu, INA dan mitranya bisa mengidentifikasi risiko, bukan menghindarinya. Selanjutnya membuat perencanaan mitigasi dan menjalankannya bersama.
”Di setiap investasi itu selalu ada risiko, tetapi dampaknya berbeda-beda, sejauh mana kami bisa memitigasi risiko tersebut dan bekerja sama dengan perusahaan. Portofolio kami bukan hanya memitigasi, tetapi juga memperbaiki, apalagi INA itu investasinya jangka panjang,” ungkap Fetriza.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/06/5b0c4856c4d971254ad481e2a7bddf5f-20250804PRI7HR.jpg)
Fetriza mengambil contoh pembangunan jalan tol yang merupakan kerja sama INA dengan ADIA dan APG. ADIA merupakan SWF Abu Dhabi dan merupakan SWF terbesar keempat di dunia, sedangkan APG merupakan dana pensiun nasional Belanda dan merupakan yang terbesar di Eropa.
Ketiganya membentuk konsorsium untuk membangun jalan tol, dengan rincian 160 kilometer di Sumatera (2023) dengan nilai investasi sebesar 1 miliar dollar AS (Rp 15,5 triliun dengan kurs Rp 15.500 per dollar), dan 100 kilometer jalan tol di Jawa (2022) senilai 400 juta dollar AS (Rp 6,2 triliun).
”Proyek tol dan pelabuhan memang dampak sosial dan ekonominya sangat besar. Proyek itu memicu aktivitas ekonomi lainnya terutama sektor-sektor yang dilewatinya, banyak usaha bisa memotong biaya logistik dengan keberadaan proyek tersebut,” ungkapnya.
Sejak berdiri hingga kini, INA punya lima sektor prioritas nasional yang disasar, yaitu sektor transportasi, logistik dan infrastruktur; digital; energi hijau dan ekonomi biru; kesehatan; dan advanced materials.
Proyek-proyek yang telah selesai adalah pelabuhan kontainer internasional di Belawan, Sumatera Utara (2024), pergudangan modern (2023), pembangunan pusat data hyperscale di Batam (2023), pembangunan pabrik katoda terbesar dunia di luar China (2025) KEK Kendal, Jawa Tengah, membangun pabrik fraksionasi plasma darah yang pertama di Indonesia (2024), investasi jaringan rumah sakit terbesar di Indonesia (2024), kepemilikan saham di KFA dan MCB Kimia Farma (2022), shared-back financing untuk perusahaan industri farmasi (2024), senior secure credit facility untuk industri perhotelan (2024), fasilitas pembiayaan ke Traveloka (2022), anchor investor dalam IPO Mitratel (2021), dan anchor investor dalam IPO Pertamina Geothermal Energy (2023).
INA dibentuk dengan modal awal 5 miliar dollar AS atau Rp 77,5 triliun, namun bukan hanya dalam bentuk uang tunai tetapi juga saham inbreng (nontunai). Dalam lebih kurang empat tahun, INA sudah mengelola aset dengan nilai mencapai 10 miliar dollar AS atau Rp 155 triliun, dengan penyaluran investasi kumulatif sebesar 4 miliar dollar AS atau Rp 62 triliun. Hingga Mei 2025, INA menambah tren positif itu sehingga total penanaman modal secara kumulatif bersama para mitra investasi mencapai Rp 65,4 triliun yang diraih dari semua investasi bukan hutang negara.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/10/10/de9f7b5a-4114-4946-9831-e6919f554fea.jpg)
Keuntungan yang diraih INA bukan tanpa usaha. Bermula dari modal yang bisa dibilang kecil, INA tampil dengan kemampuan meyakinkan investor untuk berinvestasi jangka panjang. Seperti jalan tol yang dibangung dengan investasi untuk 50 tahun ke depan atau pelabuhan dengan jangka investasi mencapai 40 tahun. International Forum of Sovereign Wealth Funds (IFSWF) adalah salah satu jalan untuk meraih kepercayaan investor global.
IFSWF merupakan sebuah organisasi global yang mewadahi dan memfasilitasi kerja sama antar-SWF di seluruh dunia. INA menjadi anggota IFSWF pada 2022. Dalam waktu kurang dari dua tahun INA bisa bergabung organisasi global tersebut. Syarat menjadi anggota pun tak mudah, INA harus mampu mengimplementasikan Santiago Principles.
Prinsip Santiago ini mencakup transparansi, akuntabilitas, dan manajemen risiko yang ketat. ESG merupakan bagian di dalamnya. Indonesia, melalui INA, menjadi salah satu SWF yang bergabung dalam waktu paling singkat dibanding SWF dari negara-negara lain.
Sebagai lembaga keuangan negara, INA dibentuk dengan harapan di masa depan bahwa Indonesia memiliki tabungan yang cukup untuk generasi penerus mereka. Tak hanya soal tabungan, tetapi juga investasi yang berkelanjutan. Seperti yang selalu disampaikan CEO dan Ketua Dewan Direktur INA Ridha DM Wirakusumah, INA adalah tempat untuk menabung sekaligus berinvestasi.
Karena dibentuk dengan harapan yang besar, lanjut Ridha, pihaknya benar-benar memiliki standar dalam memilih mitra sebelum bekerja sama. Ia bahkan menyebut, ada begitu banyak investor yang mengantre untuk Indonesia. Namun, butuh waktu untuk menyesuaikan dengan regulasi, terutama prinsip-prinsip ESG tadi.
”Ada investor yang ingin datang hanya bilang jika perusahaannya punya ARR (Accounting Rate of Return/tingkat pengembalian akuntansi) yang tinggi tapi tidak ada dampak sosial, wah mending enggak deh,” kata Ridha.
INA kini sudah punya nama di panggung global, di mana investor mulai menaruh perhatian dan kepercayaannya. Daftar investor global yang sudah masuk berinvestasi di Indonesia pun tak sembarangan, sebut saja SK Plasma, perusahaan pemimpin global dalam industri biofarmasi khusus dalam produksi terapi plasma berkualitas tinggi, DP World, salah satu operator pelabuhan global terbesar dunia, lalu ada ESR dan Mitsubishi untuk investasi pergudangan modern, juga kerja sama dengan tiga SWF terbesar dunia.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia dan pakar strategi investasi, Sari Wahyuni, mengungkapkan, kunci kinerja INA salah satunya profesionalisme. INA bekerja tanpa pengaruh atau kepentingan politik.
”Orang-orang di dalamnya banyak anak muda yang memang profesional, mereka bicara bisnis, mereka menguasai bahasanya,” ujar Sari.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/03/15/9d6a64da-f849-4320-b2b9-c2a92ee2a965_gif.gif)
Sari menambahkan, meski dituntut untuk bisa mendatangkan keuntungan dan tabungan sebesar-besarnya, INA tidak melupakan prinsip-prinsip berkelanjutan. Kebutuhan untuk investasi jangka panjang menjadi acuan mereka dalam mengklasifikasikan mitra investasinya. Hal itu penting dilakukan lantaran tak sedikit investor yang hanya memikirkan bisnis tanpa dampak lingkungan dan sosial.
”Dalam dunia investasi, SWF perlu membuktikan komitmen mereka untuk mendapatkan kepercayaan, mereka harus walking the talk atau membuktikannya lewat tindakan,” kata Sari.
Dari pengamatan Sari, Indonesia masih merupakan pasar besar untuk para investor. Indonesia hampir memiliki segalanya, tetapi tanpa komitmen dan tindakan investor tak akan melirik Indonesia. Untuk itu, SWF seperti INA sebagai mitra kerja di Indonesia wajib menjaga komitmen mereka, terutama untuk bisnis berkelanjutan.
Penulis:
Dionisius Reynaldo Triwibowo, Maria Susy BerindraEditor:
Hamzirwan .Penyelaras Bahasa:
Apolonius Lase