Pidato Hari Kemerdekaan, PM Modi Janjikan Kemandirian Bangsa

PM Modi mendorong agar India berdaulat dalam hal energi dan keamanan. Negara juga akan memperjuangkan perlindungan petani, salah satu basis besar pemilih.

15 Agt 2025 17:29 WIB · Internasional

Oleh Elsa Emiria Leba

NEW DELHI, JUMAT — Pemerintah India terus melawan tekanan Presiden Amerika Serikat Donald Trump lewat tarif impor. New Delhi bakal terus mengupayakan perlindungan petani, kedaulatan energi, dan pengembangan sistem pertahanan secara mandiri.

Perdana Menteri Narendra Modi menyampaikan hal itu dalam pidato Hari Kemerdekaan Ke-79 India dari Benteng Merah, New Delhi, Jumat (15/8/2025). Dalam pidato, itu, ia berjanji untuk membela kepentingan negara.

”Kemandirian adalah fondasi India yang maju. Kebebasan menjadi tidak berarti jika seseorang terlalu bergantung pada orang lain,” kata Modi.

India tengah menghadapi ancaman tarif impor tambahan sebesar 50 persen dari Trump. Trump melarang India untuk membeli minyak Rusia dengan harga miring. Minyak merupakan sumber pendapatan utama bagi Moskwa untuk menyerang Ukraina.

Saat ini, tarif AS sebesar 25 persen telah berlaku atas produk ekspor India. Tarif dengan jumlah yang sama menanti pada 27 Agustus 2025. Tarif tersebut akan memberatkan ekspor utama India ke AS, termasuk tekstil, perhiasan, suku cadang mobil, serta makanan laut.

Perdana Menteri India Narendra Modi mengatupkan kedua telapak tangan setelah berpidato di hadapan rakyat dalam perayaan Hari Kemerdekaan India, dari Benteng Merah, New Delhi, Jumat (15/8/2025). Modi mengatakan, India sedang mengupayakan kemandirian melalui kedaulatan energi dan pengembangan sistem pertahanan mandiri.

Walhasil, hubungan Modi dan Trump yang pernah akrab menjadi tegang. Negosiasi kedua negara juga sedang mandek. Ada perbedaan pendapat mengenai minyak Rusia serta impor produk pertanian dan susu AS.

”Kita tahu bahwa kita masih bergantung pada banyak negara untuk memenuhi kebutuhan energi kita. Namun, untuk membangun India yang benar-benar mandiri, kita harus mencapai kedaulatan energi,” ujar Modi.

Modi mendesak para ilmuwan dan insinyur untuk fokus membangun sektor teknologi utama, termasuk mesin jet tempur, cip semikonduktor, dan sistem perangkat keras militer. Negara tengah mendorong produksi mineral penting melalui eksplorasi ke lebih dari 1.200 lokasi. ”Kita akan memiliki cip semikonduktor buatan India di pasar pada akhir tahun ini,” tuturnya.

Di samping itu, Modi menambahkan, negara sedang berupaya membangun stasiun luar angkasa. New Delhi juga berencana memiliki ”perisai pertahanan” dalam beberapa dekade berikutnya. Modi tidak merinci rencana itu lebih lanjut.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengucapkan selamat atas Hari Kemerdekaan India. Ia mengatakan, hubungan antara kedua negara ”berkonsekuensi dan berjangkauan luas”. Rubio ingin ”memastikan masa depan yang lebih cerah” bagi kedua negara.

Pajak turun

Setelah menggeser China, India menjadi negara dengan populasi terbanyak di dunia. India merupakan negara dengan ekonomi terbesar kelima di dunia. Tarif Trump berpotensi besar menghambat pertumbuhan ekonomi negara ini.

Total perdagangan barang AS dan India mencapai 128,9 miliar dollar AS pada 2024. AS adalah pasar terbesar India dengan nilai ekspor mencapai 87,3 miliar dollar AS pada 2024.

Modi dalam kesempatan yang sama turut mengumumkan pajak barang dan jasa yang lebih rendah per Oktober 2025. Tujuannya, mendongkrak konsumsi dalam negeri.

”Selama delapan tahun terakhir, kami telah melakukan reformasi besar dalam pajak barang dan jasa, pajak disederhanakan. Sekarang saatnya untuk meninjau ulang. Pajak untuk layanan umum dan individual akan dikurangi secara signifikan. UMKM akan untung dan ini juga akan membantu perekonomian,” kata Modi, dilansir dari India Today.

Sejak 2017, para pelaku bisnis telah menuntut penyederhanaan struktur pajak India yang kompleks. Menurut Bloomberg, India memiliki struktur pajak bertingkat dengan empat tingkatan utama, yaitu 5 persen, 12 persen, 18 persen, dan 28 persen. Barang yang merugikan, seperti rokok, mendapat pungutan tambahan.

Perdana Menteri India Narendra Modi melambaikan tangan kepada para anggota Korps Kadet Nasional (NCC) setelah berpidato dalam perayaan Hari Kemerdekaan India dari benteng Benteng, New New Delhi, Jumat (15/8/2025). Modi mengatakan, India sedang mengupayakan kemandirian melalui kedaulatan energi dan pengembangan sistem pertahanan sendiri.

Modi tidak pernah berbicara tentang tarif Trump secara langsung, termasuk dalam pidato di Benteng Merah. Akan tetapi, ia mendeklarasikan akan melawan kebijakan yang merugikan kepentingan petani, peternak, dan nelayan. Di India, pertanian menyediakan banyak lapangan pekerjaan dan menjadi titik penting dalam negosiasi perdagangan.

”Saya akan berdiri kokoh melawan kebijakan apa pun yang mengancam kepentingan mereka. India tidak akan pernah berkompromi dalam hal melindungi kepentingan petani,” ujar Modi.

Modi melanjutkan, ia ingin para pedagang dan pemilik toko memajang papan untuk produk dengan label swadeshi. Istilah Hindi itu merujuk pada barang-barang buatan India.

Untuk menunjukkan ketidaksukaan kepada Trump, pendukung Modi juga mengobarkan sentimen anti-Amerika. Mereka menyerukan boikot terhadap perusahaan-perusahaan AS, seperti McDonald’s, Coca-Cola, Amazon, dan Apple.

Berbaikan dengan China

Di tengah ketidakpastian Trump, India dan China berupaya memperbaiki hubungan bilateral yang ternoda karena konflik perbatasan dan persaingan geopolitik. Adapun China sedang gencatan ”perang tarif” dengan AS agar tarif dari kedua negara tidak melejit hingga tiga digit. Tenggat negosiasi Washington-Beijing telah bergeser hingga awal November 2025.

China adalah mitra dagang terbesar kedua untuk India. Nilai perdagangan bilateral mencapai 127,7 miliar dollar AS pada tahun fiskal 2024-2025. 

Menteri Luar Negeri China berencana mengunjungi New Delhi pekan depan. Ia akan bertemu Penasihat Keamanan Nasional India Ajit Doval untuk membahas perbatasan Himalaya yang menjadi ganjalan relasi kedua negara. Ini merupakan pertemuan kedua antara India dan China setelah terjadi bentrok mematikan pada 2020.

Modi juga akan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping pada akhir Agustus 2025 di China. Kunjungan Modi terakhir terjadi tujuh tahun silam untuk menghadiri KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO), satu blok keamanan regional.

FILE- Russian President Vladimir Putin, Indian Prime Minister Narendra Modi, and Chinese President Xi Jinping stand at the start of the BRICS Summit in Goa, India, Oct. 16, 2016. Ahead of the G20 summit of leading economies, India has promoted itself as a rising global star with the potential to bridge the gap between the West and Russia. That stance also will be put to the test during the summit. So far, none of the G20 meetings this year have been able to agree on wording about Russia's war in Ukraine. Both Putin and Xi are not attending the summit but are sending representatives. (AP Photo/ Anupam Nath, File) *** Local Caption *** Arsip - Presiden Rusia Vladimir Putin, Perdana Menteri India Narendra Modi, dan Presiden China Xi Jinping berdiri di awal KTT BRICS di Goa, India, 16 Oktober 2016.

Selain itu, India dan China sepakat untuk membuka kembali penerbangan langsung antara kedua negara yang ditangguhkan sejak 2020. Namun, waktu pasti belum ditentukan. New Delhi-Beijing turut membahas pelonggaran hambatan perdagangan, termasuk pembukaan kembali perdagangan di tiga perbatasan Himalaya.

”Kami tetap berkomunikasi dengan China untuk memfasilitasi dimulainya kembali perdagangan perbatasan melalui semua titik perdagangan yang telah ditentukan,” ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri India Randhir Jaiswal, Kamis (14/8/2025).

Perdagangan di perbatasan hanya bernilai kecil dari perdagangan bilateral. Namun, kebijakan itu dinilai sebagai langkah simbolis menuju normalisasi hubungan ekonomi India-China.

”China bersedia meningkatkan komunikasi dan koordinasi dengan India terkait masalah tersebut. Perdagangan perbatasan telah lama memainkan peran penting dalam meningkatkan kehidupan penduduk perbatasan kedua negara,” bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri China, menurut Japan Times, Kamis.

Sementara itu, lembaga pemikir Pemerintah India telah mengusulkan pelonggaran aturan investasi terhadap perusahaan-perusahaan China. Saran itu menjadi isyarat lain dari upaya perbaikan hubungan kedua negara. (AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul