India Masih Membeli Minyak Rusia, Trump Ancam Naikkan Tarif

Trump berusaha menekan India agar menuruti kemauannya. Ia frustrasi dengan India yang susah diajak berunding.

05 Agt 2025 19:02 WIB · Internasional

Oleh Laraswati Ariadne Anwar

DELHI, SELASA — Pemerintah India mengatakan, mereka menomorsatukan kepentingan nasional dan tetap mengimpor minyak serta gas dari Rusia. Ancaman dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump dinilai sebagai hambatan yang bisa ditanggulangi melalui strategi perundingan tarif.

Kementerian Luar Negeri India mengeluarkan pernyataan resmi di Delhi, Senin (4/8/2025). Mereka menjelaskan, impor minyak dari Rusia itu demi menjaga kestabilan harga dan ketersediaan bahan bakar bagi rakyat negara yang jumlah penduduknya 1,5 miliar jiwa tersebut.

Dalam pernyataan itu, Delhi juga menuding perlakuan tidak adil oleh Trump. Perang Ukraina meletus pada 24 Februari 2022 ketika Rusia menginvasi Ukraina. Sejak itu, AS menetapkan sanksi ekonomi kepada Rusia.

Trump saat penetapan tarif impor balasan pertama kali pada 2 April 2025 mengatakan, semua negara yang masih membeli minyak dan gas dari Rusia akan dikenakan tarif tambahan. India dijatuhi tarif impor balasan 25 persen.

FILE - The tanker Sun Arrows loads its cargo of liquefied natural gas from the Sakhalin-2 project in the port of Prigorodnoye, Russia, on Friday, Oct. 29, 2021. A new report says Russia sent significantly more oil and coal to India and China over the summer compared with the start of the year, while European countries that long relied on Russian energy have cut back sharply in response to the conflict in Ukraine. The Centre for Research on Energy and Clean Air said Tuesday, Sept. 6, 2022 that Russia received about 158 billion euros in revenue for the sale of oil, natural gas and coal from February to August. (AP Photo, File)

”Uni Eropa per 2024 memiliki nilai neraca perdagangan dengan Rusia sebesar 67,5 miliar euro hanya dalam perdagangan barang, ditambah 17 miliar euro dalam perdagangan jasa,” kata Kemenlu India.

Jumlah itu lebih besar dibandingkan nilai perdagangan India-Rusia. Oleh sebab itu, tidak adil apabila Trump tebang pilih dan hanya mengecam India. AS sejatinya juga masih mengimpor pupuk, paladium, dan uranium heksafluorida dari Rusia.

Surat kabar Times of India, Selasa (5/8/2025), menerbitkan tajuk yang menyebutkan bahwa Rusia memberi harga sangat terjangkau kepada India. Akan tetapi, dari segi jumlah, masih di bawah impor minyak dari negara-negara lain.

Pada 2024, India mengimpor minyak senilai 46,5 miliar dollar AS dari Rusia. Sementara dari negara-negara lain, nilai impor minyak India sebesar 139,3 miliar dollar AS.

”Justru, berkat ini India bisa menjaga kestabilan harga minyaknya. Uni Eropa adalah pembeli terbesar produk avtur dan olahan minyak India,” tulis Times of India.

Bahkan, sejak Perang Ukraina meletus sekalipun, India selalu terbuka mengenai jual-beli minyak dengan Rusia. AS memahami hal tersebut dan India secara transparan mengatakan, alasan mereka tetap membeli minyak Rusia ialah agar harga minyak dunia tetap stabil di tengah sanksi ekonomi negara-negara Barat.

Dari segi jumlah, India mengimpor kurang dari 2 juta barel minyak per hari dari Rusia. China adalah pembeli minyak Rusia nomor satu dengan jumlah 2 juta barel per hari.

Bayang-bayang tarif tambahan dari Trump ini menjadi momok bagi para pengusaha India. Banyak jenama pakaian dan alas kaki AS yang memproduksi komoditas mereka di India. 

”Biasanya, pesanan untuk musim gugur sudah masuk dari Juni dan pada Agustus pabrik garmen sudah mulai memproduksi,” kata Ajay Sahai, Ketua Federasi Organisasi Ekspor India kepada harian India Express.

Sekarang, jarang ada pesanan yang masuk. Para pemesan di AS masih khawatir jika di tengah transaksi, tahu-tahu Trump menaikkan  tarif hingga melebihi 25 persen. Mereka menunggu kepastian dulu.

Tuduhan Trump

Kecaman terhadap India itu diutarakan Trump melalui unggahan di media sosial Truth Social. Ia mengatakan berniat menaikkan tarif atas produk-produk India.

”India membeli minyak Rusia dalam jumlah banyak dan dijual kembali di pasar bebas dengan keuntungan besar. Mereka tidak peduli dengan nyawa rakyat Ukraina yang dibantai oleh Mesin Pembunuh Rusia,” cuit Trump.

Perbuatan Trump ini mengagetkan. Selama ini Trump dikenal dekat dengan Perdana Menteri India Narendra Modi. Mereka seling berpelukan atau minimal berangkulan ketika berfoto bersama. Publik bertanya-tanya apabila kedua sahabat itu kini berlawanan.

(FILES) (FILES) Indian Prime Minister Narendra Modi (L) and US President Donald Trump shakes hands as they speak during a bilateral meeting in Biarritz, south-west France on August 26, 2019, on the third day of the annual G7 Summit. US President Donald Trump pressed Indian Prime Minister Narendra Modi for "fair" trading ties in a call January 27, 2025, the White House said, as Trump continues to push his hardline trade agenda with world leaders. Trump however also discussed plans for a visit to the White House by Modi, the Hindu nationalist leader with whom he had close ties in his first term as president, a readout of the call said. (Photo by Nicholas Kamm / AFP)

Menurut bocoran orang dalam Gedung Putih kepada kantor berita AP, Trump berusaha menekan India agar menuruti kemauannya. Ia frustrasi dengan India yang notabene teman dekat, ternyata susah diajak berunding, terutama soal tarif.

India memiliki sistem ekonomi yang protektif. Bagi negara berpenduduk terbanyak di dunia itu, pasar lokal adalah prioritas. Di dalam perundingan tarif dengan AS, India hanya membuka sedikit keran impor untuk barang dan jasa dari ”Negara Paman Sam”. Ini yang membuat Trump mencak-mencak.

Apalagi, Trump melihat dirinya berhasil memediasi konflik antara India dan Pakistan pada 2025. Delhi maupun Islamabad sama-sama negara dengan kekuatan nuklir.

Pada saat yang sama, Trump semakin dekat dengan Pakistan. Trump bahkan memuji-muji Pakistan sebagai teladan di dalam pemberantasan kelompok teroris di kawasan Asia Selatan.

”Ini tidak disukai oleh Modi sehingga pada dasarnya, India ngambek dengan AS,” kata Sreeram Sundar Chaulia, pakar hubungan internasional di Universitas Jindai. (AP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Laraswati Ariadne Anwar
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase