India Versus Pakistan, Siapa Lebih Kuat?

Mereka sama-sama punya senjata nuklir. Namun, kekuatan militernya tak sama. Di atas kertas, militer India lebih kuat. Tapi, jika Pakistan dibantu China, repot juga.

01 Mei 2025 16:00 WIB · Internasional

Oleh Luki Aulia

Meningkatnya ketegangan India-Pakistan mau tak mau mengalihkan fokus pada kemungkinan terjadinya konflik terbuka antara kedua negara. Sejauh ini, insiden dalam skala terbatas telah beberapa kali terjadi di perbatasan dua negara bersenjata nuklir itu.

Sejumlah pihak, di antaranya Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Amerika Serikat, berupaya membujuk kedua pihak agar meredakan ketegangan. Anjuran itu perlu digaungkan lantaran konflik terbatas di wilayah Kashmir bisa saja sewaktu-waktu membesar karena pemerintahan Perdana Menteri India Narendra Modi berada di bawah tekanan.

New Delhi telah memberi ”ruang” pada militer India untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan. New Delhi ”perlu” membalas serangan di Kashmir yang menewaskan 26 warga sipil India.

Menurut Institut Internasional untuk Studi Strategis yang dipublikasikan Bloomberg, Kamis (1/5/2025), jika India dan Pakistan ”berhadapan” dalam konflik bersenjata, India memang lebih diunggulkan. Di atas kertas, India memiliki militer yang jauh lebih kuat. India memiliki 1.475.000 tentara aktif.

Jumlah ini dua kali lipat lebih banyak dibandingkan jumlah tentara di Pakistan. India juga menyisihkan lebih banyak anggaran untuk militernya. Pada tahun 2024, jumlah anggarannya sekitar 86 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1,4 kuadriliun atau delapan kali lipat anggaran yang dikeluarkan Pakistan. Ini menempatkan India di antara lima pembelanja militer teratas secara global.

Harian The Economic Times, 24 Juli 2024, menyebutkan, dalam rencana Kementerian Pertahanan India disebutkan peningkatan anggaran itu dilakukan untuk mendapatkan teknologi canggih, senjata mematikan, pesawat tempur, kapal, kapal selam, pesawat tak berawak, dan kendaraan khusus militer lainnya.

Tidak mudah

Meskipun demikian, geografi Kashmir yang sulit membatasi opsi militer bagi kedua belah pihak. India sudah mengerahkan sebagian besar kekuatan angkatan bersenjatanya untuk mempertahankan wilayah perbatasan utara yang panjang dengan China.

Di wilayah itu India juga bentrok dengan China atas wilayah yang disengketakan di Himalaya. Sementara Pakistan lebih fokus pada penjagaan perbatasannya dengan Afghanistan karena kelompok militan kerap menyeberang untuk melancarkan serangan.

Indian Border Security Force (BSF) soldiers stand guard near the India-Pakistan Wagah border post, about 35kms from Amritsar on May 1, 2025. Nuclear-armed rivals India and Pakistan have exchanged gunfire across their heavily militarised de facto border in contested Kashmir since an April 22 attack that New Delhi blames on Islamabad, claims it rejects. (Photo by Narinder NANU / AFP)

Untuk mengatasi hambatan-hambatan itu, kedua negara memprioritaskan pesawat tak berawak dan pengawasan. Militer Pakistan mengaku sudah menembak jatuh pesawat tak berawak India yang digunakan untuk memata-matai posisi Pakistan di sepanjang perbatasan.

Wakil Presiden Observer Research Foundation, lembaga kajian di India, Harsh Pant mengatakan, meski kekuatan militernya lebih kuat, tak berarti India akan langsung menang jika berkonflik dengan Pakistan. India harus bisa menahan Pakistan dan China yang terkadang membantu Pakistan. ”Militer India lebih besar, tetapi India punya tantangan strategis berupa dua perbatasan yang harus dipertahankan,” ujarnya.

Selain pertimbangan kondisi geografis, kedua negara juga mempertimbangkan untung rugi penggunaan nuklir. Jika terjadi konflik, taruhannya tinggi. Menurut perkiraan Asosiasi Pengendalian Persenjataan, India dan Pakistan masing-masing memiliki sekitar 170 hulu ledak nuklir.

Bagi Pakistan, senjata nuklir menjadi cara untuk mencegah India mengambil tindakan militer. Kedua negara masih sibuk memproduksi bahan fisil dan berlomba menyempurnakan sistem pengiriman hulu ledak yang mencakup rudal jarak jauh.

India mempertahankan kebijakan untuk tidak menggunakan senjata nuklir terlebih dahulu. India juga tidak memiliki kemampuan menggunakan senjata nuklir taktis yang berdaya ledak rendah dan untuk digunakan di medan perang.

Sementara Pakistan telah mengembangkan senjata nuklir taktis, rudal balistik Nasr (Hatf-9) yang jangkauannya mencapai 70 kilometer. Kedua negara berupaya menciptakan infrastruktur yang dapat meluncurkan hulu ledak nuklir melalui darat, laut, dan udara. Sampai sejauh ini, India unggul dalam hal jangkauan.

Rudal Agni-V yang berbasis di darat dan dapat bergerak di jalan raya diperkirakan memiliki jangkauan 5.000-8.000 kilometer. Rudal Shaheen 3 yang sedang dikembangkan Pakistan memiliki jangkauan potensial sekitar 2.750 kilometer. Keduanya dapat digunakan untuk menghantam sasaran di setiap negara, tergantung di mana rudal itu diluncurkan.

India dan Pakistan juga merupakan dua pembeli senjata terbesar dari luar negeri dan mayoritas datang dari Rusia dan China. Namun, menurut data dari Stockholm International Peace Research Institute (Sipri), dalam beberapa tahun terakhir, India telah beralih ke produsen senjata di Amerika Serikat, Perancis, dan negara-negara lain sehingga menjadi importir senjata terbesar di dunia.

FILE - Indian troops are on the move in Kashmir against guerrilla forces during the second war over Kashmir on Sept. 6, 1965. (AP Photo, File)

Ketergantungan India pada Rusia turun dari 76 persen impor persenjataan pada 2009-2013 menjadi 36 persen pada 2019-2023. India berupaya memodernisasi sistem persenjataannya dengan persenjataan dari AS dan Eropa.

Pakistan berusaha mengimbangi dan membeli sebagian besar persenjataannya dari China. Impor dari China mencapai 82 persen dari stok Pakistan dari tahun 2019-2023. Pada tahun 2009-2012, hanya 51 persen.

Sardar Jahanzaib Ghalib, peneliti untuk Institut Studi Strategis Pakistan, menyebutkan, kesenjangan kekuatan regional yang diperparah oleh perluasan militer India memaksa Pakistan untuk mengeksplorasi strategi guna mengurangi dominasi militer konvensional lawannya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto