Indonesia di Mata Investor AS: Pasar Besar, Sejumlah Tantangan

Kunjungan Prabowo ke China menghasilkan kerja sama ekonomi senilai 10 miliar dollar AS (Rp 156 triliun). Mengapa kunjungan di AS tak membuahkan kesepakatan ekonomi?

17 Nov 2024 06:54 WIB · Internasional

Oleh Muhammad Samsul Hadi

China dan Amerika Serikat menjadi tujuan lawatan pertama Presiden Prabowo Subianto, 8-13 November 2024. Selain mempertegas sikap bebas-aktif di tengah rivalitas dua negara adidaya itu, lawatan ini memperlihatkan strategisnya dua negara tersebut bagi Indonesia.

Satu hal menarik, dalam kunjungan Prabowo ke China, seperti diumumkan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, tercapai kesepakatan kerja sama ekonomi antara Indonesia dan China senilai 10 miliar dollar AS atau sekitar Rp 156 triliun. Adapun dalam kunjungan ke AS, tidak ada pengumuman serupa.

Dalam rangkaian kunjungan ke Washington DC, Prabowo antara lain bertemu dengan para pemimpin perusahaan AS dalam forum The United States-Indonesia Society (USINDO). Prabowo menyebutkan, tak ada dokumen yang ditandatangani. Artinya, tidak ada kesepakatan kerja sama ekonomi atau investasi.

Mengapa di China terlihat mudah dijalin kesepakatan, sementara di AS tidak?

Pertanyaan ini tentu tidak mungkin terjawab hanya dengan mencermati kunjungan Prabowo ke China dan AS tersebut. Bobot hubungan ekonomi Indonesia dengan dua negara itu juga tak bisa disederhanakan hanya dari kunjungan kurang dari sepekan tersebut.

Presiden Prabowo Subianto menyaksikan upacara penandatanganan dokumen kerja sama antara Indonesia dan China dam Forum Bisnis Indonesia-China di Beijing, China, 10 November 2024.
Presiden Prabowo Subianto memberikan aplaus pada upacara penandatanganan dokumen kerja sama antara Indonesia dan China dam Forum Bisnis Indonesia-China di Beijing, China, 10 November 2024.
Presiden Prabowo Subianto dan Presiden China Xi Jinping memberikan aplaus dalam upacara penandatanganan dokumen kerja sama kedua negara di gedung Balai Agung Rakyat di Beijing, China, 9 November 2024.
Presiden Prabowo Subianto dan Presiden China Xi Jinping menghadiri upacara penyambutan di gedung Balai Agung Rakyat di Beijing, China, 9 November 2024.
Presiden Prabowo Subianto berpidato pada Forum Bisnis Indonesia-China di Beijing, China, 10 November 2024.
Presiden Prabowo Subianto menyaksikan upacara penandatanganan dokumen kerja sama antara Indonesia dan China dam Forum Bisnis Indonesia-China di Beijing, China, 10 November 2024.

Dalam keterangan pers, Prabowo menyatakan gembira atas antusiasme perusahaan AS untuk terus berkontribusi dalam pembangunan ekonomi Indonesia. ”Sudah lama mereka di Indonesia dan mereka terus percaya dengan Indonesia, dengan ekonomi Indonesia, dan saya juga mendorong mereka untuk terus melakukan investasi ikut serta dalam rencana pembangunan kita,” ujarnya.

Menjadi menarik, sebenarnya seperti apa pandangan pengusaha atau investor AS tentang Indonesia? Hal ini menjadi salah satu perhatian saat Kompas bersama 10 wartawan lain dari Asia Tenggara diundang dalam program Tur Reporter AS-ASEAN atas undangan Misi AS untuk ASEAN, 28 Oktober-7 November 2024.

Quote

Menjadi menarik, sebenarnya seperti apa pandangan pengusaha atau investor AS tentang Indonesia?

Selain mengunjungi Amazon, perusahaan teknologi di Seattle, delegasi jurnalis Asia Tenggara juga bertemu dengan organisasi bisnis, seperti Greater Seattle Partners (GSP), US-ASEAN Business Council, East-West Center, Kamar Dagang dan Industri AS, beberapa lembaga think tank, serta pejabat terkait di Departemen Luar Negeri AS.

Potensi

Di kantor Greater Seattle Partners (GSP) di Seattle, Chief Economic Development Officer dan Senior Vice President GSP Josh Davis menyebut, dengan 275,5 juta penduduknya, Indonesia ”juara sejati” secara demografi. ”Ada populasi sangat besar di Indonesia. Yang belum diketahui bagi banyak perusahaan (di Seattle) adalah potensi pasarnya,” ujarnya.

”Selain itu, ada juga pertanyaan soal risiko ke depan di negara tersebut menyangkut skema ekonomi. Itu yang saya dengar (dari perusahaan-perusahaan anggota kami). Ada peluang sangat besar. Tetapi, juga ada pertanyaan soal stabilitas dalam jangka 20 tahun ke depan,” tutur Davis.

”Stabilitas politik adalah faktor-faktor lain yang turut menciptakan kepercayaan,” lanjutnya.

Presiden Prabowo Subianto melakukan pertemuan dengan The United States Indonesia Society (USINDO) di hari kedua lawatannya di Washington, DC, Amerika Serikat (AS) Senin (11/11) sore, yang dihadiri para pimpinan perusahaan AS.

”Indonesia di atas kertas mungkin punya stabilitas politik sebagaimana negara-negara ASEAN lain. Namun, kadang-kadang ada persepsi bahwa mereka (perusahaan-perusahaan) tak punya koneksi yang dibutuhkan untuk membangun (kepercayaan) dan dengan siapa (berhubungan) saat memasuki negara serta melakukan penetrasi pasar,” jelas Davis.

Ia menjelaskan, GSP menaungi beragam investor, antara lain perusahaan teknologi, keuangan, industri makanan, penerbangan, hingga antariksa. Di antara mereka ialah Microsoft, Amazon, Boeing, JPMorganChase, Starbucks, dan Expedia. Di Seattle juga beroperasi perusahaan antariksa Blue Origin dan SpaceX.

”Anda bisa cek, separuh dari satelit yang saat ini beroperasi di orbit (Bumi) dibuat di wilayah Seattle. Separuh lainnya dibuat di tempat lain di dunia,” ucap Davis.

Chief Economic Development Officer dan Senior Vice President Greater Seattle Partners (GSP) Josh Davis, didampingi Direktur Pemasaran GSP Yelena Kalashnikova memaparkan potensi ekonomi dan investasi di hadapan 11 wartawan dari Asia Tenggara di Seattle, Negara Bagian Washington, AS, 30 Oktober 2024.

Mengenai investasi di ASEAN, ia mengungkapkan, dalam 10 tahun terakhir, Greater Seattle telah menginvestasikan 16,1 miliar dollar AS di negara-negara ASEAN, menciptakan lebih dari 16.000 pekerjaan. Adapun investasi negara- negara ASEAN di wilayah Seattle 168 juta dollar AS, menciptakan 900 lebih pekerjaan.

Aspek resiprokal

Dalam upaya merangsang investasi dari luar, termasuk dari ASEAN, GSP menggelar forum bisnis SelectUSA Spinoff di Seattle, 6-9 Mei 2025. Davis menyebut, makin besar investasi dari sebuah negara ke wilayah bisnisnya, makin besar pula peluang investasi perusahaan-perusahaan di Seattle ke negara itu. ”Ada aspek bilateral dan resiprokal,” ujarnya.

Terkait investasi di Indonesia, pada 30 April 2024  Microsoft mengumumkan akan berinvestasi 1,7 miliar dollar AS (Rp 27,6 triliun) di Indonesia. Investasi tunggal terbesar Microsoft selama 29 tahun kehadirannya di Indonesia itu akan ditujukan untuk pembangunan infrastruktur komputasi awan dan kecerdasan buatan, pelatihan kecerdasan buatan bagi 840.000 orang, dan dukungan pengembang lokal selama empat tahun.

Seperti yang diumumkan Chairman dan CEO Microsoft Satya Nadella, investasi serupa juga dilakukan di Malaysia senilai 2,2 miliar dollar AS. Singapura juga jadi pilihan investasi Amazon senilai 8,88 miliar dollar AS untuk empat tahun ke depan dalam infrastruktur komputasi awan.

Suasana di depan kantor pusat Amazon di Seattle, Negara Bagian Washington, AS, 28 Oktober 2024.

Dalam pertemuan terpisah di kantornya di Washington DC, Direktur Eksekutif Asia Tenggara Kadin AS John Goyer dan Senior Vice President Asia Kadin AS Charles W Freeman III menyebut Asia Tenggara sebagai kawasan alternatif penting dalam rantai pasok perusahaan-perusahaan AS di tengah situasi de-risking—istilah yang merujuk pada rivalitas AS-China sebagai pengganti decoupling—dalam hubungan dua negara adidaya itu.

”Asia Tenggara jelas menjadi wilayah penting bagi ekonomi AS. Kami melihatnya sebagai salah satu pusat pertumbuhan dalam beberapa tahun ke depan,” katanya.

Pentingnya Asia Tenggara juga disampaikan Deputi Asisten Menlu pada Biro Asia Timur dan Pasifik Departemen Luar Negeri AS Andrew Herrup. ”Selama puluhan tahun di bawah pemerintahan Demokrat dan Republik, kami menjadi mitra yang kokoh bagi ASEAN,” ujarnya saat ditanya pengaruh hasil pemilu presiden AS yang baru dimenangi Donald Trump bagi hubungan AS dan negara-negara ASEAN.

Kokohnya kemitraan AS- ASEAN, kata Herrup, antara lain bisa dilihat dari data investasi perusahaan-perusahaan AS di kawasan itu. Ia memaparkan, 6.200 perusahaan AS beroperasi di ASEAN, menciptakan lebih dari sejuta pekerjaan. Tahun 2023, negara-negara ASEAN mengekspor barang dan jasa ke AS senilai lebih dari 310 miliar dollar AS.

Herrup mengakui, hubungan ekonomi itu juga memberi keuntungan bagi AS. ”Ekspor dari keseluruhan 50 negara bagian di AS, kami perkirakan, menopang lebih dari 625.000 pekerjaan di AS,” katanya.

Deputi Asisten Menlu pada Biro Asia Timur dan Pasifik Departemen Luar Negeri AS Andrew Herrup memberikan keterangan kepada 11 wartawan dari Asia Tenggara di kantor Departemen Luar Negeri AS di Washington DC, AS, 7 November 2024.

Goyer menambahkan, investasi perusahaan-perusahaan AS di ASEAN tahun 2022 menghasilkan penjualan senilai 949 miliar dollar AS. ”Sebagai perbandingan, angka 949 miliar dollar AS itu setara dengan sekitar nilai produk domestik bruto ASEAN di tahun yang sama, memperlihatkan besarnya kontribusi investasi AS di pasar kawasan (Asia Tenggara),” tuturnya.

Tantangan di Indonesia

Menurut data laman Asia Matters for America tahun 2023, dari 6.200 perusahaan AS yang beroperasi di Asia Tenggara, dari segi jumlah, Indonesia dengan jumlah penduduk terbesar di kawasan berada di peringkat kelima dengan menampung 455 perusahaan asal AS. Posisi ini berada di bawah Singapura (1.642), Malaysia (707), Thailand (589), dan Filipina (495).

Terkait investasi di Indonesia, Goyer menyampaikan beberapa pandangan. Jika ingin menikmati lebih banyak investasi perusahaan-perusahaan AS, Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Prabowo diharapkan melanjutkan kebijakan investasi asing, transparansi, dan pasar terbuka.

”Terus terang, kami masih menghadapi tantangan-tantangan di Indonesia dalam hal transparansi regulasi dan proses pembuatan aturan,” ucap Goyer. ”Kami ingin ada pelibatan lebih mendalam dan lebih sistematis dengan sektor swasta dalam proses pembuatan aturan itu,” tambahnya.

”Ini benar-benar soal keadaan bahwa Indonesia bisa memberikan kemudahan bagi AS dan investor-investor asing lainnya masuk ke pasar (negara itu),” ujar Goyer.

Direktur Eksekutif Asia Tenggara Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Amerika Serikat, John Goyer (kiri), dan Senior Vice President Asia Kadin AS, Charles W Freeman III, saat menerima kunjungan 11 wartawan Asia Tenggara dalam program Tur Reporter AS-ASEAN di kantor Kadin AS di Washington DC, AS, Senin (4/11/2024). (KOMPAS/MUHAMMAD SAMSUL HADI)

Seusai pertemuan antara pengusaha AS dan Prabowo di Washington, Senin (11/11), Presiden dan CEO US-ASEAN Business Council Ted Osius mengungkapkan, pihaknya akan membawa sejumlah pemimpin bisnis Amerika ke Indonesia, awal Desember 2024.

Ini kesempatan penting bagi Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo, apakah dengan segala potensi yang dimiliki, termasuk kekuatan populasi lebih dari sepertiga penduduk ASEAN, Indonesia mampu memikat lebih banyak investasi dari perusahaan-perusahaan AS.


Kerabat Kerja

Penulis:

Muhammad Samsul Hadi
 | 

Editor:

Aris Prasetyo
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan