AS-China memulai putaran baru untuk meredakan perang dagang. Sementara menanti kesepakatan, China mengalihkan ekspor dari AS ke Indonesia dan Vietnam.
09 Jun 2025 19:15 WIB · Internasional
LONDON, SENIN – Amerika Serikat dan China memulai putaran terbaru perundingan dagang. Perang dagang memukul ekspor China ke AS. Dampaknya, China mengalihkan ekspor ke sejumlah negara, termasuk Indonesia.
Putaran lanjutan perundingan AS-China digelar mulai Senin (9/6/2025) malam waktu Indonesia, di London, Inggris. Hal ini memberi semangat baru, walaupun sedikit, bagi pasar global yang masih khawatir dengan dampak jangka panjang perang dagang kedua negara.
Delegasi China dipimpin oleh Wakil Perdana Menteri He Lifeng. Sementara delegasi AS dipimpin trio Menteri Perdagangan Howard Lutnick, Menteri Keuangan Scott Bessent, dan Perwakilan Perdagangan Jamieson Greer. Perundingan itu diumumkan pekan lalu, setelah Presiden China Xi Jinping menelepon Presiden AS Donald Trump.
Perang dagang berdampak buruk bagi China. Ekspor mereka ke AS turun 35 persen per Mei 2025 dibandingkan dengan periode yang sama pada 2024.
Memang, secara global, China masih menikmati surplus perdagangan. Ekspor China meningkat 4,8 persen dan impor berkurang 3,4 persen.
Peningkatan ini terjadi pada ekspor ke Asia Tenggara dan Uni Eropa. Thailand, Vietnam, dan Indonesia menjadi negara-negara tujuan ekspor tertinggi dengan nilai total 14,8 persen. Dengan kata lain, ada lonjakan ekspor ke tiga negara itu di tengah perang dagang.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/24/80906c80-c032-48ed-ac31-d1f988846f6c_png.jpg)
Ekonom China, Lu Daliang, kepada kantor berita Xinhua mengatakan, pada dasarnya, perdagangan global China masih kuat. Memang, perang dagang dengan AS membawa tantangan, tetapi belum terlalu serius sampai bisa menggoyang perekonomian negara.
Konsumsi masyarakat di AS dan China juga menurun. Apalagi, rakyat masih berusaha mengelola keuangan mereka sembari berusaha memenuhi kebutuhan hidup. Daya beli mereka belum sepenuhnya pulih sejak pandemi Covid-19.
Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memperkirakan pertumbuhan ekonomi AS hanya 1,6 persen untuk 2025. Padahal, sebelumnya, mereka menghitung potensi pertumbuhannya setidaknya 2,2 persen.
”Di negara-negara yang menaikkan tarif, inflasi akan ikut naik dan menurunkan daya beli masyarakat,” demikian bunyi keterangan OECD.
Jaringan toserba Target, Walmart, dan Best Buy di AS juga mengeluarkan perkiraan bahwa harga barang-barang yang mereka jual naik gara-gara inflasi. Produsen sepatu Nike turut memberi pernyataan serupa. Padahal, dua pertiga ekonomi AS digerakkan oleh belanja masyarakat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/12/8c3e70f3977a06f305ad243652926c58-wires_photo_37.jpg)
Rencana perundingan AS-China ini memberi secercah harapan bagi pasar global. Bursa saham Nikkei, Dow Jones, dan S&P 500 naik meskipun di bawah 1 persen. Akan tetapi, bursa saham Eropa menurun.
Para pakar ekonomi mengatakan, terlalu cepat untuk membuat perkiraan karena pasar masih waswas. Mereka menunggu hasil dari putaran perundingan kali ini sebelum bisa menentukan langkah berikutnya.
Perang dagang terjadi sejak April lalu ketika Trump secara sepihak menjatuhkan tarif impor balasan ke semua negara mitra dagang AS. China dikenai tarif tertinggi, yakni 145 persen. Beijing membalas perbuatan Trump dengan menerapkan tarif impor 125 persen atas komoditas AS.
Perdagangan global terpukul karena rantai pasok sangat bergantung pada sinergi kedua negara. Delegasi China dan AS kemudian bertemu di Geneva, Swiss, pada Mei. Dalam pertemuan itu, mereka sepakat menangguhkan perang dagang selama 90 hari, terhitung sejak 12 Mei 2025.
Walaupun berstatus ”gencatan senjata”, Washington dan Beijing sama-sama cerewet dan saling menyerang dalam pernyataan diplomatik. Trump mencekal visa mahasiswa China yang berkuliah di AS. Sebaliknya, China menolak mengekspor logam tanah jarang dan mineral kritis mereka ke AS yang berdampak pada industri semikonduktor, pertahanan, dan otomotif.
Xi dan Trump akhirnya berbicara di telepon dan setuju untuk melakukan putaran baru perundingan dagang. Perundingan itu dilakukan di London, tetapi Pemerintah Inggris menolak membocorkan lokasinya.
”China nyaris memiliki monopoli produksi mineral kritis. Ini senjata mereka dalam perundingan,” kata Robin Xing, pakar China di firma Morgan Stanley, kepada CNN.
Perang dagang ini juga membuat China lebih protektif terhadap mineral kritis mereka. Leah Fahy, analis firma Capital Economics, mengatakan, China juga lebih ketat dalam perdagangan mineral kritis mereka dengan negara-negara lain. Mereka memahami besarnya ketergantungan dunia atas mineral itu. (AP/REUTERS)
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul