Indonesia Jalin Kerja Sama Mineral Kritis hingga Nuklir dengan Jepang

Kolaborasi ini bertujuan memperkuat rantai pasok global mineral strategis yang dibutuhkan dalam pengembangan teknologi energi bersih.

16 Mar 2026 15:14 WIB · Ekonomi & Bisnis

Humas Kementerian ESDM

Oleh Erika Kurnia

JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah Indonesia memperkuat kerja sama energi dengan Pemerintah Jepang di tengah dinamika geopolitik global dan meningkatnya kebutuhan energi bersih. Kolaborasi kedua negara mencakup pengembangan mineral kritis, teknologi energi masa depan, hingga percepatan proyek gas raksasa di Laut Arafura.

Dalam rangkaian Indo Pacific Energy Security Ministerial and Business Forum yang digelar di Tokyo, Jepang, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menemui Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang Ryosei Akazawa, Minggu (15/3/2026).

Pertemuan tersebut menghasilkan penandatanganan memorandum of cooperation (MoC) di dua sektor strategis, yakni mineral kritis dan energi nuklir. Menurut Bahlil, kerja sama ini membuka peluang bagi Jepang untuk berkolaborasi dalam pengelolaan sumber daya mineral strategis yang dimiliki Indonesia.

”Indonesia memiliki sekitar 43 persen cadangan nikel dunia dan sumber daya bauksit, timah, tembaga, hingga logam tanah jarang. Kami sangat terbuka untuk bekerja sama dengan pemerintah dan pelaku usaha Jepang dalam pengelolaan mineral kritis tersebut,” ujar Bahlil dalam keterangan pers yang dikutip Kompas, Senin (16/3/2026).

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia Bahlil Lahadalia dan Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) Jepang, Ryosei Akazawa menandatangani kerja sama bilateral dengan Jepang terkait proyek mineral kritis dan nuklir. Pertemuan tersebut berlangsung di sela kegiatan Indo Pacific Energy Security Ministerial and Business Forum (IPEM) di Tokyo, Jepang, Minggu (15/3/2026).

Kolaborasi ini diarahkan untuk memperkuat rantai pasok global mineral strategis yang dibutuhkan dalam pengembangan teknologi energi bersih, termasuk baterai kendaraan listrik dan teknologi rendah karbon lainnya.

Akazawa menyampaikan, penguatan kerja sama antarnegara, seperti dengan Indonesia, penting dalam menghadapi dinamika global, khususnya untuk menjaga ketahanan energi dan keberlanjutan pasokan.

Situasi geopolitik dan ketidakpastian global saat ini, ia melanjutkan, menuntut setiap negara untuk saling memperkuat kolaborasi, termasuk melalui pengamanan cadangan energi strategis.

”Di tengah situasi krisis global saat ini, penting bagi kita untuk memperkuat kerja sama demi menjaga ketahanan energi. Jepang sendiri telah menyiapkan cadangan energi strategis sebagai langkah antisipasi,” ujar Akazawa.

Warga mengisi daya mobil listrik di stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) di halaman Kantor PLN Distribusi Jakarta Raya, Jakarta, Senin (22/11/2021). Saat ini PLN telah memiliki 47 unit SPKLU yang beroperasi dan hingga akhir tahun akan ada 67 SPKLU yang beroperasi. Infrastruktur itu diperlukan untuk mendukung percepatan pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Indonesia atas dukungan terhadap izin ekspor LNG ke Jepang. Jepang juga berkomitmen mendukung sejumlah proyek energi di Indonesia, termasuk penyelesaian proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Legok Nangka.

Selain mineral kritis, kedua negara juga menjajaki kerja sama di bidang energi nuklir, terutama dalam pengembangan teknologi dengan standar keselamatan tinggi. Indonesia berpeluang memanfaatkan pengalaman Jepang dalam teknologi energi rendah karbon.

Ke depan, kedua negara juga akan memperkuat kolaborasi di bawah kerangka Asia Zero Emission Community. Ini termasuk pengembangan rantai pasok LNG, batubara, dan percepatan proyek transisi energi.

Maket pembangkit listrik tenaga nuklir dipamerkan Badan Tenaga Nuklir Nasional dalam Pekan Energi Indonesia 2011 di Parkir Timur Senayan, Jakarta, beberapa waktu yang lalu. Di seluruah dunia total ada 440 unit PLTN dengan kapasitas 376,442 megawattelektrik, di mana 104 unit di Amerika, 51 di Jepang, dan 18 unit di Perancis. Sedang Indonesia belum memiliki karena masih terjadi pro dan kontra terhadap pembangunan pembangkit listrik ini.

Percepatan proyek Masela

Di Tokyo, Bahlil juga bertemu dengan CEO INPEX Corporation Takayuki Ueda. Keduanya membahas percepatan pembangunan Proyek Abadi Masela, di Maluku, sebagai salah satu proyek gas terbesar di Indonesia dengan cadangan gas sekitar 18,54 triliun kaki kubik (TCF).

Pemerintah Indonesia memastikan proyek tersebut segera memasuki tahap keputusan investasi akhir.

Sejauh ini, perkembangan proyek baru mencapai 25 persen. Proyek yang diperkirakan bernilai sekitar 20 miliar dolar AS atau setara Rp 339 triliun (dengan kurs Rp 16.900 per dolar AS) itu telah tertunda selama hampir tiga dekade.

Pemerintah menilai proyek tersebut penting sebagai sumber pasokan gas bagi industri nasional sekaligus penggerak ekonomi di kawasan Indonesia Timur.

Infografik-Overview Proyek LNG Abadi Blok Masela *** Local Caption *** Infografik-Overview Proyek LNG Abadi Blok Masela

Pemerintah menargetkan tahap inisiasi desain rekayasa awal atau front end engineering and design (FEED) dapat dimulai pada triwulan II-2026 atau paling lambat triwulan III tahun ini agar proses tender engineering procurement construction (EPC) dapat berjalan paralel.

”Ini sudah 27 tahun. Kita ingin proyek ini segera berjalan dan tidak berlarut-larut lagi,” kata Bahlil.

Untuk mencapai target FEED tersebut, Bahlil menawarkan kepada INPEX supaya produksi lapangan abadi Masela yang mencapai 9 million tonnes per annum (MTPA) dibeli oleh Danantara, termasuk pasokan untuk program hilirisasi. Ini dilakukan apabila belum ada pembeli serius hingga akhir April 2026.

”Supaya ada kepastian buyer. Saya menghargai buyer luar negeri, tetapi pada saatnya sekarang negara Indonesia harus hadir untuk bersama-sama dengan INPEX dalam rangka memastikan operasi. Jadi, kami saja yang membeli,” ujar Bahlil.

Suasana peluncuran inisiasi front-end engineering design (FEED) atau desain rekayasa awal Proyek Abadi Masela oleh INPEX di Jakarta, Rabu (9/4/2025). Proyek Abadi Masela di perairan Maluku serta fasilitas pengolahan menjadi liquified natural gas (LNG) di darat diperkirakan memiliki produksi puncak sebesar 9,5 juta ton LNG per tahun.

Menanggapi hal tersebut, Ueda menyatakan, pihaknya berkomitmen mempercepat realisasi proyek tersebut. Ia mengatakan proyek Masela juga menjadi prioritas perusahaan setelah lebih dari satu dekade dalam proses pengembangan.

”Kami jajaran INPEX berkomitmen juga untuk mempercepat realisasi Abadi ini, termasuk ini, saya sudah 12 tahun mengerjakan Abadi. Setelah berdiskusi dengan Pak Menteri, kami semakin semangat lagi untuk mempercepat penyelesaian Proyek Abadi ini,” ujar Ueda.

Dari sisi administratif, sejumlah perizinan penting telah diselesaikan pada awal 2026, termasuk persetujuan lingkungan melalui dokumen analisis mengenai dampak lingkungan pada 13 Februari serta pelepasan kawasan hutan per Januari.

Dengan dukungan pemerintah dan percepatan birokrasi, proyek Masela diharapkan dapat menjadi salah satu pusat pengembangan energi masa depan di kawasan Laut Arafura sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia timur.


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

FX Laksana Agung Saputra
 | 

Penyelaras Bahasa:

Yuliana Karim