”Two State Solutions” atau solusi dua negara menjadi jalan keluar paling diplomatik untuk kemerdekaan Palestina.
28 Mei 2025 16:43 WIB · Politik & Hukum
JAKARTA, KOMPAS — Indonesia dan Perancis sepakat mendorong kemerdekaan Palestina. Itu dinilai menjadi satu-satunya jalan dalam menyelesaikan konflik panjang antara Palestina dan Israel. Kemanusiaan mesti dikedepankan demi mewujudkan perdamaian pada kawasan tersebut.
Wacana itu disampaikan Presiden Prabowo Subianto sewaktu menerima kunjungan kenegaraan dari Presiden Perancis Emmanuel Macron di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Kunjungan kenegaraan itu bagian dari peringatan 75 tahun hubungan diplomatik, sekaligus satu dasawarsa kemitraan strategis di antara dua negara.
“Salah satu hal yang sangat penting dalam pembahasan saya dengan Presiden Macron adalah apa yang disampaikan Presiden Macron tentang kehendak Perancis untuk mendorong penyelesaian damai masalah Palestina, di mana Perancis juga akan terus mendukung langkah-langkah ke arah kemerdekaan Palestina,” kata Prabowo.
Dukungan itu, kata Prabowo, juga diberikan Perancis dengan mendorong agar segala kegiatan bersenjata segera diberhentikan di Gaza. Jaminan atas akses kemanusiaan penuh turut diserukan negara tersebut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/28/454ad9defd99bd905804cc79e42810c3-20250528ron16.jpg)
Keinginan-keinginan Macron itu sejalan dengan rencananya menyelenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi antara Perancis dan Arab Saudi, Juni nanti. Dalam forum itu, nantinya bakal didorong usulan penyelesaian konflik berupa ”Two State Solutions” guna mewujudkan perdamaian di Kawasan Timur Tengah.
Ihwal ”Two State Solutions” juga menjadi solusi yang ditawarkan Prabowo untuk menyelesaikan konflik Israel-Palestina. Gagasan itu sudah disampaikannya berkali-kali dalam berbagai forum.
”Indonesia memandang hanya penyelesaian Two State Solution. Kemerdekaan bagi bangsa Palestina merupakan satu-satunya jalan untuk mencapai perdamaian yang benar,” kata Prabowo.
Meski demikian, Prabowo menyatakan juga akan mengakui dan menjamin hak Israel untuk berdiri sebagai negara berdaulat. Dengan demikian, negara itu harus turut dijamin keamanannya. Opsi diplomasi turut dibuka Prabowo jika Israel sudah mengakui kemerdekaan Palestina.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/28/50662b15cf3ad36f9aee20dbd34f1b0a-20250528ron11.jpg)
”Indonesia sudah menyampaikan, begitu negara Palestina diakui Israel, Indonesia siap mengakui Israel dan kita siap membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Kami juga menyampaikan bahwa Indonesia siap menyumbang pasukan perdamaian di kawasan tersebut,” kata Prabowo.
Sementara itu, Macron mengucapkan terima kasih atas sambutan hangat yang diterimanya dari Prabowo dan jajaran Pemerintah Indonesia. Ia meyakini perjumpaan para petinggi dari kedua negara mampu membuka peluang baru dalam berbagai kemitraan strategis. Sektor-sektor yang sedang diusahakan tersebar di berbagai bidang, seperti ekonomi, teknologi, dan keamanan.
Tak hanya itu, lanjut Macron, pihaknya juga ingin mengedepankan kerja sama dari sektor budaya. Terwujudnya kerja sama itu bakal ditandai dengan penandatanganan persahabatan di antara kedua negara, di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Kamis (29/5/2025) besok.
”Jadi, terima kasih banyak sebesar-besarnya Bapak Presiden atas sambutan ini, atas kesempatan berdiskusi yang baru saja kita lakukan, dan untuk upaya kita bersama dalam dua hari mendatang ini,” kata Macron, sebelum memulai pertemuan bilateral.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/28/6e0e537b224534ccee0cd08269eae120-IMG_20250528_WA0201.jpg)
Indonesia sudah menyampaikan, begitu negara Palestina diakui Israel, Indonesia siap mengakui Israel dan kita siap membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Kami juga menyampaikan bahwa Indonesia siap menyumbang pasukan perdamaian di kawasan tersebut.
Dihubungi terpisah, dosen Hubungan Internasional dari Universitas Indonesia, Agung Nurwijoyo, menyatakan, ”Two State Solution” atau solusi dua negara sebenarnya menjadi opsi paling diplomatik dan superior guna menyelesaikan konflik Israel-Palestina. Namun, tatanan implementasinya dalam bentuk formasi ideal memiliki tantangan tersendiri, seperti batas geografis daerah yang disepakati dengan realitas di lapangan yang berbeda seiring perluasan kolonisasi Israel.
Lebih lanjut, jelas Agung, dukungan Indonesia atas solusi dua negara dapat dimaknai sebagai bentuk pengakuan atas kedaulatan Palestina dan Israel dalam praktik hidup berdampingan. Ia menilai Indonesia sudah berada pada posisi yang tepat untuk memberikan syarat mutlak bagi pengakuan terhadap Israel baru bisa dilakukan setelah adanya kemerdekaan Palestina.
”Saat ini mencapai kemerdekaan Palestina lebih prioritas bagi Indonesia dibandingkan dengan normalisasi hubungan dengan Israel,” kata Agung.
Terlebih lagi, sebut Agung, pengakuan kedaulatan Palestina kini menjadi arus utama internasional. Sepengetahuannya, lebih dari 140 negara telah mengakui Palestina. Semestinya sikap itu ditunjukkan secara lebih nyata dalam upaya menghentikan kolonialilsme dan genosida Israel atas Palestina.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/28/6f8fe4bdd978fa808ea6c02a1c856fde-20250528ron21.jpg)
Kendati begitu, lanjut Agung, jalan perdamaian tidak akan terwujud tanpa posisi setara antara Israel dan Palestina. Masalahnya, sering kali Israel menjadi pihak yang menghalangi diwujudkannya ”Two State Solutions”.
Di sisi lain, sebut Agung, kunjungan Macron ke Indonesia menandakan situasi global yang mulai berubah. Lebih-lebih topik mengenai Palestina turut diperbincangkan. Itu mengindikasikan pengakuan dari negara-negara ”Global North” atas kekuatan yang dimiliki negara-negara ”Global South”.
”Ini yang harus menjadi modalitas dalam diplomasi Indonesia, khususnya di isu Palestina,” kata Agung.
Penulis:
Nino Citra AnugrahantoEditor:
C. Wahyu Haryo PPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari