Indonesia Kejar Ambisi Jadi Basis Produksi Otomotif Kawasan

Pemerintah mendorong perluasan pasar otomotif nasional melalui aksesi ke sejumlah blok perdagangan.

10 Okt 2025 07:00 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Aguido Adri

JAKARTA, KOMPAS — Indonesia terus berupaya mengukuhkan diri sebagai basis produksi dan ekspor otomotif di kawasan. Ambisi itu didukung dengan capaian Toyota Motor Manufacturing Indonesia yang mengekspor 3 juta kendaraan utuh ke 100 negara. Ini merupakan capaian akumulatif Toyota Indonesia sejak pertama kali berproduksi tahun 1987.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, capaian ekspor 3 juta kendaraan oleh PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) itu merupakan bukti nyata keunggulan daya saing industri otomotif nasional di kancah global.

Capaian itu juga sekaligus menegaskan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang masih cukup kokoh di tengah gejolak perekonomian dunia yang semakin tidak pasti.

Demi mengukuhkan posisi Indonesia sebagai basis produksi otomotif di kawasan, Airlangga mengatakan, pemerintah terus berupaya membuka akses pasar baru bagi industri otomotif domestik. Salah satunya melalui rencana aksesi Indonesia ke blok perdagangan CPTPP (Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership).

Aksesi itu akan membuka peluang ekspor kendaraan ke negara-negara anggota, termasuk Meksiko, yang selama ini masih menerapkan batasan kuota perdagangan. ”Kami berharap mudah-mudahan dalam dua tahun ke depan ekspor Indonesia ke Meksiko bisa diperluas dan diperbanyak,” kata Airlangga, Kamis (9/10/2025).

Presiden Toyota Motor Corporation (TMC) Koji Sato, Presiden Daihatsu Motor Corporation (DMC) Masahiro Inoue, dan CEO Toyota Motor Asia (TMA) Masahiko Maeda hadir dalam acara pelepasan ekspor tersebut. Hadir pula Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, serta Bupati Karawang Aep Syaepuloh.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bersama Presiden Toyota Motor Corporation (TMC) Koji Sato, melepas kendaraan mobil untuk di ekspor keberbagai negara. Kegiatan itu merupakan rangkaian 3 Juta Ekspor Bagi Indonesia ke 100 negara oleh PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/10/2026)

Saat ini, kapasitas terpasang industri otomotif nasional mencapai 2 juta unit per tahun. Pemerintah pun terus mendorong agar produksi dan ekspor otomotif meningkat melalui kerja sama dagang dengan sejumlah mitra internasional lainnya.

Indonesia kini juga berpeluang mengekspor kendaraan ke Australia setelah kedua negara menandatangani perjanjian perdagangan bebas. Hal ini sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.

Selain memperluas ekspor, pemerintah berupaya menyederhanakan proses bisnis dan perizinan agar investasi di sektor otomotif semakin kompetitif. ”Toyota sudah membuktikan bahwa dengan proses bisnis yang lebih sederhana, ekspor bisa berdaya saing,” kata Airlangga.

Efek pengganda

Ia menambahkan, kekuatan industri otomotif nasional tidak hanya bertumpu pada produsen besar, tetapi juga pada ekosistem industri pendukung di dalam negeri. Indonesia dinilai memiliki ekosistem rantai pasok (supply chain) yang kuat serta partisipasi industri kecil-menengah sehingga efek pengganda (multiplier effect) industri otomotif pun besar.

Airlangga pun mengapresiasi Toyota Motor Manufacturing Indonesia yang sudah menggunakan hingga 80 persen komponen lokal untuk memproduksi 300.000 kendaraan per tahun.

Dari kanan ke kiri: Presiden Toyota Motor Corporation (TMC) Koji Sato, mendampingi Menteri Bidang, dan Menteri Ketenagakerjaan Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Luar Negeri Sugiono, dan Menteri Ketenagakerjaan Yassierli, melihat komponen kendaraan Toyota yang memiliki lokal konten mencapai 80 persen  PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/10/2026).

Saat ini, ada sekitar 540 pemasok tier 2 dan 240 pemasok tier 1 yang memasok berbagai komponen otomotif, seperti baja, plastik, ban, karet, dan kaca, dalam keseluruhan rantai pasok Toyota di Indonesia.

Secara keseluruhan, ekosistem Toyota di Indonesia mampu menyerap hingga 360.000 tenaga kerja. Sementara kontribusi pajak tahunan dari Toyota dan jaringan afiliasinya mencapai Rp 23 triliun.

Saat ini, Toyota masih menjadi pemain utama di pasar otomotif dalam negeri. Dengan kapasitas produksi kendaraan nasional yang sebesar 300.000 unit per tahun, pangsa pasar Toyota di Indonesia mencapai 32 persen.

Sementara Daihatsu, yang sepenuhnya dimiliki Toyota, memiliki pangsa pasar 17 persen. Dengan demikian, secara total Toyota menguasai 49 persen dari pasar otomotif Indonesia.

Airlangga menjelaskan, industri otomotif dan seluruh ekosistemnya, mulai dari pabrikan, dealer, hingga bengkel, berkontribusi 6 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Pada 2024, nilai ekspor otomotif nasional mencapai 6 miliar dollar AS dan volume ekspornya tahun ini ditargetkan meningkat hingga 500.000 unit kendaraan.

Deretan mobil yang diproduksi oleh PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/10/2025)

Secara global, otomotif dunia memproduksi 92,5 juta kendaraan. Angka tersebut didominasi mesin internal combustion engine (pembakaran konvensional), yakni sekitar 80 persen dari total produksi atau sebanyak 74,7 juta kendaraan.

Adapun di tingkat regional, Indonesia menjadi salah satu produsen kendaraan terbesar di Asia Tenggara bersama Thailand dan Malaysia. Total produksi Indonesia sekitar 1,2 juta unit per tahun, separuh dari total pasar ASEAN yang mencapai 3,15 juta unit per tahun.

Fondasi ekonomi

Airlangga menegaskan, keberhasilan sektor otomotif mencerminkan stabilitas ekonomi nasional yang tetap terjaga. Ia menjabarkan, dalam satu tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, pertumbuhan ekonomi tetap berada di atas 5 persen, inflasi terkendali di kisaran 2,5-2,6 persen, dan defisit anggaran berada di bawah 3 persen terhadap PDB. Selain itu, rasio utang pemerintah juga berada di angka 38,8 persen terhadap PDB.

Sementara nilai investasi pada semester pertama tahun 2025 mencapai Rp 942 triliun, neraca perdagangan mencatat surplus selama 64 bulan berturut-turut, serta tingkat pengangguran terbuka turun menjadi 4,76 persen alias terendah sejak 1998.

”Jadi, perekonomian Indonesia masih aman sehingga harapannya Toyota masih bisa investasi untuk 50 tahun ke depan,” lanjutnya.

Suasana ruang display yang menampilkan keranjang Zenix HEV yang diproduksi oleh PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/10/2025).

Pemerintah juga mendorong agar industri otomotif nasional tidak tertinggal dalam perkembangan teknologi global. Airlangga mengatakan, Presiden Prabowo telah meminta percepatan pengembangan ekosistem semikonduktor dan kecerdasan buatan (AI) di sektor otomotif.

Beberapa produsen semikonduktor, seperti Infineon, sudah hadir di Indonesia. ”Ini bagian dari upaya memperkuat daya saing dan kesiapan industri dalam negeri menuju era kendaraan cerdas,” katanya.

Chief Executive Officer Toyota Motor Corporation Koji Sato menyatakan, Toyota Motor Corporation berkomitmen untuk terus memperkuat kehadiran dan investasi di Indonesia, baik sebagai basis produksi, riset, maupun ekspor kendaraan untuk kawasan Global South atau bagian selatan dunia.

Sato menekankan, capaian ekspor ke lebih dari 100 negara menjadi simbol kemampuan industri otomotif Indonesia dalam menghasilkan produk berkualitas tinggi dan diminati pasar global.

”Pencapaian 3 juta unit kendaraan yang diekspor ke 100 negara ini menjadi pengingat akan kemampuan (industri) Indonesia dan standar kualitas dari apa yang telah kami hasilkan di sini,” ujar Sato.

Kendaraan roda empat yang diproduksi oleh PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Karawang, Jawa Barat siap diekspor ke berbagai negara. Kendaraan itu langsung dilepas oleh Menteri Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Presiden Toyota Motor Corporation (TMC) Koji Sato, di pabrik Toyota, di Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/10/2025)

Menurut Sato, keberhasilan Toyota tidak lepas dari kemampuan dan dedikasi tenaga kerja Indonesia yang menjadi tulang punggung industri otomotif nasional.

Menatap masa depan, Toyota berencana memperkuat operasi riset dan pengembangan (R&D) di Indonesia serta menjadikan Indonesia sebagai pusat ekspor dan inovasi untuk kawasan selatan dunia (Global South).

Langkah ini, lanjutnya, sejalan dengan visi Astacita Presiden Prabowo untuk membangun perekonomian yang berkelanjutan dan inklusif.

Dalam upaya menuju netralitas karbon, Toyota pun akan terus mengembangkan beragam teknologi kendaraan elektrifikasi. Salah satunya, mobil hibrida dan bahan bakar bioetanol yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga memberi manfaat bagi rantai pasok dan kesejahteraan petani.


Kerabat Kerja

Penulis:

Aguido Adri
 | 

Editor:

Agnes Theodora
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti