Indra Sjafri, antara Mimpi Piala Dunia U-20 dan Jejak Djamiat Dalhar

Dari China, tim U-20 Indonesia memulai ambisi menembus Piada Dunia U-20 2025. ”Garuda Muda” tak boleh kalah dari Iran dan Uzbekistan demi menuju Chile.

12 Feb 2025 14:09 WIB · Olahraga

Oleh Muhammad Ikhsan Mahar

Tim U-20 Indonesia bakal menjadi skuad pertama yang memulai persaingan menuju Piala Dunia pertama di tahun ini. Kepastian untuk bisa mewujudkan mimpi tampil di Piala Dunia U-20 bakal tersaji di babak utama Piala Asia U-20 2025 yang digelar di China.

Setelah itu, bergiliran tim U-17 Indonesia bakal bertarung di Piala Asia U-17 di Arab Saudi, April, serta tim nasional Indonesia akan menjalani empat laga pamungkas putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026 pada Maret dan Juni ini.

Meskipun tiga tim itu harus menemui jalan terjal untuk menuju pentas dunia, tim U-20 asuhan Indra Sjafri memiliki kans yang lebih berat.

Demi menembus Piala Dunia U-20 untuk kali kedua dalam sejarah ”Garuda Muda” sejak edisi 1979, Indra harus membawa tim asuhannya menembus babak semifinal.

Dalam dua kesempatan memimpin tim di Piala Asia U-20 sebelumnya, yakni edisi 2014 dan 2018, capaian terbaik Indra adalah membawa Indonesia lolos ke babak perempat final. Mimpi ke Piala Dunia dikandaskan oleh Jepang di babak perempat final.

Jalan Dony Tri Pamungkas dan kawan-kawan untuk lolos ke fase gugur juga tidak mudah. Mereka tergabung dengan Iran, Uzbekistan, dan Yaman di Grup C.

Pesepakbola Tim Indonesia U-20 berlatih di Stadion Madya, Kompleks Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Rabu (15/1/2025). Latihan tersebut digelar sebagai persiapan Piala Asia U-20 2025 yang akan berlangsung pada12 Februari hingga 1 Maret 2025 di China. KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO (TOK) 15-01-2025

Indonesia akan memulai perjalanan menuju Piala Dunia U-20 2025 yang bakal digelar di Chile dengan menghadapi Iran, Kamis (13/2/2025) pukul 18.30 WIB, di Stadion Pusat Latihan Sepak Bola Pemuda Shenzhen.

Tiga hari berselang, Indonesia bertemu Uzbekistan di tempat yang sama. Laga pamungkas fase grup ditutup dengan menghadapi Yaman, 19 Februari.

Dengan merujuk kualitas pembinaan usia dini dan sejarah tim, Iran dan Uzbekistan adalah pesaing terkuat Garuda Muda untuk lolos ke babak perempat final. Iran, yang pernah juara empat kali Piala Asia U-20 pada dekade 1970-an, menembus perempat final pada edisi 2023.

Iran juga berambisi lolos ke Piala Dunia U-20. Kali terakhir mereka menembus Piala Dunia U-20 tercipta pada 2017 di Korea Selatan.

Adapun Uzbekistan berstatus juara bertahan Piala Asia U-20. Gelar juara perdana pada edisi 2023 membawa mereka menembus Piala Dunia U-20 2023 di Argentina. Di Piala Dunia U-20, langkah Uzbekistan terhenti di babak 16 besar akibat kalah 0-1 dari Israel.

Selama dekade 2010-an, Uzbekistan telah tiga kali lolos ke Piala Dunia U-20. Itu artinya mereka mampu lolos minimal ke semifinal Piala Asia U-20 pada tiga kali dari lima partisipasi.

Pesepakbola Tim Indonesia U-20 melakukan pemanasan saat berlatih di Stadion Madya, Kompleks Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Rabu (15/1/2025). Latihan tersebut digelar sebagai persiapan Piala Asia U-20 2025 yang akan berlangsung pada12 Februari hingga 1 Maret 2025 di China. KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO (TOK) 15-01-2025

Demi bisa menjaga asa lolos ke fase gugur Piala Asia U-20 2025 dan Piala Dunia U-20 2025, Garuda Muda pantang kalah dari Iran dan Uzbekistan. Peluang Indonesia merebut salah satu dari dua jatah fase gugur dari Grup C akan lebih terbuka seandainya Indonesia bisa meraih empat poin dari dua gim awal menghadapi duo raksasa Asia.

”Kami harus fokus, disiplin, dan kerja keras sejak menit pertama menghadapi Iran,” tutur Dony di sela sesi latihan di Shenzen, Selasa (11/2/2025), dilansir laman PSSI.

Adapun Yaman adalah tim yang amat terbuka bagi Indonesia untuk meraih tiga poin. Meskipun pada babak kualifikasi Piala Asia U-20 2025 duel kedua tim berakhir imbang 1-1, Indonesia memiliki pengalaman lebih baik di ajang utama Piala Asia U-20. Yaman belum pernah lolos ke fase gugur pada lima partisipasi Piala Asia U-20 sejak pergantian milenium.

Kreativitas lini tengah

Demi bisa bersaing di Grup C, Indra harus mengangkat performa timnya setelah masih penuh kekurangan di babak kualifikasi hingga tiga laga uji coba bertajuk Mandiri U20 Challenge Series di Sidoarjo, Jawa Timur, Januari lalu. Pada enam pertandingan di dua turnamen itu, kelemahan utama skuad Garuda Muda adalah minimnya kreativitas lini tengah.

Umpan-umpan progresif hingga operan final masih menjadi kendala untuk menghadirkan peluang di kotak penalti lawan. Kondisi itu tentu menjadi pekerjaan rumah bagi para pemain tengah, yaitu Toni Firmansyah, Evandra Florasta, Fandi Bagus, dan Aditya Warman.

Tanpa perbaikan performa para pemain di jantung permainan, Indonesia bakal kesulitan membongkar pertahanan lawan dengan kualitas mumpuni. Apalagi, Iran dan Uzbekistan memiliki pemain dengan kualitias individu jauh lebih baik dari lawan-lawan tim U-20 Indonesia sebelumnya, seperti Timor Leste, Maladewa, Yaman, Suriah, Jordania, dan India.

Pesepakbola Tim Indonesia U-20 melakukan pemanasan saat berlatih di Stadion Madya, Kompleks Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Rabu (15/1/2025). Latihan tersebut digelar sebagai persiapan Piala Asia U-20 2025 yang akan berlangsung pada12 Februari hingga 1 Maret 2025 di China. KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO (TOK) 15-01-2025

Jika belum ada perbaikan di tengah, serangan Indonesia masih akan monoton mengandalkan umpan jauh dari pemain belakang dan akselerasi pemain-pemain sayap.

Dua kekuatan itu amat rawan jika menjadi andalan karena umpan-umpan jauh kurang efektif untuk digunakan ketika melawan tiga pesaing di Grup C yang memiliki postur tubuh tinggi yang ideal untuk menghadapi bola udara. Lalu, sekadar mengandalkan serangan dari sayap bakal sulit dilakukan karena Iran dan Uzbekistan juga memiliki sayap-sayap cepat nan tangguh.

Situasi itu membuat fokus pemain sayap Indonesia, seperti Dony, Welber Jardim, Marselinus Ama Ola, dan Arlyansyah Abdulmanan, akan terpecah untuk meredam serangan lawan serta menginisiasi serangan.

Di tengah keraguan itu, Indra optimistis anak asuhannya bisa menunjukkan performa terbaik di Piala Asia U-20.

“Semoga 23 pemain mampu memberikan kemampuan maksimal untuk menjawab harapan seluruh masyarakat Indonesia,” ucap Indra.

Capaian sejarah

Indra telah menyamai capaian mendiang pelatih legendaris nasional, Djamiat Dalhar. Indra dan Djamiat adalah pelatih yang memimpin Indonesia pada tiga edisi Piala Asia U-20.

Djamiat mengasuh skuad muda Indonesia pada Thailand 1967, Filipina 1970, dan Jepang 1971. Ia membantu Indonesia menembus final pada edisi 1967 dan 1970, meski dikalahkan masing-masing oleh Israel dan Burma (Myanmar) dengan skor 0-3.

Pelatih tim U-20 Indonesia, Indra Sjafri memberikan pengarahan kepada Muhammad Iqbal saat melawan Maladewa dalam babak Kualifikasi Piala Asia U-20 2025 Grup F di Stadion Madya, Jakarta Pusat, Rabu (25/9/2024). Tim U-20 Indonesia menang 4-0 atas Maladewa. KOMPAS/AGUS SUSANTO (AGS) 25-9-2024

Pada dua edisi itu, Djamiat membawa Indonesia nirkalah hingga partai puncak. Di Thailand 1967, misalnya, Indonesia melaju ke final dengan empat kemenangan dan sekali seri dengan mencetak 17 gol dan lima kemasukan.

Tiga tahun berselang, di Filipina, Indonesia tampil sempurna dengan menang di lima laga. Dalam laga itu, skuad Garuda Muda mencetak tujuh gol dan hanya kebobolan satu gol.

Dengan level persaingan kontinental yang telah jauh meningkat, tentu terlalu berlebihan memasang target tim U-20 Indonesia bisa berlaga di babak final Piala Asia U-20 2025. Membantu skuad Garuda Muda menembus semifinal di China serta menyabet tiket ke Chile untuk berlaga di Piala Dunia U-20 2025 akan membawa nama Indra lebih harum dibandingkan Djamiat.

Selamat berjuang, Garuda Muda!


Kerabat Kerja

Penulis:

Muhammad Ikhsan Mahar
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra