Industri Ban Tertekan, Ratusan Pekerja Terancam PHK

Permintaan pasar domestik dan global menurun sehingga penyerapan produk ban dalam negeri lesu. Faktor lain, seperti harga gas dan bahan baku, menambah tekanan.

04 Nov 2025 08:00 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS/PRIYOMBODO

Oleh Aguido Adri, Nikolaus Harbowo

JAKARTA, KOMPAS — Industri ban nasional tengah menghadapi tekanan berat akibat menurunnya permintaan, mahalnya energi, dan banjir produk impor. Di tengah kondisi itu, rencana pemutusan hubungan kerja di PT Multistrada Arah Sarana Tbk, produsen ban Michelin, menandakan kian rapuhnya sektor manufaktur berbasis karet di dalam negeri.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Ban Indonesia (APBI) Aziz Pane mengatakan, kondisi industri ban nasional kini memang mengalami tantangan baik dari dalam maupun luar negeri. Berbagai tekanan itu pun mulai memengaruhi daya saing mereka.

Salah satu produsen ban, PT Multistrada Arah Sarana Tbk yang memproduksi ban Michelin, dilaporkan akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap lebih dari 200 karyawannya. Selain itu, ada satu pabrik ban lagi di Citeureup, Jawa Barat, yang saat ini merumahkan sementara sebagian karyawannya.

”Penyebab utamanya adalah daya beli yang sedang rendah. Permintaan di pasar domestik dan global sedang menurun sehingga membuat penyerapan produk ban dalam negeri lesu,” ujar Aziz saat dihubungi Kompas, Senin (3/11/2025).

Aziz menjelaskan, dengan penurunan permintaan itu, kondisi petani karet dalam negeri pun mengalami kelesuan. Petani karet memegang peranan penting dalam rantai pasok karet alam yang merupakan bahan baku pembuatan ban.

Aktivitas petani karet di kebunnya di Desa Cahaya Mas, Mesuji Makmur, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, Kamis (04/01/2024). Area perkebunan karet di desa tersebut sudah dimulai sejak tahun 1992. Petani butuh bantuan untuk meremajakan tanaman karet mereka agar produktivitas kembali tinggi. Kompas/Priyombodo (PRI) 04-01-2024

Penurunan permintaan itu berpotensi membuat petani karet kehilangan pasar dan beralih menanam komoditas lain, seperti tebu, singkong, dan kelapa sawit. Jika hal itu terjadi, pasokan karet dari petani untuk industri dikhawatirkan menurun. Padahal, industri ban merupakan bagian penting dari rantai hilir karet alam yang menyerap hasil produksi jutaan petani.

Data Analisis Kinerja Perdagangan Karet 2023 dari Kementerian Pertanian menunjukkan, produksi karet Indonesia pada 2023 adalah 3,19 juta ton atau naik dari tahun sebelumnya yang sebesar 3,14 juta ton. Namun, pada 2024, jumlahnya menurun. Produksi karet nasional menjadi hanya 2,26 juta ton dengan volume ekspor 1,66 juta ton.

Merujuk buku Outlook Komoditas Perkebunan Karet oleh Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian 2025, luas areal pertanian cenderung menurun setiap tahun sejak 2016 hingga 2025. Rata-rata penurunannya adalah 1,81 persen per tahun. Produksinya pun cenderung menukik dengan laju penurunan 3,89 persen per tahun.

Kesulitan penuhi bahan baku

Dengan kondisi itu, industri ban nasional kesulitan memenuhi kebutuhan bahan baku. Dari total komponen ban, hanya 27 persen yang berasal dari karet alam produksi dalam negeri. Adapun 70 persen bahan baku lainnya, seperti carbon black, karet sintetis, dan bahan kimia, masih diimpor.

Petani bersiap menimbang karet sebelum dijual di Desa Aur Kuning, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar Riau Kamis (12/12/2024). Petani karet di Desa Aur Kuning merupakan petani karet varietas lokal. Pohon karet varietas lokal baru bisa dideres diusia 7 tahun. Melalui pedampingan YAPEKA konsorsium KERABAT para petani meningkatkan produktifitas dan kualitas karet melalui intensifikasi lahan dan pemberian alat dukung. Kompas/Bahana Patria Gupta (BAH)

Untuk memenuhi bahan baku, Aziz mendorong ada regulasi yang berpihak pada industri. Regulasi itu diharapkan bisa mengatur soal bahan baku murah serta memberi pelaku usaha kemudahan dalam mengimpor bahan baku.

Aspek lain yang membebani industri adalah harga energi, khususnya gas. Aziz menuturkan, pabrik ban membutuhkan gas dalam jumlah besar untuk proses produksi. Namun, harga gas industri di Indonesia masih sekitar 16 dollar AS per juta metrik british thermal unit (MMBTU). Harga gas Indonesia jauh di atas negara pesaing, seperti Vietnam, yang hanya 4 dollar AS per MMBTU.

Pihaknya sudah mengajukan kepada pemerintah agar diberi keringanan harga gas. Pelaku industri juga meminta kebebasan untuk membeli gas. Selama ini, harga gas yang mahal disertai tingginya harga bahan baku lantaran bergantung pada nilai tukar dollar AS telah menekan industri ban.

”Kenapa gas ini tidak dibebaskan saja (ke pelaku industri) untuk membeli? Kami nanti lapor ke pemerintah apa yang kami beli. Kalau tidak, kami tidak bisa melawan Vietnam, harga gas mereka hanya 4 dollar AS per MMBTU,” lanjutnya.

Fasilitas produksi ban Michelin di Nongkhae, Provinsi Saraburi, Thailand, Kamis (23/10/2025). Fasilitas produksi Michelin Nongkhae ini memiliki lini produksi utama untuk ban truk, bus dan pesawat.

Aziz juga menyoroti membanjirnya ban impor, terutama dari China, akibat kelebihan pasokan atau oversupply di ”negeri tirai bambu” itu. Saat ini, produk-produk China yang terdampak kondisi geopolitik memang sedang marak dialihkan ke pasar lain yang aturannya longgar, seperti Indonesia.

”Produk dari China itu murah karena mereka punya ekosistem industri yang matang dan mendapat dukungan langsung dari pemerintah. Saat mereka oversupply, akhirnya barangnya masuk ke sini,” kata Aziz.

Menurut dia, produk ban impor murah itu masuk melalui 33 pelabuhan yang disinyalir menjadi pintu penyelundupan tanpa bea masuk. Selain jalur selundupan, produk impor juga ditengarai masuk lewat pelabuhan resmi.

Kesulitan mengekspor

Sudah terimpit impor, industri ban nasional juga kesulitan mengekspor produk. Aziz mencontohkan, Turki yang menjadi tujuan ekspor ban Indonesia mengenakan tarif tinggi sejak 2014. Pemerintah Indonesia perlu melakukan pendekatan dengan Pemerintah Turki untuk meninjau ulang hubungan dagang yang adil dan saling menguntungkan.

Kesibukan pekerja di fasilitas produksi Michelin di Nongkhae, Provinsi Saraburi, Thailand, Kamis (23/10/2025). Fasilitas produksi Michelin Nongkhae ini memiliki lini produksi utama untuk ban truk, bus dan pesawat.

Sementara sejak 2023, India menerapkan sertifikasi Biro Standar India atau Bureau of Indian Standards (BIS) yang membuat ekspor ban ke negara itu praktis berhenti. Potensi kerugian yang dialami industri dalam negeri akibat kebijakan itu ditakar sekitar 2 juta dollar AS per tahun.

”Padahal, Indonesia tidak pernah membekukan sertifikasi SNI untuk produk dari India. Berbagai upaya, termasuk di forum WTO (Organisasi Perdagangan Dunia), belum membuahkan hasil. Kami berharap pemerintah dapat mengambil langkah lebih tegas, baik secara bilateral maupun multilateral,” ujarnya.

Ekspor ke Thailand juga terkendala oleh kewajiban sertifikasi Thailand Industrial Standard (TISI) yang sampai sekarang belum terselesaikan sehingga ekspor ke sana terhenti sejak 2024. Tujuan pengaturan ASEAN Free Trade Agreement (FTA) dengan tarif nol persen pun dipertanyakan karena perdagangan di kawasan menjadi tidak imbang.

Terakhir, ekspor ke Amerika Serikat juga terganggu akibat kebijakan tarif baru Presiden AS Donald Trump. Sebelum tarif Trump, ekspor ke AS dikenai tarif nol persen berkat fasilitas Generalized System of Preferences (GSP) untuk negara berkembang.

Setelah tarif Trump, tarif naik menjadi 19 persen. Bahkan ada tarif tambahan 25 persen untuk suku cadang otomotif. ”Akibatnya, total tarif ekspor ban Indonesia ke AS kini sekitar 21 persen. Yang jelas, ini menurunkan daya saing produk kita di pasar sana,” kata Aziz.

Audensi dengan Presidium Koalisi Serikat Pekerja-Partai Butuh di DPR, Jakarta, Selasa (30/9/2025), terkait penyampaian draft RUU Ketenagakerjaan. Dalam audensi itu, Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad langsung menemui perwakilan serikat pekerja.

Kunjungan Dasco

Berbagai hambatan dan tantangan ini pun membuat industri ban menghadapi tekanan berat. Alhasil, sejumlah perusahaan terpaksa merumahkan bahkan terancam melakukan PHK terhadap karyawannya. Salah satunya PT Multistrada Arah Sarana Tbk yang memproduksi ban Michelin.

Kabar ratusan pekerja yang mengalami PHK di perusahaan itu membuat Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad mendatangi PT Multistrada Arah Sarana Tbk pada Senin. Kunjungan itu dilakukan setelah DPR menerima laporan dari serikat pekerja mengenai rencana PHK sepihak yang dinilai tidak sesuai dengan perjanjian kerja bersama dan ketentuan hukum ketenagakerjaan.

Dari kunjungan itu, Dasco meminta manajemen PT Multistrada Arah Sarana Tbk untuk menghentikan sementara proses PHK terhadap sejumlah pekerja. ”Kami datang untuk membantu menjembatani komunikasi antara pekerja dan perusahaan,” ujar Dasco.

Dalam pertemuan dengan perwakilan perusahaan, pihak manajemen menyampaikan, belum ada pekerja yang secara mengalami PHK. Perusahaan juga mengatakan, proses tersebut masih dalam tahap pembahasan internal.

Dasco menegaskan bahwa setiap langkah PHK harus mengacu pada perjanjian kerja bersama serta aturan ketenagakerjaan yang berlaku. Ia juga memberikan waktu kepada pihak perusahaan hingga Jumat (7/11/2025) untuk menuntaskan komunikasi dan klarifikasi terkait rencana PHK tersebut.

”Kami beri tenggat sampai Jumat agar pihak manajemen bisa menyampaikan laporan ke pemilik perusahaan dan memastikan penyelesaian sesuai aturan,” katanya.

Peserta pameran menjelaskan cara kerja mesin manufaktur kepada pengunjung InaRI Expo 2025 di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta, Selasa (28/10/2025). Mengusung tema "Unlocking Innovation, Empowering the Future with AI", acara ini menjadi panggung interaksi antara sains, industri, dan masyarakat, di tengah pesatnya perkembangan akal imitasi (AI) dan teknologi lainnya. Tidak hanya sebagai ajang pameran, InaRI Expo 2025 menjadi kolaborasi lintas sektor untuk menghubungkan hasil riset dengan kebutuhan nyata masyarakat dan dunia industri. Pameran berlangsung hingga 30 Oktober 2025.

KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA)
28-10-2025

Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arief menuturkan, Kemenperin sudah meminta penjelasan secara langsung kepada pihak perusahaan mengenai informasi PHK massal tersebut.

”Kami sampaikan bahwa setiap proses penyesuaian tenaga kerja harus mematuhi ketentuan hukum dan memastikan hak-hak pekerja terpenuhi,” ucap Febri. Hal itu, antara lain, mencakup perlunya konsultasi dengan serikat pekerja, penerapan perjanjian kerja bersama, serta pemenuhan hak-hak pekerja sesuai regulasi.

Dari pertemuan itu, pihak perusahaan menyampaikan sedang mengalami penurunan permintaan sehingga berimbas pada penurunan produksi. Hal itu memaksa perusahaan melakukan efisiensi dan pengurangan pekerja.

Febri menjelaskan, perusahaan ban ini berada di kawasan berikat sehingga sebagian besar hasil produksinya untuk diekspor. Salah satu negara tujuan ekspor adalah AS.


Kerabat Kerja

Penulis:

Aguido Adri, Nikolaus Harbowo
 | 

Editor:

Agnes Theodora
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti