Di saat daya beli melemah, penjualan sepeda motor masih stabil. Kebijakan pemerintah dinilai masih membantu meski sementara.
09 Mar 2025 18:12 WIB · Ekonomi
Di tengah keadaan ekonomi yang tidak stabil hingga daya beli melemah, industri sepeda motor masih bertahan bahkan cenderung stabil. Para pelaku industri ini sekarang bersandar dengan kebijakan pemerintah sambil ”merayu” konsumen dengan inovasi kendaraan listrik.
Daya beli masyarakat berperan penting dalam roda perekonomian karena berhubungan langsung dengan tingkat konsumsi rumah tangga. Di Indonesia, konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari 50 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Ini menunjukkan betapa pentingnya daya beli sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi RI.
Awal pekan ini, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data deflasi sebelum Lebaran tiba. Menurut data tersebut, tingkat deflasi bulanan (month to month) tercatat sebesar 0,48 persen dan deflasi tahunan (year on year) 0,09 persen. Komoditas yang paling banyak berkontribusi pada deflasi antara lain tarif listrik, beras, daging ayam ras, bawang merah, tomat, dan cabai merah. Deflasi ini turut dipengaruhi daya beli yang terus melemah sejak awal tahun. Hal ini berdampak ke banyak sektor, termasuk industri sepeda motor.
Ketua bidang komersial Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Sigit Kumala mengatakan, sejak Januari-Februari 2025 terjadi penurunan penjualan motor jika dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya (year on year). Penurunannya mencapai 5,98 persen atau lebih kurang 35.000 unit.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/18/59234c08a73f8f9d374ff8d9a96a4d9f-WhatsApp_Image_2025_02_18_at_6.20.31_PM.jpeg)
Berdasarkan data dari AISI, penjualan sepeda motor pada Januari 2025 mencapai 557.191 unit, sedangkan pada Januari 2024, jumlahnya mencapai 592.658 unit. ”Turunnya enggak terlalu signifikan karena diuntungkan beberapa hal, salah satunya opsen pajak yang ditunda diterapkan. Namun, ini, kan, ditunda ya, bukan dibatalkan,” kata Sigit.
Opsen pajak kendaraan bermotor merupakan amanat dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (HKPD). Dalam kebijakan itu, pemerintah provinsi dapat memungut opsen dari Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan (MBLBB). Sementara pemerintah kabupaten/kota dapat memungut opsen dari Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan bea balik nama kendaraan bermotor (BBNKB).
Untuk opsen pajak kendaraan bermotor, baik PKB dan BBNKB yang berhak dikenakan oleh pemerintah kabupaten dan atau kota adalah sebesar 66 persen dari PKB dan BBNKB yang diterima pemprov. Kebijakan ini bisa membuat perusahaan motor menaikkan harga produk andalan mereka.
Untungnya, sebagian besar pemerintah daerah belum menerapkan kebijakan tersebut sehingga masyarakat masih bisa membeli kendaraan roda dua tanpa khawatir pajak tambahan. Sementara, pemerintah daerah yang menjalankan kebijakan itu memberikan insentif atau subsidi untuk masyarakat.
”Namun, insentifnya enggak 100 persen. Mungkin hanya 50-60 persen. Kalau nanti sudah diberlakukan semua, animo masyarakat bisa turun untuk beli kendaraan,” ungkap Sigit.
Dalam situasi itu, industri sepeda motor mulai khawatir meski penjualan mereka masih stabil. Namun, salah satu raksasa industri sepeda motor di Indonesia, PT Astra Honda Motor (AHM) masih mencatat raihan positif.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/09/248a4eac01d6c80b1b2433ec77f4781b-20250309IDO_Thomas_Wijaya.jpeg)
Executive Vice President Director PT Astra Honda Motor Thomas Wijaya dalam sebuah acara buka puasa bersama media di Jakarta, Kamis (6/3/2025), mengatakan, capaian positif penjualan sepeda motor Honda itu tak lepas dari berbagai faktor, salah satunya sejumlah pemerintah daerah (pemda) yang menunda implementasi penerapan opsen pajak.
Perusahaan sepeda motor Jepang itu mencatatkan penjualan hingga 860.000 unit sejak Januari-Februari 2025. Model yang paling mendominasi penjualan masih di segmen skuter matik, seperti Honda BeAT, Scoopy, dan Vario.
”Kalau dibandingkan sebelumnya (2024), itu angkanya sangat stabil. Memang kebijakan (pemerintah di daerah) itu membantu dan mendukung daya beli masyarakat yang sedang melemah,” ungkap Thomas.
Selain kebijakan, ia menilai kondisi pertanian di Indonesia relatif lebih stabil sehingga banyak panen yang berhasil. Hal itu juga sangat memengaruhi penjualan sepeda motor di mana sebagian besar petani atau masyarakat kelas menengah ke bawah merupakan konsumen utama kendaraan roda dua. Thomas pun berharap penjualan sepeda motor terus bertumbuh ke depannya.
”Ya, karena, kan, pertama ada momentum Lebaran. Kedua juga kami berharap ada momentum panen sehingga mendorong penjualan sepeda motor,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/09/87c84e2e-b2af-4c6d-bd97-404849490228_jpg.jpg)
Industri sepeda motor memang perlu khawatir penjualannya menurun. Namun, di sisi yang lain, mereka juga berlomba-lomba berinovasi pada kendaraan listrik.
Sepeda motor listrik pada dasarnya masih jadi barang mahal. Namun, bantuan pemerintah yang menyubsidi sepeda motor listrik membuat industri optimistis sepeda motor listrik akan mendapatkan tempat di hati masyarakat. Jika melihat data AISI, pada dua bulan belakangan Honda mendominasi penjualan sepeda motor listrik jika dibandingkan produsen lainnya, TVS. Setidaknya 8.000 unit sepeda motor listrik terjual selama Januari-Februari.
Hal itu diraih Honda dengan cara meluncurkan dua produk baru sepeda motor listrik, Honda Icon e dan CUV e:. Icon e merupakan sepeda motor listrik yang bisa diisi ulang daya langsung, sedangkan CUV dibuat dengan inovasi pengisian daya langsung dan sistem tukar baterai (swappable battery). Kapasitas baterainya pun lebih besar.
Dua sepeda motor listrik keluaran 2024 itu menambah jajaran sepeda motor listrik Honda yang sebelumnya sudah terjual di pasar Indonesia, Honda EM1 e dan EM1 e Plus. Total, AHM sudah mengeluarkan empat jenis sepeda motor listrik dengan inovasinya masing-masing.
Thomas menjawab strategi bisnis AHM di sepeda motor listrik adalah dengan memperkuat ekosistem mereka di daerah-daerah. Selama ekosistem tak dibentuk dan diperluas, sepeda motor listrik bakal sulit dijual. ”Kamu punya bengkel yang tersebar di seluruh Indonesia dan semuanya bisa menangani sepeda motor listrik, dilengkapi onderdilnya juga,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/08/12/24a5574f-9430-40ba-90c8-02c19c8a67e3_jpg.jpg)
Selain itu, kata Thomas, pihaknya juga menyiapkan suku cadang kendaraan listrik dengan harga yang lebih murah, mudah dijangkau, atau diperoleh di seluruh bengkel resmi mereka di Indonesia. ”Kami juga punya direct charging dan turbo charging di stasiun pengisian daya. Ini diupayakan di seluruh bengkel ada,” ujarnya.
Ekosistem punya peranan begitu penting, kata Thomas, untuk memastikan produk kendaraan listrik bisa digunakan di mana saja tak hanya di kota-kota besar. Ekosistem itu bahkan harus dibuat hingga ke perdesaan karena pengguna sepeda motor ada begitu banyak di desa.
Upaya terakhir, ungkap Thomas, adalah strategi pembiayaan. Kian mudah strategi pembiayaan untuk membeli sepeda motor akan semakin tinggi tingkat penjualannya. Untuk itu, AHM bekerja sama dengan lembaga pembiayaan yang disesuaikan dengan kebutuhan sepeda motor listrik.
”Sepeda motor listrik punya potensi besar ke depan, tetapi ada banyak hal yang dipertimbangkan, seperti keamanan sepeda motor listrik, daya jangkau atau jarak tempuh, dan nilai jual kembalinya. Kalau penjualannya tidak sebaik (sepeda motor bensin) itu, wajar karena pertimbangannya banyak. Apalagi, kalau kami ini masih di tahap pengenalan, kan,” jelas Thomas.
Penulis:
Dionisius Reynaldo TriwibowoEditor:
Aloysius Budi Kurniawan