Eifel Roboh, Bukti Baru Kabar Palsu Merugikan Pariwisata
”Menara Eiffel akan dirobohkan”. Kabar mengejutkan itu viral. Warganet dengan cepat menyebarkan tanpa cek kebenarannya. Ternyata hoaks. Bisnis pariwisata merugi.
”Tahun depan, Menara Eiffel akan dibuldoser dan diubah jadi perosotan raksasa atau gedung konser”. Begitu kabar yang beredar dan jadi viral di media sosial sejak bulan lalu.
Warganet segera heboh dan menyebarkan lagi kabar sensasi tak jelas itu di berbagai platform media sosial. Menjadi semakin santer ketika ikon bersejarah kota Paris, Perancis, itu ditutup pada 2 Oktober 2025.
Padahal, Menara Eiffel waktu itu ditutup karena alasan keamanan. Ada gelombang unjuk rasa besar-besaran di 200 kota di seluruh Perancis. Unjuk rasa itu memprotes pemotongan anggaran pemerintah dan menuntut pajak lebih tinggi bagi kelompok orang kaya.
Di Paris, ribuan orang bergabung dalam aksi mogok nasional. ”Karena aksi mogok, Menara Eiffel ditutup. Kami mohon maaf,” begitu tertulis di papan pengumuman depan Menara Eiffel seperti diberitakan situs berita Euronews, Rabu (15/10/2025).
Klaim sensasional bahwa Menara Eiffel akan dirobohkan tahun depan juga semakin lari ke mana-mana. Padahal, tidak ada hubungannya.
Bangunan ikonik setinggi 330 meter ini menarik jutaan pengunjung setiap tahun. Pada 2023, pendapatannya mencapai 117,87 juta euro. Menara ini termasuk salah satu monumen Perancis yang tidak menerima subsidi negara dan mempekerjakan lebih dari 300 orang.
Gara-gara kabar hoaks menara ini akan dirobohkan, ratusan ribu warganet membagikan unggahan menyesatkan yang menyatakan menara ini sudah tamat riwayatnya. Informasi yang ditambahkan juga semakin mengarang.
Contohnya: ”Menara ini ditutup karena masa sewa operasionalnya berakhir”. ”Ada kelelahan struktural, biaya perawatan mahal, banyak keluhan publik”, dan lain-lain.
Informasi hoaks ini segera dimakan warganet lain yang langsung percaya tanpa konfirmasi. Lalu ikut menulis unggahan lain: ”Tunggu, Paris! Jangan hancurkan tempat lamaran impianku”, ”Oh... Ini seharusnya tidak terjadi”.
Untung saja masih ada yang kritis dan mempertanyakan validitas klaim itu. Mereka itu yang mencoba meyakinkan sesama warganet bahwa kabar itu hoaks atau palsu.
Société d’Exploitation de la Tour Eiffel (SETE), yang mengoperasikan Menara Eiffel, belum menanggapi klaim viral tersebut secara terbuka. Sampai saat ini, wisatawan masih bisa memesan tiket untuk mengakses lift Menara Eiffel melalui situs webnya.
Merusak reputasi
Kabar-kabar hoaks semacam yang terjadi pada Menara Eiffel itu dapat memicu kekacauan bagi destinasi wisata. Ini tidak hanya terjadi di Perancis, tetapi juga di berbagai negara.
Seperti di Italia. Jengkel dengan seringnya beredar informasi-informasi tak valid, Pemerintah Italia akan menindak ulasan hotel dan restoran palsu di media sosial dan internet.
Pemerintah mulai bertindak setelah para pemilik usaha mengeluhkan rusaknya reputasi mereka akibat ulasan-ulasan palsu itu. Menurut Kementerian Badan Usaha Italia, konten palsu atau manipulasi berdampak 6-30 persen dari pendapatan bisnis di sektor perhotelan dan pariwisata.
Untuk mencegah ulasan palsu, Italia sekarang punya aturan baru. Aturan itu mewajibkan wisatawan untuk memberikan bukti kunjungan mereka sebelum memberikan ulasan.
Menteri Pariwisata Italia Daniela Santanche menyatakan ini dilakukan untuk melindungi industri pariwisata. ”Dengan intervensi regulasi ini, kami berharap mendapatkan ulasan yang benar-benar jujur karena ini penting bagi perusahaan dan kepercayaan konsumen serta wisawatan,” ujarnya.
TripAdvisor, platform panduan wisata daring, pernah merilis Laporan Transparansi Ulasan pada 2020. Isi laporannya menyebutkan ada sekitar 1,3 juta ulasan palsu yang dikirimkan ke TripAdvisor pada 2022.
Mereka berhasil mencegah 72 persen ulasan palsu. Selain ulasan palsu, TripAdvisor juga menghapus 24.521 ulasan yang terkait dengan perusahaan ulasan berbayar pada 2022.
Jika ada orang yang melakukan pelanggaran, TripAdvisor akan memblokir konten, memberikan penalti, dan lencana merah di laman mereka. Ini supaya warganet yang membuka ulasan-ulasan di laman TripAdvisor bisa mengetahui secara persis mana yang ulasannya tidak bisa dipercaya.
Rekayasa AI
Selain informasi hoaks dan ulasan fiktif, wisatawan juga masih harus mewaspadai tempat-tempat wisatanya, apakah ada betulan atau tidak. Apakah tempat wisatanya itu betulan atau hasil rekayasa teknologi kecerdasan buatan.
Ada kasus, pasangan lansia asal Malaysia menempuh perjalanan berjam-jam ke lokasi wisata yang mereka tonton di video buatan kecerdasan buatan (AI). Mereka tidak sadar kalau videonya itu tidak nyata.
Tanpa mengecek lagi, mereka percaya saja pada laporan ”jurnalis tv” tentang tempat wisata yang ada kereta gantungnya. Ternyata, kereta gantungnya rekaan belaka.
The South China Morning Post, 10 Juli 2025, menyebutkan pasangan lansia itu berangkat dari Kuala Lumpur menuju ke lokasi wisata yang disebut Kuak Skyride di Kota Kuak Hulu, Perak. Sesampainya di sana, tidak ada.
Semua yang ada di video itu ternyata tidak nyata. Kasus serupa, ada pasangan lain yang juga memercayai video hasil rekayasa AI dan bahkan sudah sampai menyewa mobil seharga 9.000 ringgit.
Kedua kasus ini lalu jadi viral dan publik menuntut pemerintah mengeluarkan peraturan ketat. Untuk saat ini, belum ada undang-undang khusus yang mengatur tentang AI di Malaysia. Namun, sejak akhir tahun lalu, sudah ada kantor kecerdasan buatan nasional yang tugasnya membuat kebijakan dan peraturan.
Booking.com memperingatkan, AI memicu ledakan penipuan perjalanan. Selama tahun 2024, terjadi peningkatan 500-900 persen penipuan, terutama dalam phishing (orang-orang ditipu untuk menyerahkan detail informasi keuangan mereka). Ini semakin santer sejak alat AI generatif, seperti ChatGPT, muncul di pasaran.
BBC, 20 Juni 2024, menyebutkan serangan phishing sering kali mencoba meyakinkan orang untuk menyerahkan detail kartu mereka dengan mengirimkan tautan pemesanan internet palsu. Penipu sering menargetkan situs web seperti Booking.com dan Airbnb karena situs-situs itu memungkinkan orang untuk mendaftarkan tempat menginap mereka sendiri.
Menipu dengan memanfaatkan AI membuat penipuan lebih sulit dideteksi. Sebab, AI dapat menghasilkan gambar yang realistis dan teks yang jauh lebih akurat serta dalam berbagai bahasa.
Industri perhotelan dan wisawatan diimbau untuk menggunakan autentikasi dua faktor yang memakai pemeriksaan keamanan tambahan, seperti memasukkan kode yang dikirimkan ke ponsel. Ini cara terbaik untuk memerangi phishing dan pencurian kredensial. Publik juga harus lebih waspada untuk tidak mengklik tautan.
”Pastikan detail kontak tersedia di situs web dan ada nomor telepon. Lebih baik pesan paket liburan saja dan memesan penerbangan dan akomodasi secara terpisah. Pakai kartu kredit juga untuk memaksimalkan perlindungan,” kata Jane Hawkes, pakar konsumen yang berspesialisasi dalam industri perjalanan, kepada BBC.
”Tahun depan, Menara Eiffel akan dibuldoser dan diubah jadi perosotan raksasa atau gedung konser”. Begitu kabar yang beredar dan jadi viral di media sosial sejak bulan lalu.
Warganet segera heboh dan menyebarkan lagi kabar sensasi tak jelas itu di berbagai platform media sosial. Menjadi semakin santer ketika ikon bersejarah kota Paris, Perancis, itu ditutup pada 2 Oktober 2025.
Serial Artikel
Menara Eiffel Kembali Dibuka untuk Umum
Setelah sekitar sembilan bulan ditutup karena pandemi Covid-19, Menara Eiffel kembali dibuka untuk umum.
Padahal, Menara Eiffel waktu itu ditutup karena alasan keamanan. Ada gelombang unjuk rasa besar-besaran di 200 kota di seluruh Perancis. Unjuk rasa itu memprotes pemotongan anggaran pemerintah dan menuntut pajak lebih tinggi bagi kelompok orang kaya.
Di Paris, ribuan orang bergabung dalam aksi mogok nasional. ”Karena aksi mogok, Menara Eiffel ditutup. Kami mohon maaf,” begitu tertulis di papan pengumuman depan Menara Eiffel seperti diberitakan situs berita Euronews, Rabu (15/10/2025).
Klaim sensasional bahwa Menara Eiffel akan dirobohkan tahun depan juga semakin lari ke mana-mana. Padahal, tidak ada hubungannya.
Bangunan ikonik setinggi 330 meter ini menarik jutaan pengunjung setiap tahun. Pada 2023, pendapatannya mencapai 117,87 juta euro. Menara ini termasuk salah satu monumen Perancis yang tidak menerima subsidi negara dan mempekerjakan lebih dari 300 orang.
Gara-gara kabar hoaks menara ini akan dirobohkan, ratusan ribu warganet membagikan unggahan menyesatkan yang menyatakan menara ini sudah tamat riwayatnya. Informasi yang ditambahkan juga semakin mengarang.
Contohnya: ”Menara ini ditutup karena masa sewa operasionalnya berakhir”. ”Ada kelelahan struktural, biaya perawatan mahal, banyak keluhan publik”, dan lain-lain.
Informasi hoaks ini segera dimakan warganet lain yang langsung percaya tanpa konfirmasi. Lalu ikut menulis unggahan lain: ”Tunggu, Paris! Jangan hancurkan tempat lamaran impianku”, ”Oh... Ini seharusnya tidak terjadi”.
Untung saja masih ada yang kritis dan mempertanyakan validitas klaim itu. Mereka itu yang mencoba meyakinkan sesama warganet bahwa kabar itu hoaks atau palsu.
Société d’Exploitation de la Tour Eiffel (SETE), yang mengoperasikan Menara Eiffel, belum menanggapi klaim viral tersebut secara terbuka. Sampai saat ini, wisatawan masih bisa memesan tiket untuk mengakses lift Menara Eiffel melalui situs webnya.
Serial Artikel
Menara Eiffel Bertambah Tinggi
Menara yang dibangun Gustave Eiffel pada akhir abad ke-19 itu kini tingginya 330 meter. Selama lebih dari 100 tahun, Menara Eiffel juga telah dimanfaatkan untuk transmisi siaran.
Kabar-kabar hoaks semacam yang terjadi pada Menara Eiffel itu dapat memicu kekacauan bagi destinasi wisata. Ini tidak hanya terjadi di Perancis, tetapi juga di berbagai negara.
Seperti di Italia. Jengkel dengan seringnya beredar informasi-informasi tak valid, Pemerintah Italia akan menindak ulasan hotel dan restoran palsu di media sosial dan internet.
Pemerintah mulai bertindak setelah para pemilik usaha mengeluhkan rusaknya reputasi mereka akibat ulasan-ulasan palsu itu. Menurut Kementerian Badan Usaha Italia, konten palsu atau manipulasi berdampak 6-30 persen dari pendapatan bisnis di sektor perhotelan dan pariwisata.
Untuk mencegah ulasan palsu, Italia sekarang punya aturan baru. Aturan itu mewajibkan wisatawan untuk memberikan bukti kunjungan mereka sebelum memberikan ulasan.
Menteri Pariwisata Italia Daniela Santanche menyatakan ini dilakukan untuk melindungi industri pariwisata. ”Dengan intervensi regulasi ini, kami berharap mendapatkan ulasan yang benar-benar jujur karena ini penting bagi perusahaan dan kepercayaan konsumen serta wisawatan,” ujarnya.
TripAdvisor, platform panduan wisata daring, pernah merilis Laporan Transparansi Ulasan pada 2020. Isi laporannya menyebutkan ada sekitar 1,3 juta ulasan palsu yang dikirimkan ke TripAdvisor pada 2022.
Mereka berhasil mencegah 72 persen ulasan palsu. Selain ulasan palsu, TripAdvisor juga menghapus 24.521 ulasan yang terkait dengan perusahaan ulasan berbayar pada 2022.
Jika ada orang yang melakukan pelanggaran, TripAdvisor akan memblokir konten, memberikan penalti, dan lencana merah di laman mereka. Ini supaya warganet yang membuka ulasan-ulasan di laman TripAdvisor bisa mengetahui secara persis mana yang ulasannya tidak bisa dipercaya.
Serial Artikel
Hoaks Merajalela di Masa Pandemi
Data Masyarakat Anti Fitnah Indonesia menyebutkan, jumlah hoaks dan disinformasi pada 2020 mencapai 2.298 konten jauh melampaui tahun sebelumnya. Derasnya hoaks berpotensi menghambat upaya penanganan pandemi Covid-19.
Selain informasi hoaks dan ulasan fiktif, wisatawan juga masih harus mewaspadai tempat-tempat wisatanya, apakah ada betulan atau tidak. Apakah tempat wisatanya itu betulan atau hasil rekayasa teknologi kecerdasan buatan.
Ada kasus, pasangan lansia asal Malaysia menempuh perjalanan berjam-jam ke lokasi wisata yang mereka tonton di video buatan kecerdasan buatan (AI). Mereka tidak sadar kalau videonya itu tidak nyata.
Tanpa mengecek lagi, mereka percaya saja pada laporan ”jurnalis tv” tentang tempat wisata yang ada kereta gantungnya. Ternyata, kereta gantungnya rekaan belaka.
The South China Morning Post, 10 Juli 2025, menyebutkan pasangan lansia itu berangkat dari Kuala Lumpur menuju ke lokasi wisata yang disebut Kuak Skyride di Kota Kuak Hulu, Perak. Sesampainya di sana, tidak ada.
Semua yang ada di video itu ternyata tidak nyata. Kasus serupa, ada pasangan lain yang juga memercayai video hasil rekayasa AI dan bahkan sudah sampai menyewa mobil seharga 9.000 ringgit.
Kedua kasus ini lalu jadi viral dan publik menuntut pemerintah mengeluarkan peraturan ketat. Untuk saat ini, belum ada undang-undang khusus yang mengatur tentang AI di Malaysia. Namun, sejak akhir tahun lalu, sudah ada kantor kecerdasan buatan nasional yang tugasnya membuat kebijakan dan peraturan.
Booking.com memperingatkan, AI memicu ledakan penipuan perjalanan. Selama tahun 2024, terjadi peningkatan 500-900 persen penipuan, terutama dalam phishing (orang-orang ditipu untuk menyerahkan detail informasi keuangan mereka). Ini semakin santer sejak alat AI generatif, seperti ChatGPT, muncul di pasaran.
BBC, 20 Juni 2024, menyebutkan serangan phishing sering kali mencoba meyakinkan orang untuk menyerahkan detail kartu mereka dengan mengirimkan tautan pemesanan internet palsu. Penipu sering menargetkan situs web seperti Booking.com dan Airbnb karena situs-situs itu memungkinkan orang untuk mendaftarkan tempat menginap mereka sendiri.
Menipu dengan memanfaatkan AI membuat penipuan lebih sulit dideteksi. Sebab, AI dapat menghasilkan gambar yang realistis dan teks yang jauh lebih akurat serta dalam berbagai bahasa.
Industri perhotelan dan wisawatan diimbau untuk menggunakan autentikasi dua faktor yang memakai pemeriksaan keamanan tambahan, seperti memasukkan kode yang dikirimkan ke ponsel. Ini cara terbaik untuk memerangi phishing dan pencurian kredensial. Publik juga harus lebih waspada untuk tidak mengklik tautan.
”Pastikan detail kontak tersedia di situs web dan ada nomor telepon. Lebih baik pesan paket liburan saja dan memesan penerbangan dan akomodasi secara terpisah. Pakai kartu kredit juga untuk memaksimalkan perlindungan,” kata Jane Hawkes, pakar konsumen yang berspesialisasi dalam industri perjalanan, kepada BBC.